
“Jadi, apa nih yang harus gue lakuin?” tanya Yeni pada Viona. Pagi ini mereka mendiskusikan hal yang mereka rencanakan dua hari yang lalu. Mereka ingin sore ini Arin tidak mengikuti tes interview. Sebagai tes kedua dari penyeleksian pemilihan anggota BEM terbaru.
“Ini! Usahakan lo nyogok orang kantin buat naruk obat ini di makanan Arin.” Viona mengeluarkan sebotol obat pencahar dari dalam tasnya.
“Ini kan?” respon Juwita saat membaca nama yang tertera di luar botol obat itu.
“Iya. Ini bakalan membuat dia gak ada waktu untuk bisa ikut interview.” Viona mencoba menjelaskan tujuan utama ia memberikan obat itu untuk Arin.
“Oh, cerdas juga lo ya?” respon Yeni ketika mengetahui rencana Viona.
“Jadi lo harus sogok tuh salah satu pelayan kantin. Biasanya entar siang Arin bakalan nongkrong di sana! Kalau obat ini dimakan siang. Kemungkinan akan bereaksi pada sore harinya. Usahakan memberinya sedikit banyak. Biar benar-benar ampuh!” perintah Viona pada Yeni.
“OK, gue akan usahakan mencari salah satu pelayan yang dapat dipercaya.” Ucap Yeni penuh semangat.
“Bagus. Ingat! Jangan sampai ketahuan siapapun!” Viona memperingatkann Yeni supaya sangat berhati-hati.
Yeni mengangguk mantap. Setelah itu ia langsung menemui pelayan kantin kenalannya dan meminta tolong untuk melaksanakan rencananya dengan memberi iming-iming sejumlah uang. Pelayan itu menjadi gelap mata dan tentu saja sagat mau mengikuti perintah Yeni.
Di tempat lain Arin yang sudah berjanji akan meminta maaf kepada Nabila akhirnya memberanikan diri dengan segenap egonya. Ia meminta maaf tepat di hadapan Vivi sat pergantian mata kuliah jam pertama. Tak hanya meminta maaf tentang pertengkarannya kemarin. Ia juga meminta maaf karena selama ini sudah menyembunyikan perasaan sukanya terhadap senior Firman.
Nabila yang memang sudah mengetahui hal itu sebelumnya dari Vivi hanya bisa tersenyum menggoda Arin dan tentu saja menerima permintaan maaf itu dengan tangan terbuka.
“Yah. Nambah pesaing lagi deh aku!” ucap Nabila sedikit menggoda Arin.
“Aku gak bakalan bersaing ama kalian! Ambil aja sana buat kalian berdua!” Arin berkelakar manja.
“Tuh kan. Mulai lagi deh jaimnya!” Vivi protes dengan perkataan Arin.
“Bukan jaim say! Cuma mau mengalah aja!” Arin lagi-lagi mencari alasan untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
“Udah! Udah! Karena kita sekarang udah baikan. Gimana kalau Arin teraktir kita makan entar siang?” Vivi mengusulkan sebuah ide yang menurutnya pasti bakalan berhasil.
“Loh? Kok aku yang harus nraktir kalian?” tanya Arin heran dengan usulan Vivi barusan.
“Yah, kan sebagai hukuman untuk kamu yang udah menyembunyikan perasaan kamu ke kita berdua!” ujar Vivi penuh semangat.
“Iya dong! Ini tuh hukuman dari kita berdua!” Nabila mendukung seratus persen usulan Vivi.
__ADS_1
“Ok deh! Untung aja aku kemaren lagi dapat uang banyak darii nyokap. Kita makan dimana?” tanya Arin kepada dua sahabatnya.
“Jangan di kantin deh! Bosen tauk. Sekali-kali kita keluar yuk!” ajak Vivi kepada dua sahabatnya.
“Boleh juga! Aku mau menu yang terenak dan termahal sejagat raya!” Nabila lagi-lagi mendukung seratus persen ajakan Vivi.
“Yeh! Kalian sekongkol ya? Buat morotin aku?” tanya Arin dengan tatapan penuh selidiknya.
“Sekali-kali lah minta traktiran ama anak juragan teh!” ucap Vivi dengan kelakarnya.
Mereka bertiga pun akhirnya tertawa bahagia bersama. Seakan kejadian sebelumnya hanyalah angin lewat yang sengaja tuhan berikan hanya untuk menguji persahabatan mereka. Kini dengan adanya ujian itu membuat persahabatan mereka semakin erat dan tak terjawantahkan dengan kata-kata.
Berbeda dengan mereka bertiga yang terlihat begitu bahagia. Kini Firman menjadi orang paling menyedihkan sedunia menurutnya. Arin tak lagi menghubunginya lagi sejak Kemarin malam . Ia merasa dunia seakan hampa.
Firman memaksakan dirinya untuk tetap semangat meski sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia harus sibuk mengurusi pergantian jabatan yang harus ia resuffle dari struktural BEM. Ia juga sibuk mempersiapkan tes kedua untuk seleksi penerimaan anggota BEM terbaru nanti sore.
Ingin rasanya ia menemui Arin untuk mengobati rasa rindunya. Namun berbagai pekerjaan membuatnya tak bisa melakukan hal itu. Ia berharap nanti sore akan bertemu dengan Arin yang akan mengikuti interview untuk penerimaan calon anggota BEM.
“Gimana bro? Udahan galaunya?” tanya Alvian yang melihat Firman sibuk di depan komputernya di kantor BEM.
“Dia gak ada menghubungi gue lagi!” ucap Firman dengan nada melasnya.
“Gue samperin orangnya ya?” tanya Alvian sedikit meledek Firman.
“Jangan bro! Emang lo mau ngapain?” tanya Firman penasaran dengan maksud perkataan Alvian.
“Gue mau nunjukin gimana galaunya sang idola kampus kalau lagi jantuh cinta!” ucap Alvian sambil mengeluarkan ponselnya dan memotret Firman dengan cepat dan sigap.
“Eh eh eh! Apa-apaan lo motret gue tiba-tiba kayak gitu?” tanya Firman penasaran dengan tingkah laku Alvian.
“Mau ngechat Arin! Mau kirimin foto ello yang lagi galau!” ujar Alvian pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal ia tak memiliki nomor Arin di dalam ponselnya.
“Hapus gak lo? Hapus gak?” ancam Firman yang merasa Alvian serius dengan tindakannya.
“Atau buat pengumuman ah, di grub! Bilang kalau sang idola lagi jatuh cinta! Pasti bakalan heboh seseantero kampus!”
“Jangan bro! Lo jangan macam-macam. Entar Arin yang dimusuhi ama mereka.” Ucap Firman khawatir. Ia tau bagaimana para penggemarnya yang fanatik akan bersikap jika sampai berita itu benar-benar tersebar.
__ADS_1
“Yah! Gak jadi deh! Entar lo makin populer kalau mereka sampai tau! Secara mereka akan cari tau tentang siapa cewek beruntung itu.” Ucap Alvian sambil membuka komputernya juga. Ia berniat akan main game saja disana.
Firman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Sedangkan di tempat lain Viona yang mengetahui rencananya gagal untuk membuat Rain tidak bisa iku tes interview sangat marah kepada kedua sahabatnya. Karena ternyata Arin tadi sinag tidak makan di kantin melainkan pergi ke tempat lain demi memenuhi janji untuk mentraktir kedua sahabat terbaiknya.
“Kalian bego atau oon sih?” tanya Viona dengan sinisnya kepada Juwita dan Yeni yang sanagt merasa bersalah sudah mebgecewakan Viona.
“Kita kan gak tau kalau mereka gak jadi makan di kantin!” protes Juwitabyang tak terima dikatakan bego oleh Viona.ji
Mendengar alasan itu Viona hanya bisa tertawa mengejek dan masih saja bertahan dengan sikap sinisnya.
“Harusnya kalian ikuti mereka bodoh! Ngapain kalian buang-buang uang kalau hanya untuk menyogok orang yang gak kerja apa-apa?”
“Kan lo yang menyuruh kita menyogok pelayan kantin?” protes Juwita yang mulai sedikit emosi saat dikata-katai bodoh oleh oerang terdekatnya.
“Itu kalau dia memang amkan di kantin! Lah, kalau dia makan di temoat lain. Harusnya kalian ikuti kesana! Lihat situasinya! Bisa gak kira-kira nyogok pelayan di tempat dia makan tadi siang?” ucap viona dengan perasaan penuh amarahnya.
“Lo hanya bilang pelayan kantin Vin!” Yeni juga ikut protes dan tak terima.
“Oh my god! Susah ya ngomong sama orang bego kayak kalian!” ujar Viona dengan sikap arogannya.
“Udah-udah! Sekarang kita hanya bisa berdoa saja! Semoga dia gak doterima!” ucap Juwita kepada kedua sahabatnya.
“Makan tuh doa!” ucap Viona semakin emosi.
“Ya udah! Kita minta maaf Vin! Bisa gak sih gak usah ngatain kita berdua bodoh?” tanya Yeni dengan ekpresi memohonnya.
Viona hanya berlalu tanpa menjawab perkataan Yeni. Ia sanagt kesal kepada kedua sahabatnya. Ia pun meninggalkan mereka berdua yang masih mematung dan heran di tengah-tengah lapangan bola.
.
__ADS_1