
Firman meraih tubuh Arin dan menidurkan kepala Arin di pangkuannya. Meski sudah senang menemukan Arin namun ia belum.merasa lega jika belum memastikan keadaannya. ia masih harus mengecek nafas Arin terlebih dahulu. Demikian juga ia harus mengecek denyut nadinya.
Betapa leganya Firman saat tau Arin masih bernafas dengan normal. Denyut nadinya pun juga normal. Berarti ia hanya pingsan. Tanpa membuang-buang waktu lagi Firman segera mencoba membuat Arin sadar.
“Arin! Arin! Arin!” ucap Firman berkali-kali sambil menepuk lembut pipi Arin. Darah segar mengucur dari kepalanya yang terluka.
Di perlakukan begitu Arin masih juga belum siuman. Firman berinisiatif untuk menggocang-goncangkan tubuhnya.
“Arin! Arin!” panggilnya lagi sedikit lebih keras dari sebelumnya.
Kali ini perlahan Arin terlihat membuka matanya.
“Mas?” kata pertama yang Arin ucapkan saat melihat Firman ada di hadapannya.
Bukannya menjawab Firman meraih tubuh Arin dan memeluknya erat. Ia mulai meneteskan air mata karna terharu dan bahagia melihat Arin baik-baik saja.
Arin terperanjat dan kaget saat tiba-tiba dipeluk oleh Firman. Ia ingat betul bagaimana sebelumnya Firman sangat tidak peduli dengannya lagi. Ia membalas pelukan erat itu.
“Aku dimana mas?” tanya Aron saat kesadarannya mulai kembali seratus persen. Ia lebih kaget lagi saat menyadari bahwa daerah sekitarnya gelap gulita dan hanya ada suara binatang dari berbagai macam.
“Kita ada di hutan! Dan kamu terperosok ke dalam jurang dek!” ucap Firman yang masih enggan untuk melepas pelukannya.
“Loh? Mas kok ada di sini juga?” tanya Arin heran karena begitu membuka mata ia langsung mendapati Firman memeluknya.
“Mas cari kamu dek! Kita semua sedang kebingungan mencari kamu kemana-mana! Kamu kenapa bisa terperosok ke dalam sini?” tanya Firman sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap intens ke dalam mata Arin.
“Aku-“ Arin ragu untuk mengucapkan bahwa ia masuk ke hutan itu karena perempuan misterius itu.
“Aku lagi mencari signal untuk menelpon nenek mas! Entah kenapa kakiku malah melangkah ke dalam hutan ini!” jawab Arin berusaha menjelaskan.
__ADS_1
“Jangan bertindak ceroboh di tempat asing yang belum kamu tinggali sebelumnya! Kamu gak tau betapa paniknya mas saat tau kamu gak ada?” Firman mengatakan hal itu sambil terus menatap Arin. Tatapan yang penuh kasih dan penuh makna.
“Apa mas tidak membenciku lagi?” Arin bertanya dengan sangat hati-hati.
Ditanya demikian Firman malah tersenyum. “Apa mas bisa membenci kamu selama ini? Sejak dulu pun mas tidak pernah bisa!” ucap Firman terlihat sangat tulus. Tatapannya perlahan membuat hati Arin menjadi tak karuan. Jantungnya mulai berdegup semakin kencang. Kali ini bukan karena rasa takut seperti sebelumnya. Melainkan karena rasa yang ia coba tepis selama ini.
“Maafin aku ya mas!” ucap Arin lirih dan hampir tak terdengar.
“Bodoh!” ucap Firman sambil meraih lagi tubuh Arin dan memeluknya erat kembali.
“Kenapa kamu tidak bisa membenciku? Padahal aku selalu jahat sama kamu dari dulu!” tanya Arin mencoba memancing-mancing pengakuan Firman.
Firman melepaskan pelukannya dan menatap lagi lebih dekat dan lebih intens dari sebelumnya.
“Dengarkan perkataan mas!” ucap Firman sambil menarik nafas dalam-dalam. “I love you Arin!” sambungnya tegas dan jelas. Ia mengucapkan hal itu dengan tatapan mata yang penuh ketulusan di dalamnya.
Mendengar perkataan Firman barusan hati Arin yang dingin kini menjadi hangat. Jantungnya masih berdegup kencang sejak tadi. Aliran darahnya mampu membuat seluruh tubuhnya seolah menjadi hangat. Ia merasa sangat bahagia. Tak pernah selama hidupnya ia merasakan perasan seperti ini sebelumnya.
Tanpa ragu Firman menarik Arin dan mengecup tepat di bibirnya. Arin tampak terkejut dan terbelalak. Namun ia lagi-lagi tak menolak. Karena tak ada penolakan dati Arin Firman langsung ******* bibir itu penuh kelembutan. Mengecup perlahan setiap inci dari bibir Arin dengan penuh perasaan sayang.
Arin memejamkan matanya seolah pasrah. Di detik-detik berikutnya ia justru membelas ******* Firman. Keduanya beradu saling membalas cumbuan masing-masing. Terasa hangat dan nikmat. Perasaan itu mampu meluluhkan segala keegoisan dan kegengsiang Arin selama ini. Ia tanpa sadar justru menjadi lebih semangat dari Firman.
Setelah beberapa detik kemudian saat mereka masih asyik menikmati ciuman itu sebuah sauara dengan keras memanggil nama Firman.
“Firman! Kamu di dalam sana?” tanya suara itu lantang dan keras.
Kalimat itu langsung membuat mereka terkejut dan secara otomatis melepas cumbuan yang sedari tadi mereka nikmati berdua.
“Firman!” sekali lagi suara itu menunggu jawaban Firman dari bawah.
__ADS_1
“Iya! Aku di sini! Aku sudah menemukan dia!” teriak Firman tak kalah lantang.
Setelah itu tim penyelamat berupaya untuk mengeluarkan keduanya dari dalam jurang itu. Suasana begitu ramai oleh kerumunan orang.
Ekspresi Arin menunjukkan rasa malu. Bahkan pipinya pun merona menahan malu. Namun mereka berdua kini merasa sangat bahagia.
Setelah mereka berdua berhasil di evakuasi Arin mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Luka dikepalanya membuatnya harus dirawat sementara di puskesmas terdekat. Firman tetap menunggui Arin dan tak kemana-mana. Ia sudah izin pada Izzul untuk menunggu Arin di puskesmas dan tidak akan ikut kegiatan malam ini.
Setelah luka di kepalanya di rawat dan diobati. Perawat menyarankan agar Arin istirahat dahulu dan jangan ikut kegiatan. Khawatir ada keluhan lain nanti setelah beberapa jam kemudian.
“Mau ku telpon papa?” tanya Firman saat masuk ke dalam ruang rawat inap yang hanya berisi Arin di dalamnya. Firman sengaja mengambil ruang VIP. Supaya Arin tak terganggu oleh pasien lain.
“Gak usah mas! Kamu udah kasik tau dia bahwa aku hilang?” tanya Arin kepada Firman.
“Belum sempat dek! Aku tadi sangat kebingungan sampai gak kepikiran untuk menghubungi om Irawan.” Jawab Firman menyesal karena sudah melupakan hal terpeting yang seharusnya pertama kali ia lakukan.
“Sebaiknya jangan mas! Nanti aku tidak boleh ikut kemah lagi!” Arin melarang Firman menghubungi papanya.
“Tapi dek, ini itu bukan kejadian sepele loh! Papa dan mama kamu harus tau!” Firman berusaha memberi pengertian kepada Arin. “Bagaimana kalau nanti mereka tau dari orang lain dek? Enggak pokoknya mas harus kasik tau mereka!” Firman masih ngotot dengan keinginannya.
“Ok, tapi papa aja! Jangan mama!” ujar Arin saat tau bahwa Firman tak akan menuruti permintaannya kali ini.
“Yakin mama gak mau dikasik tau?” Firman bertanya untuk memastikan sekali lagi.
“Iya! Aku gak mau mama datang kesini dan melarang aku melakukan hal yang aku sukai mas!” Arin mulai memohon kepada Firman.
Mendengar perkataan Arin. Firman menjadi luluh dan tak tega jika tidak menurutinya.
“OK! Tunggu di sini sebentar. Aku telpon om irawan dulu!” ucap Firman begitu tau bahwa ia lupa tak membawa ponselnya. Ia izin keluar sebentar untuk mengambil handphone yang tadi ia titipkan ke Alvian untuk di isi batrei.
__ADS_1