Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Menemui Papa


__ADS_3

Acara demi acara sudah mereka lalui. Akhirnya acara itu ditutup dengan pembacaan doa bersama dalam hati menurut keyakinan masing-masing. Setelah selesai,  para peserta berhamburan di halaman kampus.  Kebanyakan dari mereka masih asyik berfoto bersama para senior dan juga teman-temannya. Moment itu dijadikan kesempatan oleh para peserta yang sangat mengidolakan Firman. Mereka semua berebutan untuk bisa mendapat antrian berfoto bersama dengan Firman.


Firman yang merasa bahwa jumlah mereka sangat banyak merasa tak enak untuk menolak ajakan itu.  Namun jika semua diladeni,  maka ia pastinya akan sangat lelah dan kehabisan waktu. Sedangkan sekitar setengah jam lagi ia sudah janji dengan om Irawan papanya Arin.


Dengan terpaksa ia meminta maaf kepada semua peserta yang antri menunggu giliran untuk berfoto dengannya. Sebagian besar dari mereka tampak kecewa,  namun sebagian yang lain memilih pengertian.  Toh Firman masih bisa ditemui setiap hari di kampusnya. Karena ia bukanlah artis korea ataupun luar negeri yang sulit dijangkau keberadaannya.


Firman memutuskan mencari Arin terlebih dahulu sebelum Ia pergi ke tempat parkiran untuk mengambil motornya.  Tidak terlalu sulit mencari Arin yang kebetulan masih belum bubar dari barisan kelompoknya. Tampak dari kejauhan Ia sedang sibuk berswafoto dengan beberapa teman dalam kelompoknya.


Firman mendekati kerumunan yang sedang asyik berselfi ria itu dan mengutarakan keinginannya.


“Permisi!  Boleh saya pinjam Arinnya sebentar?” tanya Firman dengan nada yang sangat sopan. Ia sadar bahwa jika Ia langsung to the point pada Arin, khawatir memancing emosinya kembali.  Yang ada nanti ia harus diomeli di depan para junior yang sebagian besar sangat mengaguminya.  Tentu Ia harus menjaga wibawa dan juga nama baiknya. Jangan sampai Arin bertindak kasar lagi terhadapnya.  Seperti yang terjadi kemaren sore saat ia membela Arin dari Joni.


Mendengar Firman mengatakan hal itu,  tentu saja sebagian besar dari mereka kaget dan juga terpukau.  Sangat tidak mungkin rasanya jika Seorang senior Firman yang sangat mereka kagumi dan juga terkenal sikap acuh tak acuhnya menyapa mereka duluan.  Meski sebenarnya kata-kata itu bukanlah sebuab sapaan. Melainkan sebuah permintaan yang bertujuan untuk memanggil Arin dari kerumunan yang lumayan banyak.


Arin yang menyadari hal itu langsung memisahkan diri dari kerumunan dan segera menuju ke arah Firman.


“Ada apa ya?  Seorang Senior idola, harus menyibukkan diri mencari saya?” tanya Arin sedikit Formal.  Bertingkah seolah dirinya tidak terlalu mengenal orang yang berada di hadapannya kini. Ia bahkan berakting seolah ia terkejut dengan sikap Firman. Padahal hal itu merupakan hal yang sangat biasa bagi Arin. Berbeda dengan kebanyakan junior yang ada disitu, mereka justru iri setengah mati pada Arin yang saat itu jelas-jelas sedang dicari oleh orang yang bisa dibilang paling diminati kelas wahid oleh sebagian besar peserta OSCAR.


Sebagian mata malah memandang sedikit sinis.  Mereka tidak terima idolanya harus menyibukkan diri mencari Arin.  Bahkan Firman dengan kata-kata kerennya ingin meminjam Arin dari teman-temannya. Tindakan itu cukup membuat mereka semakin ngefans setengah mati pada Firman.

__ADS_1


“Om Irawan saat ini lagi ada daerah sekitar sini Rin!  Beliau meminta aku supaya mengantar kamu kesana.” Jawab Firman berusaha menjelaskan maksud dari tujuannya mencari Arin.


“What?? Papa ada disini?” ucap Arin terkejut dengan jawaban Firman barusan.  Ia sampai menutupi mulutnya sangking tidak percaya dengan apa yang dikatakan Firman.  “Ini beneran kan?  Bukan prank ? Papa beneran ada disini?  Trus, kenapa papa gak bilang-bilang sama aku?” tanya Arin heran terhadap keputusan papanya yang datang tiba-tiba mengunjunginya tanpa memberi tahu terlebih dahulu. 


“Loh, memang om tidak bilang dulu sama kamu?” tanya Firman yang tak kalah heran dengan respon Arin barusan. Karena ia tak menyangka bahwa termyata Arin tidak mengetahui tentang niat papanya hari ini datang mengunjunginya dan Firman. Ia kira Arin sudah ditelepon sebelumnya atau setidaknya ia tau bahwa papanya hari ini datang untuk urusan bisnis.


“Enggak mas!  Aku gak tau.  Papa gak ada nelpon aku!” seru Arin sedikit kesal. Nada bicaranya sudah mulai meninggi dan terdengar sedikit marah. 


“Aku gak ada waktu untuk menjelaskan hal ini,  entar kamu nanya langsung aja sama Om!  Yang pasti saat ini kamu harus ikut aku dulu!” ujar Firman menjelaskan pada Arin.


Semua mata tertuju pada percakapan mereka berdua.  Vivi dan Nabila tidak heran dengan apa yang terjadi di depan matanya.  Karena sebelumnya mereka sudah tau bahwa Arin cukup kenal dekat dengan Firman.  Senior idola mereka berdua.  Berbeda dengan peserta lain yang saat itu banyak yang heran dengan sikap Firman pada Arin yang seolah sudah kenal akrab.


Sadar bahwa saat ini Arin sedang jadi pusat perhatian. Ia buru-buru melangkah pergi menjauh dari kerumunan kelompoknya.  Firman segera menyusulnya dari belakang sambil tersenyum salah tingkah pada kerumunan yang ditinggalkan Arin.


“Emang papa lagi ada dimana?”


“Kamu gak akan tau tempatnya. Biar mas yang antar ya?” tanya Firman seraya menawarkan diri.


“Gak mau! Bilang aja tempatnya dimana! Aku bisa sendiri kok.” Ucap Arin dengan nada juteknya.

__ADS_1


“Kamu gak akan tau dek! Udah deh buruan ikut mas naik motor!”


“Apa? Naik motor? Di bonceng maksudnya?” tanya Arin heran.


“Lah, iya! Memang mau gimana? Mas kan emang gak punya mobil.”


“Gak mau! Aku mau naik taksi!”


“Kamu gak tau tempatnya. Kalau kamu gak mau ikut ya udah. Aku berangkat ya? Jangan salahkan aku kalau kamu gak bisa ketemu om!” ucap Firman menggertak halus.


“Huh, ya udah deh. Mana motornya?” tanya Arin semakin kesal.


“Bentar aku ambil dulu di parkiran. Tunggu disini ya! Jangan kemana-mana!” ucap Firman sambil berlari penuh semangat. Ia tak menyangka semudah itu mengajak Arin naik motornya. Awalnya ia kira akan ada banyak drama terlebih dahulu supaya Arin mau dibonceng olehnya.


Untuk pertama kalinya,  setelah sekian lama.  Firman membonceng Arin di belakang motornya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba bergelanyar di hatinya.  Ia tak bisa memastikan perasaan apa itu.  Tapi diam-diam Ia mulai berbunga-bunga.


Berbeda dengan Arin, ia sebisa mungkin menjauh dari jangkauan Firman. Sehingga tercipta ruang yang cukup jauh diantara mereka. Bahkan cukup jika diduduki satu orang dewasa diantara mereka. Meski laju motor yang Firman naiki tidak terlalu cepat,  namun cukup membuat Arin sedikit terjungkal jika tiba-tiba ada hal membuatnya terpaksa menginjak rem mendadak. Hal ini memaksa Arin untuk berpegangan cukup kuat pada jok belakang motor.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2