
Firman menarik tangan Arin dan membawanya pergi dari tengah-tengah lapangan. Semua mata masih tertuju pada mereka. Sedangkan Arin sudah tak tau lagi mau berbuat apa. Seketika ia pasrah dan menurut saja saat Firman membawanya pergi.
“Are you oke?” tanya Firman pada Arin. Saat mereka sudah berada jauh dari jangkauan peserta lain.
Ditanya demikian Arin menjadi sangat marah dan tersinggung.
“Kenapa? Mau ngatain aku gila? Silahkan! Lagian siapa coba yang nyuruh aku dari hari pertama hingga hari terakhir mencari toxic! Tik tok! Tauk ah, aku udah gak peduli! Persetan ama semuanya. Yang aku minta terakhir sama kamu. Sebagai imbalan atas tindakan gilaku itu. Tolong! Berikanlah pidato penutup pada akhir acara nanti!” Arin nyerocos sambil mengomel.
“Maksud aku, kamu baik-baik aja. Bukan nanyain tindakan kamu barusan. Tapi, perasaan kamu saat ini.” Firman mencoba menjelaskan maksud pembicaraannya barusan.
“Aku gak papa. Aku udah siap dengan konsekuensinya. Mereka gak akan salah paham kalau aku bilang kita emang sepupuan.” Ujar Arin yang tiba-tiba muncul sebuah ide itu dalam pikirannya.
“Syukurlah kalau kamu memiliki pemikiran seperti itu. Aku hanya khawatir dengan cewek-cewek itu akan melabrakmu.” Ucap Firman sambil menunjuk ke arah segerombolan cewek-cewek yang saat ini sedang menuju ke arah mereka.
“Senior!” teriak mereka serentak.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya pada segerombolan cewek yang seakan datang untuk berdemo dan melabrak Arin saat itu.
“Kami mau tanda tangan!” ucap seseorang di antara mereka.
“Iya senior! Saya juga mau minta tanda tangan.” Ucap seseorang lagi.
“Senior! Dia pacar senior ya?” tanya salah satu yang lain. Tampak sekali wajah kesal maupun tidak terima jika itu benar-benar seperti apa yang di gosipkan.
“Bukanlah! Kami saudara sepupu!” ucap Arin berusaha santai. “Mas! Jelasin dong! Entar penggemar aslimu salah paham. Aku kan Cuma penggemar gadungan.” Ucap Arin mulai gugup karena benar-benar khawatir dilabrak mereka. Secara jumlah mereka yang tak terhitung jumlahnya. Sedangkan Arin hanya seorang diri.
“Eh, iya. Dia adik sepupu saya. Maaf ya, tadi tingkah lakunya memang agak nyeleneh.” Ucap Firman sedikit meledek Arin. Ia melirik Arin yang pura-pura tersenyum ke arahnya.
“Oh, gak papa senior.” Ucap mereka serentak. Pertanda bahagia karna ternyata Arin memang benar-benar sepupunya. Bukan pacarnya senior Firman.
“Salam kenal Arin!” ucap salah satu dari mereka. Setelah itu yang lain juga ikut-ikutan berkenalan dan menyalami Arin satu peesatu.
“Salam kenal!” ucap Arin sambil dipaksa tersenyim ke arah mereka.
“Sudah, sudah! Bukannya tujuan kalian kesini mau minta tanda tangan saya?” tanya Firman berusaha menghentikan aksi mereka yang seakan menyerbu Arin. Firman ingin melindungi Arin.
__ADS_1
“Oh iya, lupa! Maaf ya Arin. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yuk!” ajak salah seorang pada Arin.
Arin hanya mengangguk dan berpamitan. Ia meninggalkan Firman yang sedang dikerumunin orang-orang yang ngantri minta tanda tangan.
Arin bermaksud kembali ke Lapangan dan dipertengahan jalan ia dicegat oleh Nabila dan Vivi selaku teman akrabnya.
“Arin!” teriak mereka dari arah samping.
Sontak Arin menoleh dan melambai ke arah mereka berdua. Mereka segera bergegas menghampiri Arin.
“Ada apa? Kok kayak dikejar setan gitu?” tanya Arin meledek.
“Ih! Gak deh. Amit-amit!” ucap Nabila segera.
“Rin! Kamu itu tadi melakukan aksi apaan? Gila tau enggak Rin?” tanya Vivi yang mulai angkat bicara juga.
“Kenapa? Kagum kalian ama aku? Kalau aku gak ngelakuin itu, mana aku tau kalau senior toxic itu ketua ruang kita!” ucap Arin membela diri.
“Jadi tadi itu benaran isi hati kamu?” tanya Nabila penasaran.
“Tapi sekarang kamu itu udah jadi bahan gosip baru di kampus kita ini.” Ujar Vivi khawatir.
“Emang gosipnya apaan?” tanya Arin kepeda Vivi.
“Kamu itu digosipkan emang naksir berat sama senior Firman!” Nabila membantu menjelaskan maksud perkataan Vivi.
“Hihihi, lucu.” Ucap Arin santai.
“Hah? Kamu bisa sesantai ini? Kamu gak takut diserang fangirlnya senior Firman?” tanya Vivi lagi-lagi ia menampakkan kekhawatirannya.
“Apa? Apa kata kamu barusan? Fangirl? Bushet! Udah kayak artis K-pop aja tuh cowok.”
“Lah, emang dia mirip aktor Thailand kok!” Nabila kembali menimpali komentar Arin.
“Kamu juga ya? Udah masuk fanbase aktor gadungan itu?” tanya Arin pada Nabila.
__ADS_1
“Huh, Arin! Apaan sih! Dia itu memang bukan aktor. Tapi dia kan punya sejuta pesona lain.” Nabila masih tak terima idolanya dicibir oleh Arin.
“Iya deh, aku hargai pilihan hati kalian! Tapi, gak usah khawatir kok. Tadi aku udah ketemu langsung ama fangirl senior Firman. Tadi kita udah jelasin kalau kita hanya sepupu. Terus kita juga udah jelasin bahwa kejadian tadi itu hanyalah sandiwara.” Arin mencoba menjelaskan.
“Ah, syukurlah!” ucap Nabila dan Vivi hampir bersamaan.
“Ini maksudnya kalian bersyukur yang mana? Bersyukur karna aku beneran gak ada apa-apa ama dia atau bersyukur karena aku gak jadi dimusuhi ama fangirlnya?” tanya Arin heran.
“Dua-duanya lah!” ucap Nabila girang.
“Hi, kalian tuh yah. Gak setia kawan tau enggak?”
“Kamu itu yang gak setia kawan. Tiba-tiba aja melakukan aksi yang bikin kamu populer sendirian.” Ucap Nabila meledek Arin.
“Lah, kalau seumpamanya aku ngajak kalian. Kira-kira kalian mau?” tanya Arin pada dua sahabatnya.
“Ya enggak lah. Kita belum segila kamu Rin!” ujar Vivi ceplas ceplos.
“Udah, ah! Acara dah hampir selesai tuh. Kita disuruh kembali lagi ke barisan.” Ucap Nabika kepada dua sahabat barunya itu.
“Iya, yuk! Buruan. Biar cepet berkumpul dan cepet ditutup acaranya.” Ajak Arin kepada mereka.
Mereka akhirnya melangkah ke arah lapangan bersama-sama dengan ceria. Tanpa beban dan rasa khawatir lagi. Karena setelah ini tidak akan ada lagi yang namanya penindasan maupun hukuman. Acara akan ditutup sesuai prosedural.
Acara orientasi sudah memasuki detik-detik terakhir penutupan. Baik Arin, Nabila maupun Vivi_ masing-masing dari mereka memiliki kesan tersendiri mengikuti acara ini tanpa absen. Sebelum acara benar-benar ditutup mereka berkumpul dan berbaris rapi di halaman kampus. Seperti biasa ada pidato perpisahan dan juga kesan dan pesan dari peserta.
“Setelah ini dijamin deh, bakal ada yang gempar!” ucap Vivi membuka pembicaraan diantara mereka bertiga. Saat itu mereka sedang mendengarkan pidato dari ketua panitia OSCAR.
“Emang ada apa lagi?” tanya Arin pada Vivi yang berdiri tepat di sebelah kanannya.
“Apa lagi, kalau bukan tentang ketua ruang kita!” Nabila menjawab sambil menghela nafas panjang.
“Emang kenapa ketua ruang kita?” Arin semakin penasaran dengan penjelasan yang disampaikan Nabila. Jawaban Nabila barusan masih menimbulkan pertanyaan besar di benaknya.
“Kabarnya entar ada pidato kesan dan pesan dari ketua ruang masing-masing. Setelah itu bakal ada pemilihan peserta terbaik dan juga senior terbaik.” Vivi berusaha memberikan sedikit penjelasan.
__ADS_1
“Trus kalau hanya itu kan udah biasa?” tanya Arin heran. “apanya yang bakalan gempar?” Ia bertanya sekali lagi. Mengisyaratkan kalau Arin mesih belum paham dengan maksud perkataan mereka berdua.