Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Berdansa Bersama


__ADS_3

Melihat Arin yang masih diam dan tak tau harus berbuat apa. Membuat Firman meraih tangan Arin dan meletakkan di bahunya. Firman mulai bergerak mengikuti alunan musik. Di dalam hati Firman sangat bahagia dan berdebar-debar berada sedekat itu dengan Arin. Firman sadar bahwa ia mulai tersihir dengan pesona sahabat masa kecilnya.


Arin tampak menunduk malu saat Firman mulai memandang wajahnya.


“Kamu tau enggak?” bisik Firman di telinga Arin.


“Apa?” tanya Arin sedikit grogi.


“Kamulah yang tercantik di pesta ini!” ujar Firman mencoba memuji.


“Apaan sih? Gak usah mencoba merayu ya! Aku gak bakalan terpengaruh!” jawab Arin halus. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba bergetar di hatinya. Ia seolah-olah suka diperlakukan seperti itu  ia sepenuhnya tidak sadar akan kebenciannya dan dendamnya.


Musiknya, posisinya dan juga perasaannya benar-benar membuat Arin terhanyut dalam kesenangan. Ia juga tak menyangka akan ada moment seintim itu antara dirinya dan orang yang sejak kecil dianggap kakak olehnya.


Mereka berdua terus bergerak mengikuti alunan musik yang menggema. Arin masih saja menunduk demi menghindari tatapan langsung Firman yang seolah siap menusuk hatinya. Sadar bahwa sejak tadi Arin menghindari pandangan matanya. Firman mulai memegang dagu Arin dan mengangkatnya perlahan. Hingga pandangan mereka kini benar-benar bertemu satu sama lain.


Diperlakukan demikian, bukannya marah. Arin malah seolah terhanyut dengan pesona Firman. Ia membalas tatapan itu dan tiba-tiba jantungnya juga berdegup sangat kencang. Ia ingin mengalihkan pandangannya namun hatinya menolak. Entah kenapa ia benar-benar sudah tersihir dan sangat suka diperlakukan demikian.


“Gila! Sumpah demi apa mereka mesra banget tauk!” ucap Vivi pada nabila yang sejak tadi memperhatikan Firman dan Arin berdansa.


“Iya, aku kan juga pengen!” Nabila mulai merengek.


“Gimana kalau kita kesana juga?” tiba-tiba Alvian bertanya demikian pada mereka berdua.


“Ya. Ampun kakak! Gimana caranya kalau kita sekarang sedang bertiga gini?” tanya Vivi pada Alvian.


“Ya bergantian! Atau kupanggilkan salah seorang temanku satu lagi buat jadi pasangan kamu?” tanyanya pada Vivi.


“Ih! Enggak ah, malu!” Nabila menolak ajakan Alvian.


“Ya udah! Kalian berdiri saja disini menikmati pemandangan romeo dan juliat yang sedang bermesraan itu! Aku mau cari pasangan dansaku dulu!” ujar Alvian sambil berlalu pergi dari hadapan Nabila dan Vivi.


Sementara di tempat lain tampak beberapa cewek yang seangkatan dengan Arin sedang memprhatikan Firman dan Arin. Mereka seolah tidak suka dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Karena mereka adalah fans fanatik Firman. Wajar saja jika merasa iri dan cemburu pada Arin.


“Ih! Apaan sih yang namanya Arin itu. Sok kecantikan tauk!” ujar seseorang yang bernama Viona. Salah seorang cewek yang terobsesi pada Firman.


“Iya! Kayaknya dia bukan adik sepupu kak Firman deh! Dia ngaku-ngaku aja kali!” timpal seseorang lagi yang bernama Yeni.


“Pokoknya aku gak tremor idolaku berdansa ama dia!” lagi-lagi Viona meluapkan kebenciannya.


“Gimana kalau kita kasik pelajaran cewek gatel itu!” ucap seseorang lagi yang bernama Juwita.


“Caranya?” tanya Yeni penasaran. Ia juga sangat bernafsu untuk mencelakai Arin. Mereka bertiga begitu dipenuhi perasaan iri dan dengki.

__ADS_1


“Dia sok ngembaliin hadiah-hadiah dari kita! Palingan mau diembat sendiri tuh senior Firman!”


“Iya deh kayaknya. Pokonya kita harus bikin perhitungan dengan Arin. Cewek gatel itu!” ucap Juwita penuh perasaan marah di dadanya.


“Gimana caranya?” tanya Yeni lagi-lagi bertanya demikian.


Viona mengisyaratkan kedua temannya itu untuk mendekat dan mendengarkan rencananya. Mereka bertiga tampak berbisik-bisik ingin melakukan suatu tindakan untuk membalas sakit hati mereka pada Arin.


Firman dan Arin masih tampak menikmati musik yang sedang mengalun lembut. Keduanya benar-benar terbuai dengan perasaan masing-masing. Hingga seseorang datang menepuk pundak Arin. Seketika Arin melepaskan tangannya dari pundak Firman dan menoleh ke arah orang itu.


“Boleh pinjam kakak sepupunya?” ternyata orang itu adalah Maya. Si pemilik acara saat ini.


Arin hanya diam dan tak mampu menjawab.


“Boleh dong? Aku mau menari bersama kak Firman?” sekali lagi Maya mennyakan hal yang sama pada Arin.


“Boleh kak! Silahkan!” ucap Arin begitu tersadar oleh pertanyaan kedua.


“Kak Firman gak keberatan kan? Dansa sama aku?” tanya Maya langsung kepada Firman.


“Tentu saja enggak lah! Kamu kan tokoh utamanya malam ini. Kamulah pemilik skenario acara ini. Jadi terserah kamu.” Jawab Firman sambil tersenyum ke arah Maya.


Maya segera meletakkan tangganya di pundak Firman dan tangan kirinya meraih tangan Firman. Firmanpun membalas hal itu dengan meletakkan tangan sebelahnya di pinggul Maya. Keduanya mulai melangkah mengikuti irama musik.


Melihat hal itu Arin jadi merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Seolah tak rela hal itu terjadi. Namun siapa dia? Di mata orang-orang dia hanyalah adik sepupu Firman. Dia tak berhak melarang Maya menyukai Firman.


“Arin!” panggil juwita dari arah samping. Terburu-buru menghampiri Arin.


“Siapa ya?” tanya Arin karena merasa tidak mengenali orang yang sedang menyapanya.


“Hm, ini aku salah satu fans berat kakak sepupumu!” ucap Juwita berusaha dilembut-lembutkan. Padahal di dalam hati ia ingin sekali menjambak rambut Arin yang menurutnya sok kecakepan.


“Eh, iya. Ada apa?” Arin tak mengerti kenapa orang di depannya memperkenalkan diri sebagai fans berat Firman.


“Aku ingin lebih dekat sama kamu. Perkenalkan namaku Juwita!” ujar Juwita sambil menjulurkan tangan kanannya.


“Aku Arin!” jawab Arin menjabat tangan itu.


“Seneng deh, bisa kenalan sama kamu!” Juwita berusaha menggombal. “Kamu kesini sama siapa?” tanya Juwita kepada Arin.


“Aku bareng teman-temanku. Tapi gak tau mereka kemana!” ucap Arin sambil mengalihkan pandangannya dan memindai setiap tempat yang terlihat oleh pandangannya.


Saat Arin menoleh lagi ke arah Juwita. Tiba-tiba dati kejauhan ada sebuah suara yang sedang memanggil juwita.

__ADS_1


“Juwi! Jadi kamu disitu? Dari tadi loh aku mencari kamu!” ucap cewek itu sambil sedikit berlari kecil. Namun saat hampir tiba ke tempat Juwita dan Arin. Dia malah pura-pura terjungkal dan hampir saja terjatuh. Demi menahan agar tidak jadi terjatuh ia langsung memegang baju outer Arin yang berbahan organza. Dengan sengaja ia menjatuhkan dirinya sambil menarik kain organza itu.


“SREGGH!”


Tak ayal baju Arin yang rapuh itu tiba-tiba saja sobek dan bagian sobekannya ada di tangan cewek yang hampir terjatuh tadi. Sobekan itu memperlihatkan seluruh bagian punggung Arin.


Arin yang masih berdiri hanya bisa terkejut dan menahan malu setengah mati. Pasalnya saat kejadian itu terjadi banyak mata memandang ke arah mereka. Saat menyadari bahwa bajunya sobek Arin reflek ingin menutupi punggungnya tapi tak bisa. Ia juga tidak menemukan kain yang bisa dijadikan penutup.


“Ya ampun Yeni! Kamu merusak baju Arin loh!” ucap Juwita pada cewek yang ia sebut Yeni.


“Duh! Maaf ya Rin! Aku gak sengaja!” ucap Yeni dengan mimik penuh penyesalan.


Arin tak bisa menjawab. Ia hanya berdiri mematung menahan rasa malu yang amat besar. Ingin rasanya ia berlari pergi. Namun seolah ada yang menahannya. Banyak mata memandang dengan wajah iba. Namun tak sedikit juga yang menertawakannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2