Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Peristiwa Memalukan


__ADS_3

Saat mendengarkan lagu yang Arin nyanyikan. Hati Firman seakan semakin tersayat. Ia tak kuasa menahan gejolak kerinduan dan juga perasaan kecewa yang mengaduk emosinya. Ia Akhirnya memilih mendengarkan lagu yang ada di ponselnya saja. Volume hedset ia setel dengan volume tertinggi. Sehingga lagu Arin tak terdengar lagi olehnya.


Firman memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Sesekali Arin melirik ke arahnya. Melihat Firman yang seolah tertidur. Arin semakin emosi dan tak terima. Ia menjadi sangat membenci Firman dengan tingkahnya yang seolah tidak ingin bersinggungan dengan dirinya.


Arin menyudahi nyanyiannya dengan segera. Padahal ia belum menerima sawerannya. Namun ia memilih untuk segera pergi ke tempat duduknya kembali. Tak terasa air mata menetes deras melalui pelupuk matanya yang terasa panas. Ia mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya. Namun tak bisa.


Melihat Arin sedang menangis di sampingnya Maya jadi cemas dan khawatir.


“Arin! Are you okey?” tanya Maya penuh kehati-hatian dalam nada bicaranya.


Arin tak menjawab pertanyaan Maya. Ia semakin tak kuasa membendung air matanya. Melihat Arin yang seperti itu. Maya menjadi bingung dan tak tau harus berbuat apa. Ia hanya bisa menawarkan tisu kepada Arin. Arin pun menerima tisu itu dengan segera dan menyeka air mata yang mengalir deras ke pipinya.


“Aku gak papa kak! Aku Cuma lagi kangen mama!” ucap Arin berbohong. Padahal di dalam hatinya saat ini ada Firman yang secuek itu terhadap dirinya.


“Kenapa gak nelpon aja kalau kangen?” tanya Maya tulus.


“Aku- kalau nelpon malah tambah ingin pulang kalau dengar suara mama!” ucap Arin masih dengan kebohongannya.


“Oh begitu! Kamu deket banget ya sama mama kamu?” tanya Maya pada Arin.


“Iya. Karena sejak orang tuaku bercerai. Aku ikut mama. Dan mama sudah menjadi mama sekaligus papa bagi aku!” jawab Arin bercerita tentang perceraian kedua orang tuanya yang terjadi sejak ia berada di sekolah dasar.


Mendengar cerita Arin, Maya semakin simpati dan kasihan kepadanya. Maya pun memeluk Arin dengan perasaan penuh kasih sayang. Layaknya seorang kakak kepada adik kandungnya.


Perjalanan selama tiga jam akhirnya berakhir pada sebuah desa yang terkenal sangat jarang penduduknya. Desa ini merupakan perkumpulan beberapa bukit kecil yang sangat asri dan sejuk. Jarak antara rumah penduduk satu dengan yang lain sangat berjauhan. Para peserta kemah harus berhenti sekitar satu kilo sebelum memasuki area perkemahan. Hal ini dikarenakan jalanan yang sempit tak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Mereka terpaksa berjalan kaki dengan membawa perlengkapan mereka masing-masing.


Terlihat seseorang laki-laki paruh baya yang menjadi perwakilan kepala desa menyambut kedatangan mereka dan sekaligus menjadi penunjuk jalan.


Setelah agak jauh berjalan para peserta akhirnya sampai di salah satu bukit yang tak berpenduduk. Mereka berencana akan mendirikan tenda di sana. Sebelum itu mereka memilih beristirahat sejenak untuk melepaskan kepenatan akibat perjalanan yang lumayan melelahkan.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup untuk melepas lelah. Mereka pun segera mendirikan tenda. Karena hari sudah mulai sore khawatir ketika malam tiba. Tenda belum siap semua.


Ketua BEM yang sekaligus ketua panitia dalam acara ini memberi beberapa arahan dan juga pengumuman penting. Seperti pembagian piket masak dan juga pembagian waktu mandi antara peserta laki-laki dan perempuan. Karena nantinya mereka akan mandi di sungai yang ada di bawah bukit yang mereka tempati saat ini.


“Arin!” ucap Mitha pada Arin yang terlihat sibuk membantu menyiapkan makan untuk para peserta laki-laki yang sedang mendirikan tenda. Sedangkan peserta perempuan memiliki tugas untuk menyiapkan makan malam.


“Iya kak?” jawab Arin ketika tau namanya di panggil.


“Ikut aku memberikan ini pada mereka yang Lagi membuat tenda yuk!” ajak Mitha kepada Arin.


Arin pun mengikuti Mitha yang bertugas membagikan roti untuk para peserta. Roti itu merupakan konsumsi dari panitia sebagai pengganjal perut supaya tidak terlalu lapar hingga waktu makan malam tiba.


Arin membagikan roti itu satu persatu kepada para peserta. Kebanyakan dari mereka tersenyum mengucapkan terimakasih kepada Arin. Saat tiba giliran memberikan roti itu kepada Firman Arin sejenak ragu dan tak tau harus memberikannya dengan cara bagaimana.


Ia sempat terhenti dan berpikir untuk menitipkannya saja pada seorang peserta yang saat itu terlihat sibuk membantu Firman. Namun sepertinya tidak bisa. Mereka semua terlihat sangat sibuk. Kecuali Firman yang terlihat sedikit bersantai sejenak.


“Kak! Ini rotinya untuk konsumsi sementara dari panitia!” ucap Arin kikuk karena tidak biasanya ia menyebut Firman dengan sebutan kakak.


Mendengar perkataan Arin yang menyebut dirinya kakak. Firman menjadi terkejut dan heran. Segitu bencikah Arin kini kepadanya sehingga mengubah cara bicaranya terhadap dirinya. Padahal biasanya Arin selalu berbicara santai dan tidak pernah seformal itu kepadanya.


“Makasih!” jawab Firman sambil mengambil roti yang Arin sodorkan pada dirinya. Begitu singkat dan datar. Tanpa senyum dan juga ekpresi lain.


Melihat respon Firman terhadapnya. Arin menjadi semakin salah paham. Ia mengira kali ini memang benar-benar menganggap serius ucapannya tempo hari. Sikap Firman yang ramah berubah seratus delapan puluh derajat.


Di dalam hati Arin sedikit sakit ketika diperlakukan demikian oleh Firman. Ia juga kecewa dengan sikap Firman yang sangat cuek dan seolah bertingkah tak ingin berbicara dengannya atau bahkan tak ingin mengenalnya.


Semua ketidak nyamanan itu Arin tahan dan ia tetap dituntut harus profesional dalam tugasnya membagi-bagikan roti pada peserta lain yang belum kebagian. Padahal hampir saja ia menangis lagi saat tadi selesai memberikan roti bagian Firman. Semua itu ia tahan di hatinya.


Saat Arin berada beberapa langkah dari posisi Firman berdiri. ia tiba-tiba jatuh tersungkur ke tanah. Hal itu dikarenakan kakinya melewati sebuah rumput panjang yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


“Burgh” suara dari Arin yang jatuh lumayan keras dan terdengar oleh beberapa peserta lain yang ada di sekitarnya. Seketika mereka berhenti dari pekerjaannya dan melihat ke arah Arin. Sadar bahwa Arin terjatuh mereka segera menghampirinya dan dengan sigap membantunya berdiri. Sedangkan Firman yang berada di posisi paling dekat dengan Arin memilih diam dan tak bereaksi apa-apa.


Arin sangat malu dan tertekan. Ia kecewa dengan Firman yang memilih tetap diam dan tak membantunya. Bahkan Firman hanya menoleh sejeanak dan segera mengalihkan pandangannya.


“Hati-hati dek!” ucap Seorang peserta yang membantu Arin bangkit dari posisinya.


“Iya kak!” ucap Arin dan saat melihat ke arahnya Arin baru tau bahwa itu Kak Zulkarnain. Sang ketua BEM. Arin menjadi semakin malu saat mengetahui hal itu. Ia pura-pura bertingkah membersihkan pakaiannya yang kotor oleh debu dengan tangannya.


“Sakit ya?” tanya Izzul penuh perhatian.


“Enggak kak!” jawab Arin sungkan.


“Ada yang luka?” lagi-lagi Izzul bertanya dengan penuh perhatian.


“Sepertinya gak ada kak!” jawab Arin sambil memaksakan senyumnya. Padahal sebenarnya di dalam hati ia ingin menangis saja. Rasa malu yang tak tertahankan dan juga sikap Firman membuatnya ingin menghilang begitu saja saat itu.


“Ya udah, biar aku aja yang meneruskan bagi-bagi kuenya! Kamu istirahat aja sana!” perintah Izzul kepada Arin.


“Enggak kak! Aku gak papa kok! Biar aku aja yang lanjutin!” ucap Arin menolak perintah Izzul.


“Kamu itu kecapean dek! Jadinya kurang fokus! Sini kasik aku aja!” Izzul tetap memaksa Arin. .


Melihat Izzul yang begitu ngotot akan menggantikan tugasnya. Arin akhirnya memberikan sisa roti yang belum dibagikan kepada Izzul. Ia memilih segera berlalu pergi. Ia sudah terlalu malu untuk menghadapi peserta lain yang saat ini masih memperhatikan ke arahnya.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2