Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Menepis Perasaan


__ADS_3

Saat semua orang yang hadir terfokus pada kejadian itu. Firman langsung menghentikan dansanya dan segera berlari menuju ke arah Arin. Dalam hitungan detik ia langsung membuka jas yang dikenakannya dan menyampirkannya ke tubuh Arin.


Arin yang masih syok sempat terkejut dengan aksi Firman. Namun ia sangat bersyukur Firman datang tepat waktu. Kalau tidak ia akan malu bahkan untuk sekedar melangkah pergi.


“Kamu gak papa?” tanya Firman sambil memegangi kedua pipi Arin dan menatap wajah Arin yang kini mulai memerah karena menahan perasaan marah dan malu.


“Aku-“ suara Arin tercekat di tenggorokan. Air matanya hampir saja tumpah.


Dengan sigap Firman meraih tangan Arin dan membawanya pergi melewati para tamu yang sedang melihat langsung kejadian yang sedikit memalukan itu. Arin pasrah saja dan mengikuti kemanapun Firman membawanya pergi. Kali ini ia benar-benar mulai menangis.


Saat sudah berada di luar acara. Firman melihat Arin yang sedang menangis, Ia dengan sigap langsung menarik Arin ke dalam pelukannya.


“Sudah! Sudah! Ayo kita pulang!” ajak Firman sambil membelai lembut rambut Arin.


Perasaan Arin yang tak menentu saat itu membuatnya tidak sadar bahwa ia sedang berada di pelukan laki-laki yang sangat ia benci. Firman merasa khawatir. Namun di sisi lain ia sangat senang Arin tidak menolak sikapnya.


Saat keduanya mulai larut dengan perasaan masing-masing. Sebuah suara mengagetkan mereka.


“Arin!” dari arah dalam tampak kedua sahabat Arin memanggil dan menghampiri Arin. Mereka tidak tau tentang kejadian itu karena mereka sedang berada di ruangan lain.


“Kamu gak papa?” tanya Nabila khawatir.


“Enggak aku gak papa!” jawab Arin sambil melepaskan dirinya dari pelukan Firman.


“Emang gimana sih kejadiannya?” tanya Vivi penasaran.


“Udah ah, jangan di bahas lagi!” perintah Nabila pada Vivi. Khawatir hal itu akan membuat Arin tidak suka. “Gimana kalau kita pulang aja?” ajak Nabila pada Firman.


“Bentar! aku ke dalam lagi buat manggil Alvian!” ujar Firman sambil melangkah pergi untuk menyusul Alvian.


“Maafin kita ya? Karna udah ninggalin kamu?” ucap Vivi merasa tak enak.


“Bukan salah kalian kok!” jawab Arin sambil menyeka air matanya. Ia kini sudah agak tenang dan bisa menetralisir perasaannya.


“Siapa sih mereka?” tanya Nabila geram.


“Udah, mereka juga gak sengaja kok!” jawab Arin menenangkan Nabila yang tak terima sahabatnya dipermalukan seperti itu.

__ADS_1


“Aku tadi taunya dari kak Maya yang tiba-tiba datang menghampiri kami.” Ujar Nabila menjelaskan bagaimana ia bisa tau bahwa Arin sedang mengalami musibah kecil.


“Tauk! Merusak suasana pesta aja itu orang! Aku akan cari tau. Mereka sengaja atau tidak.” Ucap Vivi tak terima jika memang hal itu dibiarkan sampai disini saja.


“Jangan Vi! Mereka mungkin beneran gak sengaja.” Arin lagi-lagi menenangkan kedua sahabatnya untuk tidak marah pada orang yang Arin ketahui bernama Yeni.


“Kamu kenal gak sama orangnya Rin?” tanya Vivi.


“Enggak kok! Aku gak kenal.” Ucap Arin mencoba berbohong agar kedua temannya tak mempermasalahkan hal itu lagi.


Tak lama kemudian Firman datang bersama Alvian.


“Yuk! Kita pulang aja! Aku udah pamit kok sama Maya.” Ucap Alvian begitu sampai di hadapan mereka bertiga.


“Kenapa kalian jadi ikut pulang? Udah, biar aku aja yang pulang! Kalian nikmati dulu pestanya!” ucap Arin tak enak pada teman-temannya.


“Bagaimana mau menikmati kalau tanpa kamu Rin?” ujar Nabila masih dengan perasaan kesalnya


“Ya udah, kita pulang aja semua!” Firmanpun ikut angkat bicara.


Di tempat lain Juwita dan kawan-kawannya masih menggosipkan Arin dan merasa puas dengan rencana mereka yang berjalan lancar. Namun saat tau bahwa Firman juga ikutan hengkang dari pesta itu. Mereka menjadi marah dan kesal terutama kepada Arin.


“Ih, kok jadi berantakan gini sih? Kak Firman jadi ikutan pulang setelah bantu dia!” Yeni menyayangkan usahanya yang sia-sia. Karena awalnya mereka hanya ingin Arin yang pergi dari pesta itu.


“Udah! Udah! Yang pentingkan rencana kita berhasil kan? Cewek itu udah kita kasik pelajaran!” ujar Juwita merasa puas.


“Iya, tapi tetap aja kan? Dia tadi dibantu kak Firman! Mana sok merasa paling sedih lagi!” Yeni semakin merasa benci kepada Arin.


“Tenang guys! Masih ada hari lain kok! Kita kan masih satu kampus ama dia?”


“Ih, emang dia itu kuliah di jurusan apa sih?” tanya Yeni penasaran.


“Pertanian kok! Gak sefakultas ama kak Firman.” Jawab Juwita mencoba menjelaskan agar Yeni tak perlu khawatir Arin beretemu dengan idola mereka setiap hari. Karena jika mereka satu jurusan, kesempatan untuk bertemu setiap hari tentulah sangat besar.


Tak ada yang tau bahwa peristiwa itu sebenarnya memang sudah direncanakan oleh mereka bertiga. Juwita dan kedua orang temannya.


Alvian mengantar mereka satu persatu pulang ke tempat kost masing-masing. Arin menjadi penumpang terakhir yang diantar oleh Firman dan Alvian. Saat sudah sampai di tempat tujuan. Arin membuka pintu dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Alvian.

__ADS_1


Firman juga ikut keluar mengantar Arin sampai pintu gerbang utama.


“Jasnya aku kembalikan kapan-kapan ya?” tanya Arin yang berjalan berdampingan dengan Firman.


“Santai aja! Tapi kamu gak papa kan?” tanya Firman masih khawatir Arin merasa sedih.


“Udah gak papa kok! Untung aja kamu cepet datang!” ucap Arin seakan bersyukur Firman datang tepat waktu. “Makasih ya?” Arin membalikkan badannya menghadap ke arah Firman.


“Apaan sih! Itukan udah kewajiban aku menjaga kamu! Aku kan udah janji pada om Irawan buat jagain kamu!”


“Gimana kalau besok malam aku traktir?” ucap Arin mencoba menawarkan kompensasi sebagai bentuk rasa terima kasihnya karna sudah di bantu.


“Hm, gimana ya? Kita berdua saja?” bukannya menjawab Firman malah bertanya balik.


“Iya. Kenapa? Mau ngajak yang lain?”


“Yah enggak lah! Aku pengennya memang kita berdua aja!” jawab Firman.


“Atau mau cari waktu lain? Khawatir besok malam kamu ada acara?”


“Enggak! Besok malem aku kosong.” Jawab Firman segera sebelum Arin mengurungkan niatnya.


“Ya udah. Besok malam aja!” perintah Arin. Saat itu tiba-tiba Arin merasa grogi berada hanya berdua dengan Firman. “Aku masuk.” ucap Arin untuk menutupi perasaannya. Ia tak ingin terlalu larut dengan rasa itu. Bagaimanapun ia kini ingat bahwa Firman adalah musuhnya.


“Aku jemput ya? Pake motor?” tanya Firman sebelum Arin benar-benar sudah memasuki gerbang utama tempat kosnya.


“Ok!” jawab Arin sambil melangkah pergi.


Firman masih menatapnya pergi. Ia menunggu hingga Arin benar-benar sudah menghilang dari pandangannya. Setelah memastikan Arin sudah masuk. Ia berbalik untuk pulang bersama Alvian. Perasaannya semakin berbunga-bunga. Karena ia seakan mendapatkan jackpot diajak makan malam dengan Arin berdua. Ia tak sabar waktu segera berlalu hingga besok malam.


Sementara Arin yang sudah mandi dan menaiki tempat tidurnya. Tiba-tiba ingat lagi dan merenungkan kejadian yang tadi menimpanya. Ia juga merenungkan bagaimana perasaannya saat ini kepada Firman. Ia mengingat lagi lukanya di masa lalu. Ia juga ingat pesan mamanya. Ia berusaha mengembalikan lagi kesadarannya dan tujuannya.


Tujuan utama dari sikap baiknya adalah balas dendam kepada Firman dan Ibunya. Ia berusaha memungkiri dan menepis rasa sukanya terhadap Firman. Ia juga meyakinkan hatinya agar tidak lagi terpengaruh dengan kebaikan Firman. Bahkan acara makan malam berdua untuk besok malam. Merupakan langkah Arin untuk sengaja menaklukkan hati Firman. Ia sengaja ingin membuat Firman benar-benar jatuh hati kepadanya. Supaya ke depannya akan lebih mudah untuk menjebaknya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2