Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Hukuman


__ADS_3

Saat Firman mau menceritakan yang sebenarnya apa yang dimaksud dengan perkataannya barusan kepada Arin. Tiba-tiba dari arah samping muncul seorang cewek cantik yang tidak Arin kenal.


Cewek itu berpenampilan mewah. Karena semua yang dikenakannya terlihat dari beberapa merek ternama. Mulai dari tas, baju, sneakers hingga assesoris yang ia pakai. Tampak berkelas dan elegan.


Arin saja sebagai soerang cewek sempat terpesona dengan kecantikannya.


“Hai!” ucapnya menyapa Firman. “Boleh aku ikut duduk di sini kak?”tanyanya lagi ke arah Firman.


Firman dan Arin hanya bisa saling memandang dan mengangkat bahunya. Mereka sama-sama tidak kenal dengan gadis yang sedang menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka berdua.


“Apa aku mengganggu kalian?” tanyanya saat pertanyaan sebelumnya masih belum mendapat respon dari Firman.


“Eh, enggak kok. Sama sekali gak mengganggu. Tapi, mohon maaf sebelumnya. Apa kita pernah ketemu atau saling kenal?” tanya Firman berusaha bicara selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan cewek yang baru datang itu.


“Enggak kak. Kita gak saling kenal. Tapi, aku tau dan kenal sama kakak.” Ucapnya percaya diri. “Sebelum kuperkenalkan namaku. Boleh dong aku ikut duduk di sini dulu?” tanyanya yang memang sejak tadi masih berdiri.


“Oh, tentu saja boleh. Silahkan!” ucap Firman sambil menggeserkan sebuah kursi dari bawah meja agar bisa diduduki cewek tadi.


“Terimakasih!” ucapnya seraya menjatuhkan dirinya pada sebuah kursi yang tadi memang dikeluarkan Firman untuknya. “Namaku Maya. Aku anak semester tiga fakultas kedokteran gigi.” Ucapnya sambil tersenyum ke arah Firman.


“Tunggu, kayaknya aku pernah denger nama itu.” ujar Firman sambil berusaha mengingat-ingat nama yang telah disebutkan oleh cewek cantik itu.


“Aku ingat!” ucap Arin seketika tanpa banyak berpikir. “Ini kak Maya yang diceritakan oleh senior Alvian itu kan? Yang bentar lagi bakalan ulang tahun?” tanya Arin tanpa keraguan.


“Betul.” Jawab Maya Singkat.


“Oh, iya. Aku juga baru inget.” Firman akhirnya memiliki respon yang sama dengan Arin.


“Salam kenal kak!” ucap Maya sambil menjulurkan tangannya.


“Iya, salam kenal juga!” Firman menjabat tangan Maya sambil tersenyum kepadanya.


Setelah itu Maya mengalihkan jabatan tangannya ke arah Arin.


“Salam kenal juga dek! Adek siapa namanya?” tanya Maya pada Arin.


“Panggil saja Arin kak!” jawab Arin dengan senyum termanisnya.

__ADS_1


“Oh, ini yang namanya Arin? Yang viral pas acara orientasi itu?” Maya reflek bertanya demikian saat Arin menyebutkan namanya.


“Emang seviral itu ya kak? Sampe mahasiswa semester tigapun juga ikutan tau? Padahal mereka kan gak ikut orientasi juga?”


“Mereka kan sebagian besar juga anggota BEM dek, ya banyak yang taulah sama seorang Arinal Haque. Seorang yang nekat pidato dan berpuisi di tengah-tengah lapangan. Di depan hampir seluruh peserta dan panitia Oscar.” Firman mencoba menjelaskan kenapa Arin bisa seterkenal itu.


“Iya, bener banget. Banyak yang terpesona loh! Aku aja kalah viral. Tahun lalu pas aku orientasi. Aku gak sepopuler kamu loh dek!” ucap Maya berusaha meyakinkan Arin.


“Uh! Jadi malu. Terkenal bukan karena kemampuannya. Tapi, karena aksi nekatnya!” Arin seketika sedikit malu dan menutup sebagian wajahnya.


“Ya gak papa lah! Seenggaknya dapat peserta ter the best juga kan?” Firman mencoba menghibur Arin.


“Iya kah? Dapat the best berapa dek?” tanya Maya ke arah Arin.


“The best tiga aja kok kak!” jawab Arin dengan masih sedikit malu-malu.


“Wah! Hebat dong! Aku aja Cuma the best lima tahun lalu. Dapat hadiah apa?”


“Voucher makan gratis di sini selama satu semester!” ucap Arin sedikit bersemangat sambil tertawa lebar.


“Iya? Wah jadi kamu bisa makan sepuas kamu dong?” Maya semakin antusias.


“Yah, padahal rencananya aku mau nraktir kalian nih!” Maya sedikit kecewa dengan berita yang dikabarkan Arin.


“Ya gak papa lah kak Maya! Kan bisa nraktir di tempat lain!”


“Iya juga ya!” Maya hanya bisa tertawa renyah.


Bersamaan dengan hal itu pesanan merekapun datang. Tanpa banyak berbicara lagi mereka langsung menyantap menu yang sudah dipesan. Maya yang memang sebelumnya susah memesan sejak tadi juga bisa menikmati makanannya secara bersamaan.


Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari pengenalan Maya tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya. Dan juga alasan kenapa Maya sangat mengagumi Firman. Ternyata Maya sudah sejak lama idola dengan kakak kelasnya itu. Namun, karena Firman yang terkesan agak cuek membuatnya tak terlalu berani mendekatinya selama ini.


Maya juga tak lupa memberikan undangan ultahnya pada Arin dan memerintah Arin supaya diusahakan hadir ke partynya nanti. Arin hanya bisa mengiyakan dengan terpaksa. Pasalnya dia sudah pernah menolak hal itu saat kedua temannya Nabila dan Vivi mengajaknya.


Kepribadian Maya yang dangat Friendly dan juga terbuka membuat mereka cepat akrab dan akhirnya tanpa terasa obrolan mereka membuat Arin hampir lupa bahwa ia sebenarnya ada kuliah pengantar pertanian pagi ini. Arinpun terpaksa pamit duluan dengan terburu-buru.


Setelah Arin pergi tak butuh waktu yang lama untuk Firman juga berpamitan pada Maya. Ia khawatir jika berlama-lama berduaan dengan Maya akan muncul gosip yang tidak diinginkan. Ia tau bahwa Maya dan dirinya sama-sama orang yang cukup populer. Apa jadinya jika ada yang salah paham dengan kebersamaan mereka berdua dan menciptakan gosip yang tidak-tidak.

__ADS_1


Sebelum pergi Maya mengingatkan Firman untuk tidak lupa menghadiri pesta ulang tahunnya yang diadakan tiga hari mendatang. Diingatkan seperti itu tentu membuat Firman tidak bisa mengatakan tidak. Ia berjanji akan datang bersama teman-temannya yang lain.


Sementara itu di kelas Arin. Saat ia datang terlambat dan masuk dengan mengendap-ngendap. Ia menemukan bangku kosong di samping Nabila dan langsung mendudukinya sebelum sang dosen menyadari keterlambatannya.


“Arin kau dari mana saja?” tanya Nabila saat melihat Arin duduk di sampingnya.


“Dari kantin!” ucapnya dengan suara lirih supaya tak mencipatakan keramaian.


“Kamu ini. Kuliah pertama saja sudah terlambat. Apa saja yang kamu makan hingga lupa waktu?”


“Ssst! Nanti kita bahas setelah kuliah.” Jawab Arin sambil menekan jari telunjuknya ke atah bibir.


“Siapa itu yang baru datang?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka berdua. Saat tau bahwa itu adalah suara dari pak dosen. Mereka hanya bisa diam seribu bahasa.


“Siapa yang barusan datang terlambat?” sekali lagi pak dosen menanyakan hal yang sama. Raut wajahnya mengisyaratkan kemarahan dan ketidak senangan. “Jika tidak mengaku. Seluruh kelas ini saya hukum bersamaan!” ucapnya mengancam.


Arin sadar bahwa jika ia tak mengaku dengan cepat ia akan membuat seluruh temannya berada dalam masalah. Karena itu ia berinisiatif mengakui kesalahannya.


“Saya pak!” ucap Arin seraya mengacungkan tangannya.


“Siapa nama kamu?” tanya Dosen itu dengan tatapan tajam yang menakutkan. Tatapan yang seolah-olah siap menerkam Arin saat itu juga.


“Arinal Haque pak!” jawab Arin agak gugup.


“Maju ke depan! Dan presentasikan point-point yang sudah saya tulis di papan!” perintahnya dengan tatapan yang semakin menakutkan.


Mendengar hal itu Arin begitu terkejut dan tak menyangka bahwa dosennya akan benar-benar menghukumnya. Untuk tidak semakin memancing kemarahan. Akhirnya ia beranikan diri untuk maju ke depan dan mempresentasikan hal apa saja yang berkaitan dengan tulisan di papan.


Untung saja tadi malam Arin sempat belajar dan dengan kepintarannya ia mampu membawakan presentasi yang bagus dan mengagumkan.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2