Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Gejolak Hati


__ADS_3

Arin memilah-milah baju yang akan ia kenakan. Ia ingin baju yang bisa menutupi seluruh tubuhnya dan juga dapat menyamarkan bagian-bagian intim dalam tubuhnya. Karena ia terpaksa tidak bisa menggunakan pakaian dalam. Seluruh pakaian dalamnya ikut basah bersamaan dengan pakaiannya.


Akhirnya ia memilih kaos yang lumayan tebal dan ukurannya juga paling besar. Setelah dipakai kaos itu mampu menutupi hingga sampai ke lututnya. Selain itu ketebalan kaos mampu menutupi tonjolan ***********. Ia merasa nyaman dan tidak terlalu risih. Arinpun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.


Di luar Firman sudah menunggu dengan makanan pesanannya yang sudah datang. Melihat Arin membuka pintu. Firman lagi-lagi dibuat berdebar melihat penampilan Arin yang masih terlihat seksi dengan hanya memakai baju kaos saja tanpa bawahan.


Firman dibuat panas dingin oleh Arin. Ia sebisa mungkin menahan gejolak di hatinya yang semakin menggebu-gebu. Ia berulang kali harus mengambil nafas dalam-dalam.


Arin terus melangkah menuju sofa dan mencoba duduk bersebrangan dengan Firman. Suasana menjadi sangat canggung antara mereka berdua.  Arin yang melihat berbagai menu yang tersedia tiba-tiba menjadi sangat lapar. Sedangkan Firman berusaha terus mengalihkan pandangannya supaya tak sampai membuat Arin risih.


“Terus pakaian kamu gimana? Apa perlu kubelikan dulu di luar?”  tanya Firman berusaha membuka pembicaraan di antara mereka berdua.


“Aku mau telpon temen kamarku. Minta dikirimkan lewat gosend entar lagi.” Jawab Arin.


“Ya udah makan aja dulu!” perintah Firman pada Arin. Ia lega akhirnya Arin menemukan solusi.


“Aku mau telpon dia dulu. Supaya bajunya cepet datang.” Ucap Arin sambil membuka ponselnya.


Tanpa banyak basa-basi ia menceritakan apa yang terjadi kepadanya hingga meminta bantuan teman kamarnya untuk mengantarkan pakaian lengkap melalui ojek online. Ia juga memberi tahu alamat rumah Firman kepada temannya. Setelah selesai menelpon temannya, tanpa pikir panjang Arin melahap berbagai menu yang ada di hadapannya. Ia tampak menikmati makanan itu tanpa memikirkan lagi penampilannya. Ia tak peduli tentang pandangan Firman terhadapnya. Sedangkan Firman masih saja berusaha mengendalikan perasaannya.


Mereka makan tanpa saling berbicara satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Begitu selesai makan, Arin segera menumpuk beberapa piring kotor dan bergegas membawanya ke dapur. Firman juga membantu membawa sisa piring yang ada di meja. Arin berniat untuk mencuci piring yang kotor itu. Namun Firman malah melarangnya. Ia menyuruh Arin duduk saja di ruang tamu.


“Aku aja yang nyuci piringnya mas! Kamu istirahat aja. Kamu kan belum pulih seratus persen?” ucap Arin dengan penuh kekhawatiran.


“Gak papa kok! Aku udah baikan dek!”


“Enggak! Pokoknya aku yang mau nyuci piringnya! Kamu istrahat sana gih! Entar kalau sakit lagi kan aku lagi yang repot?” ucap Arin menguatkan alasannya. Hal itu ia lakukan supaya Firman benar-benar mau menuruti kata-katanya.


Begitu Arin berkata demikian akhirnya Firman memilih menyerah dan membiarkan Arin yang mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


Begitu Firman akan melangkah pergi. Arin sudah menghidupkan kran air tempat cuci piring sambil memegangi sebuah piring yang kotor di tangannya. Namun, tiba-tiba sebuah cicak kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik kran melompat nakal ke tangan Arin. Ia yang memiliki phobia terhadap cicak reflek berteriak dan melepaskan piring yang ada di tangannya hingga jatuh. Tak ayal piring itupun pecah berkeping-keping hingga salah satu pecahannya melukai kaki Arin.


Arin yang sangat panik ketika itu  tanpa sadar melompat ke arah Firman yang masih berdiri dan terkejut dengan teriakan Arin. Namun kini keterkejutannya bukan lagi pada teriakan Arin. Melainkan terfokus pada posisi Arin yang tiba-tiba melompat ke arah Firman sambil melingkarkan kedua tangannya ke bahunya dan menyilangkan kedua pahanya ke perut bagian depan Firman. Ia bahkan memeluk Firman sangat erat.


Tak dapat dihindari lagi bahwa kini kedua gunung kembar itu bertabrakan dengan dada Firman yang kekar. Firman dapat merasakan kedua benda itu menekannya. Ia terkesiap dan diam mematung tak bergerak. Pikirannya seketika blank dan bersamaan dengan itu jantungnya berpacu begitu cepat. Sangat cepat hingga seakan-akan ingin melomoat keluar dari tubuhnya. Aliran darahnya seketika panas. Tubuhnya seolah merasakan sengatan listrik yang begitu dahsyat. Tak ada kata-kata lagi yang kini dapat menggambarkan keadaan mereka bedua.


Dengan posisi yang seperti itu. Firman kini menjadi tau dan dapat merasakan bahwa Arin sedang tidak memakai pakaian dalamnya.


Beberapa detik kemudian, Arin tersadar dan segera turun dalam keadaan malu setengah mati. Pipinya memerah dan ia juga merasakan aliran darahnya mulai panas. Jantungnyapun sama-sama berdetak kencang. Selain karena terpicu oleh rasa takutnya terhadap cecak juga karna tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan tubuh Firman.


Ia berbalik menghadap ke arah lain. Menghindari tatapan mata Firman yang terbelalak karena terkejut oleh ulahnya.


“Dek kamu-“ tiba-tiba ucapan Firman terpotong. Ia tak sampai hati untuk mengatakannya.


Arin yang penasaran dengan kelanjutannya mulai bertanya


“Kenapa? Emang aku kenapa?”


Tanpa sengaja pandangan Firman tertuju ke arah kaki Arin yang berlumuran darah. Ia kini menjadi sangat panik karena khawatir.


“Dek! Kaki kamu terluka!” seru Firman sambil menunjuk ke arah kaki Arin yang terluka.


Arin yang sedari tadi tak menyadari hal itu segara menunduk dan memperhatikan kakinya yang mengeluarkan banyak darah.  Melihat hal itu ia mulai merintih kesakitan.


Firman yang panik mengangkat Arin dengan cara membopongnya. Hal itu ia lakukan supaya Arin tidak melangkahkan kakinya dan mengenai pecahan piring itu lagi. Ia membawa Arin ke atas Sofa dan mendudukkannya di sana.


“Tunggu di sini! Aku ambil kotak P3K dulu ya!” perintah Firman pada Arin.


Arin hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sudah cukup malu dengan perbuatannya tadi. Ia sudah mengira bahwa pastilah Firman mengetahui bahwa dirinya tidak memakai pakaian dalam. Memikirkan hal itu ia menjadi sangat malu dan seakan ingin lari dati temoat itu. Namun luka di kakinya tak bisa membuatnya melangkah pergi. Ia memilih diam saja dan menunggu Firman mengobati lukanya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Firman datang dengan membawa kotak kecil yang sepertinya berisi beberapa alat lengkap untuk pertolongan pertama pada kecelakaan. Ia membuka kotak itu dan meletakkanya di atas meja.


Firman menyentuh kaki Arin dan mengangkatnya. Ia meletakkan kaki itu di atas pahanya. Dengan sangat telaten Firman membersihkan dulu darahnya dan memeriksa apakah ada pecahan kaca yang menancap di sana.


Firman yang memang kuliah di fakultas kedoktetan sangat ahli mengatasi hal demikian. Ia sangat cekatan dan terlihat begitu kompeten. Arin dibuat terkesima oleh tindakannya. Setelah mencuci luka di kaki Arin dengan alkohol ia membubuhkan obat di lukanya. Begitu obat itu teroles sempurna, ia meniup-niup pelan kaki Arin yang terluka dan segera mengambil perban dan kapas untuk membalut luka itu. Kerjanya sangat rapi dan sempurna.


“Sakit?” tanyanya pada Arin.


“Sedikit.” Jawab Arin gugup. Ia sangat grogi dan salah tingkah. “Makasih!” ia melanjutkan kata-katanya. Terasa berat bahkan untuk sekedar mengucapkan kata lain.


“Untung saja tidak terlalu dalam. Kalau tidak harus dijahit biar darahnya berhenti keluar.” Ucap Firman merasa lega karena lukanya tak terlalu parah.


Kini suasana di antara mereka bedua terasa semakin canggung dari sebelumnya. Arin memilih diam seribu bahasa. Ia masih teringat dengan kejadian tadi di dapur. Ia menjadi semakin malu dan perasaannya menjadi semakin tak karuan.


Setelah kejadian itu mereka melilih diam satu sama lain. Banyak hal yang berkelebat dalam pikiran. mereka masing-masing.


Untung saja lamunan mereka segera tersadarkan oleh bunyi bel pintu di depan. Membuat Firman segera melangkah untuk membuka pintu. Hal itu agar ia mengetahui siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah tukang ojek yang sedang mengantar baju Arin.


Firman segera menyerahkan baju itu pada Arin supaya ia dapat segera memakainya. Arin dengan langkah yang masih berjinjit karena lukanya. Memilih segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian ia juga segera berpamitan pulang. Firman tak dapat lagi mencegahnya. Karena peristiwa tadi cukup mampu membuat mereka tidak ingin bertemu satu sama lain untuk sementara waktu.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2