
“Kalian gak ada kerjaan lagi ya?” tanya Arin kepada kedua sahabatnya saat mereka tiba di kelas pagi ini.
Bukannya menjawab mereka berdua malah tertawa puas. Membuat Arin semakin kesal dan marah.
“Awas aja ya kalian! Awas minta bantuan aku kalau tugas-tugas kalian pada belum nemu referensi!” ancam Arin pada kedua sahabatnya. Arin tau betul hanya ancaman seperti itu yang dapat membuat mereka berdua bakalan tunduk dan patuh terhadap Arin.
“Yah, jangan gitu dong Rin! Kita berdua kan Cuma mau jadi penengah doang! Kak Firman minta tolong banget ama kita berdua. Kan gak enak tuh nolak permintaan senior. Apalagi itu senior idola kita berdua!” Nabila mencoba mencari alasan supaya ulahnya kemarin ditoleransi oleh Arin. Nabila juga segera menyikut Vivi dengan lengannya. Hal itu ia lakukan agar Vivi juga mau membujuk Arin atas perbuatan mereka berdua dalam menjebak Arin.
“Iya Rin! Maaf deh, kalau kamu kesal dan marah! Kita tuh Cuma mau kamu sama kak Firman itu akur!” ucap Vivi segera setelah menyadari kode dari Nabila.
“Emang aku tengkar ama dia? Kalau kalian gak tau permasalahannya. Jangan sok jadi pahlawan deh!” ujar Arin dengan suara tinggi.
“Itulah Rin! Kenapa sih kamu gak terbuka sama kita? Apa kita kurang bisa dipercaya untuk menjadi teman curhat kamu? Kamu tuh gak pernah cerita sesungguhnya pada kita tentang kenapa kamu sangat membenci kak Firman!” ucap Nabila yang juga mulai protes dengan tindakan Arin yang memilih merahasiakan hal itu dari mereka berdua.
“Aku bukannya gak percaya ama kalian! Tapi, aku belum siap menceritakan yang sesungguhnya!” Arin mengutarakan alasan sebenarnya kenapa ia sampai saat ini belum menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dan senior idola kedua sahabatnya.
“Itu sama aja dengan kamu masih belum menganggap kita berdua sebagai teman terdekat kamu! Padahal kita selama ini selalu bersama. Saling bertukar cerita satu sama lain. Cuma kamu Rin! Cuma kamu yang gak pernah terbuka!” Nabila mulai semakin emosi dengan tanggapan Arin. “Aku tuh juga makin bingung sama kamu Rin! Kadang kamu benci banget seakan ogah dan anti kak Firman. Tapi di hari lain kamu menjadi orang yang sangat perhatian sama dia. Kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu lakukan?”
Melihat Nabila yang mulai emosi dan mengungkit-ngungkit masalah hubungan Arin dan Firman. Membuat Arin juga tidak kuasa untuk tidak membalas kata-kata kasar Nabila.
“Itu urusan aku sama dia! Kalian gak usah ikut-ikutan! Kalau kalian suka sama dia. Ya, sana kejar! Jangan paksa aku untuk ikut-ikutan menyukai dia!”
__ADS_1
“Kamu sadar gak sih Rin? Kamu tuh juga udah mulai suka sama kak Firman! Tapi kamu terlalu gengsi buat mengakuinya!” Nabila tak mau kalah.
“Tuh kan? Udah mulai sok tau!” Arin semakin naik darah. Ia tentu saja tak terima jika dibilang demikian oleh Nabila.
Vivi yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa bengong dan tak tau bagaimana caranya supaya mereka berhenti bertengkar mulut. Namun melihat keadaan sekitar yang semakin ramai oleh mahasiswa lain yang datang ke dalam kelas dan mennyaksikan pertengkaran itu. Membuat Vivi terpaksa memberanikan dirinya untuk melerai kedua sahabatnya.
“Cukupppp!” teriak Vivi lantang. “Kalian ini kayak anak kecil tau enggak? Gak malu apa ama teman-teman yang lain?” ucap Vivi mengingatkan bahwa di sekitar mereka sudah banyak teman sekelas yang hadir dan ikut bengong menyaksikan pertengkaran itu. Seolah mereka menemukan tontonan yang menarik di pagii hari.
Begitu sadar bahwa di dalam kelas itu sudah banyak orang. Arin segera diam dan menyudahi percekcokannya. Ia memilih pindah tempat duduk yang berjauhan dari Nabila maupun Vivi.
Nabila juga mendengkus kesal dan tak sudi untuk melihat Arin berada di sekitarnya. Kedua orang ini memilih untuk saling mempertahankan egonya.
Setelah pertengkaran itu mereka jadi memilih berjalan sendiri-sendiri. Tak ada lagi tegur sapa. Tak ada juga canda tawa diantara mereka bertiga. Entah sampai kapan hal itu akan terjadi. Vivi yang netral hanya bisa menghindari kedua-duanya. Hal itu ia lakukan supaya tidak ada kecemburuan sosial jika harus memilih salah satunya.
Dia hari sudah berlalu. Kini saatnya mengikuti tes amsuk keanggotaan Badan Eksekutif Mahasiswa bagi Arin. Setelah perkuliahan selesai, ia bergegas menuju ruangan serbaguna yang dijadikan sebagai tempat untuk menyeleksi para calon.
Melihat para peserta yang hadir sudah memadati ruangan serbaguna. Membuat Arin semakin merasa tertantang dan banyak berharap agar dirinya terpilih. Karena persaingan seperti ini yang sangat ia sukai.
Firman menjadi salah satu panitia yang berperan sebagai pengawas di sana. Tes tulis merupakan tes yang harus mereka lewati sebelum akhirnya mereka akan diwawancara satu persatu sebagai seleksi tahap kedua. Tentu saja seleksi kedua akan bisa dilakukan oleh peserta yang dinyatakan lolos tes pertama.
“Arin semangat!” bisik Firman sambil memberikan kode dengan tangannya. Melihat hal itu membuat Arin semakin semangat untuk mengikuti seleksi. Arin sengaja membuat dirinya semakin terlibat dengan semua hal yang berkaitan dengan Firman. Hal itu tentu saja agar supaya dirinya bisa lebih dekat lagi dengan Firman. Ketika sudah dekat ia akan dengan mudah memperdaya Firman.
__ADS_1
Di dalam hati Arin hanya ada dendam dan dendam. Sampai-sampai ia tak menyadari ada perasaan lain yang sebenarnya mulai tumbuh di hatinya. Ia sudah terlalu dibutakan oleh rasa benci dan dendam yang selalu menghantuinya.
“Gimana tadi tesnya?” tanya Firman saat Arin sudah menyelesaikan tes tahap pertama dan keluar dari ruangan serbaguna.
“Ya, lancar sih! Semua pertanyaan udah aku jawab semua! Tapi, gak tau deh gimana hasilnya.
“Yakin deh bakalan terpilih!” ucap Firman yang tiada henti-hentinya menyemangati Arin.
“Ok! Aku duluan yah?” pamit Arin yang sebenarnya ingat bahwa dirinya sudah membuat janji akan mengerjakan tugas bersama dengan Firman. Hal itu sengaja ia lakukan agar Firman mencegahnya pergi.
“Loh? Tunggu aku dek! Kan aku udah janji bakalan bantuin kamu! Biar besok kita bisa weekend dengan tenang.” Ucap Firman yang benar-benar mencegah kepergian Arin.
Arin dengan rasa gengsinya yang begitu besar tidak mungkin mengingatkan Firman seacara langsung akan Janji itu. Hal itu merupakan aksi yang secara tidak langsung ia lakukan untuk membuat Firman ingat.
“Ok, aku tunggu di perpus ya! Kamu kan belum selesai mengawasi peserta yang ikut seleksi?” ujar Arin
“Siap! Beneran tunggu aku disana! Jangan pulang duluan!” Firman sangat khawatir jika Arin benar-benar pulang duluan. Karena jika Arin pulang tanpa dirinya. Berarti usahanya untuk mengajak Arin liburan akan gagal total. Padahal ia sudah menyiapkan banyak hal sebagai surprise.
__ADS_1