
“Halo, ma! Mama nelpon aku. Ada apa?” tanya Arin pura-pura tidak tau kalau mamanya sedamg berada di kosannya saat ini. Akhirnya Ia memutuskan untuk menelpon mamanya agar tidak terlalu khawatir.
“Mama sekarang lagi di kosan kamu! Kamu pergi berlibur kemana?” tanya mama Arin tanpa basa-basi.
“Apa? Mama sekarang lagi di kosan?” Arin bahkan pura-pura terkejut.
“Iya, mama mau nunggu kamu balik. Pokoknya sekarang juga kamu balik!” perintah mama Arin penuh penekanan dalam kalimatnya.
“Tapi ma-“
“Gak ada tapi-tapian!” ucap tante Widya langsung memotong ucapan Arin. Arin bahkan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan alasan yang pas. “Kamu sudah berani ya pergi tanpa izin dulu sama mama?”
“Bukan begitu ma! Aku liburannya deket-deket aja kok! Gak jauh-jauh!” jawab Arin berusaha membela diri.
“Pokoknya mama gak mau tau! Sekarang juga kamu pulang ke kosan!” perintah mama Arin sambil langsung mematikan panggilan telponnya.
Arin semakin ketar-ketir dibuatnya. Ia menjadi takut untuk menemui mamanya.
“Jadi, kenapa kamu ngajak balik. Karna ada tante Widya?” tanya Firman begitu tau bahwa alasan inilah yang membuat Arin secara tiba-tiba membatalkan liburannya.
Arin hanya mengangguk malas tanpa menatap Firman. Entah kenapa perasaan benci yang tadinya hilang kini mulai muncul dan menghantuinya kembali.
“Aku kan tadi udah mau minta izin dek! Tapi kamu gak mau!” protes Firman begitu mengetahui kekhawatiran Arin.
“Iya, memang salah aku! Salah aku yang sejak awal mau diajak liburan sama kamu! Harusnya aku tuh gak mau!” ucap Arin sedikit ketus.
“Lah kok kamu jadi ngomong kayak gitu?” tanya Firman heran melihat tingkah Arin yang seakan menyalahkan Firman yang sudah mengajaknya liburan.
“Aku capek! Aku mau tidur! Antarkan aku ke kosan Vivi!” perintah Arin masih dengan nada ketusnya.
Melihat hal itu Firman jadi kehabisan kata-kata. Jika ia tetap ngotot membahas masalah ini. Ia khawatir hal itu akan memicu pertengkaran di antara mereka berdua. Akhirnya ia memilih diam dan tetap fokus pada kemudinya.
__ADS_1
Arin berusaha keras memejamkan matanya. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak mengantuk. Sepanjang perjalanan mereka memilih diam. Sangat berbeda dengan suasana tadi ketika berangkat. Firman menanyakan alamat kosan Vivi ketika mereka sudah hampir sampai. Arin pun hanya menjawab seadanya tanpa senyuman seperti sebelumnya.
Dunia seakan kelam untuk Firman. Tiba-tiba ia merasakan seolah-olah Arin kembali lagi membencinya.
Begitu sampai di kosan Vivi. Arin segera keluar tanpa sepatah katapun. Ia meminta Firman mengeluarkan barang-barangnya yang ada di bagasi mobil. Setelah selesai Arin pun segera berlalu tanpa berkata apapun lagi. Firman semakin dibuat bingung oleh tingkah anehnya.
Arin mengutarakan tentang niatnya untuk meminta bantuan Vivi. Ia senagaja akan mengajak Vivi ke kosnya untuk menemui mamanya. Namun sebelum itu, Vivi menanyainya tentang banyak hal. Termasuk dengan siapakah sebenarnya Arin pergi. Arin menjawab dengan jujur bahwa ia akan pergi liburan dengan Firman.
Mengetahui hal itu Vivi langsung terkejut.
“Kamu liburan bareng kak Firman?” respon Vivi saat tau siapa orang yang bersama dengan Arin sejak tadi.
“Iya.” Jawab Arin dengan penuh rasa bersalah. Masalahnya selama ini ia sampai tidak bertegur sapa dengan Vivi dan Nabila gara-gara tidak mau dipertemukan dengan Firman. Namun kenapa hari ini malah ia sendiri pergi berlibur berdua dengan Firman. Hal itu membuatnya terasa munafik dan egois.
Vivi menunjukkan mimik muka yang kurang suka saat tau kebenarannya.
“Plise! Ku mohon Vi! Aku tau kamu bakalan marah kalau tau tentang hal ini.” Ucap Arin memelas.
Vivi terlihat acuh dan diam. Melihat sikap Vivi membuat Arin semakin khawatir akan nasibnya setelah ini. Bisa-bisa mamanya akan memberhentikannya kuliah di Jakarta.
Melihat hal itu Arin menjadi terkesiap dan heran. Ia berdiri mematung memperhatikan Vivi yang masih tak bisa berhenti tertawa. Vivi tertawa melihat Arin yang kebingungan seperti itu.
“Ha ha ha! Aku tuh sebenarnya udah tau. Kalau kamu sama kak Firman memang sedang ada hubungan spesial. Karena aku sama Nabila melihat langsung saat kalian tempo hari berpelukan di lapangan Voli.” Ucap Vivi menjelaskan alasan di balik ia tertawa tanpa henti.
“Apa?” ucap Arin heran.
“Aku dan Nabila sepakat melakukan hal ini. Tak menyapamu sampai kamu sendiri mengakui pada kita. Kami itu sebenarnya kecewa karena kamu gak pernah jujur sama kita. Bahkan kamu terlihat memungkiri perasaan kamu sendiri!”
“Aku memang gak ada hubungan apapun ama mas Firman Vi!” Arin berusaha menyangkal perasaannnya.
“Tuh kan? Kamu mulai lagi! Kenapa sih kamu harus bohong sama kita tentang perasaan kamu yang sesungguhnya? Bahkan kamu memungkiri perasaan kamu sendiri!” Vivi sudah mulai kesal dengan keegoisan Arin.
__ADS_1
“Aku- “ saat Arin akan mencari alasan lagi. Vivi langsung memotong pembicaraannya.
“Kamu tuh terlalu gengsi untuk mengaku suka?” tanya Vivi.
“Bukan begitu Vi! Aku gak enak sama kalian. Kalian kan idola banget sama mas Firman!”
“Lantas kalau kita idola sama dia. Kamu gak berhak gitu suka ama dia?” pertanyaan Vivi membuat Arin bungkam. “Plise! Jangan bohongi perasaan kamu sendiri. Aku sama Nabila idola ama kak Firman. Bukan berarti pengen memiliki. Idola sama naksir itu beda say!” Vivi masih saja mencoba menjelaskan.
Arin hanya bisa diam dan tak lagi menyangkal. Vivi akan semakin murka jika ia tetap bersikukuh mempertahankan egonya. Karena semua bukti sudah jelas di mata Vivi. Apalagi ditambah dengan kejadian ini.
“Udah, kamu sekarang jujur sama aku! Kamu suka kan sama kak Firman?” pertanyaan Vivi langsung menskakmat Arin yang belum siap ditanya demikian.
“Enggak aku-“
“Kalau kamu gak mau jujur. Aku gak akan bantu kamu ngejelasin ke mama kamu!” ancam Vivi sebelum Arin mengeluarkan alasan lainnya lagi.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Arin menjawab. “Iya, aku memang suka sama dia. Tapi aku gak tau ini perasaan suka yang sekedar idola atau suka dalam artian lain.”
“Ok. Yang penting kamu jujur sama aku. Dan aku mau kamu juga minta maaf dan jujur sama Nabila!” perintah Viivi selanjutnya pada Arin.
Arin mengangguk pasrah. Ia tak mau lagi memendam semuanya seorang diri. Ia merasakan betapa leganya saat ia mengatakan yang sejujurnya kepada sahabatnya terbaiknya itu.
“Karna aku udah jujur sama kamu. Kamu harus mau dong! Saat ini juga ikut aku!” kini giliran Arin yang memerintah Vivi.
“Siap! Kita naik apa kesana!” tanya Vivi pada Arin.
“Taxi online. Aku pesankan dulu!” ucap Arin sambil mengambil ponselnya dan segera menghubungi taxi.
“Ok. Aku ganti baju dulu sebentar!” ucap Vivi sambil beranjak pergi ke dalam kamarnya.
Setelah taxi datang mereka langsung pergi ke kosan Arin. Bahkan Arin memerintah sopir taxi untuk sedikit mempercepat laju mobilnya. Hal ini karena ia mulai ditelpon lagi oleh mamanya dan ditanyakan masih dimana saat ini Arin berada.
__ADS_1
Setelah sampai di kosan Arin. Tante widya memang terlihat masih menunggu Arin di kamar Arin. Ia bahkan sempat tertidur sebentar. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Arin akhirnya menjelaskan pada mamanya bahwa ia memang sedang berlibur dengan Vivi ke suatu daerah yang lumayan jauh. Hal itulah yang menyebabkan Arin maupun Vivi baru datang selarut ini.
Untung saja mama Arin percaya dan ia memutuskan untuk pergi dari sana dan akan menginap di hotel bersama Arin. Sebenarnya ia juga mengajak Vivi untuk bermalam di hotel pesanannya. Namun Vivi menolak dan memilih segera pulang lagi ke tempat kosnya. Sebelum waktu benar-benar memasuki pertengahan malam.