Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Bertemu Kembali


__ADS_3

Setelah beberapa tahun berlalu,  kini akhirnya Mama Arin memperbolehkan Arin sesekali pulang kerumah nenek Aminah.  Hanya ketika liburan sekolahnya panjang. Hal ini bermula dari pertemuan awal Arin dengan papanya di sebuah media sosial yang saat itu lagi booming. Disitu Arin menemukan profil yang mirip dengan papanya.  Hingga akhirnya mereka bertemu di kehidupan nyata.


Pak Irawan yang memang sudah bertahun-tahun ingin menemui mereka akhirnya menemukan angin segar yang berpihak kepadanya. Ia bisa membujuk Arin yang kala itu masih kelas sembilan SMP.


Bukannya tidak pernah berusaha untuk menemui Arin. Namun, sejak perceraian dengan istrinya bertahun-tahun lalu. Mama Arin selalu saja menghindari dan mencegah pertemuan Arin dengan papa maupun Nenek Aminah. Hal itu sempat membuat papa Arin kesal dan marah.  Bahkan,  sampai berusaha ingin merebut hak asuh Arin.


Namun,  keputusan pengadilan tak bisa begitu saja diabaikan dan disalah gunakan. Pak Irawan sadar, bahwa suatu saat nanti pasti akan ada saat dimana Arin akan mencarinya dan mendatanginya.  Seperti yang terjadi saat ini. Bahkan, kini Arin diizinkan sesekali pulang ke rumah papa maupun nenek Aminah di Sumber Jambe.


“Besok jadi pulang ke rumah nenek sayang?” tanya Pak Irawan pada Arin yang sedang sibuk mengepak keperluannya dan juga memasukkan beberapa baju ke dalam koper mininya.


“Jadi pa! Papa gak usah khawatir.  Ini Aku lagi beres-beres keperluan selama disana.” Jawab Arin meyakinkan Papanya supaya tidak terlalu khawatir.


“Apa saja sih nak, yang kamu bawa? Gak usah bawa apa-apa Arin!  Papa akan siapkan semua kebutuhan kamu disana!”


“Gak semua kebutuhan aku papa tau!” bantah Arin halus. “Udah deh, papa tenang aja.  Aku yang paling tau apa aja keperluan aku!”


“Iya,  iya.  Besok kamu papa jemput sekitar sore hari kayaknya. Papa masih ada urusan agak mendesak.”


“Oke!  Arin tunggu.  Sampai malampun akan Arin tunggu.” Jawab Arin mantap dan tanpa bantahan apapun.


“Sep!  Udah dulu ya.  Salam sama Mama.” ucap pak Irawan mengakhiri obrolannya.


Tepat sekitar pukul setengah lima sore,  sebuah mobil Pajero sport berwarna putih masuk ke pekarangan rumah nenek Arin. Arin yang sedari tadi menunggu kedatangan papanya langsung keluar ketika mendengar suara deru mesin mobil yang tiba-tiba datang dari arah depan rumahnya. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru Ia segera menyambut papanya yang baru keluar dari dalam mobil dengan senyum merekah di bibirnya.


Melihat Arin yang berlari ke arahnya. Pak Irawan segera menyambut dan langsung memeluknya erat. Tak lupa ia ciumi kedua pipi dan juga kening Arin dengan perasaan haru dan juga bahagia.  Terpancar dari kedua matanya rasa sayang sekaligus kerinduan yang begitu dalam terhadap anak yang sudah bertahun-tahun tak pernah bisa ia temui. Air mata pun tumpah di antara kedua pelupuk matanya. 


Mengetahui hal itu Arin juga ikut terisak sambil terus memeluk papanya. Bahkan kini pelukannya lebih erat dari sebelumnya. Seakan ia tak ingin lagi dipisahkan dari sisi papanya.


“Ternyata,  anak papa udah besar ya!” kalimat pertama yang papa Arin ucapkan saat itu.  Mendengar hal itu, Arin hanya bisa tersenyum dan melepaskan pelukannya. Pak Irawan memandangi lekat-lekat diri Arin yang ada dihadapannya. Kini jaraknya dan Arin hanya beberapa centi saja. Padahal sebelumnya ia hanya bisa menemui Arin dalam mimpi-mimpinya. Ia tak menyangka bahwa tuhan kini sudah menjawab doanya.

__ADS_1


Sesuai rencana awal. Kali ini Arin akan menghabiskan liburannya di rumah papa dan neneknya di desa. Setelah menginap semalam. Mereka segera berpamitan dan menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Butuh sekitar lima jam perjalanan untuk tiba di desa tempat Arin menghabiskan masa kecilnya.


Kehilangan Arin yang merupakan teman bermain sekaligus sahabat yang sangat ia sayangi membuat Firman sedikit kesepian.  Hari-hari yang Ia lalui tanpa Arin pun tak terlalu menyenangkan. Tak ada lagi orang yang bisa ia ajak bercanda maupun orang yang bisa ia kerjai habis-habisan. Entah kenapa,  meski ia memiliki teman lain di kampungnya. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Arin dihatinya.


Apalagi setelah Firman tau. Bahwa,  Arin sedang menghadapi masalah yang begitu besar.  Perceraian orang tuanya pasti sangatlah membuat Arin terpukul dan terluka.  Sedangkan Firman merasa bersalah karena tak bisa menemani dan menghiburnya.  Bahkan kabar tentang Arin pun tak pernah ia temukan setelah itu. Setiap kali mengunjungi rumah nenek Aminah, yang ia temui hanyalah kesedihan dan juga rasa kehilangan nenek yang begitu dalam.


Kini Arin seakan menghilang dari dunianya. Firman tak tau harus bertanya kepada siapa.  Nenek Aminah juga tak bisa memberi jawaban mengenai kabar maupun keberadaan Arin padanya.


“Nak! Kata bu Aminah, neng Arin akan pulang hari ini loh!” ucap ibu Firman saat mereka sibuk sarapan.


Mendengar berita itu Firman langsung heboh. Ia langsung menghentikan kunyahannya bahkan ia hampir saja tersedak.


“Baneran buk?” tanyanya setengah tak percaya.


“Iya! Ibuk tadi malem diberitahu. Pak Irawan kan kemarin sore udah berangkat untuk jemput!”


“Syukurlah! Akhirnya, setelah sekian lama.” Ucap Firman bahagia.


“Kangen banget lah buk! Udah berapa tahun aku ngarep dia balik kesini?”


“Tapi, kali ini. Dia pulang hanya untuk Liburan Fir! Bukan untuk menetap.”


“Iya tah buk?”


“Iya!” jawab ibu Firman meyakinkan.


“Aku masih gak habis pikir buk. Kenapa ya om Irawan sama tante Widia bercerai?” tanya Firman penasaran.


“Untuk hal itu. Kita gak usah cari tau nak! Kita diem saja! Tutup mata. Tutup telinga!”

__ADS_1


“Iya buk.”


“Sudah, habiskan dulu makananmu! Setelah itu, anter ibuk ke kantor desa ya nak! Ada beberapa hal yang perlu ibu urus dengan pak Kades.”


“Iya buk!” jawab Firman penuh semangat.


Hingga sore itu,  saat Ia sibuk membantu nenek Aminah mengangkut karung-karung beras hasil panen yang akan diletakkan digudang. Ia dibuat terperanjat dan terkejut dengan kedatangan seorang anak perempuan yang umurnya berada sedikit di bawahnya. Sosok itu sudah tidak asing lagi baginya.  Bahkan ia dapat mengenalinya meski berjarak puluhan meter.


Dialah Arin,  sahabat masa kecilnya.


Kala itu Arin terlihat sedikit kumal.  Raut wajahnya memperlihatkan keletihan yang diakibatkan oleh perjalanan yang sangat lama. Mengenakan Blazer jeans yang dipadukan dengan celana jeans merek ternama. Rambut panjangnya tampak sedikit berantakan meski sudah terkuncir ke belakang.


Arin berjalan mendekati nenek dan segera memeluk erat tubuh renta yang begitu sangat lama merindukan kehadirannya. Dengan berurai air mata, nenek mengucapkan beberapa kalimat yang menandakan betapa bahagianya ia akan kehadiran cucu kesayangannya itu. Sambil terisak,  nenek menciumi cucu kesayangan yang memang sudah lama tidak dijumpainya.


Arin pun terisak dan mempererat pelukan hangat yang ia berikan pada nenek Aminah. Setelah sedikit lama adegan yang mengharu biru itu akhirnya dIsudahi oleh teguran pak Irawan.


“Sudah-sudah ma!  Arin masih capek. Dia juga masih belum makan ma! “ ujar Pak Irawan pada nenek.


“Oh iya,  nenek sampe lupa saking bahagiannya.” Ujar nenek sambil menyeka air mata yang terus bercucuran tanpa henti.


“Gak papa nek!  Arin masih pengen peluk nenek.  Lagian Arin tadi udah makan kok.” Kata Arin manja.


“Tapi sayang!  Nenek udah masak banyak loh di dalam. Sengaja buat mempersiapkan kehadiran kamu. Makan lagi ya! “


Arin mengangguk tanda setuju. Sambil tersenyum dan dirangkul nenek ia menatap ke arah beberapa orang yang sedang berada disana.  Beberapa diantaranya adalah kerabat yang sekaligus merangkap menjadi pekerja di sawah nenek Aminah. Sedangkan sisanya adalah orang asing yang tidak Arin kenal.


“Arin apa kabar?” Firman memberanikan diri untuk menyapa duluan. Ia begitu bersemangat untuk bertemu Arin.


Bukannya menjawab pertanyaan Firman.  Arin malah memalingkan wajahnya acuh ke arah lain. Ia seolah tak mendengar sapaan Firman barusan. Padahal suara Firman cukup keras dan lantang. Meski saat itu mereka semua berada diluar rumah. Namun,  tak mungkin rasanya jika Arin tidak mendengar apa yang diucapkan Firman. Ia melangkah masuk ke dalam rumah neneknya.  Meninggalkan Firman diluar dengan perasaan sedikit kecewanya.

__ADS_1


Firman ingin mengejar Arin dan hendak menanyakan beberapa hal.  Namun,  niatnya itu ia urungkan dan lebih memilih sibuk lagi dengan beberapa pekerjaan yang belum selesai.


Sebenarnya banyak pemikiran yang berkecamuk dalam diri Firman saat ini.  Antara rasa rindu yang masih belum terobati dan juga rasa kesal terhadap sikap Arin barusan. Setelah sekitar 6 tahunan mereka belum bertemu dan juga tidak pernah sekalipun bertukar kabar.  Kenapa Arin tidak menyapanya seperti biasa. Apakah ia marah terhadap firman atau itu hanya perasaan Firman yang terlalu sensitif akan sikap Arin barusan.


__ADS_2