
Saat yang ditunggu-tunggu oleh Nabila, Arin maupun Vivi telah tiba. Yaitu pesta ulang tahun Maya. Malam itu mereka janjian di sebuah tempat untuk berangkat secara bersamaan. Mereka akan menumpang pada Alvian yang kebetulan membawa mobil.
Nabila maupun Vivi merupakan orang pertama yang hadir di lokasi. Sadar bahwa Alvia maupun Firman belum datang mereka memilih menunggu sambil bercengkrama berdua. Penampilan Nabila dan Vivi yang super perfect. Sehingga mampu membuat keduanya sedikit pangling.
Belum sepuluh menit mereka menunggu dintempat janjian sebuah mobil Avanza Veloz keluaran terbaru berwarna putih tiba-tiba berhenti tepat di samping mereka. Rupanya itu adalah senior mereka. Baik Nabila maupun Vivi sangat senang karena mereka tak perlu menunggu terlalu lama.
Kini hanya perlu menunggu Arin yang belum juga datang. Nabila memutuskan untuk menelponnya karena khawatir menunggu terlalu lama. Setelah ditelpon Arin ternyata baru saja selesai dan akan segera kesana dengan menggunakan ojek.
Tak seberapa lama menunggu akhirnya Arin muncul dengan ojek onlinenya. Begitu Arin turun dari ojek dan melangkah menuju teman-teman yang sedang menunggunya. Semua mata jadi tertuju kepadanya.
Arin saat itu menggunakan drees berbahan brukat berwarna pink yang panjangnya hanya sedikit di bawah lutut. Dress itu memiliki outer polos berbahan organza namun berwarna pink fanta. Arin yang memiliki rambut panjang memilih mengepang sedikit kedua sisinya dan disatukan di tengah dengan jepit bunga mawar berwarna pink. Ia juga membuat curly bagian ujung rambutnya.
Untuk accessoris ia menggunakan kalung cantik yang berliontin mermaid. Kalung yang sangat unik dan menarik. Melihat penampilan Arin semua mata jadi takjub dan terpana. Firman sampai terperanjat dan sempat tak berkedip untuk jangka waktu yang sangat lama. Ia benar-benar terpesona dengan penampilan sahabat masa kecilnya itu. Tiba-tiba di dalam hatinya bergemuruh rasa yang tak biasa. Jantungnyapun menjadi berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ia tak tau bagaimana cara mengendalikan dirinya dan jantungnya. Firman merasa sangat bahagia namun takut untuk memuji Arin. Bahkan untuk sekedar menyapa iapun tak sanggup. Ia memilih mengalihkan pandangannya pada arah lain.
Saat Arin tepat berada di hadapannya ia mulai salting dan berpura-pura menyuruh Alvian untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Ayo, buruan! Ntar kita telat ke acaranya!” ucap Firman berusaha mengendalikan perasaannya.
“Telat juga gak papa kak! Kan gak ada acara ceremonialnya!” jawab Nabila. “Ya ampun Rin! Kamu pangling banget tauk! Cantik banget!” Nabila akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya juga ada dalam benak Firman saat itu.
“Ih, kamu juga cantik banget kok! Vivi juga. Kalian pangling deh!” ucap Arin memuji balik penampilan kedua sahabatnya.
“Udah, semuanya cantik kok! Yuk, buruan kita masuk dan langsung cuss ke acara.” Alvian berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
Sedangkan Firman memilih diam dan segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi depan dekat dengan kursi sopir. Alvianlah yang akan mengemudi malam ini. Untuk sisanya, Nabila, Arin dan juga Vivi duduk di kursi belakang.
Arin duduk di posisi tengah. Hal itu membuat Firman sangat mudah untuk curi-curi pandang lewat kaca spion depan. Arin tak sadar jika diam-diam ada yang memperhatikannya. Ia sangat asyik bercengkrama dengan kedua sahabatnya.
Butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di rumah Maya. Rumah mewah yang bergaya mediterania klasik itu tampak berdiri kokoh di tengah-tengah kota. Bangunannya sangat menawan dan megah. Di gerbang utama tampak ada beberapa pelayan yang bertugas menyambut dan mengantarkan tamu ke tempat acara.
Setelah menunnjukkan undangan satu persatu. Mereka berlima diantar ke taman belakang yang menyatu dengan kolam renang. Halamannya sangat luas dan dihias dengan berbagai lampu cantik berbagai bentuk. Tampak sebuah dekor mewah berada di salah satu sudutnya. Serta berbagai hidangan mewah berada di sudut lain.
Banyak orang yang sudah datang. Sebagian besar tamu undangan merupakan teman yang satu kampus dengan Maya. Sehingga sangat mudah untuk Firman maupun Alvian berbaur dengan yang lain.
Berbeda dengan Firman, Arin dan kedua sahabatnya nampak masih asing dan belum menemukan kenalan yang dapat diajak berbaur. Mereka bertiga memilih pergi bersama kemanapun mereka mau.
“Selamat ya kak!” ucap Arin sambil memberikan kadonya pada Maya.
“Eh, ini Arin ya? Wah makasih ya! Udah mau dateng.”
“Iya kak. Aku juga makasih udah diundang. Ini temen-teman aku juga mau ngucapin selamat!” Arin memperkenalkan Nabila dan Vivi.
“Selamat ya kak!” ucap Vivi dan Nabila begantian.
“Iya, makasih! Silahkan dinikmati hidangannya. Jangan sungkan-sungkan!” Maya memerintah dengan ramah.
“Iya kak.” Mereka menjawab kompak dan segera berlalu pergi. Karena di belakang mereka sudah banyak tamu lain yang mengantri untuk mengucapkan selamat seraya menyerahkan kado untuk Maya.
__ADS_1
Setelah itu mereka pergi menuju hidangan dengan berbagai macam kudapan dan minuman. Di sana juga ada Firman dan Alvian yang tampak sedang asyik memilih cemilan.
“Gimana? Apa kalian menikmati pestanya?” tanya Alvian pada Nabila, Vivi dan Arin.
“Belum.terlalu sih! Abis, kita belum ada yang kenal ama tamunya. Kenalnya ama kakak aja!” Vivi sedikit cemberut.
“Ya udah lah! Nikmati aja! Ngapain mikirin tamu undangan yang lain. Yang penting makan enak dan makan gratis.” Ucap Alvian menghibur mereka bertiga.
Tiba-tiba Firman menghanpiri Arin dan menjulurkan tangannya. Ia tampak seolah mengajak Arin berdansa. Tampak di sana ada lantai dansa yang sengaja disiapkan untuk para pasangan muda yang hadir di pesta itu.
Arin tak bisa menolak secara terang-terangan jika itu terjadi di hadapan teman-temannya. Karena ia sudah kadung dianggap berubah dan akan bersikap lebih ramah pada Firman. Padahal di dalam hati ia sangat enggan dan ia juga tampak sedikit kurang percaya diri.
“Aku malu mas!” ucap Arin mencoba menolak secara halus.
“Gak papa! Kan mau menghilangkan kejenuhan? Supaya gak bosen.” Jawab Firman pada respon Arin. Ia tetap dengan posisi tangan terbuka.
“Wih, romeo udah mulai beraksi!” ujar Alvian mulai menggoda mereka berdua. “Arin, c’ mon! jadilah orang pertama yang beruntung karena diajak berdansa oleh seseorang yang sebenarnya banyak tuh yang sedang mengantri ingin berdansa dengannya.”ucap Alvian sambil menunjuk ke beberapa gerombolan cewek yang saat ini sedang menggosipkan Firman.
Akhirnya Arin dengan sedikit terpaksa menyambut tangan Firman dan mengikuti Firman menuju lantai dansa.
“Aku gak pernah dansa loh! Aku gak tau! Awas kena injek ya!” Arin mencoba mengingatkan.
“Tenang aja! Ikutu aja gerakan kakiku!” ujar Firman sambil meletakkan tangannya di pinggang Arin.
Seketika Arin merasa malu dan lupa dengan kebenciannya pada Firman. Apalagi saat itu banyak mata yang sedang memangdang ke arah mereka. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang mengenal Firman.
__ADS_1