
Arin memutar otaknya. Kepada siapa ia akan bertanya lagi mengenai senior Toxic ini. Karena tak mungkin ia harus bertanya ke banyak senior. Sedangkan setiap senior tidak akan memberikannya secara cuma-cuma.
Akhirnya Arin membujuk senior Mitha. Selaku salah satu penanggung jawab dalam ruangannya. Ia sangat berusaha keras membujuk supaya senior Mitha mau membantunya.
Untung saja senior Mitha dengan baik hati tanpa banyak drama memberi tahu Arin satu saja informasi tambahan mengenai senior toxic. Ia memberi tahu bahwa seseorang yang bernama toxic itu sangat menyukai puisi. Jadi ia sangat berkaitan erat dengan puisi.
Setelah mendapatkan satu petunjuk lagi Arin mulai menganalisinya sendiri. Karena untuk mencari informasi lain lagi sepertinya waktunya tidak akan cukup. Sedangkan sebentar lagi kegiatan oscar untuk hari terakhir akan segera selesai. Ia hanya memiliki waktu sekitar satu setengah jaman lagi.
Arin mulai berpikir keras. Jika memang ia adalah salah satu dari ketua ruang dan dia adalah seorang laki-laki. Maka ia harus memilih enam dari sepuluh orang. Karena diketahui bahwa yang menjadi ketua ruang dalam acara kali ini yang jumlah keseluruhan ruangan ada sepuluh. Enam diantaranya adalah senior berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan yang lainnya adalah senior perempuan.
Dari keenam orang itu Arin tidak terlalu banyak kenal. Namun, jika ia sangat berkaitan dengan puisi. Maka Arin memutuskan untuk mencari mading kampus. Disana ia mencari puisi-puisi yang terpampang disana. Menelusuri dan melihat siapa saja penulisnya. Namun, nihil. Pengarang dari puisi yang terpampang disana tak ada satupun yang mengarah pada para senior yang menjadi ketua ruang.
Saat sudah mulai lelah dan hampir menyerah tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit di benaknya. Ia segera mendatangi senior yang saat ini sedang memegang megaphone dan berada di tengah lapangan.
“Senior!” ia memanggil dengan nafas yang terengah-rengah karena berlari.
Mendengar ada seseorang menyapanya ia pun menghentikan aksinya dan memandang ke arah Arin.
“Ada apa?” tanyanya heran.
“Boleh saya pinjam megaphonnya?”
“Untuk apa?”
“Butuh banget senior. Sebentar saja. Boleh ya?” tanya Arin sedikit memelas.
“Ok, silahkan.”
Untung saja senior yang ini sangat baik hati. Sehingga Arin tak perlu melewati rintangan lain lagi. Setelah mendapatkan izin. Ia langsung mengambil alih dan mencoba mengetes suaranya.
“A, a, a, halo! Halo!” ucapnya sedikit gugup.
Si senior tadi hanya bisa heran melihat tingkah laku Arin. Ia juga sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh juniornya.
Arin menuju ke tengah lapangan dan berdiri disana. Sesaat setelahnya ia mulai membuka suara.
“Selamat siang menjelang sore semuanya! Semua senior, semua panitia dan semua peserta oscar yang sangat! Sangat saya sayangi.” Ucap Arin mengalahkan kegugupan yang melandanya saat ini. Ia benar-benar tak habis pikir pada dirinya yang melakukan aksi senekat itu.
Semua peserta maupun panitia secara serentak berhenti dari segala aktifitasnya. Mereka semua menatap ke tengah lapangan. Melihat seseorang yang berdiri sambil memegang megaphone di tangannya.
“Baiklah, sebelumnya. Bolehkah saya meminta izin untuk berbicara disini?” tanyanya pada seluruh orang yang kini sedang menatapnya dan menunggu aksinya.
“Boleh!” jawab mereka sebagian. Sebagian yang lain memilih diam.
__ADS_1
“Oke, huh! Saya berdiri di sini untuk membacakan sebuah puisi untuk orang yang sangat saya kagumi selama masa orientasi ini.” Arin diam sejenak karena mengambil nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian ia mulai melanjutkan aksi nekatnya.
“Saya harap semua yang ada disini mendukung saya. Saya sudah nekat berdiri di sini memberanikan diri. Menyita waktu kalian semua. Menghentikan aktifitas kalian semua.”
“Baiklah, selamat mendengarkan.”
Arin memejamkan matanya sejenak lalu melanjutkan kalimatnya
Ku telaah lagi hatiku.
Tentang apa sebenarnya yang kurasa.
Kusangka itu hanya rasa biasa
Namun, kenapa Ketika mendengar namamu seolah ada yang menggebu.
Ku eja lagi semua tentangmu.
Tentang bagaimana kau dan kemisteriusanmu.
Kusangka itu biasa.
Namun kenapa mampu membuatku semakin penasaran tentangmu.
Ku baca lagi hariku
Kusangka itu hanyalah semu
Namun kenapa semakin membuatku tersiksa bila ingat dirimu.
Ku tafsiri lagi lagi rasaku.
Kusangka itu akan bisa.
Namun kenapa malah menjadi semakin tak kuasa menahannya.
Kau,
Ya, kaulah
Sebuah nama yang tak kukenal rupa.
Namun, mampu membuatku terluka.
__ADS_1
Kaulah,
Jawaban dari semua kegelisahanku
Muara dari kerinduanku
Tujuan yang kucari dalam hidupku.
Semua Orang bersorak ketika Arin menyelesaikan kalimat terakhir dari puisinya. Ada yang mengolok dan mengejeknya. Namun ada juga yang kagum akan keberaniannya.
“Kalian mau tau untuk siapa puisi ini saya buat?” tanya Arin sekali lagi kepada seluruh peserta.
“Mau!” jawab mereka serempak dengan sorakan dan tepuk tangannya.
“Puisi ini untuk seorang senior yang hanya saya kenal namanya. Namun tidak pernah tau seperti apa orangnya. Dialah senior Toxic!”
Semua orang semakin dibuat terperanjat oleh Arin.
“Jadi diantara panitia semua atau para senior semua. Siapa yang bernama samaran senior Toxic. Tolong tampakkan diri anda ke hadapan saya! Karena saya sudah memberanikan diri saya dan juga mendedikasikan kemampuan membuat puisi saya yang sangat jelek itu. Hanya demi ingin mengetahui siapa sesungguhnya anda wahai senior Toxic!” teriak Arin hampir mengeluarkan air mata.
Semua orang dibuat menelan ludah dan juga semakin terkejut oleh tingkah Arin yang bisa dibilang gila. Namun tak sedikit juga yang memilih kagum dan mendukung Arin.
“Ayo senior Toxic! Tampakkan diri anda disini!” ucap seseorang dengan lantang dan keras.
“Iya, jangan jadi pengecut! Junior anda sudah berani melakukan hal gila semacam ini. Masak anda akan diam saja?” ucap seseorang lagi dengan nada suara yang menggebu-gebu.
Tampak yang lain juga bersorak menyuruh senior Toxic untuk keluar menampakkan diri.
Sementara Arin merasa semakin semangat dan percaya diri.
Setelah cukup lama menunggu dan terdiam. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundak Arin. Seketika Arin menoleh dan menatap orang yang berada di hadapannya. Ia terperanjat dan hampir saja jatuh lunglai saat mengetahui siapa orang yang saat ini tiba-tiba mengambil alih megaphonnya.
“Aku tidak menyangka bahwa namaku akan sehebat itu.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Dialah Firmansyah Abdala. Seseorang yang paling Arin benci dalam hidupnya.
“Mohon perhatian semuanya!” seru Firman melalui mikropon.
“Perkenalkan nama samaran saya Adalah Toxic.”
Tiba-tiba semua bertepuk tangan riuh.
“Maaf, jika sebelumnya ulah penggemar berat saya ini mengganggu aktifitas kalian semua. Maaf juga kepada panitia yang acaranya juga terganggu karna adanya pengakuan cinta dari pengagum berat saya ini.” Ucap Firman sambil menatap Arin yang kini tertunduk menahan malu, marah dan kesal.
__ADS_1
Semua perasaan yang tidak mengenakkan itu sedang bergejolak dalam diri Arin. Ia ingin berlari menjauh dari acara itu. Ia ingin tidak peduli lagi dengan semuanya. Namun, tangan Firman tiba-tiba meraih tangannya dan menggenggamnya.
“Maaf juga untuk adik kecil yang beberapa hari ini juga sudah berusaha keras semampunya untuk mencari saya. Saya rasa cukup disini saja. Kita akhiri dan silahkan lanjutkan aktifitas kalian kembali.”