Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Hadiah Para Fans


__ADS_3

Keesokan harinya di kampus.


Arin sedikit terkejut saat mendapati sebuah meja di kelasnya yang hampir penuh dengan beberapa hadiah. Ia melihat tampak ada berbagai macam makanan mulai coklat, permen, chockies dan ada juga berupa barang branded yang lumayan mahal.


Ia membaca setiap kartu nama yang tertera di atasnya. Ia semakin terkejut saat tau bahwa semua hadiah itu adalah untuknya.


Nabila dan Vivi belum datang saat Arin ingin menanyakan semua ini. Namun, sebelum ia mulai bertanya. Seseorang yang bernama Valen yang juga satu kelas dengannya mencoba menjelaskan.


“Itu semua hadiah dari para penggemar fanatik kak Firman Rin.” ucapnya mencoba menjelaskan.


“Kok bisa?” tanya Arin heran.


“Iya, mereka kan udah tau kalau kamu itu sepupu dari kak Firman. Jadi ini semua itu untuk nyogok kamu.”


“Nyogok aku? Untuk apa?” tanya Arin sekali lagi.


Mendengar pertanyaan polos Arin, Valen hanya bisa bernafas berat.


“Ya supaya mereka dicomblangin lah! Masak gitu aja kamu gak paham?”


“Ini- ini serius semua buat aku?”


“Of course! Baca aja semua kartu nama yang tercatat diatasnya!” perintah Valen agak gereget.


“Gila! Segitunya mereka suka ama mas Firman? Ampe buang-buang uang buat nyogok aku? Gila banget! Sumpah!”


“Menurut kamu itu gila Rin! Tapi menurut mereka itu suatu kepuasan.” Ucap Valen santai.


“Trus, gimana cara mengembalikannya ke mereka ya? Atau jangan-jangan ada salah satu dari anak kelas kita?” tanya Arin pada Valen.


“Cek aja! Baca satu-satu!”


Setelah Valen berujar demikian dari arah pintu masuklah Nabila dan Vivi berbarengan.


Nabila dan Vivi segera menuju ke arah meja yang saat ini ada di dekat Arin yang sefang berdiri. Mereka memperhatikan hadiah-hadiah yang ada di sana. Karena penasaran mereka akhirnya juga buka suara.


“Ini punya siapa?” Nabila yang pertama kali bertanya.


“Punya Arin.” Jawab Valen.


“What?” Vivi tampak terkejut.


“Mereka udah gila.” Ucap Arin.


“Oh, jadi ini dari fangirlnya senior Firman toh?” tanya Vivi pada Valen.


“Yup, betul banget tebakanmu.”


“Anjir! Ini mah keren banget! Mimpi apa kamu semalam Rin?” ucap Nabila girang.


“Apaan sih kalian? Yang ada ini bakalan jadi beban buat aku! Aku pengen ngembalikan semua hadiah ini. Tapi, gimana ya caranya?” tanya Arin bingung.

__ADS_1


“Yah, kok dibalikin sih Rin? Kan sayang?” ucap Vivi menyayangkan niat Arin.


“Bener juga kata kamu Rin. Ini semua akan mengganggu aktifitas dan kebebasan kamu.” Nabila lebih setuju pada niat Arin. “Ini hanya permulaan yang enak dikasik hadiah. Entar kalo kenapa-kenapa. Malah nyalahin kamu dan ngungkit-ngungkit soal hadiah ini. Mendingan dikembalikan aja!”


“Ok, sekarang bantu aku buat nyingkirin ini semua dulu ke bawah sana. Khawatir bentar lagi dosen masuk.” Ucap Arin sigap.


“Ok, siap” jawab Nabila.


Vivi dan Valenpun akhirnya juga ikut membantu Arin memindah barang-barang berharga itu.


Setelah pelajaran mata kuliah selesai. Arin mengajak Vivi dan Nabila untuk mengembalikan hadiah-hadiah itu kepada pemiliknya. Namun karena tak tau dimana kelas dan juga jurusannya satu persatu. Akhirnya Arin memutuskan memberikan semua itu kepada Firman.


Mereka bertiga bergegas menuju fakultas kedokteran dan mencari Firman yang saat itu sedang berada di kelasnya. Firman saat itu juga baru selesai mata kuliahnya. Setelah bertanya kepada beberapa orang yangbsedang berlalu lalang di sekitar fakultas kedokteran. Akhirnya Arin menemukan dimana letak kelas Firman.


“Jadi senior Firman jurusan kedokteran apa Rin?” tanya Vivi sambil memegangi beberapa hadiah ditangannya.


“Dokter hewan.” Ucap Arin singkat.


“Oh! Penyayang binatang berarti dong!” ucap Nabila menimpali.


“Dia kan dari kecil emang suka binatang.” Ucap Arin enteng.


“Sedeket itu ya kalian dari kecil?” tanya Vivi pada Arin.


“Tapi kenapa kamu sekarang jadi anti banget Rin sama senior Firman?” Nabila juga memberanikan diri bertanya. Ia sangat penasaran dengan sikap Arin yang anti banget pada sepupunya sendiri.


“Hm, gimana ya cara jelasinnya? Udah deh. Biar antara aku dan dia aja yang tau alasannya. Kalian gak usah ikut-ikutan. Lagian aku kan gak ngelarang kalian buat ngefans sama dia.” Ucap Arin bijak.


Tanpa terasa obrolan panjang mereka sudah mengantarkan mereka di depan pintu kelas Firman.


Tanpa basa-basi Arin langsung menghampiri Firman dan meletakkan hadiah-hadiah itu di mejanya. Begitu juga hadiah yang ada pada Vivi dan Nabila.


“Ini apaan?” tanya Firman heran.


“Ini hadiah dari para fans berat kamu yang sengaja mereka kasik buat aku.” Jawab Arin


“Trus, kenapa di bawa kesini?” lagi-lagi Firman bertanya karena heran.


“Trus mau di kemanakan? Dikembalikan ke mereka? Aku gak tau mereka satu persatu. Dan aku gak mau hadiah sogokan!” ucap Arin ceplas ceplos.


“Hadiah sogokan? Maksudnya?”


“Huh, masak gini aja gak ngerti sih? Ini semua tuh hadiah hanya supaya mereka mau aku rekomendasikan mereka ke kamu. Mereka kan sukanya sama kamu! Aku Cuma dijadikan perantara aja!” Arin menjelaskan dengan nada kesalnya.


“Trus, itu kan bukan buat aku?” tanya Firman lagi-lagi bingung dengan kelakuan Arin.


“Ya, pokoknya aku gak mau tau! Yang aku mau. Aku gak ingin disangkut pautkan ama kamu!” ucap Arin sedikit meninggikan suaranya. “Huh, emang salahku sih kemaren memperkenalkan diri sebagai adik kamu. Tapi, tolong ya bilang ama mereka. Aku gak mau disuruh-suruh! Apalagi disogok dengan barang-barang kayak gini. Aku juga mampu beli!”


“Lah, kalau kamu bilang kayak gitu sama aku. Terus, aku harus bilang ke siapa?” tanya Firman.


“Ya, pokoknya aku gak mau tau. Semua hadiah ini terserah kamu mau diapakan. Mau dibuang kek. Mau dikembalikan ke orangnya kek. Aku gak peduli. Dan diantara kita gak perlu lagi ada hal yang perlu di sangkut pautkan!” ucap Arin sebelum akhirnya pergi dari hadapan Firman dengan gaya judesnya. Meninggalkan Firman yang masih berdiri mematung dengan wajah yang semakin bingung.

__ADS_1


“Lagian ngapain sih cewek-cewek itu ngirim hadiah begituan sama adek loe Fir! Ketara banget kalau mereka cuma mau manfaatin adek lu doang!” ucap salah seorang teman Firman yang sedari tadi diam menyaksikan adegan itu. Ia baru bisa membuka suara setelah Arin pergi.


“Gue juga gak tau! Kelakuan cewek emang aneh!” ucap Firman seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Eh, adek loe lumayan juga tuh. Dia kan yang kemaren viral nyatain cinta ke lu?”


“Iya, tapi itu sandiwara dia aja supaya bisa mancing gue buat keluar. Dia kan dapat tugas disuruh nyari senior Toxic.” Ucap Firman berusaha menjelaskan.


“Cerdik juga dia. Kagum gue.”


“Kagum boleh. Naksir jangan!”


“Loh, kenapa emang?”


“Orang kayak lu, palingan Cuma dijadiin tukang ojek antar jemput dia aja!” ucap Firman santai.


“Wah, parah lu bro! Gue gak jelek-jelek amat kali!” ujarnya tak terima dengan ucapan Firman.


Mereka akhirnya hanya bisa tertawa ngakak.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2