
“Arin!” sebuah suara terdengar memanggilnya dari arah belakang. Arin tau betul siapa pemilik suara itu. Ia menoleh dengan sedikit enggan.
Si pemilik suara itu tersenyum manis ke arahnya. Dialah Firman, seseorang yang berusaha ia hindari sejak tadi pagi.
Arin tau betul mengapa Firman bisa menemukannya ada di sini sekarang. Tentu saja itu adalah ulah Vivi ataupun Nabila. Arin sengaja di jebak oleh kedua sahabatnya dengan mengatakan bahwa ia sedang di tunggu salah seorang senior di lapangan basket.
Arin yang awalnya merasa aneh dengan dengan gelagat kedua sahabatnya sempat merasa ragu dan tak percaya. Namun entah kenapa kakinya masih saja melangkah ke sana. Karena ia sebenarnya sedikit penasaran siapakah gerangan senior yang mencarinya itu. Jika saja dari awal ia lebih mempercayai firasatnya tentu saat ini ia tidak akan merasa sekesal itu.
“Pulang bareng yuk!” ajak Firman pada Arin yang masih berdiri dengan perasaan kesalnya.
“Aku belum mau pulang!” jawab Arin sedikit ketus.
Meski tau bahwa saat itu Arin terlihat sedang kesal. Firman tetap tak mau menyerah untuk mengajaknya.
“Memang kam masih mau kemana?” tanya Firman sekali lagi.
“Hm,” seketika otak Arin berputar. Berusaha mencari alasan terlogis. “Hm- aku masih mau mampir ke perpus untuk mencari referensi tugas aku.” Akhirnya alasan Perpus menjadi andalan teraman.
“Ya udah aku temani. Boleh kan?”
“Aduh, gimana ya? Aku tuh lagi pengen sendiri!” Arin sedikit merengut.
“Kamu kenapa sih?” tanya Firman sambil memandang intens ke mata Arin.
“Emang aku kenapa coba?” Arin bertanya balik sambil membalas tatapan mata Firman. [Deg!] seketika jantung keduanya merasa tidak aman lagi jika tatapan itu terus berkelanjutan.
“Kamu tuh dari tadi pagi menghindari aku dek! Aku udah berbuat salah apa?” tanya Firman berusaha mengendalikan perasaan.
“Menghindari kamu? Hahaha, kamu lucu deh!” ucap Arin semakin sinis. “Aku lagi pengen sendiri! So, plise! Go ahead OK!” lagi-lagi Arin mengucapkan kalimat itu dengan intonasi sedikit tinggi. Sehingga terkesan membentak.
Saat Arin melangkah pergi, seketika itu juga Firman meraih tangannya dan menariknya dalam pelukannya.
“I miss you!” bisik Firman lirih.
Arin terdiam mematung. Jantungnya yang sejak tadi memang terasa berdebar kini seolah akan melompat keluar. Ia hanya bisa pasrah dan menikmati moment itu. Arin tak dapat memungkiri hatinya yang memang juga sedang sangat merindukan sahabat masa kecilnya itu. Ia terhanyut oleh rasa nyaman saat berada dalam pelukan Firman.
Beberapa detik berlalu akhirnya Arin mulai sadar dan melepas paksa pelukan Firman.
“Aku tuh malu sama kamu!” teriak Arin sambil meninju bahu Firman dengan tangan mungilnya. Dengan sigap Firman menangkap tangan itu dan memegangnya erat.
“Hei! Kamu malu karena apa?” Firman semakin menatap serius ke wajah Arin.
“Gak usah sok nanya deh kalau udah tau!” seru Arin sebal dengan tingkah Firman.
“Beneran aku gak tau! Kamu malu karena apa?” tanya Firman sambil tetap memegang tangan Arin.
“Aku- kemaren pas di rumah kamu-“ Arin salah tingkah dan tak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Oh! Itu!” dengan sigap Firman langsung merespon ucapan Arin. “Aku udah lupa kok! Beneran! Walaupun belum lupa seratus persen sih!” goda Firman kepada Arin.
__ADS_1
“Tuh kan! Resek tau’! Ya udah aku pulang sendiri aja!” ucap Arin yang mulai benar-benar kesal pada Firman. Ia juga menarik tangannya yang sejak tadi masih dalam genggaman tangan Firman.
“Eh! Mau kemana? Tunggu dulu!” cegah Firman sambil memeluk Arin dari belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya ke depan. Melewati kedua lengan Arin.
Tentu saja posisi itu membuat Arin tidak bisa lagi melangkahkan kakinya. Ia terkunci dalam pelukan Firman.
“Lepasin gak?” ancam Arin pada Firman.
“Tunggu dulu! Lima menit aja aku pengen kayak gini!” ujar Firman tak menghiraukan ancaman Arin. Ia lebih memilih mempererat pelukannya sambil mencium rambut balakang Arin. Entah kenapa ia suka dengan wangi rambut itu. Ia memejamkan mata sambil berkata. “Aku capek!”
Firman merasa tenang dan nyaman saat memeluk Arin dalam posisi seperti itu. Ia seakan dapat melupakan sejenak seluruh kepenatannya. Seluruh masalahnya dan juga tugas-tugas beratnya. Terasa damai dan nyaman. Seolah moment itu tak ingin ia hentikan.
“Ya kalau capek pulang aja! Istirahat di rumah!” perintah Arin. Ia mulai agak risih dengan posisinya saat ini. Untung saja tidak ada mahasiswa lain yang ada di tempat itu. Kalau tidak Arin akan merasa sangat malu.
Firman mulai membuka matanya kembali dan melepaskan pelukan itu. “Kamu gak peka ya? Aku tuh bukan capek fisik. Tapi pikiran!”
“Emang kamu mikirin apa coba?” tanya Arin penasaran tentang apa yang dipikirkan Firman hingga membuatnya berkata capek.
“Udah ah, kita pulang yuk!” ajak Firman yang sekali lagi mencoba peruntungannya. Jika tadi Ia sudah ditolak mungkin kali ini Arin akan mau.
Arin tak menjawab ajakan itu. Firman yang merasa Arin setuju-setuju saja segera meraih tangan Arin dan membawanya pergi. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Firman menaiki motornya.
“Naik!” perintah Firman dengan penuh keseriusan dan ekpresi penuh harapan di wajahnya.
Arin menurutinya dan langsung duduk di belakang Firman. Tak lupa ia juga melingkarkan tangannya ke pinggang Firman.
Motorpun keluar dari tempat parkir yang saat itu terlihat sedikit sepi dari biasanya. Dengan kecepatan tinggi Firman membawa Arin di belakangnya. Arin hanya bisa berpelukan erat tanpa protes. Entah kenapa hatinya terasa damai. Iapun enggan untuk melepaskan pelukan itu.
Hati Arin tampak berbunga-bunga dan tak dapat tergambarkan bagaimana rasa bahagia yang kini sedang dirasakannya. Ia lupa lagi dengan seluruh dendam dan rasa bencinya terhadap Firman.
“Istrahat! Jangan kemana-kemana lagi Oke!” ucap Firman saat tiba di depan gerbang kos. Arin langsung melepaskan pelukannya dan turun dari atas motor.
“Oke!” jawabnya singkat.
“Minggu nanti aku ajak kamu jalan-jalan. Mau?” tanya Firman menawarkan dirinya.
“Hm, gimana ya? Aku banyak tugas belum selesai.”
“Nanti aku bantu tuliskan! Sabtu sore setelah ikut tes masuk keanggotaan BEM. Aku ajak kamu ke rumah. Kita kerjakan dirumahku!” saran Firman setengah memerintah.
Arin diam dan tampak berpikir sejenak.
“Atau kalau kamu gak suka. Kita kerjakan di perpus gimana? Lembur sampe malem.”
“Oke, boleh juga!” jawab Arin sigap.
“Aku mau balik lagi ke kampus. Ada beberapa pekerjaan yang belum.ku selesaikan di kantor BEM.
See you!” ucap Firman sambil tersenyum ke arah Arin. Arin hanya mengangguk pelan. Mereka akhirnya berpisah dalam perasaan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Viona mendatangi Yeni dan Juwita yang sedang santai di salah satu halaman kampus. Ia terlihat sedang kesal dan dari wajahnya tampak sekali bahwa ia sedang dalam mood yang buruk.
“Ih! Sebbel!” ucapnya sambil membanting tas yang sejak tadi tersampir di lengannya.
Melihat tingkah Viona yang demikian reflek Yeni maupun Juwita terkejut dan langsung bertanya.
“Hei! Ada apa? Kok terlihat kesal?” Yeni bertanya duluan.
“Aku benar-benar lagi pengen banting orang!” jawab Viona dengan nada penuh kemarahan.
“Why? Ada apa? Kamu kesal ama siapa?” kali ini Juwita yang bertanya.
“Sama si cewek kegatelan itu!” ucap Viona.
“Siapa?” tanya Yeni penasaran.
“Ya siapa lagi? Cewek yang sok cantik dan sok populer yang paling kita benci di kampus ini!” ucap Viona penuh emosi.
Juwita dan Yeni tampak diam dan mengernyitkan keningnya. Mereka terlihat sedang berpikir dan mengingat-ingat siapakah kira-kira cewek yang Viona maksud.
“Arinal Haque?” tanya Yeni mencoba menerka.
“Iya lah! Siapa lagi?” jawab Viona.
“Emang dia kenapa?” Juwita makin penasaran.
“Tadi Gue lihat dia meluk kak Firman di lapangan basket. Dasar kegatelan!” ucap Viona dengan nada penuh intonasi kemarahan di dalamnya.
“What?” Respon Juwita
“Apa?” Yeni juga tampak sangat syok mendengar penuturan Viona. “Loe gak salah lihat Vin?”
“Mata gua masih jelas ya! Gue gak minus!” ucap Viona semakin kesal dibilang seperti itu oleh Yeni.
“Guys! Udah saatnya kita beraksi nih! Jangan sampai tuh cewek semakin ngelunjak kelakuannya!” Juwita juga mulai geram.
“Kali ini kita bakal ngelakuinnya dengan rencana yang matang! Jangan sampai kayak kemaren!” Viona mulai berpikir untuk membuat rencana jahat untuk Arin.
“Apapun itu gue serahkan ke loe rencananya. Gue Cuma mau bantu action!” ucap Juwita mantap.
“Gue juga Vin! Elloe paling jago.masalah rencana beginian.” Yeni menimpali ucapan Juwita.
Mereka sepakat untuk menjalankan sebuah rencana jahat untuk Arin. Mereka semakin muak dan benci kepada Arin.
__ADS_1