
Setelah hampir satu jam perjalanan Arin masih betah nenemani Firman. Ia tak merasa mengantuk sama sekali. Akhir-akhir entah kenapa ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Terlebih kepada perasaannya yang terdalam. Ia sering melupakan kebenciannya pada sahabat masa kecil yang sudah ia anggap sebagai dalang dari kerusakan rumah tangga kedua orang tuanya. Seseorang yang selalu ia benci sejak perceraian papa dan mamanya.
Hati kecil Arin terkadang ingin memungkiri semua hal yang pernah mamanya katakan. Tentang Firman yang akan mengambil alih semua hak yang seharusnya menjadi miliknya. Tentang ibu Firman yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kedua orang tuanya.
Arin juga sudah mulai goyah oleh perasaan cintanya. Namun ia tak pernah sadar akan hal itu. Ia hanya menganggap perasaan itu hanyalah perasaan sayang terhadap sahabat kecil yang dulu pernah menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya.
Arin yang sedikit melamun tiba-tiba dikagetkan oleh bunyi nada dering dari ponselnya. Sadar bahwa ada panggilan masuk ia segera merogoh ponsel yang berada dalam tas berwarna hitam yang saat ini ada di pangkuannya.
Ia melihat nama yang terpampang di layar handphonenya. Ia terkejut saat tau bahwa itu merupakan panggilan masuk dari mamanya. Perasaannya mulai tak enak dan resah. Antara ingin menjawab atau menolaknya saja. Ia khawatir mamanya tau bahwa ia sedang bersama Firman saat ini. Ia membiarkan ponsel itu berdering selama mungkin tanpa mengangkatnya.
“Kok gak diangkat?” tanya Firman saat tau bahwa Arin hanya memegang poselnya tanpa mengangkat panggilan masuk yang saat ini sedang berlangsung.
“Dari mama!” jawab Arin sambil tetap menatap layar ponselnya.
“Loh? Justru karena dari mama kenapa gak diangkat dek?”
“Aku lagi males ngomong sama mama!” jawab Arin berbohong padahal ia sebenarnya takut. Khawatir mamanya menanyakan ia sedang dimana.
“Angkat aja dek! Jangan-jangan ada hal penting yang mau disampaikan!” perintah Firman yang kurang suka dengan keputusan Arin yang memilih tidak menjawab telepon dari tante Widya.
Dengan perasaan sedikit malas Akhirnya Arin menggeser panel hijau di layar ponselnya. Namun terlambat. Panggilan ternyata sudah diakhiri oleh mamanya. Arinpun merasa sedikit lega.
“Telpon balik dek!” lagi-lagi Firman memerintah Arin untuk menelpon kembali mamanya saat tau bahwa panggilan itu sudah berakhir.
Perasaan Arin semakin tak karuan ia merasa bersalah pada mamanya. Saat Ingin menekan panggilan di layar ponselnya. Tiba-tiba ada nomer lain yang sedang menelponnya. Kali ini bukan dari mamanya . Tapi dari kak cindy, teman kamar sekaligus teman satu kampung dengan Arin. Tanpa ragu Arin segera menjawabnya.
“Iya kak?” tanya Arin saat panggilan itu sudah tersambung sempurna.
“Arin! Ini gawat! Kenapa kamu gak mengangkat telpon mama kamu?” ucap kak Cindy dengan nada bicaranya yang penuh kekhawatiran.
__ADS_1
“Kok kak cindy tau?” tanya Arin merasa heran mengapa cindy mengetahui hal itu.
“Dengerin ya! Mama kamu lagi disini sekarang. Mencari kamu dan kamu sedang gak ada di kosan!”
“Apa?” reflek Arin terkejut dan sedikit berteriak.
“Ini aku lagi nelpon kamu dari dalam kamar. Mama kamu sedang ada diruang tamu bersama dengan bu kos. Bu kos bilang kamu lagi pergi Liburan bareng Nabila dan Vivi. Kan kamu sendiri yang izinnya seperti itu tadi sama bu kos.” Ucap Cindy menjelaskan perihal kejadian yang sedang berlangsung di sana.
“Aduh gimana ya kak? Ini aku udah jauh nih!” ucap Arin semakin khawatir dan perasaannya semakin campur aduk tak karuan. Antara takut dan juga bingung harus bagaimana selanjutnya.
“Karena itu, angkat telpon mama kamu. Dan bilang aja kalau kamu lagi sama teman kamu Nabila dan Vivi.”
“Masalahnya aku gak lagi sama mereka kak!” ucap arin merasa menyesal kenapa tadi ia berbohong saat izin kepada ibu kosnya.
“Loh, terus sebenarnya kamu sama siapa sekarang dan ada dimana?”
“Ceritanya panjang kak! Entar deh aku ceritakan kalo udah pulang. Aku sekarang kayaknya putar balik aja deh!” Sepertinya Arin memilih untuk membatallkan liburannya saja.
“Iya kak! Aku tutup dulu ya!” ucap Arin menyudahi panggilannya.
“Ada apa?” tanya Firman saat melihat Arin sudah selesai menerima telpon. Dari tadi ia sudah merasakan ada yang tidak beres. Hatinya mulai merasa was-was.
“Kita balik aja mas! Aku gak jadi liburan!” ujar Arin dengan penuh kekecewaan dihatinya. Ia kecewa karena tidak jadi melanjutkan liburannya.
“Loh? Maksud kamu?” tanya Firman terkejut mendengar perintah Arin yang begitu tiba-tiba.
“Masak aku perlu mengulang perkataan aku lagi sih?” Arin mulai kesal sehingga mulai sedikit emosi.
“Ini beneran kita mau balik?” tanya Firman sambil menepikan mobil ke pinggir jalan.
__ADS_1
“Iya. Kalau mas gak mau balik. Turunin aku di sini aja! Aku mau naik taxi.” Ucap Arin sekali lagi membuat Firman semakin terkejut. Mendengar Arin berkata demikian Firman langsung mencari tempat yang aman untuk memutar balik mobilnya. Ia tak banyak bertanya lagi. Karena ia khawatir Arin akan semakin kesal dan benar-benar tak mau lagi berada di dalam mobil itu.
Sementara itu Arin mulai memutar otaknya. Mencari cara supaya bisa dipercaya oleh mamanya. Akhirnya ia memutuskan dengan terpaksa akan meminta bantuan kepada Vivi. Meski ia sebenarnya masih enggan untuk berbaikan. Egonya yang terlalu besar terkadang membuat Arin menjadi sangat sombong dan tak mau mengalah duluan. Namun kali ini ia benar-benar terpaksa mengalah. Ia harus terlihat pulang bersama Vivi.
Jika tidak pulang bersama Vivi. Mamanya tentu akan menanyainya banyak hal. Arin tak ingin mamanya sampai tau bahwa ia bukan liburan dengan Nabila maupun Vivi. Melainkan bersama seseorang yang paling mamanya benci di dunia ini.
“Halo, Vi. Ini aku Arin.” Sapa Arin saat panggilannya di jawab oleh Vivi. Kata-kata Arin terdengar masih kaku.
Vivi terkejut mendapati nomer Arin yang tiba-tiba membuat ponselnya berbunyi. Ia tak menyangka Arin akan menelponnya. Ia yang memang berharap mereka kembali baikan tentu saja sangat senang melihat hal itu dan langsung menjawab panggilannya.
“Iya Rin. Ada apa?” tanya Vivi yang juga tak kalah kaku. Ia menjadi canggung dan tak sesantai sebelumnya.
“Kamu lagi dimana?” tanya Arin balik.
“Aku sedang di kosan. Lagi gak kemana-mana.” Jawab Vivi.
“Aku mau minta tolong bisa?” tanya Arin lagi-lagi dengan sedikit enggan mengucapkannya.
“Mau minta tolong apa?”
“Aku mau kesitu ya? Entar aku jelaskan disana mengenai permintaan tolongku.” ucap Arin tanpa berbasa-basi lagi.
“Ok! Aku tunggu disini.” Vivi tampak sumringah dan senang. Akhirnya setelah beberapa hari ini tidak bertegur sapa mereka benar-benar akan baikan.
Setelah menyampaikan keinginanya yang akan mengunjungi Vivi. Arin menghentikan panggilannya dan kali ini ia berinisiatif untuk menelpon balik mamanya. Ia harus menjelaskan keberadaannya sebelum mamanya panik dan murka kepadanya.
Sementara Firman masih diam tak berani lagi bertanya apa-apa. Ia tak begitu konsentrasi. Pikirannya kemana-kemana. Hatinya mulai galau dan kecewa.
__ADS_1