Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Menghindar


__ADS_3

Firman terburu-buru pergi ke kampus hari ini. Hal itu ia lakukan agar bisa bertemu dengan Arin sebelum jam kuliah dimulai. Ia sengaja tak menelpon Arin karena ingin menyampaikannya secara langsung. Apalagi sudah tiga hari dia tak bertemu Arin sama sekali. Ia mulai merindukan sahabat masa kecilnya itu.


Setelah sampai di kampus Forman langsung menuju fakultas pertanian. Ia pergi ke sana untuk mencari tahu apakah pagi ini ada jadwal kuliah untuk mahasiswa semester satu. Firman bersyukur setelah tau bahwa pagi ini memang ada mata kuliah untuk Arin. Ia sengaja menunggu di koridor kelas semester satu.


Sementara Arin saat itu memang sedang berjalan menuju ruang kelas bersama Vivi dan Nabila. Namun dari kejauhan saat ia melihat Firman berdiri di koridor. Seketika Ia langsung merasa terkejut dan tidak siap. Ia masih mengingat kejadian memalukan yang dilakukan oleh dirinya beberapa hari yang lalu di rumah Firman. Ia pun mencari-cari alasan kepada dua sahabatnya agar bisa menghindar dari Firman.


“Eh! Aku ke toilet dulu ya! Tiba-tiba kebelet nih!” ucap Arin sambil berusaha berekspresi seperti orang sedang menahan kencing.


“Ok! Kita duluan aja ya! Tunggu di kelas.” Jawab Nabila santai.


Arinpun berjalan setengah berlari. Kedua sahabatnya itu tak tau bahwa Arin sebenarnya sedang berbohong. Ia melakukan hal itu agar bisa menghindari Firman. Ia masih malu untuk bertemu langsung dengannya setelah kejadian di rumah Firman tempo hari.


Nabila dan Vivi terus berjalan hingga ia setelah hampir sampai mereka baru sadar bahwa ada Firman di depan kelas semester satu.


“Kak Firman kok ada di sini?” tanya Vivi membuka percakapan sekaligus setengah heran senior idolanya berdiri di depan kelasnya. Padahal setau mereka Firman kan kuliah di fakultas kedokteran. Untuk apa Ia berada di fakultas pertanian.


“Hm, aku lagi cari Arin!” jawab Firman to the point.


“Arin? Yah! Baru aja dia jalan ama kita barusan! Tapi orangnya kebelet ke toilet kak! Ada hal penting yang mau disampaikan?” tanya Nabila yang juga sedang penasaran.


“Ada sih! Tapi, aku pengen ketemu langsung ama orangnya.”


“Ya tunggu aja kak! Kita temani deh, seraya menunggu Arin.” Vivi berkata penuh semangat. Ia merasa beruntung sepagi ini bisa bertemu dengan idolanya.


“Ok! Terimakasih. Kalau gak merepotkan!” ujar Firman sambil tersenyum manis. Senyuman yang semakin membuat Vivi maupun Nabila merasa semakin mantap di hatinya bahwa Firman memang cakep dan mirip mark print. Salah satu  aktor papan atas Thailand yang sedang populer di Indonesia.


Sememtara dari kejauhan Arin yang tidak benar-benar pergi ke toilet melainkan memantau dari kejauhan malah semakin resah karena ternyata Firman tak kunjung pergi dari depan kelasnya. Padahal sebentar lagi kemungkinan dosen mereka akan memasuki kelas.


Arin bingung dan juga khawatir. Ia tak mungkin datang terlambat ke kelas. Karna hari ini adalah mata kuliah dengan dosen terdisiplin dan juga terkiller. Yaitu, pak Pramono Kusumo. Ia hanya bisa mondar-mandir seraya merapalkan doa di mulutnya. Supaya Firman segera pergi dari depan kelasnya.


Setelah agak lama. Akhirmya dosen itu benar-benar muncul dari arah yang berlawanan. Arin yang kehabisan cara akhirnya memilih berjalan tepat di belakang pak dosen. Menurutnya tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman saat menghadapi situasi darurat seperti saat ini.

__ADS_1


Ia memilih nekat berjalan di belakang pak Pramono yang tak menyadari ada seorang mahasiswinya sedang membuntutinya dari belakang. Arin berjalan perlahan supaya langkahnya ringan dan tidak terdengar.


“Waduh! Gawat kak! Itu pak Pramono udah dateng. Kita ke dalam duluan ya?” pamit Nabila saat menyadari dari kejauhan dosen killernya sedang berjalan menuju ke arah mereka.


“Oh iya, silahkan!” ucap Firman yang masih berinisiatif menunggu Arin.


Vivi maupun Nabila terpaksa menghentikan obrolan asyiknya dengan senior kesayangan mereka itu. Hal itu tentu saja demi menghindari kemurkaan dosen killer yang sedang menuju ke dalam kelasnya.


Arin yang bingung dan tak menemukan cara lagi untuk menghindar. Sementara kelasnya sudah mau dimulai. Akhirnya memberanikan diri menyapa dosennya untuk bisa berjalan di belakangnya.


“Pagi pak!” sapa Arin penuh basa basi.


“Hm, pagi juga.” Jawab si dosen singkat.


“Bapak tugas saya udah selesai saya kumpulkan ke kantor hari ini.” Ucap Arin tak tau mau membahas tentang apalagi. Ia kehabisan akal namun terpaksa ia utarakan agar bisa mengobrol dengan pak Pramono.


“Lah iya lah harus selesai hari ini! Kan memang hari ini ketentuan batas hari terakhir pengumpulan?” ucap pak dosen heran dengan laporan Arin yang menurutnya tak terlalu penting.


Saat sudah sampai di depan kelas.


“Loh, kamu kan mahasiswa jurusan kedokteran? Kenapa ada di sini?” tanya pak dosen ketika melihat Firman berdiri tepat di depan kelas semester satu fakultas pertanian.


“Pagi pak!” ucap Firman sambil menyalami si dosen killer itu dan menyampaikan alasannya berdiri di sana. “Saya ada perlu pada salah satu mahasiswi bapak.”


Arin seketika terkejut setengah heran bagaimana bisa Firman sesantai itu pada salah satu dosen yang paling disegani di kampus ini. Arin kali ini benar-benar tidak bisa memghindar lagi. Firman bahkan nekat meminta izin pada dosennya untuk bisa menemuinya secara langsung.


“Siapa?” tanya pak dosen ketika mendengar penjelasan Firman.


“Ini pak! Kebetulan tepat ada di belakang bapak!” ucap Firman tetap santai namun sangat sopan.


“Oh, ya sudah! Jangan lama-lama ya! Aku mau segera memulai ngajar ke dalam. Nanti temanmu ketinggalan!”

__ADS_1


“Baik pak! Terimakasih.” Jawab Firman sambil menunduk patuh.


Arin hanya bisa berdiri dan diam saja di tempatnya. Karena tak mungkin ia juga ikut ke dalam saat Firman sudah meminta izin langsung kepada dosennya.


“Ada apa?” tanya Arin sambil mengalihkan pandangan. Hatinya semakin hari semakin tak karuan jika bertemu dengan Firman. Malu, kesal dan juga ingin marah-marah bawaannya. Tapi ia juga tak memungkiri bahwa ada rasa rindu di hatinya.


“Hm, sabtu nanti ada tes masuk anggota BEM!” ujar Firman yang kini sangat bahagia dapat bertemu langsung dengan Arin. Setelah beberapa hari ini ia sangat sulit menemui Arin.


“Trus?” tanya Arin masih menunggu kelanjutan ucapan Firman.


“Ya, aku harap kamu ikut! Kamu kan tempo hari nanya kapan tesnya?” jawab Firman mantap.


“Hah? Kamu Cuma perlu buat ngomong itu doang?” Arin kini semakin dibuat heran oleh tingkah laku Firman yang sedikit tak masuk akal. Seharusnya jika memang ingin mengatakan itu. Ia bisa menyampaikannya lewat telpon saja.


“Iya. Aku- aku gak mau kamu ketinggalan informasi. Aku udah niat mau nelpon kamu loh. Tapi aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Jadi lupa! Tadi pagi baru ingat.” Alasan yang tak masuk akal namun dengan sangat terpaksa tetap Firman utarakan. Agar ia tidak mati kutu di hadapan Arin.


“Ok! Kalau Cuma itu saja! Aku masuk dulu ya?” tanya Arin karena ia sudah mulai khawatir ia akan kena marah oleh pak dosennya.


“Iya silahkan! Jangan lupa hari sabtu sore!” Firman berusaha mengingatkan kembali.


“Siap!” jawab Arin sambil buru-buru melangkah ke dalam kelasnya.


Firman hanya bisa tersenyum puas dan juga memilih pergi dari tempat yang sejak setengah jam lalu ia berdiri di sana.


Di dalam kelas Arin yang tadinya berusaha untuk menghindari Firman namun gagal hanya bisa menggerutu dalam hati.


“Arinal Haque!” tiba-tiba sebuah suara membuatnya tersentak kaget.


Sadar bahwa itu suara dosennya Arin segera menjawab. “I- iya pak?” tanyanya dengan sedikit gugup.


“Kamu yang presentasi duluan ke depan!” perintahnya keras dan lantang.

__ADS_1


Arin bagaikan dihantam batu besar di kepalanya. Ia tak menyangka pak Pramono akan menunjuknya sebagai presentator pertama pagi ini. Dengan lemas ia mengambil makalah yang ada di dalam tasnya dan melangkah lunglai ke depan kelas. Seketika ia merasa bahwa hari ini adalah hari sial baginya.


__ADS_2