Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Insecure


__ADS_3

“Iya. Iya! Gak percayaan banget sih!” protes Arin pada Firman yang hanya menanggapi omelannya dengan tertawa ngakak sambil berlalu pergi. Arin hanya bisa memandang punggung Firman yang menghilang di balik pintu utama gedung serbaguna.


Saat Arin akan melangkah pergi dari tempat itu. Tiba-tiba ada sebuah suara yang menyapanya.


“Arin!” teriaknya sedikit lantang.


Mendengar bahwa ada seseorang yang menyebutkan namanya. Arin pun menoleh ke arah asal suara. Ternyata itu adalah Maya. Si senior cantik yang selalu mempesona.


“Kak maya dari dalam sana?” tanya Arin sambil menunjuk ke arah gedung serbaguna.


“Iya!” jawab Maya sambil menganggukkan kepalanya. “Aku kan juga lagi ikut seleksi.” Ucap Maya menjelaskan kepada Arin.


“What? Beneran kak?”


“Iya lah! Aku kan juga ingin jadi aktifis! Ya, meski itu bukan tujuan utama sih!” ucap Maya.


“Bukan tujuan utama. Maksudnya?” Arin bingung dengan perkataan Maya.


“Ya, aku itu ingin jadi anggota BEM juga. Namun, tujuan utamanya buat deketin kakak kamu lah.” Ucap Maya santai seolah tanpa beban mengatakan hal itu kepada Arin dengan sangat jujur.


Sementara Arin hanya bisa tercengang dan kaget mendengar pengakuan kakak kelasnya itu.


“Kenapa? Kamu heran?” tanya Maya tiba-tiba saat melihat respon Arin yang seperti itu. “Di dalam sana itu. Hampir sekitar lima puluh persen melakukan tes ini ya karna tujuan utamanya kayak aku!” tutur Maya tanpa dosa.


“Maksud kakak, kebanyakan dari mereka ikutan tes hanya karena ingin mendekati kak Firman gitu?” Arin bertanya bukan karena tidak mengerti. Namun ia ingin benar-benar memastikan bahwa ia tak salah menanggapi perkataan Maya barusan.


“Iya. Tapi, ya gak semua pengen ngedekatin kak Firman. Sebagian kan banyak senior yang juga keren dan smart. Contohnya kayak kak Alvian dan yang lain.” Satu lagi pengakuan Maya yang membuat Arin tercengang kembali.


“Kak Alvian?” tanya Arin memastikan lagi.


“Iya. Dia itu juga lumayan banyak loh fans beratnya! Kamu gak percaya? Hm, kamu belum tau profil aslinya kak Alvian sih!” ucap Maya kepada Arin.


“Emang dia sehebat apa kak?” tanya Arin yang lagi-lagi kepo dengan semua hal yang diucapkan Maya.


“Dia itu tahun kemaren dapat juara satu karya tulis ilmiah tingkat nasional. Selain itu dia juga merupakan salah seorang anggota klub basket yang jago banget main basketnya! Jadi selain aktif di BEM dia juga aktif di klub basket. Lihat aja tuh bodinya keren kan? Atlestis banget!” ucap Maya sambil memperhatikan Alvian yang saat itu sedang berbicara dengan anggota BEM yang lain dari kejauhan.


Arin semakin menelan ludah mendengar pengakuan Maya. Apalagi saat ia benar-benar memperhatikan Alvian dari kejauhan. Benar-benar bentuk tubuh yang proporsional dan seksi. Firman saja kalah jika menyangkut masalah keseksian tubuhnya.

__ADS_1


“Udah ah Rin! Kamu jadi salah satu fans berat dia juga sana! Mumpung dia juga belum punya pacar loh.” Maya memberikan saran yang menurut Arin tak masuk akal sama sekali.


Arin hanya tersenyum enggan menanggapi perkataan Maya barusan.


“Ke depannya. Jika kita sama-sama terpilih jadi anggota BEM beneran. Mohon kerja samanya ya adik ipar!” ucap Maya kepada Arin.


Arin tak bisa menjawab. Ia hanya bisa nyengir-nyngir gak jelas.


“Ya udah! Aku ke perpus dulu ya kak! Ada yang perlu aku kerjakan di sana.” Ucap Arin segera menyudahi percakapannya. Karena ia tak mau lama-lama membahas masalah Firman dengan Maya. Entah kenapa seperti ada rasa enggan di hatinya.


“Oh iya. Silahkan!” jawab Maya santai. “Semangat ya ngerjakan tugasnya!” ucap Maya melanjutkan perkataannya.


Arin dengan cepat-cepat berlalu dan melangkah menuju perpustakaan. Namun sampai di sana. Bukannya mengerjakan tugasnya. Ia malah termenung seorang diri. Ia memikirkan kata-kata Maya tadi saat bertemu di luar geding serbaguna.


Ada rasa insecure dalam dirinya saat mengetahui sebesar itu rasa idola Maya pada Firman. Ia mulai khawatir bahwa misinya akan gagal jika Maya benar-benar menggunakan pesona kecantikannya untuk mendekati Firman. Arin tau betul bahwa jika masalah fisik dia jauh di bawah Maya.


Tidak hanya cantik Maya juga humble dan periang. Semua yang ada pada dirinya begitu sempurna tanpa cela. Arin benar-benarerasa akan kalah jika harus bersaing melawan Maya.


Di tengah lamunannya dan berbagai hal yang berkecamuk dalam pikirannya yang tak kunjung usai. Arin tak menyadari bahwa Firman kini ada di sampingnya.


“Dek! Kamu ngapain ngelamun gitu?” suara Firman menarik Arin dari lamunan panjangnya.


“Apaan sih!” ucap Arin dengan nada kesalnya. Bukan Arin namanya jika ia tidak sesensitif itu.


“Aku tuh khawatir kamu kesurupan jin Perpus dek! Karena itu, aku sadarkan kamu sebelum terlambat!” ucap Firman menggoda Arin.


Dikatakan demikian Arin semakin tak terima dan emosi.


“Ya udah aku pulang aja!” ancam Arin pada Firman.


“Loh loh loh, kok mau pulang?” tanya Firman sedikit khawatir Arin akan benar-benar membatalkan rencananya menghabiskan liburan bersamanya dirinya.


“Ya khawatir kerasukan jin perpus!” ucap Arin menyindir perkataan Firman tadi.


“Ya maaf! Maaf! Aku kan Cuma bercanda dek! Lagian apa sih yang di lamunin? Aku ya?” Firman over percaya diri.  


“Ngelamunin kamu? Jangan ngigau deh!” ucap Arin sambil menunjukkan ekpresi mencibir. Aku tuh heran deh sama cewek-cewek yang betah buat mendekati kamu. Mereka kayak gak ada cowok lain yang lebih keren.”

__ADS_1


“Kan emang aku yang terkeren dek?” tanya Firman bercanda pada Arin.


“Oek!” mendengar Firman berkata demikian. Arin pura-pura menunjukkan ekpresi seperti orang mau muntah mendengarnya.


“Ya ampun! Segitunya. Body shaming tau enggak? Gak boleh loh!”


“Udah ah! Jadi bantu garap tugas gak nih? Kalau enggak aku pulang!” ucap Arin mulai benar-benar kesal.


“Mana laptopnya?” tanya Firman segera sebelum Arin benar-benar kesal dan pergi. “Tugas tentang apa?”


Arin menjelaskan tema tugasnya dan juga memberikan beberapa referensi yang ia temukan. Merasa masih kurang memiliki data yang lengkap yang berkaitan dengan tugasnya. Arin memutuskan mencari lagi beberapa referensi tambahan. Sedangkan Firman bertugas mengetik beberapa materi yang sudah Arin pilih.


Melihat Firman yang begitu cekatan dan cepat. Arin sedikit terpukau. Ia bergumam dalam hati. [Pantas saja banyak orang yang suka dan idola padanya. Lihat saja, kalau lagi dalam mode serius kayak gitu. Oh ya ampun! Emang cakep banget!]. Arin diam-diam memandang intens ke wajah Firman yang tampak dari samping.


“Kenapa? Cakep ya?” tanya Firman seketika mengangetkan Arin yang sedang memandangnya sejak tadi. Sadar bahwa aksinya ketahuan oleh Firman. Membuat Arin segera memalingkan wajahnya ke tempat lain. Hatinya tiba-tiba berdebar karena grogi dan gugup. Ia tak menyangkal dan memilih diam saja sambil berjalan lagi. Sebelum Arin beranjak dari samping Firman. Firman dengan sigap meraih tangannya.


“Kita pergi sekarang yuk!” ajak Firman tiba-tiba.


“Pergi kemana?” tanya Arin heran.


“Lanjutkan sambil liburan.” ucap Firman sambil menutup laptop dengan sedikit terburu-buru.


“Tapi, ini referensinya belum nemu semua loh!”


“Aku entar yang bakal nyariin!” Firman meyakinkan Arin. “Kamu presentasinya senin jam terakhir kan?”


“Iya sih! Tapi yakin bakalan selesai sebelum itu?” tanya Arin ragu.


“Yakin!” jawab Firman singkat.


Arin akhirnya menuruti perkataan Firman dan memilih pergi dari perpus yang terasa sedikit membosankan itu. Mereka berdua langsung menaiki motor dan melaju ke tempat kos Arin. Arin mengambil beberapa keperluan selama berlibur. Ia juga memberi tau teman kamarnya bahwa ia akan menginap di luar malam ini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2