
“Gimana Rin? Berhasil enggak?” tanya Vivi yang penasaran sedari tadi menunggu Arin melihat pengumuman penerimaan anggota BEM yang dipajang di mading kampus.
Vivi dan Nabila memilih menunggu di kejauhan. Karena disana banyak sekali mahasiswa yang antri untuk melihat hasil pengumuman.
“Lolos dong!” ucap Arin dengan senyum sumringahnya.
“Wah! Selamat ya!” ucap Nabila turut bahagia. Ia memeluk Arin sebagai bentuk rasa bangga terhadap sahabat baiknya yang sudah berhasil mencapai keinginannya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bukan sembarang orang yang bisa masuk struktural BEM. Hanya orang-orang yang memiliki skill dan kecerdasan diatas rata-rata yang bisa diterima.
“Entar kalau sibuk di BEM. Tetap jangan lupa ya! Sama aku dan Nabila!” ucap Vivi yang mulai khawatir jika Arin akan jarang berkumpul bersama mereka lagi jika sudah masuk kepengurusan BEM yang terkenal super sibuk.
“Ya enggak lah! Bakalan selalu ada waktu khusus buat kalian berdua!” ujar Arin meyakinkan Vivi dan Nabila.
“Beneran loh ya! Janji harus tetap ada waktu untuk.kita berdua!” Nabila mengingatkan sekali lagi. Agar Arin benar-benar akan menepati janjinya.
“Of course! Kalian tetap yang pertama dan paling utama!” ucap Arin tetap teguh dengan perkataannya. “Yuk! Ku traktir kalian makan enak!” ajak Arin kepada kedua sahabatnya. Hal itu ia lakukan untuk merayakan keberhasilannya memasuki kepengurusan BEM.
“Asyik! Gimana kalau sekalian shoping?” tanya Nabila yang kebetulan juga ingin hangout dan menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya.
“Boleh juga tuh! Mumpung lagi awal bulan nih. Uang jajan baru cair dari bokap.” Ucap Vivi yang sedang berbunga-bunga karena baru kemarin dapat uang transferan dari orang tuanya.
“Yuk ah! Langsung betangkat! Biar bisa belanja puas dan gak kemaleman pulangnya!” ajak Arin dengan penuh semangat.
Mereka bertiga berjalan melewati kerumunan mahasiswa yang berada di sekitar mading kampus. Akhirnya Arin merasa lega mengetahui bahwa dirinya berhasil masuk struktural BEM. Meski awalnya tujuan utamanya adalah mendekati Firman. Namun, entah kenapa kini ia merasa bahwa tujuannya kini menjadi berubah. Ia ingin serius berorganisasi dan belajar kepada para senior.
Saat mereka bertiga berjalan ke arah pintu keluar kampus. Tiba-tiba dari arah yang berbeda terdengar seseorang yang sedang memanggil nama Arin.
“Arin!” teriaknya cukup kencang dan lantang.
Sontak Arin, Nabila dan Vivi berbalik ke arah asal suara. Saat menoleh mereka melihat seorang cewek yang tak terlalu asing. Namun juga tak terlalu mereka kenal. Seakan-akan mereka pernah bertemu di suatu tempat. Namun lupa entah dimana..
__ADS_1
“Arin! Selamat ya!” ucap Viona sambil menjulurkan tangannya ke arah Arin.
“Kamu-“ Arin mencoba mengumpulkan memori dalam ingatannya dan menebak siapakah cewek yang saat ini menghampirinya sambill lalu membalas uluran tangan Viona.
“Aku Viona! Kita udah pernah ketemu di pesta ultah kak Maya!” ucap Viona mengingatkan Arin dengan pertemuan pertamanya dengan Viona.
Arin terlihat berpikir keras sejenak. Demi mengingat moment dimana ia bertemu dengan Viona.
“Oh kamu! Iya aku ingat sekarang!” ujar Arin dengan wajah yang sedikit masam. Pasalnya pertemuan itu mengingatkan peristiwa memalukan yang terjadi pada saat pesta ulang tahun Maya. Namun Arin memaksa dirinya untuk tetap tersenyum dengan ramah.
“Selamat ya! Sudah terpilih masuk keanggotaan BEM. Selamat datang di keluarga besar BEM!” Viona pura-pura ramah padahal ia memiliki tujuan tertentu menghampiri Arin saat ini. Seperti biasa ia semakin iri melihat Arin berhasil masuk. Meski dengan nilai ujian tulis yang hilang.
“Iya! Terimakasih.” Jawab Arin berusaha senang di selamati Viona.
Nabila dan Vivi hanya diam dan memperhatikan percakapan antara keduanya.
“Ya syukurlah! Tidak sia-sia deh dukungan kak Firman di belakang kamu!” ucap Viona terdengar menyindir.
“Yah, kamu harus tau Rin! Kak Firman udah mati-matian loh memaksa pengurus lain untuk menerima kamu di dalam struktural BEM. Secara nilai kamu kan pas-pasan! Ups, aku salah ngomong ya?” Viona berlagak seolah tidak sengaja mengatakannya.
“Memaksa?” tanya Arin semakin tak mengerti. Namun hatinya mulai mencelos.
“Iya. Begini loh maksud aku. Dia berusaha banget mempertahankan kamu dan membela kamu di depan anggota yang lain. Padahal sebenarnya nilai kamu gak memenuhi standar loh!” Viona lagi-lagi semakin memperjelas bahwa seolah-olah Arin tidak pantas masuk keanggotaan BEM. Namun karena pengaruh dari kak Firman akhirnya ia terpaksa diloloskan.
“Tunggu dulu! Memang kamu tau dari mana hal itu?” Arin berusaha tidak terlalu percaya pada perkataannya.
“Kamu gak tau ya? Aku kan juga anggota inti di dalam BEM! Aku juga ikut lah rapat penentuannya!” ucap Viona memyombongkan dirinya.
Hati Arin seolah mendidih oleh perkataan Viona. Ia sangat marah dan tidak terima jika memang hal itu yang benar-benar terjadi.
__ADS_1
“Aku gak ngerti apa maksud kamu mengatakan hal ini pada Arin. Tapi yang aku tau kak Firman gak mungkin melakukan hal yang demikian!” Akhirnya Nabila ikut membuka suaranya. Ia sejak tadi geram dengan perkataan Viona yang seolah mengejek Arin.
“Aku gak bermaksud apa-apa kok! Aku Cuma ingin Arin tau. Betapa kak Firman sangat menyayangi adik sepupunya!” Viona berusaha mencari pembenaran atas ucapannya.
“Oh begitu ya! Kalau begitu terimakasih banyak atas informasinya! Kalau begitu kami permisi dulu ya!” ucap Nabila sambil menarik Arin yang sudah kehabisan kata-kata.
Arin yang malu dan merasa dikhianati oleh tindakan Firman yang demikian hanya bisa diam seribu bahasa. Ia pasrah saja saat Nabila dan Vivi membawanya pergi dari hadapan Viona.
Begitu mereka berada jauh dari jangkauan Viona. Nabila yang tak terima sahabatnya dihina demikian langsung emosi dan marah.
“Apa-apaan sih tuh anak! Iri kali ya sama kamu? Ngomong seenak jidat. Tidak berdasarkan fakta dan bukti!” Nabila mengata-ngatai Viona dari kejauhan.
“Iya, nyebelin banget. Model kayak gitu bisa masuk keanggotaan BEM!” Vivi juga ikut menimpali.
“Memang kalian tau darimana dia ngomong gak berdasarkan fakta? Gimana kalau memang faktanya aku gak layak masuk struktural BEM?” Arin mulai tidak percaya diri.
“Rin, kita tuh paling tau gimana kemampuan kamu! Gak mungkin lah nilai kamu kurang!” ucap Vivi berusaha memberi pengertian supaya Arin tidak terpancing dan emosi.
“Iya betul kata Vivi! Lagian gak mungkin kak Firman melakukan hal itu!” Nabila menambahkan kata-kata yang mengarah pada hal yang positif.
Arin tiba-tiba jadi kehilangan semangat dan merasa semakin marah kepada Firman. Ia malu pada Nabila dan Vivi. Melihat respkn Arin yang demikian Nabila dan Vivi masih berusaha menenangkan.
“Rin! Percaya deh sama aku! Dia itu Cuma iri sama kamu!” ucap Nabila lagi-lagi berusaha mengademkan suasana.
“Enggak! Pokoknya aku harus ngomong sama mas Firman tentang masalah ini!” ucap Arin penuh amarah di dalam hatinya.
“Rin! Jangan deh! Kamu kok jadi kepancing sama kata-kata dia sih? Dia itu Cuma mau mengadu domba kamu sama kak Firman!” Nabila berusaha menyadarkan Arin.
“Enggak! Saat ini juga aku harus ketemu mas Firman! Aku gak tenang kalau tidak memastikan hal itu sendiri! Sebelum aku benar-benar resmi dilantik.” Arin masih dipenuhi amarah di hatinya. Terlebih saat ini ia semakin merasa kesal kepada Firman. Perkataan-perkataan Nabila tidak berpengaruh apa-apa pada dirinya.
__ADS_1
Ia melangkah pergi untuk mencari Firman ke kantor BEM. Biasanya di jam-jam pulang kuliah seperti ini Firman akan ada di sana. Menyibukkan diri dengan aktifitasnya.