
Suasana pagi hari di desa merupakan moment yang paling Arin suka sejak kecil. Dulu ketika libur sekolah ia memilih bangun lebih pagi dan pergi ke sawah untuk melihat matahari terbit. Ia akan menghabiskan waktunya hingga tengah hari untuk bermain disawah. Kala itu, Firman lah sahabat satu-satunya yang selalu ada untuk menemaninya.
Namun, pagi ini berbeda. Ia memilih menghabiskan waktu paginya dengan bersepeda sendirian. Ia bertekad akan menyusuri jalanan sendirian tanpa ditemani siapapun. Lagi pula ia sudah hafal jalur yang harus ia tempuh. Ia ingin bersepeda hingga ke puncak. Desa tempat nenek Arin tinggal memanglah ada di sebuah lereng gunung yang lumayan tinggi.
Ia akan berkunjung ke kebun teh milik neneknya di puncak gunung. Kebun teh itu berada di dusun tertinggi yang ada di desa itu.
“Sayang, papa panggil Firman dulu ya! Biar dia nemenin kamu.” Respon pak Irawan kala Arin izin untuk bersepeda ke puncak.
“Jangan pa! Aku pengen sendirian!” jawab Arin
“Tapi sayang, papa khawatir kamu gak tau jalannya!”
“Aku udah hafal kok pa! Aku kan dulu udah sering main kesana!” Arin masih bersikukuh dengan keinginannya.
“Iya, tapi sekarang daerah situ jalanannya banyak yang berlubang sayang! Gimana kalo pake mobil aja?”
“Gak seru kali pa! Arin kan mau olahraga!”
Pak irawan Menghela nafas berat.
“Baiklah, tapi hati-hati ya! Jangan terlalu ngebut bersepedanya!” perintah papa Arin dengan hati yang masih agak berat.
“Siap!”
Arin berangkat sebelum matahari menampakkan diri dari ufuk timur. Ia bersepeda dan berbekal sebotol air mineral.
Butuh perjalanan sekitar lima belas kilo meter untuk benar-benar mencapai puncak. Ia begitu bahagia kerena akhirnya bisa menikmati paginya seindah ini. Tampak beberapa petani teh berlalu lalang melakukan aktifitasnya.
“Arin!” sebuah suara menyapanya dari arah belakang. Arin menoleh ke arah suara itu berasal. Saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Ia lalu dengan cepat berpaling lagi.
“Arin! Kamu apa kabar?” tanya Firman yang saat itu juga sedang berolahraga dengan sepeda gunungnya. Karena tak ada jawaban, Ia bertanya sekali lagi.
“Arin, apa kamu melupakanku?”
Bukannya menjawab Arin malah membelokkan sepedanya dan mengayuh dengan cepat.
Melihat hal itu Firman tak menyerah dan menyusulnya.
“Arin! Tunggu!” teriak Firman. “Arin! Bisa gak sih kita membicarakannya secara baik-baik?”
Mendengar teriakan Firman. Arin malah menambah kecepatan ayuhan sepedanya. Ia tau bahwa Firman mengikutinya di belakang. Saat melewati tanjakan yang lumayan curam. Ia kehilangan konsentrasinya sehingga sepedanya melewati jalan yang berlubang. Hal yang tidak diinginkanpun terjadi. Ia terlempar sejauh lima meter. Ia jatuh le tanah dengan keadaan tersungkur. Lututnya membentur batu yang lumayan tajam.
“Arin!” melihat hal itu Firman berteriak dan menghentikan sepedanya. Ia Segera berlari ke arah Arin.
Arin pingsan dengan lutut yang berlumuran darah. Dengan perasaan yang penuh kepanikan Firman membopongnya dan berlari mencari bantuan di daerah sekitar. Untung saja ada sebuah pick up pengangkut makanan ternak yang sedang lewat. Firman meminta bantuan kepada pengemudi pick up itu. Mereka membawa Arin ke puskesmas terdekat.
__ADS_1
Saat Arin tersadar ia sudah berada di salah satu kamar ruang inap. Lututnya terbalut perban lumayan tebal.
“Arin? Kamu udah sadar?” pak Irawan menanyakan dengan penuh kekhawatiran.
“Pa! Aku dimana?”
“Kamu di puskesmas desa sayang! Kamu terjatuh dari sepeda. Kamu gak ingat?”
Arin mencoba mengingat kembali kejadian tadi pagi. Saat ia mulai teringat, wajahnya menampakkan mimik kekesalan dan kemarahan.
“Pa, aku jatuh gara-gara mas Firman!” ucap Arin mencoba mengadu.
“Sayang, ini bukan salah Firman nak! Kamu yang kurang hati-hati saat melewati jalanan tanjakan yang lumayan curam.” Ucap papa Arin mencoba memberi pengertian.
“Pokoknya ini salah dia pa! Awas aja kalau kakiku cacat!”
Mendengar ucapan Arin pak Irawan malah tersenyum.
“Sayang lutut kamu itu hanya terluka kok, bukan patah.”
“lukanya parah enggak? Dalem enggak?” tanya Arin
“Hanya sebelas jahitan sayang. Gak terlalu dalam kok.”
“Itu papa yang nyuruh dia sayang. Papa yang salah!”
“Papa kenapa sih belain dia?”
“Bukannya membela sayang. Papa hanya berbicara fakta! Ayolah sayang. Kenapa kamu begitu membencinya sekarang? Padahal dulu kamu yang selalu mencarinya?”
“Aku benci dia pa! Aku benci! Jangan biarkan dia datang kesini! Kalau sampai dia menampakkan wajahnya lagi di hadapanku. Aku mau telpon mama. Aku mau pulang!”
Mendengar ucapan Arin. Pak Irawan langsung panik.
“Iya, iya, tenang sayang. Papa akan turuti. Asal kamu jangan pulang dulu. Liburanmu kan masih tinggal beberapa hari lagi?”
“Kalau papa mau aku masih menghabiskan liburanku di sini. Papa jangan biarkan orang itu menemuiku lagi. Titik!” ucap Arin tegas dan penuh ancaman.
Tak ada yang tau apa yang sebenarnya Arin pikirkan tentang Firman. Kenapa dia begitu membencinya sebesar itu.
Setelah kejadian itu. Pak Irawan melarang Firman menemui dan mendekati Arin. Ia meminta maaf pada Firman secara pribadi tentang sikap Arin yang menolaknya.
Begitulah seterusnya. Meski hampir setiap tahun Arin pulang untuk menemui nenek dan papanya. Firman tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertegur sapa. Pernah satu kali Firman mengirim surat permintaan maaf pada Arin. Hal itu ia lakukan karna ia tidak memiliki nomer ponsel Arin. Namun, surat itu tidak pernah mendapatkan balasan.
“Surat dari siapa sayang?” tanya mama Arin saat melihat Arin membuka dan membaca sebuah surat di meja belajarnya.
__ADS_1
Mendengar suara mamanya. Arin dengan sigap meremas dan membuangnya ke tempat sampah.
Tante widia yang penasaran mengambil kembali kertas yang Arin lemparkan barusan. Ia buka dan membaca apa isi di dalamnya. Ketika melihat apa yang tertulis dan juga siapa pengirimnya. Raut wajahnya seketika terlihat tidak senang.
“Sayang! Kamu ingat apa kata mama?” tanyanya pada Arin yang saat itu sedang duduk di kursi meja belajar.
“Iya, ma! Arin udah ngerti. Arin gak akan lupa dengan apa yang udah mereka perbuat sama mama. Sama kita. Arin udah banyak kehilangan. Luka yang selama ini Arin tanggung. Itu adalah akibat dari perbuatan mereka.” Ucap Arin sambil menampakkan raut wajah yang sedang menahan marah.
Tante Widia memeluk Arin sambil mengusap rambut panjangnya.
“Sebenarnya Firman adalah anak yang baik. Tapi, sayang. Kelakuan ibunya telah membuat keluarga kita berantakan seperti ini. Jika saja papa selingkuh dengan perempuan lain. Mungkin mama tidak akan sesakit ini.” ucap tante Widia sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan segera tumpah.
“Ma, jangan nangis lagi ma! Cukup sudah penderitaan mama selama ini. Aku janji sama mama. Aku akan membuat Firman dan ibunya membayar semua yang telah mereka lakukan. Aku akan merebut hati papa kembali. Aku akan membuat mereka menderita.” Arin bertekad untuk membalas dendam.
Terjawab sudah alasan kenapa Arin sangat membenci Firman. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari sikapnya yang dulu. Sekarang ia menjadi wanita yang angkuh dan juga kejam. Penderitaannya selama ini membentuknya menjadi pribadi yang demikian.
__ADS_1