
Arin terkejur melihat Firman yang jatuh pingsan tepat di depannya. Ia berniat untuk mencoba mengangkat tubuh Firman ke atas sofa. Meski dengan susah payah, tubuh mungilnya memapah dan dengan sekuat tenaga membawa tubuh itu menuju sofa. Dengan pelan-pelan ia baringkan tubuh Firman dan menaikkan kakinya ke atas. Supaya posisi Firman bisa terlentang.
Arin mulai mengecek suhu tubuh Firman dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Firman. Lagi-lagi Arin dibuat terkejut dengan panasnya tubuh Firman.
“Kamu belum ke dokter ya mas?” Arin berbisik namun percuma Firman kini tak akan mendengarnya.
Kini Arin mulai panik dan tak tau harus bagaimana dan berbuat apa. Akhirnya setelah berpikir agak lama. Ia mengecek goggle maps untuk mencari apotik terdekat. Ia ingin membeli obat penurun panas dan juga pereda nyeri di sana. Tentu saja hal itu ia lakukan dengan memesan melalui gosend. Ia bahkan berpesan supaya jangan lama-lama.karena ia tak mungkin membeli sendiri dan meninggalkan Firman dalam keadaan seperti itu.
Sambil menunggu pesanan obatnya datang. Ia melangkah menuju dapur dan memasak air panas. Ia berinisiatif ingin mengompres Firman dengan air hangat. Sementara menunggu air mendidih ia mencari secarik kain yang bisa dijadikan kompress. Ia mencari ke seluruh lemari yang ada di dapur. Karena tak menemukan apapun di sana. Ia pergi menuju kamar Firman dan mencari sesuatu di lemari. Untung saja dengan mudah ia menemukan sapu tangan yang bersih.
Arin mencampur air mendidih dengan sedikit air dingin. Supaya tidak membuat kulit Firman melepuh jika ia kompress dengan air yang terlalu panas. Setelah dicek suhunya dan dirasa cukup hangat. Ia pun segera bergegas ke arah Firman yang masih ada di ruang tamu.
Arin mulai mengompres dengan perlahan dan telaten. Melihat kondisi Firman yang tak berdaya seperti itu. Di dalam hati ia merasa kasihan dan ingin sekali merawatnya. Perasaan benci yang semula mulai membuncah lagi kini tiba-tiba lenyap. Yang ada di pikirannya saat ini hanya ingin melindungi sahabat masa kecilnya itu.
“Arin maafkan mas ya!” sebuah kalimat yang tiba-tiba terucap dalam keadaan tidak sadar dari mulut Firman.
Mendengar Hal itu. Hati Arin terenyuh dan ia mengecek lagi keadaan Firman. Ternyata memang benar barusan Firman hanya mengigau. Yang menjadi pertanyaan di dalam hati Arin. Mengapa Firman mengucapkan kata maaf kepadanya di saat dalam keadaan tidak sadar? Apakah ia sedang memimpikan Arin dalam tidurnya? Atau sebenarnya dia sadar tapi karna terlalu lemah ia tak mampu untuk sekedar membuka kelopak matanya?
Arin penasaran mengapa Firman mengucapkan kata maaf kepadanya? Apakah Firman memiliki suatu kesalahan yang tidak Arin ketahui. Atau ia merasa bersalah karena ulah mamanya keluarga Arin menjadi terpisah hingga saat ini?
Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun ia tetap telaten mengompres Firman perlahan-lahan. Setelah cukup lama ia melakukan hal itu. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pergelangan tangannya. Ia terkejut dan seketika menghentikan aksinya. Tangan Firman memegang erat pergelangan tangannya. Perlahan-lahan Firman juga mulai membuka kedua matanya.
“Arin?” ucapnya lirih. “Kamu beneran Arin?” tanya Firman sambil menatap mata Arin.
Arin tak menjawab karena tatapan mata Firman mampu membuatnya terdiam kaku dan seakan menusuk ke dalam hatinya. Tubuhnya seakan kaku dan aliran darahnyapun seolah terhenti saat itu. Jantungnya mulai berdebar kencang dan pipinya memerah. Ia mulai merasakan kehangatan rasa itu di hatinya.
“Arin?” tanya Firman sekali lagi sambil mengulurkan tangannya dan memegang pipi Arin lembut.
“Ternyata ini beneran kamu ya?” Firman mengucapkan sambil meneteskan air mata.
Melihat hal itu Arin mulai tersadar dan menjawab.
“Iya, ini aku mas! Kamu udah periksa ke dokter?” tanya Arin dengan lembut.
__ADS_1
Firman hanya menggeleng lemah. Setelah itu ia tersenyum kepada Arin. Senyuman yang begitu hangat untuk Arin. Senyuman itu mampu mencairkan kedinginan hati Arin selama ini.
“Kita ke dokter yuk!” ajak Arin pada Firman.
Firman masih tetap menggeleng lemah.
“Minum obat ya? Aku udah beliin obat. Tapi belum dateng.”
Firman mengambil tangan Arin dan menempelkannya ke pipinya.
“Nyaman banget kayak gini!” Akhirnya Firman bersuara lagi.
Saat mengetahui bahwa Firman menyukai tangan dingin Arin di tempel ke pipinya. Arin hanya bisa diam dan tak menolak hal itu. Ia justru menempelkan lagi tangan yang lain ke pipi Firman.
“Panas banget Mas!” seru Arin saat suhu panas dari pipi Firman mulai berpindah ke telapak tangannya.
“Kamu udah makan?” tanya Arin kepada Firman saat ingat bahwa ini waktunya makan siang.
“Apa? Dari kemaren? Kamu mau mati?” Arin bertanya kesal sekaligus setengah marah. Hal itu reflek terjadi karena rasa khawatirnya yang begitu besar.
“Aku gak nafsu makan dek!” ucap Firman menjelaskan.
“Aku belikan bubur ya? Soalnya kalau buat sendiri aku gak tau!”
“Gak usah! Aku gak nafsu makan!” tolak Firman.
“Enggak pokoknya makan! Entar aku suapi deh!”
Mendengar hal itu Firman langsung membelalakkan matanya. Ia lagi-lagi menetap Arin intens.
“Kamu beneran ya mau nyuapin aku makan?” Firman sedikit tak percaya. Namun merasa sayang kalau moment langka ini ia sia-siakan.
“Iya. Aku pesenin sekarang ya? Mau nasi atau bubur?”
__ADS_1
“Bubur aja! Aku lagi males ngunyah!” jawab Firman sambil melepaskan tangan Arin yang sejak tadi menempel di kedua pipinya.
Arin langsung mengambil ponselnya dan memesan Bubur di aplikasi gofood.
“Aku kompres lagi ya? Tapi aku ganti dulu air hangatnya. Ini udah dingin.” Ujar Arin sambil beranjak pergi.
“Jangan! Entar kamu capek dek! Duduk aja di sini! Temenin aku.” Pinta Firman kepada Arin.
Namun tiba-tiba bel rumah berbunyi dan Arin yakin itu adalah obat pesanannya.
“Aku buka pintu dulu ya! Itu kayaknya obatnya udah datang deh!” ucap Arin
Begitu pintu dibuka. Ternyata benar itu adalah obat pesanan Arin. Ia langsung menerima dan mengecek barang pesanannya. Saat dirasa sudah lengkap dan benar. Ia segera menandatangani tanda penerimaan barang. Tak lupa ia ucapkan terima kasih pada tukang antarnya.
Meski obat sudah datang Arin belum bisa memberikannya pada Firman. Karena ia tau Firman tidak makan apapun dari kemaren pagi. Ia meletakkan dulu obat-obat itu dan memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil mangkok dan sendok. Hal itu ia lakukan supaya nanti saat bubur datang ia tak perlu lagi repot-repot ke dapur. Karena semua sudah ia persiapakan terlebih dahulu.
Lima menit kemudian saat ia kembali dari dapur bel rumah berbunyi kembali. Kali ini pasti bubur yang ia pesan juga sudah datang. Tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu dan menerima bubur itu.
Arin menuangkan bubur ke dalam mangkok dan segera menyuapi Firman dengan tangannya. Firman yang awalnya tidak mau dan berdalih sedang tidak nafsu makan ternya justru malah sangat suka dan menghabiskan semuanya. Padahal porsi untuk satu mangkoknya lumayan banyak.
Setelah selesai makan Arin langsung Menyerahkan obat penunun panas, antibiotik dan juga vitamin untuk Firman. Ia meminum obat itu satu persatu. Setelah selesai makan dan meminum obat. Arin langsung memapahnya menuju kamar. Supaya Firman bisa istirahat lebih leluasa.
Sesampainya di tempat tidur dan berbaring Arin menyematkan selimut tebal. Belum selesai ia menyampirkan selimut itu ke tubuh Firman. Tiba-tiba tangan Firman meraih tangannya kembali.
“Makasih!” ucap Firman lirih.
Arin hanya mengangguk sambil tersenyum. Firman belum juga melepaskan genggaman tangannya.
“Jangan pulang ya! Pulang entar malam saja! Aku butuh kamu di sini!” pinta Firman kepada Arin.
Entah kenapa mendengar permintaan itu Arin langsung mengiyakan saja dan menunggui Firman di sisi tempat tidurnya. Firman berusaha memejamkan matanya kembali. Setelah benar-benar tertidur Arin yang juga merasa lelah tiba-tiba merasakan kantuk yang amat berat. Padahal ia berjanji untuk menjaga Firman sampai nanti malam. Karna sudah kadung berjanji. Iapun memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Perlahan dan dengan sangat hati-hati ia lepaskan tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Firman.
Arin mengambil sebuah bantal dan membawanya ke ruang tamu. Ia memiilih merebahkan tubuhnya di sana. Arin yang memang merasa lelah dengan mudahnya tertidur pulas meski hanya tidur di sebuah sofa.
__ADS_1