
Arin memutuskan untuk berjalan-jalan melihat pemandangan sekitar. Karena yang lain terlihat masih sibuk. Ia memilih untuk pergi sendirian. Ia masih malu untuk berseliweran di sekitar sana.
Arin berjalan menuruni bukit yang tampak asri dengan rerumputan hijau dan juga beberapa pepohonan yang berkolaborasi menciptakan pemandangan yang indah. Suasana sore di sana tampak mirip dengan suasana sore di kampung halaman neneknya. Ia teringat nenek dan seketika merasa sangat merindukannya.
Arin memutuskan untuk mengambil ponsel di saku bajunya dan berniat untuk menelpon nenek. Namun ia sedikit kecewa saat membuka layarnya ponselnya dan tidak menemukan satu pun signal yang tertambat disana. Ia tak menyerah dan memilih berjalan sedikit lebih jauh. Berharap nanti akan menemukan signal yang cukup kuat untuk sekedar bervideo call dengan neneknya.
Tanpa Arin sadari pencariannya membawanya ke kawasan semak yang lumayan rimbun dan jauh di dalamnya tampak sebuah hutan belantara. Karena penasaran Arin lupa dengan tujuan utamanya dan memilih melangkah masuk ke dalam hutan.
Saat ia memasuki hutan itu. Suasana sudah semakin gelap. Samar-samar ia melihat seseorang melambai ke arahnya. Arin terkejut dan merasa heran. Namun tak sedikitpun merasa takut. Ia malah berpikir bahwa itu salah satu penduduk sekitar yang sedang mencari kayu di hutan. Ia melangkahkan kakinya berinisiatif untuk mendekati orang yang melambai ke arahnya. Ia Seolah terhipnotis untuk melangkah lebih jauh.
Semakin dekat sosok itu tersenyum ke arahnya. Rupanya dia adalah seorang perempuan berambut panjang tergerai dan berjubah putih bersih. Wajahnya tampak pucat namun cantik. Saat hampir menjangkaunya Arin tiba-tiba disadarkan oleh sebuah bisikan di dalam hatinya. Seolah bisikan itu melarang Arin mendekati sosok perempuan yang masih tersenyum kepadanya. Arin seketika menghentikan langkahnya dan diam tertegun. Sekejap mata peremouan itu menghilang entah kemana.
Saat itulah Arin sadar bahwa perempuan yang sejak tadi tersenyum padanya itu bukanlah manusia. Ia mulai merinding dan berbalik arah. Saat akan kembali ke luar hutan ia tiba-tiba di hadang oleh sosok perempuan tadi yang tiba-tiba berdiri tepat beberapa centi di hadapannya. Arin terperanjat dan berhenti seketika. Ia tak bisa bergerak seolah kakinya terpaku ke tanah dan tak bisa ia langkahkan kembali. Sosok itu menyeringai dan mendorongnya. Arin terjungkal dan tersungkur ke tanah. Ia berusaha duduk dan mundur ke belakang. Perempuan itu tetap mengejarnya. Arin yang masih di posisi duduk dan berjalan mundur tidak sadar di belakangnya ada sebuah jurang. Dalam sekejap ia jatuh ke dalam jurang itu. Ia jatuh dengan posisi menggelinding ke bawah. Kepalanya terbentur batu besar dan seketika itu juga ia kehilangan kesadaran.
Sementara di perkemahan tenda-tenda sudah rampung terpasang. Para peserta perempuan sudah selesai memasak dan segera pergi mandi ke sungai. Hari sudah benar-benar gelap. Saat berjalan bersamaan menuju sungai yang ada di bawah bukit. Tiba-tiba Maya teringat akan Arin yang tidak ada di sana bersama dengan mereka.
“Kak mitha! Arin mana?” tanya Maya mendekati senior Mitha. Karena terakhir kali melihat Arin tadi saat di panggil oleh Mitha.
__ADS_1
“Arin?”Mitha malah heran dan bertanya kembali.
“Iya kak! Arin yang tadi bagi-bagiin roti di suruh kakak!” ucap Maya mencoba memberi penjelasan.
“Oh iya! Mana ya? Kok gak ada?” Mitha menoleh ke kanan dan ke kiri demi menemukan Arin di kerumunan peserta.
“Woy! Arin ada?” tanya senior Mitha kepada seluruh peserta.
Ditanya demikian seluruh peserta terdiam dan memperhatikan sekitarnya. Tak ada yang menemukan Arin sama sekali. Mereka pun mulai panik dan khawatir..
“Kak tadi aku lihat dia menuju ke bawah. Tapi aku gak tau dia mau kemana. Ucap seseorang yang mengaku sempat melihat Arin.
Mitha melaporkan tentang ketiadaan Arin kepada ketua panitia. Saat Izzul mendengar kabar itu dari Mitha. Ia menjadi sangat khawatir dan takut. Ia berusaha optimis bahwa Arin mungkin hanya kesasar di rumah warga.
Izzul segera menghubungi kepala desa dan melaporkan tentang hal yang terjadi. Kini semua sudah mulai panik dan khawatir. Masalahnya Hari sudah gelap dan mereka belum menemukan Arin. Para penduduk juga ikut mencari Arin ke rumah-rumah sekitar.
Begitu tau bahwa ada laporan Arin hilang. Firman langsung panik dan siaga untuk mencari Arin. Ia membagi kelompok menjadi beberapa tim. Supaya mudah untuk menemukan Arin.
__ADS_1
Setelah mencari ke berbagai tempat dan tetap tak menemukan apa-apa. Firman mulai menggila. Ia tak peduli lagi dengan timnya dan berusaha mencarinya sendirian saja. Ia mencoba menghubungi ponsel Arin dan ternyata ponselnya tidak aktif.
Perasaan Firman semakin tak karuan. Ia teringat kepada papa Arin yang selalu berpesan untuk menjagakan Arin untuknya. Seketika ia menjadi sangat terpukul dan merasa bersalah. Kenapa ia begitu keras kepala dan tidak memperdulikan Arin selama ini. Harusnya ia tetap mengalah seperti dulu. Seharusnya ia tak mengambil hati ucapan Arin.
Firman menyesal atas semua sikapnya yang selalu pura-pura tidak peduli. Nayatanya kini ia menjadi orang yang sangat takut terjadi sesuatu kepada sahabat masa kecilnya itu.
Ia tetap berusaha keras mencari. Meski yang lain berhenti sejenak karena kelelahan. Namun Firman tetap mencari sendiri dengan berbekal sebuah senter di tangannya.
Firman terus berjalan dan menemukan hutan yang tadi dimasuki oleh Arin. Ia menjadi curiga Arin sebenarnya ada di dalam sana. Nalurinya begitu kuat mengatakan untuk mencari Arin ke sana. Ia nekat menerobos semak belukar di tengah-tengah kegelapan yang mencekam. Ia tak pedulia lagi dengan keadaan sekitar yang menakutkan. Di dalam hatinya hanya ada Arin. Dan harus segera bisa menemukan Arin.
Dengan keadaan signal yang lemah dan sering putus nyambung. Firman mencoba menelpon Alvian dan mengatakan bahwa ia masuk ke dalam hutan sendirian. Ia meminta tolong untuk mengirim beberapa orang ke sana menyusulnya. Begitu selesai mengabari Alvian ponselnya tiba-tiba mati dan tak berfungsi kembali. Ia berjalan masuk ke dalam hutan dan menemukan jurang yang cukup dalam. Ia menyenter ke bawah namun tak menemukan tanda-tanda adanya manusia di sana.
Firman melepaskan syalnya dan mengikatkan ke sebuah pohon terdekat. Hal itu ia lakukan untuk memberi tanda bahwa ia masuk ke dalam jurang. Supaya nanti saat tim penyelamat datang mereka tau bahwa Firman ada di dalam sana. Firman nekat memasuki jurang itu meski tak tau apakah ada Arin di sana. Ia tak perduli dengan nyawanya sendiri. Yang ada di benaknya hanyalah Arin dan harus segera menemukan Arin.
Firman akhirnya nekat turun ke jurang dengan berpegangan pada rerumputan liar yang tumbuh lebat di tepi jurang. Tak lama kemudian ia akhirnya benar-benar sampai ke dalam jurang itu. Firman segera menyalakan senternya dan berusaha mencari Arin di bawah sana. Ia berteriak memanggil-manggil nama Arin namun tak ada jawaban.
Tak lama ia berjalan menyusuri kedalaman jurang tiba-tiba senternya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak tak berdaya. Ia mendekati tubuh itu dan memeriksanya. Ternyata benar itu memang baju yang dikenakan Arin tadi saat bernyanyi di dalam bus. Ia sangat ingat dengan motif yang tergambar di benaknya. Ia langsung melompat dan mengangkat tubuh itu demi memastikan bahwa itu benar-benar Arin. Betapa bahagianya hati Firman ketika tau bahwa sosok itu adalah Arin sahabat masa kecilnya. Orang yang sangat ia sayangi seumur hidupnya.
__ADS_1