Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Nyanyian Hati


__ADS_3

Sudah sebulan lebih sejak pertengkaran itu terjadi.  Firman dan Arin sama-sama saling menjauh dan tidak bertegur sapa. Meski keduanya kini sering bertemu di kantor BEM.


Jika Kebetulan berpapasan atau bertemu satu sama lain. Salah satunya pasti akan menghindar. Untungnya mereka tidak ada dalam satu tim. Sehingga tak menuntut mereka untuk bekerja dalam project pekerjaan yang sama. Hal inilah yang membuat keduanya juga mudah untuk menghindari  satu sama lain.


Bukan karena mereka tidak merindukan satu sama lain. Namun karena rasa ego dan gengsi Arin yang terlalu besar membuat Ia enggan bahkan untuk sekedar meminta maaf.


Sedangkan Firman sudah terlanjur sakit hati dengan ucapan Arin yang mengatakan bahwa Ia terlalu ikut campur dalam kehidupannya. Setelah dikatakan demikian. Tentu saja ia tidak akan berani mendekatinya lagi.


Sikap Firman kepada Arin sebenarnya lebih ke membatasi diri. Karena ia tak mau dikatakan terlalu ikut campur lagi.


Setelah acara pelantikan pengurus baru dilaksanakan. BEM juga mengadakan kemah bakti di suatu daerah selama tiga hari tiga malam. Acara kemah bakti ini bertujuan untuk mempererat rasa persatuan antar anggota. Dan juga untuk kekompakan dalam menjalankan visi dan misi bersama.


Berdasarkan jumlah seluruh anggota BEM baik yang lama ataupun yang baru. Butuh sekitar dua bus besar untuk bisa mengangkut semua anggota.


Arin memilih bus yang tak ada viona di dalamnya. Sejak fitnah yang ia sebutkan tentang Firman. Membuat Arin sangat berhati-hati untuk tidak bergaul dengannya. Kini Arin bahkan membencinya.


Selama masuk keanggotaan BEM. Arin begitu akrab dengan Maya. Ia menjadi partner yang menyenangkan bagi Arin sebagai pengganti Vivi dan Nabila. Maya juga memutuskan duduk di sebelah Arin saat pemberangkatan kemah bakti. Keduanya tampak asyik mengobrol selama perjalanan.


“Eh, kak Firman ada di bus ini juga loh!” ucap Maya penuh semangat.


“Masak? Kok kakak tau?” tanya Arin heran. Karena ia sendiri tak tau mengenai hal itu.


“Aku barusan ke belakang mengambil syal yang tertinggal di rumah. Untung saja ada sopir ayah yang bisa mengantarkan ke sini tepat waktu. Kalau tidak, gak kebayang deh aku harus hidup tanpa syalku selama tiga hari. Di sana kan katanya udaranya dingin banget kalau malam hari.” Maya menjelaskan tentang kenapa ia sampai bela-belain meminta syalnya yang ketinggalan untuk diantarkan.


“Aku untung saja ingat dan sudah memakainya sejak dari kosan.” Ucap Arin merasa lega karena ia tak khawatir kedinginan di lokasi kemahnya.

__ADS_1


Di tengah-tengah perjalanan yang lumayan lama dan membosankan. Para Anggota BEM memilih hiburan dengan berkaraoke. Satu persatu peserta begitu bersemangat untuk menyumbangkan suaranya. Jika ada yang bersuara false maka semua akan menyoraki sampai yang bernyanyi kapok untuk tampil kembali. Namun sebaliknya, jika ada yang bersuara bagus dan nyanyiannya juga bagus maka akan ada beberapa orang yang dengan senang hati menyawer mereka seikhlasnya.


Maya memang ditakdirkan menjadi pribadi yang humble dan percaya diri. Ia juga memaksa untuk ikut menyanyi di dalam bus. Meski suaranya tak terlalu bagus. Namun ia juga tak memiliki suara false sama sekali. Ia lumayan menguasai teknik menyanyi yang bagus. Setelah maya tampil. Ia dengan nekat merequest seseorang untuk tampil bernyanyi bersamanya.


“Saya meminta kepada senior Firman unruk tampil di panggung kehormatan ini bersama dengan saya!” ucap Maya layaknya pembawa acara di sebuah acara konser.


Mendengar maya meminta hal itu para penumpang bersorak dan berteriak menyebut nama Firman. Mereka memberi semangat kepada Firman untuk maju dan bernyanyi menemani Maya. Alvian yang duduk dI sebelah Firman langsung dengan sigap menyeret Firman ke arah Maya.


Karena banyaknya peserta yang meneriaki namanya dan juga paksaan dari beberapa rekan-rekannya akhirnya Firman memaksakan dirinya untuk benar-benar bernyanyi di depan.


Ia menyanyikan sebuah lagu duet berdua dengan maya. Lagunya terdengar  bagus dan lumayan enak didengar. Sehingga para penumpang sangat merasa terhibur.


Berbeda dengan para penumpang lain. Arin menjadi satu-satunya orang yang tidak suka melihat keduanya tampil bersamaan dan menyanyikan lagu percintaan berdua. Arin merasa ada yang terbakar di dalam dirinya. Tiba-tiba ia merasa sangat gerah dan panas. Padahal bis itu adalah kendaraan mewah dengan fasilitas AC yang sangat bagus di dalamnya. Namun entah kenapa Arin tetap merasa seolah dirinya berada di sebuah ruangan yang sempit yang sesak dan panas.


Seumur hidup Arin tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan resah dan juga khawatir di saat bersamaan. Meski ia tak tau apa yang ia resahkan dan khawatirkan. Namun ia tau betul bahwa ada yang tidak nyaman di dalam dirinya tepatnya di dalam hatinya. Ia merasa seolah dunia ini menjadi teramat asing baginya.


“Gimana suara aku?” tanya Maya tiba-tiba saat sudah berada di samping Arin.


Ditanya demikian Arin hanya bisa tersenyum dan tak berkata apa-apa. Senyuman yang datar bersamaan dengan rasa kesal di hatinya. Ia seolah terpaksa memberikan senyuman itu kepada Maya.


“Eh kenapa kamu gak ikut nyanyi juga?” tanya Maya yang sekaligus memberikan saran pada Arin.


Seketika Arin langsung menggelengkan kepalanya.


“Eh! Arin juga mau nyumbang lagu nih kak!” ucap Maya pada Alvian yang bertugas sebagai pemandu sekaligus oaembawa acara.

__ADS_1


“Siapa? Arin?” tanya Alvian mencoba bertanya sekali lagi karena ia khawatir salah dengar.


“Iya!” maya berteriak lantang.


Sontak semua penumpang bersorak dan kompak menyebutkan nama Arin berkali-kali. Seolah memberi dukungan untuk Arin.


“Arin! Arin! Arin!” ucap penumpang lain bersamaan.


Mendengar namanya disebutkan Arin hanya bisa terdiam kaku. Biasanya Atin merupakan sosok yang selalu percaya diri tampil dimanapun. Terakhir aksi nekatnya di  acara Oscar sangat membekas di benak mahasiswa yang satu angkatan dengannya. Namun, entah kenapa untuk kali ini ia merasa ciut dan tak berani tampil. Padahal ia sangat suka dan lumayan bisa menyanyi.


Melihat Arin yang tak juga beranjak untuk maju. Maya lalu memaksanya dengan cara menarik tangannya. Seluruh mata dalam bus itu tertuju pada Arin. Kecuali satu orang yang tampak cuek dan memilih menatap keluar jendela. Orang itu tentu saja adalah Firman.


Firman bahkan sengaja mengeluarkan hedsetnya dan segera memakainya. Tampaknya ia lebih suka mendengarkan lagu-lagu di dalam handphonenya daripada harus mendengarkan Arin bernyanyi.


Begitu mengetahui bahwa Firman menjadi satu-satunya orang yang tak memperdulikannya. Arin akhirnya memberanikan dirinya untuk maju. Ia menyanyikan sebuah lagu tentang luka yang lumayan populer di kalangan anak muda.


Jika didengarkan secara keseluruhan. Lagu yang Arin bawakan sangat mengandung makna yang mendalam yang sengaja ia tujukan pada Firman. Namun tak ada yang tau bahwa lagu itu ia tujukan pada sahabat masa kecilnya.


Meski pura-pura tidak memperhatikan. nyatanya Firman tau betul bahwa lagu itu sedikit mengena terhadap kondisi hubungan mereka berdua  saat ini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2