Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Mencari Firman


__ADS_3

Sudah tiga hari Arin tidak bertemu dengan Firman. Meski ia merasa kesal dan marah atas perbedaan perlakuan papanya. Namun, ia masih memiliki satu tujuan penting yang harus ia laksanakan. Yaitu, menjebak Firman. Demi keberhasilan misinya itu, tentu tidak mungkin rasanya jika ia memilih tetap marah dan menjauhi Firman.


Oleh karena itu, Arin memutuskan untuk berdamai dengan hatinya dan egonya. Ia akan mencari Firman lagi dan mendekatinya seperti sebelumnya.


Hari ini Arin mencoba mencari Firman di kampusnya. Tentu saja hal itu ia lakukan setelah terlebih dahulu  menanyakan jadwal kuliah di fakultas kedokteran hewan. Jika melihat jadwal, seharusnya hari ini Firman ada kelas. Namun teman-temannya mengatakan bahwa ia tidak kuliah hari ini.


Arin  penasaran kenapa Firman tidak kuliah hari ini. Selain itu ia juga sudah mulai merasa khawatir dengan keadaan Firman. Bagaimanapun Arinlah yang menyebabkan Firman harus rela terkena hujan demi mengantar dirinya pulang malam itu.


Arin  ingin menanyakan kabarnya namun rasa gengsi yang terlalu besar membuatnya selalu mematikan layar ponselnya saat berusaha ingin mengirim pesan ataupun menelpon langsung.


Sebenarnya di dalam hati ia mulai waswas dan khawatir terjadi sesuatu pada Firman. Karena setelah malam itu Firman sama sekali tidak pernah mengabarinya atau menghubunginya.


“Telpon aja kenapa sih? Jangan gengsi gitu!” ujar Nabila saat melihat Arin memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


“Siapa juga yang mau nelpon dia? Aku tuh Cuma ngecek notifikasi email tauk!” ucap Arin berusaha mengelak.


“Emang ada pemberitahuan apa di email? Kok sampe kayak orang khawatir gitu mukanya?” pertanyaan Nabila kali ini cukup menohok.


“Nunggu kiriman uang lah! Transferan bank!” Jawab Arin berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


“Ngapain coba cari informasi tentang kak Firman ke temannya? Kalau kamu punya nomer ponselnya?” Vivi mencoba ikut campur dalam interogasi yang terjadi secara tiba-tiba itu.


“Aku kan udah bilang tadi! Aku mau nyari dia karena ada hal penting yang perlu ku omongin masalah di rumah!” lagi-lagi Arin mencari alasan yang tak sesuai kenyataannya.


“Emang ada apaan di rumah kamu?” Nabila benar-benar ngotot dengar pertanyaan-pertanyaannya.


“Kalian kenapa sih hari ini? Kok kayak ngintrogasi aku?” Arin mulai merasa kesal dengan pertanyaan dua sahabatnya.


“Ya karena kami udah mulai curiga ama kamu! Apalagi sejak kejadian di pesta kak Maya. Kayaknya kamu juga udah mulai terpesona deh ama kak Firman.” Ucap Vivi ceplas ceplos langsung ke inti permasalahan.


“What? Kalian apaan sih? Dia itu kakak aku! Mana mungkin akun tertarik ama dia? Kita tuh udah kayak saudara kandung tau enggak?” ucap Arin penuh emosi saat dikatakan mulai tertarik dengan kakak sepupunya.

__ADS_1


“Kalian beneran sepupu gak sih?” tanya Nabila mulai menanyakan hal yang sebelumnya tak pernah ditanyakan langsung kepada Arin maupun Firman.


“Hm, kita emang bukan sepupu! Tapi kita emang ada ikatan saudara meskipun jauh. Keluarga kita tuh udah kayak satu keluarga! Kalian gak percaya kan? Kak Firman itu dari kecil kan udah yatim tuh. Nah, papaku itu udah dia anggap kayak papanya sendiri loh!” Arin berusaha menceritakan hubungan kekeluargaan seperti apa yang sebenarnya ada di antara mereka berdua.


Nabila dan Arin hanya bisa manggut-manggut pertanda mereka percaya dengan perkataan Arin.


“Hei! Ngapain kalian di sini?” tanya Alvian yang tiba-tiba datang entah dari arah mana.


“Hm, kami mencari kak Firman kak!” jawab Vivi pada Alvian.


“Loh, Firman sakit! Dia udah dua hari gak masuk kuliah.” Ujar Alvian memberi tahu mereka bertiga. “Ada apa ya? Apa ada keperluan?” tanya Alvian serius.


“Gak tau nih kak! Sih Arin yang ada perlu ama kak Firman!” Nabila membantu menjelaskan.


“Ke kontrakannya aja dek! kalau memang perlu banget!” usul Alvian kepada Arin.


“Iya deh kak, nanti aku coba kesana.” Jawab Arin kurang semangat.


“Udah tau alamatnya belum?” Firman menanyakan  itu karena  ia yakin Arin belun mengetahui hal itu.


Alvian mengambil secarik kertas dari dalam tasnya dan menuliskan alamat Firman di kertas kosong itu. Lalu menyerahkannya pada Arin saat sudah selesai.


“Ok, makasih ya kak?” ucap Arin sopan.


“Sama-sama!” jawab Alvian sambil tersenyum.


Arin dan kedua sahabatnya segera berpamitan dan memilih untuk pulang. Karena sudah tidak ada jadwal kuliah lagi untuk hari ini.


“Mau aku temani untuk mengunjungi kak Firman?” tanya Nabila pada Arjn sebelum mereka benar-benar berpisah untuk pulang ke kosan masing-masing.


“Siapa yang mau kesana? Aku nunggu dia sembuh aja! Ngapain kesana coba?” Arin malah memprotes pertanyaan Nabila.

__ADS_1


“Ya mungkin aja urusan kamu sama kak Firman sangat mendesak kan? Aku Cuma menawarkan diri supaya kamu tidak sendirian kesana!” Nabila berusaha memberikan alasan kenapa ia sangat ingin membantu Arin. Di sisi lain  ia juga penasaran ingin bermain ke kontrakan Firman.


“Entar deh ku telpon kamu kalau emang butuh temen!”


“Kenapa gak di telpon aja sih Rin? Tanyain langsung ke orangnya!” Nabila memberikan usulan yang menurutnya. dapat menjadi solusi dari masalah Arin.


“Iya deh. Entar ku coba di kosan. Aku duluan ya! Kalian masih mau mampir-mampir?” tanya Arin kepada Vivi dan Nabila.


“Enggak! Aku mau pulang juga! Mau garap tugas peresentasi!” jawab Vivi cepat.


“Aku masih mau mampir ke perpus untuk pinjem buku.” Ucap Nabila kepada dua sahabatnya.


“OK! See you tomorrow!” Arin pergi sambil melambaikan tangannya.


Sebenarnya Arin tidak benar-benar pulang ke kosannya. Ia memilih untuk pergi ke kontrakan Firman. Ia merasa tidak tenang jika tidak mengetahui langsung kabar dari sahabat masa kecil sekaligus saudara jauhnya itu.


Ia yang memang sedang mengendarai taxi memberitahukan alamatnya kepada sopir. Begitu sampai di tempat tujuan Arin langsung turun setelah terlebih dahulu membayar ongkos. Ia berjalan menuju ke arah pintu masuk.


Sesampainya di depan pintu, Arin menekan bel yang ada di samping kanan. Ia menunggu cukup lama namun tak ada tanda-tanda pintu mau dibuka. Iapun memutuskan untuk memencetnya beberapa kali. Namun tetap tak ada yang membukakan pintu untuknya. Ia mulai panik dan segera mengambil ponselnya. Mencari nomer Firman yang tertera di panggilan masuk.


Agak lama dan harus mencoba beberapa kali supaya panggilan itu di angkat. Begitu terdengar bunyi telepon terangkat ia merasa sedikit lega.


“Halo?” ucap Arin dengan segera.


“Hmm!” jawaban Firman  dari dalam.


“Mas! Buka pintu! Aku ada di depan!”


Mendengar kalimat Arin. Fiirman yang tadinya setengah sadar langsung berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dengan lemah ia memaksa dirinya bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dengan sekuat tenaga. Butuh waktu yang lumayan lama untuk bisa mencapai pintu.


Begitu ia membuka pintu. Arin sudah berdiri di sana dengan ponsel yang masih menempel ditelinga kanannya. Arin segera masuk dan memandangi Firman yang tampak pucat dan tak bertenaga.

__ADS_1


“Kamu sakit?” tanya Arin pada Firman yang masih berdiri dan seakan tak memiliki tenaga lagi untuk melangkah. Tenaganya sudah terkuras tadi saat ia berjalan dari kamar sampai pintu depan.


Pandangan Firman sudah mulai kabur. Tubuhnya gemetar merasakan panas yang luar biasa. Kepalanya seakan mau pecah. Akhirnya ia ambruk tepat dihadapan Arin.


__ADS_2