
Hari kedua orientasi menjadi hari yang semakin berat untuk Arin. Sebagai akibat ia tidak menyelesaikan misinya kemaren. Ia diharuskan meminta tanda tangan semua senior yang masuk sebagai kepanitiaan acara OSCAR. Memimta tanda tangan sih terlihat hal yang remeh dan sangat gampang. Namun, tahukah kalian? Bahwa itu sama saja dengan meminta hukuman pada setiap masing-masing senior yang masuk struktural kepanitiaan. Karena setiap kali ia mengajukan permintaan kepada salah satu senior. Ia tak bisa mendapatkannya secara cuma-cuma.
Ia harus melakukan segala persyaratan yang diajukan terhadapnya. Barulah setelah selesai melaksanakan syarat-syarat itu. Ia bisa mendapatkan tanda tangan.
Tak terhitung berapa lagi tanda tangan yang harus ia dapatkan. Yang pasti ia akan menghindari satu dari sekian anggota senior yang ada di acara itu. Orang yang paling dibenci olehnya. Yaitu Firmasyah abdala.
Arin tak peduli walau akhirnya ia tetap dihukum karena tak memenuhi semua tugas-tugasnya. Toh walaupun begitu ia tak mengincar posisi peserta ter the best. Ia menjalankan misinya hanya sebagai bentuk rasa hormat terhadap senior dan juga sebagai persyaratan keaktifan selama mengikuti acara orientasi.
“Ini senior! Saya sudah meminta tanda tangan beberapa panitian OSCAR.” Ucap Arin sambil menyodorkan kertas yang terdiri sekitar lima lembar kertas HVS.
“Ini udah semua senior kamu mintai tanda tangan?”
“Tidak semua senior! Karena ada beberapa senior yang gak mau ngasik secara sukarela. “
“Lah trus? Tanggung jawab kamu itu kan harus minta pada semuanya!”
“Iya senior! Tapi saya aja gak tau ada berapa jumlah keseluruhan senior kelas yang masuk susunan kepanitiaan dalam acara itu!”
“Gak tau atau gak mau tau?” tanya senior itu dengan nada sinis. “kamu kelompok apa?”
“Ruangan The Orchid senior,” jawab Arin.
“Saya perhatikan dalam kertas ini gak ada tuh tanda tangan ketua ruang the Orchid.” Mendengar perkataan senior barusan, Arin jadi gak berkutik dan tidak bisa menjawab. “Siapa ketua ruang kamu? “
“Emmm.. Senior Firman.” Jawab Arin kikuk.
“OK, gini saja. Supaya lebih mudah, lengkapi kertas ini dengan tanda tangan ketua ruang kamu saja! Kalau bisa, saya anggap cukup hukuman kamu.” Perintah yang mudah tentunya. Namun, bagi Arin perintah ini bagaikan sebuah badai besar yang tiba-tiba datang menghatamnya.
__ADS_1
Setelah memberi tugas itu, senior Joni berlalu begitu saja. Tanpa kompromi dan tanpa mau mendengar alasan yang sedang menjadi uneg-uneg dalam hati Arin.
Sedangkan Arin hanya bisa terdiam mematung. Ia tak tau harus melanjutkannya dengan cara bagaimana. Karena baginya, lebih baik Ia diberi hukuman lain daripada tugas yang satu ini. Mau minta tolong pada peserta lain, kayaknya gak mungkin. Semua peserta sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Oh tuhan! Bagaimana ini? Apa Yang harus hamba lakukan? Supaya bisa menyelesaikan misi ini? Ini hanya tinggal satu langkah lagi. Sangat mudah dan bisa. Tapi bagi saya, ini sama aja dengan kemustahilan yang tak akan pernah menjadi kenyataan.” Gumam Arin dalam hatinya.
Ia pun melangkah lunglai tanpa tujuan. Dengan kepala yang tertunduk lesu, ia terus berjalan perlahan. Hingga tiba-tiba, kepalanya tanpa sadar membentur seseorang di depannya
“Brugh!” benturan yang cuku keras.
“Aww! Maaf!,” Ia meminta maaf sambil memegangi kepalanya yang terbentur barusan. Dengan malu-malu ia angkat kepalanya. Untuk melihat siapakah orang yang sudah dibenturnya itu.
Namun saat ia menengadahkan wajahnya. Lurus di depannya adalah wajah seseorang yang tidak pernah ia harapkan. Wajah itu tersenyum menakutkan. Arin hanya bisa kembali tertunduk malu dan sekaligus kesal. Sosok yang berdiri tepat dihadapannya saat ini adalah Firman. Orang yang paling Arin benci di dunia ini.
“Apa sih yang kamu pikirkan? Sampai berjalan aja nabrak sana sini? “ tanya Firman menggoda Arin.
“Coba lihat apa itu di tangan kamu?” ujar Firman sambil berusaha meraih kertas yang ada di tangan Arin.
Arin yang saat itu tidak terlalu fokus dengan kertas yang ada dalam genggamannya tak terlalu mempererat cengkramannya. Sehingga kertas itu dengan mudah dapat diraih firman dengan satu kali sentakan. Menyadari hal itu dengan sigap Ia ingin merampasnya kembali dari tangan Firman. Namun sayang Arin yang kalah tinggi tidak bisa meraih kertas itu lagi. Karena dengan Mudahnya Firman mengangkat tangan yang memegang kertas itu ke atas.
Arin hanya berusaha meloncat-loncat setinggi mungkin. Namun hasilnya nihil. Tinggi badannya yang tidak seberapa, tentu tak akan mampu menjangkau kertas itu. Firman hanya bisa tertawa girang.
“Balikin gak?” ancam Arin dengan wajah sinisnya. Tentunya masih dengan meloncat-loncat berusaha sekuat tenaga.
“Ambil aja silahkan kalau bisa!” jawab Firman puas.
Kesal dengan tingkah laku Firman yang tidak menyenangkan menurut Arin. Tanpa berpikir panjang ia layangkan tinju sekuat tenaga ke perut Firman.
__ADS_1
“Bugh!” refleks Firman langsung menjerit “Aww!” sambil memegangi perutnya yang barusan mendapat bogeman keras dari Arin. Saat Firman sedikit lengah, Arin kembali merampas kertas itu dari tangan Firman.
“Rasain! Emang enak?” ejek Arin yang kini berhasil dalam misinya merampas kertas itu.
“Kamu pas SMA ikut ekstra kurikuler karate atau tinju sih dek? Sakit banget tauk,” ujar Forman sambil meringis kesakitan.
“Kepo!” jawab Arin sambil berlalu pergi.
“Tunggu!” seru Firman sambil berusaha meraih tangan Arin.
“Apa lagi sih?” mengetahui tangannya berada dalam genggaman Firman. Arin segera menariknya sekuat tenaga.
“Bukannya itu tanda tangan para senior?” Firman bertanya karena penasaran.
“Kalau iya emang kenapa?”
“Kamu gak butuh tanda tangan punyaku? Aku kan wali ruang kamu?”
“Hah? Maaf ya, kamu bukan artis! Ngapain juga minta tanda tangan kamu?” Arin mengelak untuk memberitahu bahwa sebenarnya itulah tujuannya saat ini. Rasa gengsi yang begitu tinggi membuatnya terpaksa berbohong. “Aku rasa, aku masih waras!” Arin segera berlalu dari hadapan Firman. Meninggalkan Firman yang masih mematung dengan seribu pertanyaan di dalam otaknya.
“Gak bisa! Aku harus nyerah. Cukup, ini aja udah cukup. Biarlah aku dihukum dengan sanksi lain. Asal tidak berhubungan sama Firman. “ gumam hati Arin.
Ia segera mencari senior Joni untuk memberikan laporan mengenai misinya yang belum selesai. Sambil terus berjalan dan menyusuri semua tempat. Akhirnya pandanganya berhenti pada sebuah pohon rindang dengan bangku panjang di bawahnya. Senior Joni sedang duduk santai disana sambil memperhatikan beberapa peserta yang di beri misi olehnya.
“Lapor Senior!” ucap Arin sambil memberi hormat dengan tangan kanan yang di tempelan di pelipisnya. Persis gerakan memberi hormat pada acara uparacara bendera.
Mendengar ucapan Arin dan juga pemberian hormat Arin membuat Senior Joni memalingkan wajah ke arahnya.
__ADS_1