
“Iya, kenapa? Udah selesai misi dari saya yang harus kamu kerjakan?” tanyanya penasaran.
“Tidak senior. Misi kali ini belum selesai.” Jawab Arin dengan sedikit gugup.
“loh? Bukannya saya sudah menguranginya? Kenapa masih belum?” Senior Joni bertanya lagi dengan nada yang sedikit mengintimidasi.
“Senior, boleh saya minta misi lain selain hal ini?” tanya Arin dengan kegugupan dalam suaranya yang bergetar. Ia ragu bahwa permintaannya kali ini akan dituruti dengan mudah. Namun menurutnya tak ada salahnya jika mencoba terlebih dahulu.
“Apa?” Senior Joni sedikit terkejut dengan ucapan Arin barusan. “Mau misi lain? Kamu kira disini pasar? Main tawar menawar?” jawabnya ketus. Memberi kesan bahwa ia tak menyetujui usulan dari Arin.
“Iya senior. Apa saja, selain hal ini. Saya bisa melaksanakannya.” Arin berusaha meyakinkan Senior Joni. Dalam hati kecilnya Ia berharap senior Joni mau berbelas kasih dan menuruti permintaannya.
“OK, kalau begitu. Aku mau kamu berlari mengelilingi halaman kampus ini sebanyak lima puluh kali!” Ucap senior Joni.
Mendengar hal itu Arin sedikit terkejut. Bagaimanapun Senior Joni tidak akan memberikan misi yang mudah. Sehingga sudah Bisa ditebak Arin di dalam pikirannya. Hanya saja yang membuat Arin sedikit syok adalah banyaknya putaran yang harus ia lakukan. Lima puluh kali bukanlah hal bisa Ia sepelekan melihat betapa luasnya halaman kampus itu. Namun, Ia dalam posisi yang tidak bisa menolak perintah ini. Karena ini adalah permintaannya sendiri. Sebagai konsekuensi dari penolakannya terhadap misi awal yang tak bisa Ia penuhi.
“Bagaimana? Kamu mau?” tanya Senior Joni kepada Arin. Ia mulai ragu Arin akan menyetujui perintahnya. “Ingat ya! Ini permintaan kamu sendiri. Sudah dikasik misi yang mudah, malah kamu tolak.”
“OK, saya siap kak!” jawab Arin memantapkan hatinya bahwa Ia pasti mampu melakukannya.
Mendengar jawab Arin senior Joni membelalakkan matanya tak percaya. Kegigihan Arin membuatnya semakin semangat untuk menjadikan segalanya tidak mudah.
“Saya sendiri yang akan menghitungnya. Jadi, begini aturannya. Setiap kamu menyelesaikan satu putaran, kamu hampiri saya disini untuk mencoret di atas kertas ini. Satu coretan menandakan satu kali putaran. Mudah kan?” Senior Joni berusaha menjelaskan aturan permainan yang harus Arin laksanakan. Penjelasan yang mudah dan langsung membuat Arin paham seketika itu.
“Iya, saya paham,” jawab Arin.
“Kalau begitu, Silahkan! Laksanakan dari sekarang! Waktunya tidak banyak ya! Karena sebentar lagi acara orientasi hari kedua sudah mau berakhir.”
Tanpa berpikir panjang Arin segera memulai perintah itu dengan mencoba meyakinkan hatinya bahwa Ia bisa. Sambil memejamkan mata Ia tarik nafasnya dalam-dalam dan mulai lari dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Putaran demi putaran sudah Arin lakukan. Arin memang sudah terbiasa dengan hal yang bernama olah raga. Namun, meski begitu ia juga memiliki batasannya sendiri dalam kekuatannya. Lima puluh putaran bukanlah hal yang mudah. Benar saja, dalam putaran kedua puluh. Nafasnya sudah mulai tersengal-sengal. Pandangannyapun sudah mulai sedikit kabur. Kepalanya mulai terasa berat dan sakit. Keringatnya sudah membasahi seluruh baju yang dikenakannya itu. Sejenak ia berhenti di bawah pohon besar sambil memegangi lututnya yang mulai gemetar. Ia atur nafasnya yang begitu terasa berat sambil mengerjapkan matanya. Ia tertunduk lemas menghadap ke bawah. Bahkan hampir jatuh tersungkur ke tanah. Saat Ia mau memulai lagi aksinya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang lebih besar dari telapak tangannya meraih dan menggenggamya erat dan menariknya menuju sebuah kursi yang tak jauh dari tempat itu. Menyadari hal itu Arin yang masih dalam keadaan lemas dan capek hanya bisa pasrah saat dirinya ditarik dan dijatuhkan pada sebuah kursi kayu.
__ADS_1
Setelah duduk ia berusaha mengembalikan tenaga maupun pikirannya dengan tenang. Kepalanya masih tertunduk dan belum memperdulikan siapa orang yang barusan menariknya. Beberapa detik kemudian saat semuanya sudah normal, baik nafas maupun tenaganya kembali normal seperti biasa. Ia mulai sadar dan melihat ke arah orang yang dari tadi masih menemaninya.
“Kamu?” tanyanya Pada orang yang kini juga mulai duduk di sampingnya. Ternyata orang itu adalah Firman. “Kamu kenapa sih mas? Selalu ada dimana-mana?” Arin bertanya dengan nada yang tampak sedikit kesal.
“Kamu sadar gak sih? Kamu tadi itu hampir pingsan!” jawab Firman dengan nada yang tak kalah tinggi dari pertanyaan Arin barusan. “Siapa sih yang memerintah kamu untuk keliling Halaman kampus kayak tadi?”
“Bukan urusan kamu!”
“Arin, ini itu dilarang sama pihak kampus. Sama aja dengan penindasan atau pembulian. Senioritas yang berlebihan namanya!” Firman mencoba menjelaskan.
“Aku gak merasa ditindas. Aku sendiri yang minta dihukum kayak gini!”
Firman yang seperti kehilangan kesabaran. Segera menarik tangan Arin lagi dan membawanya entah kemana.
“Sakit tau’! Sakit nih tangan aku!” seru Arin yang saat ini tangannya di cengkram erat dan di tarik oleh Firman. Firman tak memperdulikan seruan Arin. Ia tetap bersih keras untuk membawanya, bahkan sedikit menyeretnya.
Arin mencoba memberontak dengan mencoba melepaskan cengkraman tangan Firman. namun tidak bisa. Tenaganya kalah jauh dengan Firman. Apalagi tenaganya memang sudah terkuras habis saat ia berlari keliling lapangan kampus tadi. Sekali Lagi Ia hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Firman.
Setelah lama berjalan, Firman dan Arin melangkah menuju Senior Joni yang tampak duduk santai seorang diri. Firman memperhatikan ke arah sekitar. Untungnya tidak ada peserta maupun senior lain disana. Ia pun berniat melabrak Joni.
“Firman?” Senior Joni hanya bisa berdiri heran menatap Firman yang masih membawa Arin dalam cengkramannya.
“Maksud kamu apa menyiksa Arin untuk melakukan hal yang mustahil kayak gitu?” Firman bertanya seraya mengintimidasi.
“Mustahil apaan sih? Aku kan hanya Nyuruh keliling halaman kampus?” Joni mencoba membela diri dengan menjelaskan bahwa yang dilakukannya itu merupakan hal yang masih wajar.
“Hanya? Hanya menurut kamu? Keliling halaman kampus sebanyak lima puluh kali kamu sebut hanya?” Kini emosi Firman sepertinya sudah tak terbendung. Setiap perkataan yang keluar dari mulutnya seperti penuh tekanan. “Kamu tau enggak aturan pertama dalam acara orientasi ini?” sebelum Joni sempat menjawab Firman lebih dulu menjawab pertanyaan itu sendiri. “NO BULLIYING! Paham kan? Gak boleh membuli, gak ada aksi menindas, senioritas dan semacamnya yang mengarah kepada tindakan kekerasan. Ingat itu!”
Firman merampas kertas di tangan Joni. Lalu membubuhkan tanda tangannya disana. Setelah itu Ia menyerahkan kertas itu kembali pada Joni yang masih diam membeku tanpa suara.
“Itu kan misi yang harus Arin selesaikan?” Tanya Firman selanjutnya pada Joni.
“Mas kamu apa-apaan sih?” Arin mencoba angkat suara diantara perseteruan mereka.
__ADS_1
“Diam! Kamu gak usah ikut-ikutan!” bentak Firman pada Arin yang masih sock dengan tindakan yang dilakukan Firman. “Karna Arin sudah menyelesaikan misinya. Aku kira Arin tidak perlu lagi berurusan sama kamu.” Firman kembali menggertak Joni. Sedangkan Joni sudah tidak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya untuk membalas perkataan Firman. Karena Ia tau, bahwa yang dilakukannya memang keterlaluan dan salah.
“Ayo kita pergi dari sini Rin!” ajak Firman sambil terus memegang dan menarik tangan Arin. Setelah sampai di tempat yang lumayan sepi, barulah Firman melepaskan genggaman tangan Arin. Arin yang sejak tadi merasa kesakitan di genggam sedemikian erat dan juga ditarik sambil berjalan paksa tentu sangat marah dengan perlakuan Firman.
“Plak!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Firman. Arin yang sejak tadi kesal, akhirnya melampiaskan kemarahan yang sempat ia pendam tadi ketika Firman adu mulut dengan senior Joni.
Firman terperanjat kaget dan memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Arin yang cukup keras. Belum sempat Ia mengeluarkan kata-katanya, Arin sudah mendahuluinya.
“Kamu itu siapa sih? Selalu ikut campur dalam kehidupan aku? Meski nyata-nyata papa Udah minta tolong sama kamu buat jagain aku. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya dong ikut campur dalam semua urusanku!” Arin mulai mengomel panjang lebar. “Mulai sekarang jangan dekat-dekat apalagi sampai harus ada di sekitar aku. Aku muak lihat wajah kamu!” emosi Arin kian memuncak. “Dan satu hal lagi. Kamu bukan orang yang pantas untuk memperlakukan aku seperti tadi. Sebaiknya kamu ngaca! Siapa aku? Siapa kamu? Ingat itu!” Arin menggertak Firman yang masih diam dan terkejut dengan respon Arin terhadapnya.
__ADS_1