Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Shoping Bersama


__ADS_3

“Kamu udah bosan hidup ya?” tanya Nabila saat pak dosen sudah benar-benar pergi dari ruang kelas mereka.


“Emang kenapa?” tanya Arin heran dengan pertanyaan Nabila barusan.


“Kamu gak tau ya profil dosen yang ngajar kita pagi ini?” Bukannya menjawab pertanyaan Arin sebelumnya. Nabila justru memberi pertanyaan yang membuat Arin semakin tak mengerti.


Arin hanya menggeleng santai seolah tak ada apa-apa.


“Ok, aku kenalkan sama kamu. Dia itu bapak Pramono kusumo. Atau biasa dipanggil profesor sumo oleh kakak kelas. Dan, kamu ingin tau kenapa beliau dipanggil dengan sebutan itu?”


Arin masih saja menggeleng.


“Ya karena kelakuannya udah kayak sumo! Siap membunuh siapa aja ya gak mematuhi perintahnya! Apalagi kelakuan kayak kamu tadi itu. Datang terlambat ke kelasnya.” Ucap Nabila berusaha menjelaskan tentang dosen yang baru saja menghukum Arin.


“Oh, dia itu ya yang katanya dosen killer nomer wahid di fakultas pertanian?” tanya Arin pada Nabila.


“Yup, betul. Dan bisa-bisanya kamu berbuat nekat kayak tadi. Untung aja otakmu lumayan encer. Coba aja tadi itu aku yang dihukum. Bisa mati gaya deh aku.”


“Ha ha ha!” Arin hanya bisa tertawa lebar saat Nabila mengatakan demikian.


“Ih, malah ketawa lagi! Kemana aja kok bisa terlambat?” tanya Nabila yang penasaran karena biasanya Arin adalah sosok yang selalu tepat waktu dan displin.


“Aku makan di kantin tadi. Eh, pas disamperin kak Maya itu loh. Crazy rich yang kuliah disini. Kita kenalan dan ngobrol panjang lebar ampe lupa waktu.” Ujar Arin menceritakan penyebab kenapa ia datang terlambat ke kelas.


“Maksud kamu kak Maya yang diceritakan senior Alvian tempo hari di kanyor BEM?” tanya Vivi yang ikutan nimbrung seteleh memebereskan perlengkapan kuliahnya. Ia rela pindah bangku hanya karena ingin mendengarkan obrolan kedua sahabatnya itu.


“Betul banget!” ucap Arin sambil mengacungkan jempolnya ke arah Vivi.


“Ngapain dia nyamperin kamu?” tanya Nabila penasaran karena tak mungkin rasanya jika seorang Maya yang begitu populer di kampus hanya kebetulan ingin berkenalan dengan Arin.


“Karena disitu aku lagi sama senior idola kalian berdua!” ucap Arin sambil menghela nafas.

__ADS_1


“Apa? Kalian makan di kantin berdua?” tanya Nabila seperti tak terima.


“Dan gak ngajak-ngajak kita?” Vivi menambahi pertanyaan yang seolah-olah Arin egois pada mereka berdua.


“Eit, tunggu dulu! Jangan marah dulu ama aku. Dia sendiri yang tiba-tiba ngikutin aku pas mau ke kantin.” Ucap Arin sebelum kedua sahabatnya benar-benar murka kepadanya.


“Kalian ketemu dimana? Dan tumben kamu mau makan ama dia?” Vivi seolah menginterogasi Arin yang saat itu merasa sedikit menyesal sudah menceritakan kejadian sebenarnya kepada mereka berdua. Karena Arin tau, pasti akan ada banyak pertanyaan yang menurut Arin itu akan mencurigai dirinya dan juga sikapnya yang tiba-tiba berubah.


“Ok, akan aku jelasin dulu kejadian dari awal ya! Aku tadi nemuin dia duluan di kantor BEM! Karena akhirnya aku memutuskan untuk ikut mendaftar sebagai anggota BEM! Aku hanya menanyakan kapan perekrutan anggota baru itu aja kok.” Arin berhenti sejenak sambil menhela nafas berat.”Karena dia bilangnya belum tau dan belum dipastikan kapan perekrutan anggota baru. Ya udah aku pamit buat sarapan dulu. Eh gak taunya dia ngikutin aku di belakang. Setelah itu dia ngajak makan. Kenapa aku mau diajak makan sama dia. Ya karena aku emang lagi lapar banget. Gak mikirin yang lain-lain.” Arin berusaha menjelaskan semaksimal mungkin supaya tidak terjadi kesalah pahaman.


“Tumben banget kamu langsung mau?” Nabila langsung bertanya demikian.


“Aduh, gimana ya jelasinnya? Kenapa sih kalian jadi curiga gini? Emang aku gak boleh ya sekali-kali damai dan enggak bertengkar ama dia? Bukannya kalian yang minta aku supaya lebih ramah ama dia?”


“Nah itu dia Rin, masalahnya! Selama ini kamu gak pernah mau kan? Lah, kenapa tiba-tiba kalian jadi adem ayem gitu?” Nabila semakin memperumit pertanyaannya.


“Baik salah. Kasar salah! Ya udah, besok-besok aku galak lagi deh ama dia!” ucap Arin putus asa. “Yang pasti aku juga udah dapetin ini!” Arin berkata sambil menunjukkan undangan di tangannya.


“Bukan curang. Ini namanya kebetulan kan? Masak aku mau nolak? Kalau kemaren aku nolaknya karena bukan orangnya langsung yang ngundang.” Arin berusaha memberikan pembelaan atas tindakannya tempo hari yang menolak undangan party di rumah kak Maya.


“Kalau gitu, karena kamu juga ikutan party. Gimana kalau entar sore kita belanja baju?” ajak Nabila begitu bersemangat.


“Boleh juga tuh, aku kan butuh pendapat kalian. Khawatir bajunya gak cocok atau gimana. Inikan partynya orang kaya. Kita gak mau dong malu-maluin disana!” Vivi menyetujui ajakan Nabila.


“Gimana Rin? Kok kamu diem aja?” tanya Vivi pada Arin karena melihat Arin yang belum memberi respons pada saran Nabila.


“Ok deh! Kita sore ini ke butik buat cari baju party.” Jawab Arin yang akhirnya bersemangat juga.


“Hore! Kita gak jadi hanya berdua kesananya. Kalau gini kan makin rame dan gak malu. Apalagi Arin udah kenal langsung ama kak Maya!” seru Vivi masih dengan semangat berkobarnya.


Sayangnya obrolan seru mereka harus terhenti karena dosen untuk mata kuliah kedua sudah berdiri di depan pintu dan menyapa mereka. Mau tidak mau mereka akhirnya kembali konsentrasi untuk mengikuti perkuliahan selama dua jam.

__ADS_1


Sepulang kuliah mereka menyewa taxi online untuk menuju ke salah satu mall terbesar di kota Jakarta. Mereka memasuki berbagai butik untuk mencari baju pesta yang sesuai dengan selera mereka. Pilihan mereka jatuh pada beberapa dress yang tak terlalu glamor. Namun, tetap terlihat elegan dan berkelas.


Setelah selesai memilih baju untuk kebutuhan party mereka juga tak lupa untuk membeli baju-baju untuk kebutuhan kuliah. Puas memilih beberapa baju mereka juga memutuskan untuk membeli high hils dan beberapa perlengkapan make up.


Arin yang sedikit berjiwa tomboy awalnya tidak mau saat kedua temannya menawarkan high hils. Namun ia tetap dipaksa dan akhirnya kalah dengan bujuk rayu dan juga hasutan Nabila maupun Vivi.


“Arin, penampilan kita di pesta ini itu harus perfect. Kamu tau sendiri kan siapa tuan rumahnya? Salah satu orang terkaya di jakarta Rin! Kebayang gak sih tamu undangannya itu siapa aja? Ya pastinya para anak konglomerat ataupun pejabat lah! Siapa tau tuh, ada yang kecantol ama kita.” Ucap Vivi dengan sejuta khayalan di dalam benaknya.


“Ya ampun Vivi! Ternyata itu tujuan kamu pengen dateng ke party ini?” tanya Arin polos.


“Lah, terus untuk apa lagi say? Gak mungkin hanya karena cari makanan gratis doang lah! Ini namanya menyelam sambil meminum air Rin!” lagi-lagi Vivi masih sibuk dengan khayalannya yang begitu tinggi.


“Ya udah. Aku do’ain deh, apa yang kamu khayalkan itu benar-benar terwujud!” ujar Arin sambil geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Vivi. Sedangkan Nabila hanya memilih diam. Namun, diam-diam yang menghanyutkan. Ia sendiri juga memiliki banyak tujuan. Itulahkenapa ia juga sangat tertarik dengan pesta ulang tahun Maya.


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat hingga mereka tidak sadar bahwa langit sudah mulai gelap Sedangkan meraka belum makan seharian. Gara-gara terlalu sibuk berbelanja berbagai kebutuhan. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan sore di salah satu resto yang lumayan terkenal di kota yang mereka tinggali. Sebelum mereka memutuskan untuk pulang ke kosan masing-masing.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2