
Akhirnya Arin bisa menyelesaikan presentasinya dengan baik. Ia mampu membuat pak Pramono sedikit terpukau dengan penampilannya. Meski awalnya ia sedikit dipojokkan karena pertemuannya tadi dengan Firman sebelum kelas dimulai.
Arin sangat ingat dengan gojlokan pak Pramono tadi saat ia belum memulai presentasinya di hadapan para mahasiswa lain.
“Kenapa? Gak siap? Mangkanya! Jangan pacaran terus!” tuduh Pak Paramono pada Arin yang memang sedikit merasa gugup saat itu.
Ucapan Pak Pramono seketika langsung membuat Arin kesal dan ingin rasanya menyumpahi dosen killernya itu. Namun hal itu ia tahan. Ia tau betul bagaimana harus bersikap pada guru yang harus dihormatinya itu.
Arin merasa sedikit malu saat seisi kelas tertawa dan menyorakinya. Untung saja ia memiliki mental sekuat baja. Sehingga ia bisa tetap tenang dan fokus pada presentasinya.
Kelas yang begitu menegangkan itu akhirnya berakhir. Sekitar dua jam lebih mahasiswa melewati mata kuliah pengantar pertanian dengan suasana yang sangat ekslusif dan menegangkan. Tak ada canda tawa di dalamnya. Para mahasiswa dituntut untuk serius dan berada pada mode konsentrasi tertinggi.
Pak Pramono memang sangat cocok mendapat julukan dosen terkiller di fakultas pertanian.
Kini Arin, Nabila maupun Vivi memilih untuk pergi ke kantin untuk sekedar mengisi perut ataupun membeli camilan. Konsentrasi tinggi membuat perut mereka serasa kosong dan keroncongan.
“Kak Firman nekat juga yah, bisa-bisanya dia ijin ke pak Pramono buat bisa mengobrol sama kamu!” ucap Vivi membuka pembicaraan. “Emang apa sih yang pengen kak Firman omongin sama kamu Rin?”
“Itu loh, soal tes masuk keanggotaan BEM!” jawab Arin sambil mengunyah Batagor yang ia pesan sebagai pengganjal perutnya.
“Kamu beneran mau ikut BEM?” tanya Vivi sekali lagi karena rasa penasarannya.
“Iya lah! Biar ada kegiatan sampingan gitu. Sekaligus cari pengalaman.” Jawab Arin mantap.
“Ok, ku doakan terpilih deh! Biar aku bisa ketemu terus sama kak Firman!”
“Loh? Kok bisa kamu yang ketemu terus? Kan yang jadi anggota BEM Arin?” tanya Nabila heran dengan perkataan Vivi yang menurutnya gak nyambung.
“Ih, kamu gimana sih? Kita kan bakalan sering sama Arin tuh! So, otomatis kita bakal sering main ke kantor BEM!” ucap Vivi mencoba menjelaskan “Kalau kita sering nyari Arin ke sana! Ya pasti kita bakal ketemu lah ama kak Firman!”
“Emang selama ini kamu kurang sering tah ketemu ama dia?” tanya Arin sedikit merasa lucu dengan perkataan Vivi. “Perasaan kemaren-kemaren dah sering ketemu deh. Tanpa aku masuk anggota BEM sekalipun.”
“Yup bener banget! Aneh memang si Vivi!” Nabila ikut memprotes Vivi. Sedangkan Vivi hanya bisa menelan ludah dengan respon kedua sahabatnya.
“Eh! Itu kayaknya kak Firman mau menuju ke sini deh!” ujar Nabila saat melihat Firman sedang melangkah menuju kantin bersama teman-temannya.
Mendengar Hal itu Arin langsung buru-buru menyudahi memakan batagornya.
__ADS_1
“Eh, aku ke toilet ya! Kebelet lagi nih!” ucap Arin sambil beranjak dengan sedikit terburu-buru.
“Ih, kamu salah makan apa sih Rin? Dari tadi pagi ke toilet mulu!” Nabila merasa khawatir dengan keadaan Arin.
“Udah ah! Aku buru-buru!” Arin setengah berlari dan pergi melewati pintu lain yang berlawanan dengan arah Firman muncul.
“Aneh banget sih Arin. Gak biasanya dia kayak gitu.” Vivi merasa ada yang janggal dengan tingkah laku Arin.
“Iyup betul banget! Kayak lagi sengaja menghindar gitu!” Nabila mulai curiga dan menerka-nerka.
Belum selesai mereka membahas masalah tingkah laku aneh sahabatnya. Tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka dengan senyum manisnya.
“Hai! Kalian lagi ngegosipin siapa sih? Lagi ngegosipin aku ya?” sapa Firman pura-pura menggoda.
Mendengar hal itu baik Vivi maupun Nabila merasa grogi dan senang di saat bersamaan. Mereka hanya bisa membalas senyuman Firman dengan senyuman yang juga tak kalah manis.
“Tau aja kakak nih! Panjang umur deh jadinya. Baru aja kita ngomongin kakak loh!” ucap Vivi berusaha berkelakar dengan kejujurannya.
“Wah? Jadi beneran lagi ngomongin aku nih?” Firman jadi bertanya dengan nada seriusnya.
“Bukan Cuma kita aja kali yang tiap hari ngomongin kakak! Tuh cewek-cewek lain juga lagi berbisik-bisik sambil menatap ke arah kita.” Ujar Nabila sambil menunjuk ke arah beberapa cewek yang berkerumun sambil memperhatikan Firman.
“Eh, Arin mana? Tumben hanya nongkrong berdua?” tanya Firman berusaha menyudahi pembahasan mengenai dirinya .
“Baru aja Arin pergi kak! Tadi dia bersama kita kok di sini!” jawab Vivi setengah menyayangkan kepergian Arin.
“Itu dia kak yang kita herankan dari tadi pagi! Masa’ Arin selalu kebelet pergi ke toilet setiap kali melihat kakak dari kejauhan?” Ucap Nabila sedikit keceplosan. Sadar bahwa ucapannya akan menimbulkan perasangka yang tidak enak dari seniornya ia pun reflek menutup mulutnya dengan tangannya.
“Eh ia ya! Kok aku juga punya prasangka kayak gitu barusan!” Vivi mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya sejak Arin pergi.
Firman pun mengernyitkan keningnya bingung. Ia menjadi sadar bahwa Arin memang benar-benar sengaja menghindarinya beberapa hari ini.
“Ternyata bukan hanya aku ya yang merasa dia menghindariku! Sampai-sampai kalian pun memiliki pemikiran demikian.” Ucap Firman lirih namun terdengar jelas di telinga Vivi maupun Nabila.
“Iya deh kayaknya kak! Kita setuju sih sama perkataan kakak!” Nabila juga mulai merasa kecurigaannya itu terbukti.
“Ya udah deh! Ntar aku cari dia lagi ke kelas kalian! Tapi jangan bilang-bilang ya! Usahakan kalian mencegah dia kalau misalkan dia berniat pergi lagi!”
__ADS_1
“Siap kak!” ucap mereka hampir bersamaan.
“Ok! Kalau gitu aku kesana dulu ya! Mau gabung dengan teman-teman aku.” Ucap Firman berpamitan kepada Vivi dan Nabila.
“Oh iya kak! Silahkan! Selamat menikmati makan siang!” Vivi bertingkah semanis mungkin di hadapan senior idolanya.
Firman berlalu dengan senyuman termanisnya. Membuat Vivi maupun Nabila semakin klepek-klepek dengan tingkahnya.
“Kalau memang beneran Arin seperti yang kita pikirkan barusan. Gimana kalau kita kerjain aja dia entar?” Nabila mengusulkan sebuah ide nakal pada Vivi.
“Boleh juga tuh!” jawab Vivi yang merasa ini akan menjadi hal yang seru di antara mereka.
“Awas aja ya! Dia ketahuan memang benar-benar menghindari senior Firman. Bakalan aku intetogasi habis-habisan deh entar!” Nabila menjadi lebih semangat.
“Bukannya itu bukanlah hal yang aneh?” tanya Vivi mulai sadar.
“Maksud kamu?” Nabila balik bertanya mendengar pertanyaan Vivi.
“Kan emang dari dulu Arin tidak menyukai senior Firman!” ucap Vivi mencoba mengingatkan Nabila pada waktu dulu selama masa orientasi berlangsung.
“Iya sih! Tapi kan akhir-akhir ini dia udah mulai bertingkah biasa tuh sama kak Firman. Gak terkesan benci kayak dulu waktu kita orientasi!”
“Memang aneh tuh anak!” Vivi merasa bahwa tingkah laku Arin memang sedikit misterius.
“Sebenarnya kita gak pernah tau betul dengan alasan Arin tidak menyukai Kak Firman! Hal itu loh yang seharusnya perlu kita telusuri!”
“Betul banget! Aku setuju ama inisiatif kamu!” jawab Vivi merasa mantap dengan pernyataan Nabila.
Akhirnya mereka sampai pada suatu kesimpulan bahwa perlu adanya langkah mencari tau mengenai hal itu secara jelas. Agar mereka tidak lagi dibuat penasaran oleh Arin.
__ADS_1