
“Perwakilan pidato dari ketua ruang itu diserahkan pada senior Firman. Kebayang gimana entar histerisnya para fans beratnya, termasuk aku sendiri yang udah ngefans banget ama gaya coolnya yang bikin meleleh abis.” Vivi kini akhirnya memberikan penjelasan secara lengkap dan jelas.
“Hah?” Arin hanya bisa melongo heran. Tak habis pikir dengan kedua sahabatnya yang begitu update tentang jadwal Firman dan juga begitu idola pada Firman sang ketua ruang.
“Kenapa Rin? Kamu gak suka? Mentang-mentang kamu Udah kenal lama, trus semua pesonanya ketutup ama rasa benci kamu ama dia?” tanya Nabila pada Arin yang tak memberi respon positif pada pernyataan dua sahabat barunya itu.
“Bukan itu yang aku herankan. Sejak tadi pagi aku disiksa sama senior Alvin di suruh bujuk senior Toxic buat nutup acara orientasi. Tapi ternyata senior Firman memang mau pidato di acara ini?”
“Tapi kan kamu gak tau kalau senior Toxic itu adalah senior Firman!” ucap Nabila mengingatkan.
“Oh iya ya! Trus, kenapa kalian gak update dalam masalah senior Toxic? Kenapa kalian gak tau kalau senior Toxic itu senior Firman?”
“Kalau masalah itu, beneran kita gak tau sama sekali! Sulit banget emang menemukan nama samaran dari para senior. Aku aja disuruh nyari senior sinichi kudo. Dah kayak komik conan aja! Ampe sekarangpun aku gak tau siapa itu sinichi kudo.” Ucap Vivi menjelaskan.
“Apapun itu. Plise! Bahas yang lain aja OK! Jangan bahas dia terus. Panas nih telinga dengerin tentang dia terus.” Arin mulai sedikit kesal dengan pembahasan kedua temannya.
Sedangkan Nabila dan Vivi hanya bisa melongo heran. Segitu bencikah Arin terhadap idola mereka itu. Apa sih yang ngebuat Arin sebenci itu pada senior Firman. Secara banyak banget yang idola pada tampangnya yang lumayan cakep. Gak hanya itu saja, namun kepintaran dan juga sikap cueknya kali ini menjadi alasan kuat kenapa cewek-cewek banyak yang pada idola.
Benar saja, ketika sang pembawa acara menyebutkan nama Firman dan mempersilahkan untuk memberikan pidato singkatnya di hadapan semua peserta maupun panitia. Suara sorakan sekaligus tepuk tangan begitu membahana memecah suasana tenang di tengah halaman kampus. Suasana tiba-tiba jadi semeriah itu, tak kalah meriah dari konser pertunjukan sang artis idola. Padahal sebelumnya tak ada yang bersorak sedemikian rupa ketika tadi ketua panitia maupun senior lain yang ikut mengisi acara di depan.
__ADS_1
Sekali lagi arin dibuat keheranan oleh tingkah laku para peserta OSCAR yang semakin tak masuk akal menurutnya. Meski hal itu sebenarnya merupakan hal yang sangat wajar. Mengingat prestasi dan juga gaya Firman yang memang sangat pantas untuk menjadi seorang idola. Selain itu ada nilai plus tersendiri bagi tampangnya yang di atas rata-rata.
Mulai awal hingga akhir dari pidatonya, begitu ramai para peserta yang menyoraki maupun memberikan sinyal betapa banyak dari kalangan mereka yang mengidolakannya. Melihat hal itu, Arin hanya bisa menghela nafas panjangnya dan juga mencoba tenang dan cuek ada di antara suasana yang riuh dan penuh hiruk pikuk itu.
Mungkin hanya Arin yang merasa bosan dengan suasana saat itu, hingga Ia menoleh ke arah dua sahabatnya berada. Namun yang Ia peroleh hanyalah sikap cuek dari mereka berdua. Karena Vivi dan Nabila sedang dalam keadaan khusyuk mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Firman di depan podium.
Arin hanya bisa menundukkan kepala sambil mempermainkan kedua kakinya. Hal itu Ia lakukan untuk menghilangkan perasaan bosan yang sedari tadi Ia tahan. Pidato itu memanglah terasa sangat singkat bagi para peserta yang mengaguminya. Namun bagi Arin itu bagaikan ceramah panjang seorang dai yang sedang mengisi acara bimbingan kerohanian.
Saat Firman mengucapkan salam terakhir untuk menutup pidatonya terdengar lagi keriuhan yang menandakan bahwa mereka masih ketagihan dan menyayangkan pidatonya yang terlalu singkat. Berbeda dengan Arin yang justru lega dan sangat bahagia akhirnya ia tak perlu lagi melihat pemandangan yang menurutnya norak dan sengaja tebar pesona.
“Oh ya, aku hampir lupa. Sebenarnya peserta lain banyak yang nanyain kamu loh Rin!” ujar Nabila pada Arin yang sedari tadi ia cuekin.
“Gini loh, banyak peserta lain yang penasaran ama kamu. Gara-gara, pernah waktu itu kamu dibelain kak Firman. Itu loh yang pas kamu kena hukuman keliling halaman kampus.” Nabila berhenti sejenak. “Yang waktu itu kamu dihukum senior Joni.”
“Whatt? bentar-bentar, ini maksudnya apaan ya? Arin dibantu kak Firman?” Vivi terbelalak kaget. Sampai-sampai kedua matanya melotot ke arah Arin.
“Iya, kan aku Udah bilang Arin udah kenal lama ama kak Firman dan emang ada hubungan sodara.” Nabila mencoba menjelaskan pada Vivi yang masih dengan gaya mata melotot ke arah Arin.
“Lah trus, beneran Arin pernah dibela? Sampe segitunya?” Vivi semakin tak percaya dengan apa yang dibicarakan Nabila.
__ADS_1
“Iya, dan ada lagi yang akan bikin kamu syok berat. Arin pernah kan pas hari pertama pingsan tuh, nah! Siapa coba yang bantuan dia pas dibawa ke UKS?” Nabila coba memancing dengan memberi pertanyaan.
“Jangan Bilang kalau senior Firman yang bantuin bawa ke UKS! Plise, jangan buat aku iri setengah mati dong!”
“Emang sengaja mau buat kamu iri setengah mati!” jawab Nabila puas.
“Apaan sih kalian? Telingaku gatal tauk! Cari topik lain napa sih? Kayak gak ada pembahasan lain yang lebih bermanfaat.” Protes Arin pada dua sahabatnya.
Seketika mereka memilih diam. Namun Vivi malah melototkan matanya ke arah Nabila. Sambil mengangkat kedua alisnya dan memberi isyarat bahwa butuh penjelasan lebih panjang mengenai hal ini. Nabila hanya mengacungkan jempolmya dan memberikan isyarat bahwa nanti Ia akan menjelaskan lagi via handphone.
Setelah itu mereka dikejutkan dengan pengumuman peserta terbaik. Yang membuat terkejut adalah terpilihnya nama Arinal Haque sebagai peseta terbaik ketiga.
Semua langsung bersorak ke arah Arin. Arin yang tiba-tiba merasa nervous hanya bisa menundukan kepalanya dan melangkah maju menuju ke depan. Berbaris dengan peserta terbaik yang lain. Ada perasaan haru dalam hatinya.
Ia memang menyangka bahwa ia akan menjadi salah satu peserta terbaik. Karena itu sudah merupakan janji dari senior Alvian. Namun, yang membuat ia terheran. Bagaimana bisa para senior benar-benar menjadikannya sebagai peserta terbaik ke tiga. Melihat prestasinya yang masih kalah dibandingkan peserta lain.
Ia menerima hadiah berupa piala dan juga sertifikat. Selain itu ada juga hadiah Berupa voucher makan gratis di kantin kampus selama setengah semester. Ini tandanya ia akan makan gratis selama setengah semester di kantin kampus.
Semua bersorak dan memberikan tepuk tangannya dengan meriah.
__ADS_1
Banyak yang berbisik di kalangan peserta mengenai sosok Arin yang sudah nekat dan menjadi pemberani tadi di tengah lapangan. Ada juga yang merasa iri dan mengatakan bahwa Arin aji mumpung aja. Mentang-mentang ia ada hubungan saudara dengan salah satu senior. Ia menggunakan koneksinya untuk memperoleh peserta terbaik.