
“Guys! Kalian mau gak gue kasik tau kabar baik hari ini?” tanya Viona pada kedua sahabatnya. Mereka tampak sedang bercengkrama menghabiskan waktu di sebuah restoran mewah.
“Mau dong? Kabar apa?” tanya Yeni penasaran.
“Tebak ini apa?” tanya Viona sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.
“What? Itu kan kertas yang dipakai buat ujian seleksi penerimaan anggota BEM baru? Tadi sore gue ngisi jawaban pake kertas itu.” Ujar Juwita saat memperhatikan dengan baik-baik kertas yang sedang berada di tangan Viona.
“Betul banget! Dan kalian mau tau ini kertas jawaban siapa?” tanya Viona pada kedua sahabatnya.
“Jangan bilang kalau lo nyolong punya gue ya!” Juwita sedikit tidak sabaran dan segera ingin mengetahuinya.
“Ngapain gue ambil punya lo! Entar kalau lo gagal masuk karena gue curi kertas jawabannya gimana dong? Gue sendiri yang rugi sahabat gue gak bisa satu haluan lagi ama gue!” jawab Viona menenangkan kekhawatiran Juwita. Juwita memang jadi satu-satunya orang yang belum masuk keanggotaan BEM diantara mereka bertiga. Sementara Viona dan Yeni sudah dari tahun lalu diterima. Hal ini karena Juwita tidak lolos saat seleksi tahun lalu.
“Trus, punya siapa dong? Lagian lo nekat banget mencuri kertas jawaban punya salah satu peserta. Kalau ada yang tau. Bakal dipermasalahkan Vin! Bisa-bisa entar loe di keluarkan dari BEM!” ujar Yeni memperingatkan Viona bahwa perbuatannya sangat memiliki resiko yang besar.
“Itu kan kalau ketahuan? Lagian gak mungkin lah sampai ketahuan. Gue kan cerdas!” ucap Viona menyombongkan dirinya.
“Duh, udah deh jangan terlalu banyak pengantar! Gue penasaran banget itu milik siapa? Dan buat apa lo ngambil kertas jawaban orang?” tanya Juwita semakin tidak tahan menahan rasa penasarannya.
“Nih! Baca aja sendiri nama yang tertera disana!” Viona menyodorkan ketas itu ke hadapan mereka berdua. Reflek Yeni maupun Juwita merapat ke tengah-tengah meja untuk memastikan ketas itu milik siapa.
“Hah! Lo gila say! Lo gokil tau enggak?” respon Juwita saat mengetahui kertas jawaban itu milik siapa. Tentu saja itu milik musuh bebuyutan mereka bertiga.
“Gue baru tau dia ikut seleksi juga!” ungkap Yeni sesaat setelah mengetahui kertas jawaban itu milik siapa.
“Lo gak lihat tah tadi sore pas dia masuk ke ruangan serbaguna?” tanya Juwita kepada Yeni.
“Enggak! Gue gak nemuin dia tuh!” jawab Yeni sedikit heran pada dirinya yang terlewatkan dari info sepenting ini.
“Kalau gue sih taunya juga baru tadi sore. Pas di dalam ruangan dia duduk gak terlalu jauh dari gue. Juwita memberitahu Yeni.
“Arinal Haque! Mampus deh lo sekarang!” ucap Viona dengan nada sinisnya. “Dengan begini, kesempatan dia untuk masuk ke dalam BEM akan tertutup rapat.”
__ADS_1
“Jadi ini, rencana lo buat dia?” tanya Yeni pada Viona.
“Ya gak hanya itu aja lah! Tentu saja masih ada rencana selanjutnya. Lo kan tau, seleksi BEM itu gak hanya tes tulis doang?”
“Nah, itu dia Vin. Gimana caranya lo akan buat dia gagal di tes interview selanjutnya?” Tanya Yeni yang masih khawatir Arin akan lolos di tes kedua.
“Untuk rencana yang kedua ini. Gue butuh bantuan kalian berdua. Gue harap kalian mampu melaksanakannya.”
“Rencana apa nih? Asal jangan yang resikonya tinggi ya! Gue takut.” Ucap Yeni pada Viona.
“Tenang aja. Ini mudah kok. Cuma butub ngeluarin duit dikit!” ucap Viona tanpa merasa berdosa.
“Kalau gue, apapun rencana lo gue dukung deh!” Juwita sangat setuju dengan langkah Viona. “Gue gak mau dia makin ngelunjak kalau sampai berhasil masuk jadi pengurus BEM!”
“Kesempatan dia itu bakalan banyak kalau sampai dia beneran jadi pengurus BEM! Kesempatan buat ngedeketin Kak Firman! Dan gue gak mau hal itu terjadi. Kak firman hanya milik kita bertiga. Gak ada yang boleh pacaran dengannya.” Ucap Viona dengan penuh keposesifannya.
“Betul. Hanya milik kita. Kalau sampai ada yang berani mengambilnya dari kita. Maka orang itu harus siap mental berhadapan langsung dengan kita!” Juwita juga merasa tak ada yang berhak memiliki Firman kecuali mereka.
Mereka bertiga mulai membicarakan strategi kedua supaya Arin gagal ikut tes interview yang merupakan tes kedua untuk seleksi penerimaan anggota BEM.
“Dimana kamu dapat mobil ini mas?” tanya Arin saat Firman membuka bagasinya dan memasukkan beberapa perlengkapan mereka selama berlibur.
“Aku pinjam sama salah seorang teman.” Jawab Firman yang masih tetap sibuk.
“Ini kita Cuma berangkat berdua?” tanya Arin begitu melihat tidak ada orang lain selain dirinya di sana.
“Iya lah. Kenapa? Mau ngajak dua sahabatmu itu?” yang dimaksud Firman adalah Vivi dan Nabila.
Ditanya seperti itu, seketika Arin langsung teringat pada kedua sahabatnya. Tapi sayang, hubungan mereka sekarang sedang tidak baik-baik saja. Karena hingga saat ini mereka masih belum bertegur sapa.
“Enggak. Aku Cuma nanya aja. Barangkali ada teman kamu yang lain.”
“Kamu khawatir kalau kita cuma berdua? Kamu gak percaya sama aku?” tanya Firman yang sengaja berhenti dari aktifitasnya dan melangkah mendekati Arin. Ia memandang mata Arin dengan tatapan yang serius. Seolah mencoba membaca apa yang ada di pikiran Arin saat itu.
__ADS_1
Di tatap seperti itu. Arin hanya merasa tiba-tiba sekujur tubuhnya panas dan aliran darahnya seolah berhenti seketika. Pipinya bersemu merah dan jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Sadar bahwa hal itu akan membuat mereka terlarut dalam perasaan itu. Arin sengaja membuang muka ke arah lain.
“Bukannya gak percaya! Tapi, apa ini boleh? Maksudnya kalau orang tua kita tau.” ujar Arin mencoba menjelaskan alasan kekhawatirannya.
“Kalau om sih kayaknya gak bakalan ngelarang kita hangout berdua ataupun liburan berdua seperti ini. Tapi, gak tau kalau itu mama kamu!”
“Kalau mama sih kayaknya bakal ngelarang aku jalan ama siapapun itu selama dia bukan cewek. Tapi, asalkan itu gak ketahuan kan gak papa!”
“Tunggu dulu, apa perlu kamu minta izin dulu sama mama kamu? Supaya kamu lebih tenang?” tanya Firman berusaha menyarankan Arin.
“Enggak ah! Entar malah gak dibolehin. Aku kan memang lagi pengen liburan!” jawab Arin merasa keberatan jika harus ijin kepada mamanya. Karena ia tau, bahwa mamanya tidak akan pernah mengizinkannya jalan dengan Firman.
“Yaudah! Kita cus aja langsung!” ujar Firman tanpa keraguan. “Silahkan masuk tuan putri!” Firman membukakan pintu mobil layaknya seorang laki-laki uang mempersilahkan kekasihnya.
Tanpa banyak berpikir lagi Arin langsung masuk dan Firman juga segera menutup kembali pintunya. Arin tersipu diperlakuakn demikian. Ia merasa sangat istimewa di mata Firman.
Setelah mengecek semua barang yang akan dibawa apakah sudah masuk atau tidak. Firman akhirnya siap untuk mengemudi mobil itu.
“Kita mau kemana? Jauh enggak?” tanya Arin penasaran.
“Kamu ngak akan tau tempatnya meski aku sebutkan namanya. Udah, kamu tidur aja! Entar aku bangunin kalau udah nyampe!” perintah Firman kepada Arin.
“Kalau aku tidur, entar siapa yang nemanin kamu ngobrol?” tiba-tiba Arin jadi merasa khawatir.
“Aku gak papa kok. Udah biasa nyetir sendirian tanpa teman ngobrol.”
“Aku belum ngantuk! Entar deh kalau udah ngantuk.”
“OK! Are you ready?” tanya Firman begitu bersemangat.
“Sure!” jawab Arin singkat.
“Lets go!” ucap Firman setengah berteriak.
__ADS_1
Mobil pun meluncur memecah jalanan beraspal. Tak ada yang tau apa yang ada dipikiran mereka masing-masing saat ini. Mereka hanya mengobrol tentang banyak hal. Namun tak satupun dari keduanya menyinggung masalah perasaan satu sama lain.