Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Kenangan Lama


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan belas malam. Firman sudah bersiap-siap mengeluarkan motor kesayangannya. Malam ini Ia begitu bersemangat untuk menjemput Arin. Sejak semalam ia sangat tidak sabar menantikan moment ini.


Meski ia belum menyadari sepenuhnya bahwa perasaannya terhadap Arin bukanlah hanya sekedar rasa sayang sebagai seorang kakak kepada adiknya. Namun ia tau betul bahwa bertemu dengan Arin membuatnya candu. Karena hatinya pasti akan berbunga-bunga setelah pertemuan itu terjadi.


Firman melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu dan makan malam berdua dengan sahabat masa kecilnya. Sejak beberapa tahun berlalu ia tak pernah bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa bermain lagi berdua seperti dahulu ketika masih kecil. Apalagi untuk hangout berdua dengan Arin. Hal itu dikarenakan sikap Arin yang selalu acuh saat bertemu dengannya.


Begitu sampai di pintu gerbang utama ia langsung menelpon Arin untuk mengabari kedatangannya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu Arin sudah siap dan keluar melewati pintu gerbang yang tampak sangat kokoh dan besar itu.


Begitu sampai di hadapan Firman tanpa berbasa-basi lagi ia langsung naik ke atas motor. Penampilan Arin malam ini tidak seresmi penampilannya kemarin malam. Namun ia tampak selalu cantik dengan kesederhanaannya. Sementara Firman masih saja selalu dibuat terperangah dengan pesonanya.


Kali ini tidak lagi membuat jarak seperti saat pertama kali ia dibonceng oleh Firman. Ia merapat ke tubuh Firman dan memeluknya dari belakang. Firman yang mengetahui hal itu langsung saja terkejut dan tersenyum di waktu bersamaan. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang menjadi tak karuan. Membuatnya terdiam sesaat dan menikmati moment yang sangat langka ini.


Ia mencoba mengendalikan perasaan bahagianya. Sifat Arin yang berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya membuat Firman mencoba menepuk pipinya sendiri. Ia bahkan mencubit lengannya sendiri demi memastikan bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. Namun ini adalah sebuah kenyataan yang begitu indah.


“Mas! Kok belum berangkat?” tanya Arin heran karena hampir tiga menit Ia menunggu Firman menyalakan motornya. “Apa motornya bermasalah?” tanya Arin lagi.


“Eng, enggak kok! Ini aku lagi mau menyalakannya.” Jawab Firman grogi. Ia dibuat tak percaya dengan dirinya sendiri yang bersikap bodoh dengan terdiam begitu lama di hadapan Arin.


“Apa kita naik taksi aja?”


“Eh, jangan! Ini udah aku nyalakan.”


“Abis, lama amat kamu nyalainnya! Kalau memang bermasalah kita naik taksi aja!” ucap Arin menyarankan.


Sebelum menjawab Arin. Firman memilih segera menyalakan motornya.

__ADS_1


“Tuh, kan gak bermasalah?” ujar Firman mencoba membuktikan.


“Ya udah. Langsung tancap gas aja!” perintah Arin bersemangat.


“Aku ngebut boleh?” tanya Firman sebelum ia benar-benar menginjakkan kaki pada pedal gas.


“Its okey. Not problem!” jawab Arin cepat.


Motorpun melaju dengan kecepatan tinggi. Firman begitu meresapi suasana yang menurutnya sangat langka dan penuh kebahagiaan ini. Ia tersenyum kepada dirinya sendiri.


“Kamu mau makan apa?” tanya Firman pada Arin. Begitu sampai di sebuah restorant pilihan Arin.


“Aku mau menu diet terenak di restoran ini!” jawab Arin sambil melihat daftar menu di tangannya.


“Menu diet? Kamu lagi diet?”


“Ya ampun dek? Kamu itu udah kurus loh! Masih pengen kurus kayak apa lagi?” Firman bertanya heran sambil memperhatikan Arin dari ujung kepala hingga unjung kaki.


“Aku pengen kurus kayak cewek-cewek di china itu loh!” ucap Arin memberitahu Firman tujuannya melakukan diet.


“Jangan Ah! Itu kamu udah cukup. Kalau dikurusin lagi malah kayak tengkorak entar!”


“Menurut kamu aku gemuk ya?” tanya Arin serius.


“Kan aku udah bilang barusan jangan diet! Kamu udah seksi kok!” jawab Firman setengah menggoda.

__ADS_1


“Kok seksi sih? Kesannya kayaknya aku gemuk dan berisi ya?” Arin bertanya lagi karena merasa jawaban Firman kurang meyakinkannya.


“Ya ampun dek! Gimana ya cara jelasinnya? Pokoknya kamu udah cukup! Gak perlu diet lagi. Titik!” ucap Firman mencoba meyakinkan Arin kembali.


“Ya udah, aku mau pesan makanan kesukaanku aja. Tanpa memikirkan berat badan lagi.” Ucap Arin lega. Ia merasa momok yang selalu menghantuinya kini telah menghilang. Ia selalu mengkhawatirkan berat badannya.


Banyak hal yang mereka berdua bahas malam ini. Mulai dari kenangan masa lalu yang membuka kembali memori Arin tentang beberapa kelakuan konyol mereka di masa kecil. Arin tidak menyangka bahwa banyak hal yang Firman ingat tentang mereka. Bahkan ingatan itu begitu detail. Ia juga mengingatkan Arin tentang ketakutannya pada kaki seribu.


Berbeda dengan Firman yang begitu kuat menyimpan ingatan tentang masa kecilnya bersama Arin. Arin justru banyak melupakannya. Dari sekian banyak ingatan masa kecilnya bersama Firman. Ia hanya ingat tentang lukanya saat peristiwa perceraian kedua orang tuanya. Ingatan yang selalu berusaha ingin ia lupakan. Meski itu tidak bisa.


Obrolan itu tanpa terasa membuat waktu begitu cepat berlalu. Karena malam sudah mulai larut, mereka menyudahi pertemuan itu dan bergegas untuk pulang ke kosan masing-masing. Namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar perkiraan.


Saat keluar dari restaurant tiba-tiba langit bergemuruh. Bintang-bintang tampak lenyap oleh sapuan awan gelap. Udara sekitar juga tampak mulai sejuk. Pertanda hujan akan segera turun.


Melihat hal itu, Arin tampak cemas. Ia khawatir hujan segera turun sebelum mereka pulang ke tempat kos masing-masing. Apalagi mereka hanya menggunakan motor dan tidak membawa jas hujan.


Firman segera menghidupkan motornya dan memerintah Arin untuk segera naik. Ia juga khawatir hujan turun saat mereka masih di tengah perjalanan pulang. Namun jika menunggu di sini. Ia juga khawatir Arin akan pulang kemalaman.


Akhirnya hujanpun turun sebelum Arin sampai di tempat kosnya. Karna jarak terdekat dari posisi mereka saat ini justru adalah rumah kontrakan Firman. Ia menawarkan pada Arin untuk singgah dulu disana. Sambil menunggu hujan reda. Arin juga tak menolak dan setuju saja dengan insiatif Firman.


Saat sampai di rumah kontrakan yang kecil namun terlihat lumayan bagus itu. Arin sedikit heran karena ia juga baru tahu bahwa Firman ternyata tidak tinggal di tempat kos seperti halnya dirinya.. Melainkan mengontrak satu rumah untuk ditinggali sendirian.


“Kamu ngontrak mas?” tanya Arin begitu berhasil masuk ke rumah kontrakan itu dengan sedikit berlari. Hujan juga mulai semakin deras. Baju Arin jadi sedikit basah di bagian punggung dan pundak.


“Iya! Aku disuruh ngotrak aja sama om!” jawaban Firman sengaja menyebutkan papa Arin karena agar Arin tau bahwa itu juga bagian dari rencana papanya.

__ADS_1


“Kalau kamu, kenapa om tidak membolehkan kamu ngontrak ya karena kamu itu cewek dek! Om khawatir kalau kamu tinggal sendirian! Berbeda dengan kosan. Kamu akan banyak temannya disana.” Firman melanjutkan penjelasannya karena ia khawatir Arin salah paham dengan tujuan papanya membedakan tempat tinggal antara mereka berdua.


__ADS_2