
Beberapa peserta oscar yang masih belum menyelesaikan misi atau tugas-tugasnya di panggil menggunakan pengeras suara. Mereka diperintah untuk berdiri dan berjejer di depan. Dari sekian ratus peserta hanya ada sepuluh orang yang dipanggil. Sialnya Arin termasuk salah satunya.
Saat namanya di panggil ke depan ia sangat terkejut dan syok. Ia tak menyangka bahwa penderitaannya yang kemaren ternyata belum berakhir. Sepertinya ini akan menjadi hari yang lebih berat. Karena hari ini adalah hari terakhir OSCAR.
“Arinal haque! Kamu tau kenapa.kamu di panggil ke depan?”
Tanya Senior yang bertanggung jawab untuk memanggil satu persatu peserta Oscar yang memiliki pelanggaran terberat.
“Tidak tau senior!” jawab Arin tegas dan lantang.
“Kamu belum menyelesaikan misi kamu yang kemaren diperintahkan oleh senior Jhoni.” Ucap senior itu pada Arin.
Arin tidak kaget jika senior Jhonilah dalang dari kejadian ini. Ia tau betul bagaimana kemaren ia tidak bisa memenuhi semua perintah darinya. Arin memilih diam dan tidak membantah.
“Tugas kamu hari ini cari senior Toxic! Minta dia untuk menutup acara orientasi ini nanti!” perintah senior yang diketahui bernama Alvian itu.
“Apa senior?” tanya Arin tidak mengerti misi yang diperintahkan oleh senior yang sedang berdiri di hadapannya.
“Cari senior yang memiliki nama samaran senior Toxic! Bujuk dia supaya mau mengisi acara penutupan nanti. Jika kamu tidak bisa melakukannya. Maka sertifikat keaktifanmu dalam acara ini akan ditanggguhkan. Kamu tau kan akibatnya jika kamu tidak mendapatkan sertifikat oscar?”
“Tapi, dari kemaren aku udah nyari senior dengan nama samaran Toxic. Sampai saat inipun aku belum menemukan sedikitpun informasi tentangnya.” Ucap Arin dengan tegas tanpa ketakutan.
“Kamu punya otak kan? Pakai dong! Cari akal! Katanya udah jadi mahasiswa. Jangan menyerah! Jangan cengeng!” ucapnya sedikit mencibir ke arah Arin.
[ Tahan! Tahan Rin! Ini akan segera berlalu ok!] ucap Arin di dalam hati menguatkan dirinya sendiri yang saat ini sudah mulai putus asa.
“Gimana? Mau menyerah sebelum mencoba?” tanya senior Alvian terhadap Arin.
“Tunggu dulu senior. Apa hadiah yang akan saya dapatkan kalau saya berhasil melaksanakan misi ini?” Arin memberanikan diri untuk bertanya.
“Gak adil dong, kalau misalkan gak ada rewardnya. Saya juga kurang semangat kalau hanya diancam dengan tidak mendapatkan sertifikat oscar.” Ucap Arin sekali lagi tanpa rasa takut.
“Bagus! Mental seperti ini yang saya harapkan dari semua peserta. Berani dan bertanggung jawab.” Senior Alvian malah memuji Arin. “Ok, reward yang kamu dapatkan kalau berhasil melaksanakan misi ini. Kamu akan masuk menjadi peserta terbaik dalam acara ini. Setidaknya tiga besar. And well, kamu tau kan! Bahwa untuk terbaik pertama, kedua dan ketiga itu akan ada hadiah khusus dari ketua panitia?”
“Tau sekali senior!” ucap Arin penuh semangat.
“Baik! Laksanakan misi ini. Maka kamu sudah kujamin masuk tiga besar jika benar-benar bisa menyelesaikannya.”
“Siap senior! Misi akan saya laksanakan!”
Seakan mendapatkan suntikan semangat. Arin yang awalnya ingin menyerah menjadi semangat kembali. Ia tergiur untuk menjadi tiga peserta terbaik dalam acara oscar ini.
Arin memulai misinya dengan mendekati beberapa senior yang masuk kepanitiaan oscar. Ia mencoba mendatangi salah satu senior yang kemaren sempat membantunya ketika ia pingsan.
“Permisi Senior!” sapa Arin sedikit berteriak.
__ADS_1
“Passwordnya mana? Ini udah hari ke berapa? kok kamu masih belum tau aturan kalau mau berkomunikasi sesama peserta maupun kepada para senior?” tanya Senior Rini dengan nada sedikit jutek.
“Iya maaf senior.” Arinpun mulai mengucapkan password yang berupa bagian paling ikonik dari kegiatan oscar.
Setelah membacakan dengan lancar. Iapun memberanikan dirinya lagi untuk bertanya.
“Permisi senior!” ucapnya penuh semangat.
“Iya, ada apa?”
“Boleh saya tanya sesuatu?” tanya Arin melanjutkan niatnya.
“Tanya apa?”
“Bisa tolong berikan informasi tentang senior yang memiliki nama samaran senior Toxic?” tanya Arin lagi.
“Hm, ngapain kamu nanya senior toxic?”
“Aku ada misi yang harus diselesaikan. Misi ini berkaitan dengan senior toxic.”
“Aku gak tau apa itu misi kamu. Yang pasti kamu gak akan mudah untuk mencapai tujuanmu itu.”
“Karena itu senior, bantu aku bisa kan?” Arin mulai memasang wajah melasnya.
“Apa memang sengaja dipersulit senior?” tanya Arin polos.
Senior Rini hanya tersenyum misterius ketika Arin bertanya demikian.
“Kalau begitu. Saya permisi dulu. Saya cari di senior lain yang mungkin ada yang mau berbaik hati.”
“Eh, tunggu dulu! Masa’ gitu aja nyerah? Mana nih semangat sebagai calon peserta oscar terbaik tahun ini?”
“Lalu aku harus bagaimana. Supaya senior mau memberi informasi?”
“Baiklah, buat pidato sebanyak tiga lembar kertas HVS. Temanya mengenai pedophilia. Kalau pidatomu bagus. Aku akan memberikan sedikit informasi penting tentang dia.” Perintah senior Rini.
Mendengar perintah itu Arin hanya bisa menelan ludah.
“Gimana? Mau enggak?”
“Siap laksanakan senior!” jawab Arin dengan tegas dan lantang.
“Bagus. Oh ya, tulis pake tangan ya! Jangan diketik. Biar gak kelamaan!” perintah tambahan yang lumayan memudahkan.
“Siap!” lagi-lagi Arin hanya bisa menerima perintah itu. Karena tak mungkin untuk menolak jika ia benar-benar ingin mendapatkan informasi tentang senior Toxicnya. Seenggaknya kalau tulis tangan. Ia tak perlu repot-repot cari printer.
__ADS_1
Menulis pidato sebanyak tiga lembar keryas HVS pake tangan itu sih mudah menurut Arin. Dia tak perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan tugas itu. Bahkan tak sampai setengah jam. Kalimatnya tiba-tiba mengalir begitu saja dalam pikirannya.
Setelah selesai melaksanakan tugas pidato. Arin langsung menyerahkan hasilnya pada senior Rini.
“Ok, udah lumayan bagus. Meski agak berantakan.” Komentar senior Rini sesaat setelah membaca hasil tulisan tangan Arin.
“Trus, aku lolos kan senior?” tanya Arin tak sabar.
“Belum lah, bacakan teks pidatonya sebagus mungkin! Pidato di depan peserta lain!”
Seketika Arin lemas. Namun, mau tidak mau ia tetap harus mentaati perintah seniornya.
“Baik senior! Saya Laksanakan!” ucapnya lantang dan jelas.
Ia segera berlari mencari peserta yang siap mendengarkan pidatonya. Kebetulan ada peserta yang sedang dihukum dengan berdiri menggunakan satu kaki. Jumlahnya sekitar sepuluh orang. Arin langsung meminta izin sambil membacakan pidatonya sampai selesai.
Setelah selesai dan mendapatkan tepuk tangan. Ia kembali lagi menemui senior yang memerintahnya menulis pidato.
“Lapor senior! Tugas sudah berhasil saya laksanakan!”
“Bagus.” Jawab senior bangga pada kepintaran dan keberanian Arin.
“Trus, informasi mengenai senior toxic gimana?” Arin langsung ke inti permasalahan tanpa basa-basi.
“Aku akan kasik jawaban sesuai dari nilai pidatomu ini ya!”
“Lah, kok gitu?”
“Ya selebihnya kamu cari sendiri lah! Pintar-pintar putar otak. Aku Cuma mau ngasik dua informasi aja. Karna nilai pidato kamu hanya 7. Coba nilaimu sembilan, pasti aku akan membeberkan lebih banyak.”
“Ya sudah senior, gak papa! Daripada enggak ada sama sekali.” Ucap Arin lemas. Padahal di dalam hati ia yakin bahwa pidatonya layak mendapatkan nilai sembilan bahkan lebih. Namun, mau bagaimana lagi? Pada akhirnya ia tetap harus pasrah dengan semua permainan ini.
“Senior Toxic itu, seorang laki-laki dan Ia saat ini menjabat sebagai salah satu ketua ruang.”
Arin harap-harap cemas mendengarkan keterangan dari senior Rini. Ketika senior Rini menghentikan kalimatnya Arin langsung protes.
“Udah, itu aja senior?” tanya Arin antusias.
“Iya, segitu aja. Ada dua point penting kan? Seorang laki-laki dan ketua ruang.”
“Gak ditambahim lagi senior?”
“Gak ada. Segitu aja. Selebihnya cari ke senior lain!”
Dengan perasaan penuh kekecewaan Arin segera pamit dan berlalu dari hadapan senior Rini.
__ADS_1