Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Ketemu Senior Firman


__ADS_3

“Rin, jadi ke perpus hari ini? Tanya Vivi yang baru datang dari luar kelas.


“Jadi dong! Mumpung lagi semangat nih. Tugas pertama. Lagian entar kalo dosen yang lain ngasik tugas juga gimana? Kan enak nyicil dari sekarang.”


“Iya lah harus jadi. Aku kan presentator pertama. Minggu ini dah harus jadi. Kalian mah enak masih agak lama. Ucap Nabila kepada Arin dan Vivi.


“Ya namanya juga rejeki aku sama Arin. Dapat bagian presentasi belakangan.” Ucap Vivi pada Nabila.


“Ih, yaudah buruan yuk! Kita ke perpus sekarang!” ajak Nabila pada mereka berdua.


Setelah sampai di perpus. Mereka langsung mencari buku-buku yang mereka butuhkan dan memilih mengerjakan tugas di dalam perpus saja. Suasana perpus memang sangat kondusif dan memungkinkan untuk mengeksekusi tugas di dalamnya.


Mereka memilih duduk di bangku yang sama. Meski tugas mereka berbeda topik namun referensinya tentu masih merupakan buku-buku yang sama.


“Hai, lagi pada serius amat!” sapa seseorang dari arah samping.


Mendengar ada yang menyapa. Mereka spontan menoleh ke arah asal suara.


“Senior!” ucap Nabila girang.


Arin memilih cuek dan tak bergeming dengan kehadirannya. Ia paham siapa yang saat ini sedang menyapa mereka. Tentu saja ia sangat mengenali suara itu. Suara Firman, orang yang paling dibencinya.


“Sst, jangan rame-rame! Kalian lagi apa?” tanya Firman pada mereka bertiga.


“Lagi garap tugas.” Ucap Vivi penuh semangat.


“Duh, mahasiswa baru rajin banget ya, baru dapet tugas udah langsung dikerjakan. Tanpa menunda-nunda.” Ledek Firman kepada mereka.


“Ya, ini nih karena kita masih kurang gaul kak. Circlenya itu-itu aja. Gak ada yang ngajakin hangout lah atau apalah.” Ucap nabila bercanda.


“Eh, udah pada ikutan UKM belum?” tanya Firman.


“UKM? Belum nih kak. Belum ada yang nyaranin kita sih.” Jawab Vivi


“Loh, mahasiswa lain udah pada ikutan loh. Kok kalian belum? Apa memang kurang tertarik?”


“Bukan kurang tertarik kak. Kita belum ada info buat ikutan begituan. Gak ada yang nawarin sih lebih tepatnya.”


“Main-main lah ke kantor BEM! Disana banyak info seputar kegiatan mahasiswa. Mungkin aja kalian tertarik.” Ucap Firman menyarankan. “Kan asyik tuh, kuliah sambil cari pengalaman. Siapa tau entar ada yang sreg terus jadi penerus senior-senior yang udah pada mau berhenti.”

__ADS_1


“Kalau senior? Aktifnya di bidang apa?” tanya Nabila penasaran.


“Kok, senior sih? Gak usah terlalu formal lah! Orientasi kan udah berakhir. Panggil kakak aja kenapa? Biar akrab.”


“Oh, iya maaf kak!” Vivi jadi salah tingkah.


“Kalau aku aktifnya ya di BEM. Aku kan jadi sekretaris BEM.”


“Wah, kakak sekretaris BEM toh. Kirain kakak ketua BEMnya.” Nabila mulai membual.


“Bisa gak sih? Gak rame di Perpus? Ini aku mau ngerjain tugas gimana dong? Kalian niat ngerjain tugas atau mau ngerumpi disini?” tiba-tiba Arin mengeluarkan omelannya karena merasa terganggu dengan obrolan mereka.


“Eh, iya Rin! Sorry.” Ucap Nabila agak merasa bersalah.


“Ya udah, kalian kerjakan dulu tugas kalian. Kalau emang ntar mau ke kantor BEM buat ngeliat-ngeliat Info seputar UKM. Boleh deh mampir. Aku biasanya disana ampe malem kadang.”


“Eh, iya deh kak. Kita entar kesana aja biar enak. Ngobrol disini kita gak enak ama mahasiswa lain nih. Entar dikira ngerumpi di perpus.” Nabila merasa tidak enak dengan Firman. Namun ia sangat menghargai Arin yang memang sedang fokus sama tugasnya.


“Iya deh. Aku duluan ya?” tanya Firman menutup obrolannya.


“Iya kak!”ucap Vivi dan Nabila hampir bersamaan.


Sedangkan Arin masih memilih sibuk dengan laptopnya.


“Kalian itu yang gak sopan. Di perpus malah buat keramaian! Disini itu tempatnya para mahasiswa mengerjakan tugas. Butuh kedamaian. Bukannya malah asyik ngobrol ngalor ngidul kesana kemari.” Ucap Arin sinis.


“Ih, kita kan tanya info seputar UKM Rin. Penting juga kok!” Nabila tak terima dibilang ngobrol ngalor ngidul.


“Arin mah begitu Bil, kalau gak suka sama orang! Gak suka sih boleh, tapi yang sopan dong Rin!”


“Duh, kalian kok malah keterusan ceramah sih? Jadi gak sih kita garap tugasnya?” Arin sudah mulai emosi karena sikapnya diprotes oleh Vivi.


“Iya iya, ini kita juga lagi mulai fokus kok.” Nabila sudah agak sedikit geram dengan kelakuan Arin.


Sekitar dua jam lebih mereka sibuk dengan tugas dan pikiran mereka masing-masing. Setelah itu Nabila dan Vivi membujuk Arin untuk ikut ke kantor BEM. Sebenarnya Arin agak enggan pergi ke sana. Karena di sana pasti ada Firman. Namun, karena ia juga penasaran dengan kegiatan UKM. Akhirnya ia memutuskan mengikuti kemauan dua sahabatnya.


Sesampainya di kantor BEM mereka menyapa para senior yang kebetulan juga ada disana.


“Eh, Nabila ya?” tanya Firman ramah. “Ini satunya siapa dah namanya?”

__ADS_1


“Aku Vivi kak.” Jawab Vivi penuh semangat.


“Udah selesai tugasnya?” tanya Firman sambil melirik ke arah Arin yang hanya diam dan tak sesemangat kedua temannya.


“Belum sih! Lanjut besok lagi aja kak! Dah sore banget.” Jawab Nabila.


“Hm, Arin udah tugasnya?” tanya Firman berbasa-basi.


“Kenapa emang kalau belum? Mau dibantuin?” tanya Arin acuh.


“Rin! Bisa enggak sih gak sekasar itu?” ucap Nabila mulai sebal dengan tingkah laku Arin.


“Kalian ke sini mau lihat kegiatan UKM kan? Ngapain juga bahas masalah tugas?” ucap Arin sinis.


“Iya emang. Tapi, kan kita juga butuh bantuan anggota BEM. Apalagi kayak kak Firman. Yang emang udah pengalaman.” Ujar Vivi mulai geram.


“Sudah, sudah, kok malah pada cekcok sih? Mau lihat Profil tentang UKM kan? Bentar aku ambilin klipingnya ya!” perintah Firman lembut dan sopan.


Firman memeperlihatkan beberapa kegiatan UKM pada mereka berdua. Selain itu ia juga menjelaskan beberapa hal penting yang berkaitan dengan UKM. Saat mereka sedang asyik mendengarkan penjelasan Firman. Tiba-tiba dari arah pintu masuk Senior Alvian. Ia membawa beberapa lembar kertas di dalam tangannya. Tampak raut kebahagiaan terpancar di wajahnya. Ia masuk sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


“Firman!” sapanya sambil memegang pundak Firman.


“Apaan sih? Heboh banget?” tanya Firman yang merasa terganggu dengan kedatangannya.


“Ini untuk kamu.” Alvian menyodorkan satu lembar kertas yang sepertinya dari motifnya terlihat bahwa itu sebuah undangan.


“Apa ini?” tanya Firman pada Alvian.


“Ya bacalah! Kan bisa baca tulis.” Ucap Alvian sewot.


“Eh, ada mahasiswa baru rupanya.” Alvian menyapa Vivi, Arin dan juga Nabila.


“Hay kak!” ucap mereka bersamaan.


“Hay juga! Lagi liat-liat profil UKM ya?” tanyanya berbasa-basi.


“Iya kak!”


“Oh, ya silahkan! Nikmati waktunya!” ucap Alvian

__ADS_1


“Ini lo dapet dari mana bro?” tanya Firman sesaat setelah membaca kertas pemberian Alvian yang ternyata itu undangan ultah.


“Ya dari orangnya lah! Emang itu untuk loe Fir. Baca tuh di luarnya ada nama loe terpampang.” Jawab Alvian sambil menunjuk kertas di tangan Firman.


__ADS_2