
Malam itu Arin tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia teringat dengan kata-kata mamanya. Ia tak tau harus berbuat apa. Namun yang pasti dendam di dalam jiwanya kini semakin memuncak dan seakan bisa meledak kapan saja. Ia semakin kesal dan benci terhadap Firman. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Firman bahagia.
Ia banyak berpikir tentang langkah apa yang harus ia tempuh selanjutnya. Bahkan ia mulai berpikir untuk menipu Firman dengan berpura-pura baik saja kepadanya. Setelah itu mungkin ia bisa menjebak Firman. Benar saja, setelah berpikir untuk memiliki ide seperti itu. Akhirnya ia bisa mulai memejamkan matanya perlahan.
Pagi itu. Sebelum Arin memasuki ruang kuliah. Ia sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Hanya demi ingin mencari Firman ke kantor BEM. Sesampainya di sana, ia tak menemukan Firman. Namun, ada beberapa senior lain yang sedang terlihat sibuk dengan aktifitasnya.
“Permisi! Boleh saya masuk?” tanya Arin sambil mengetuk halus pintu masuk kantor BEM.
“Boleh dek! Silahkan!” jawab salah seorang senior cewek.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang lagi yang duduk di samping senior tadi.
Semua yang ada di dalam sana. Tak ada satupun yang Arin kenal.
“Aku lagi cari kak Firman kak!” ucap Arin menjelaskan alasannya pagi-pagi ada di sana.
“Firman? Sepertinya belum datang dek! Apa mungkin gak ada kuliah pagi ya? Eh, kamu adek Firman yang viral pas orientasi itu ya?” tanyanya pada Arin yang tampak sedikit malu ditanya demikian.
“Iya kak. Kenalkan nama aku Arin.” Ucap Arin sambil menjulurkan tangannya.
“Aku Vera. Ketua ruang juga pas acara orientasi kemaren.” Ucapnya sambil menjabat tangan Arin. “Kenapa gak janjian dulu dek?” tanya senior Vera pada Arin.
“Hm, aku gak punya nomer handphone mas Firman.” Jawab Arin sedikit sungkan mengatakannya.
“Loh? Kok bisa adek sepupu gak punya nomer HP kakaknya?” Vera bertanya karena heran dan merasa aneh dengan jawaban Arin.
“He he he, aku kan baru pindah di Jakarta.”
“Oh, jadi kamu baru ketemu lagi ama Firman?”
“Iya kak.” Jawab Arin agak ragu.
“Oh ya udah. Aku tanyakan dulu sama yang lain. Atau gini aja dek. Kamu telpon dia sendiri ya? Ini aku ada nomer handphonenya.” Senior Vera menawarkan nomer Firman pada Arin.
“Boleh kak.” Ucap Arin mantap.
“Ok, catet ya!” Vera membuka layar ponselnya dan menyebutkan dua belas digit angka nomer milik Firman.
“Ok, kak. Makasih banyak. Aku telpon orangnya langsung deh!”
“Sep dah. Tunggu aja di sini! Maaf ya, aku tinggal dulu. Aku ada janji mau ketemu pak rektor pagi ini dek!” Vera berpamitan pada Arin.
“Iya kak. Gak papa. Silahkan!” ucap Arin sambil tersenyum manis ke arah Vera.
__ADS_1
Setelah Vera berlalu dari hadapannya. Arin segera mencari nomor yang baru saja disimpannya dan memencet panel hijau di ponselnya. Butuh waktu agak lama supaya panggilannya diangkat oleh nomor tujuan. Bahkan ia sampai harus mencoba dua kali.
“Halo, dengan siapa?” tanya Firman dari seberang.
Arin agak ragu untuk menjawab. Namun, akhirnya ia memberanikan diri menyebutkan namanya.
“Ini aku mas!” jawab Arin singkat.
“Maaf, siapa ya? Nomernya di sini gak tersimpan.” Ucap Firman penasaran.
“Ini aku Arinal Haque.” Jawab Arin tanpa keraguan.
“Apa? Siapa?” tanya Firman setengah tak percaya.
“Iya, ini aku.” Arin mulai merasa sedikit tidak percaya diri.
“Ini beneran Arinal Haque?” tanya Firman sekali lagi.
“Iya. Bener.” Arin meyakinkan Firman dengan suaranya.
“Masak sih?” tanya Firman lagi-lagi. Namun tujuannya kali ini hanya untuk menggoda Arin. Sebenarnya di dalam hati ia sudah yakin dan kenal dengan suara Arin.
“Ya udah, kututup aja kalau gak percaya!” ucap Arin mulai sewot.
“Eh, eh maaf! Tunggu, tunggu jangan ditutup.”
“Eh eh eh, maaf maaf adek! Mas minta maaf ya? Ada apa nih tumben nelpon?”
“Aku ada perlu. Sekarang aku ada di kantor BEM. Kamu dimana?”
“Loh aku gak ada kuliah pagi ini dek. Aku masih di kosan.”
“Ya udah aku pokonya gak mau tau. Aku tunggu di sini loh.” Ucap Arin seraya langsung menutup telponnya.
“Halo? Dek?” Firman hanya bisa heran dan menepuk jidatnya sendiri. “Ini anak! Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nelpon. Pas udah di angkat belum selesai ngomong udah di tutup duluan.”
Karena merasa belum tersampaikan apa yang ada di pikirannya. Firman mencoba menelpon balik nomer Arin. Namun Arin enggan menjawabnya. Tak menyerah Firman masih saja terus menelponinya. Arin justru memencet tombol power dan memilih menonaktifkan handphonenya.
“Tadi dia bilang apa? Mau nunggu di kantor BEM? Waduh! Harus buru-buru ke kampus nih. Mana belum mandi lagi.” Ucap Firman sambil terburu-buru mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi.
Setelah mandi Firman langsung mengambil motor kesayangannya dan berangkat ke kampus. Tujuan utamanya tentu saja kantor BEM. Ia merasa sangat semangat dan bahagia sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia tak pernah merasa sesemangat ini pergi ke kampus.
Seakan banyak bunga bermekaran di hatinya. Ia tak menyangka bahwa perasaan senang itu akan sedalam ini. Meski ia belum benar-benar memastikan apakah ini hanya rasa senang biasa atau benih-benih cinta yang sebenarnya sudah mulai tumbuh seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Setibanya di kantor BEM ia menjadi semakin bahagia ketika melihat Arin yang masih berada di sana. Duduk setia menunggunya. Ya, siapa yang menyangka bahwa Arin benar-benar menunggunya. Melihat sikap Arin selama ini yang selalu acuh tak acuh. Rasanya itu adalah hal yang mustahil.
“Hai!” Firman menyapa dengan suara yang sedikit tertahan oleh nafasnya yang terengah-engah. Bagaimana tidak seperti itu jika ia memilih berlari dari tempat parkir menuju kantor BEM. Hanya karena khawatir Arin tidak jadi menunggunya di sana. Namun kali ini bagaikan suatu keajaiban. Arin benar-benar menunggunya sampai datang.
“Lama banget sih?” ucap Arin sambil merengut.
“Iya, maaf. Aku kan tadi belum mandi. Jadi mandi dulu lah!” Firman memilih duduk di sebelah Arin.
“Ih, itu pasta giginya masih berbekas tuh di bibir! Mandinya gak bersih ya?” tanya Arin sengaja mau membuat Firman mati gaya.
“Mana?” tanya Firman seraya mengusap ujung bibirnya.
Karena tidak telaten melihat Firman yang justru mengusap bagian yang salah. Arin jadi berinisiatif untuk membantu membersihkan sisa pasta gigi itu. Ia menjulurkan tangannya dan mengusap bagian bibir yang ada bekas pasta giginya.
Firman terkejut dengan sikap Arin yang tiba-tiba menjadi seperhatian itu. Saat tangan Arin mengusap bibirnya. Tiba-tiba jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Hal itu membuatnya mematung sesaat dan bingung mau berbuat apa. Karena kali ini perasaan itu benar-benar membuat semuanya semakin jelas. Semakin jelas bahwa Ia sangat menyukai perhatian kecil dari Arin.
Bahkan pandangan mereka mulai bertemu satu sama lain. Arin yang tidak pernah merasa sedekat itu dengan Firman sebelumnya merasa salah tingkah dan segera menarik tangannya.
“Lagian ngapain juga buru-buru! Aku kan gak nyuruh buat cepetan?” ucap Arin mencoba mengalihkan perhatian. Karena ia tak bisa memungkiri bahwa sebenarnya ada perasaan aneh yang menjalar dalam dirinya saat tadi beradu pandangan dengan orang yang paling dibencinya itu.
“Ya, aku khawatir kamu nunggu terlalu lama dek!”
“Baguslah kalau kamu berpikiran seperti itu. Meski kenyataannya aku benar-benar menunggu hampir satu jam di sini.”
“Iya, maaf! Kamu sih tadi keburu nutup telponnya. Pas aku telpon balik malah dinonaktifkan!” protes Firman.
__ADS_1