Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Dendam


__ADS_3

[ Arin, mama lagi OTW jakarta nih. Kangen mau ketemu kamu. Selain itu ada hal penting yang ingin mama obrolin. Malam ini mama jemput kamu ke kosan. Kita nginep di hotel dulu ya? Sekalian kita belanja dan perawatan bersama.] sebuah pesan masuk ke ponsel Arin. Pesan dari mamanya yang tiba-tiba aja datang ke Jakarta tanpa pemberitahuan.


“Mama? Asyik! Bakalan belanja besar ini.” Ucap Arin girang.


“Ada apa woy? Bahagia banget.” Tanya Kak Cindy senior sekaligus teman kamar Arin.


“Oh, ini loh kak. Mamaku mau dateng. Terus ngajak nginep di hotel.” Jawabnya berusaha mengendalikan kebahagiaannya.


“Hm, kayaknya ada bau-bau orang banyak duit nih ntar. Jangan lupa traktirannya ya?” Cindy bercanda pada Arin.


“Wah, tenang saja kak. Nanti pasti aku bagi.” Jawab Arin dengan senyuman merekahnya.


Malam itu Arin dijemput sebuah mobil mobil jazz ke kosannya. Mobil itu adalah mobil baru mamanya.


“Wih, mama beli mobil baru?” tanya Arin pada mama setelah berpelukan agak lama demi melepas rasa kangen.


“Iya nih. Kenapa? Kamu gak suka?”


“Ya suka banget lah ma! Mama beli sendiri atau dibeliin nih?” Arin penasaran dari mana mamanya mendapatkan uang tambahan untuk membeli mobil yang lebih mewah. Padahal sebelumnya mobil mamanya hanyalah mobil Avanza keluaran lama.


“Mama nabung dong sayang! Meskipun mama tidak sekaya papa. Tapi mama akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu sayang!” ucap mamanya sambil memeluk Arin. “Bukankah sejak esempe kamu.memang udah pengen banget ganti mobil. Tapi, sayang mama belum memiliki cukup uang.”


“Itu kan dulu ma! Sekarang aku mobil apapun itu yang penting udah bisa nganter kita kemana-mana aku udah bersyukur kok.”


“Ya udah, yuk buruan kita berangkat mang!” ucap mama Arin pada mang Ojak. Sopir keluarga mama Arin. Tante Widia memang tidak bisa menyetir mobil sendiri. Ia pasti akan membawa mang Ojak kemanapun ia mau pergi.


Malam itu Arin dibawa makan malam di restorant yang cukup terkenal di daerah Jakarta. Ia juga berbelanja beberapa kebutuhan selama beberapa hari ke depan.


“Sayang besok kamu ada kuliah jam berapa?”


“Kuliah pagi ma!”


“Ya sudah. Besok kamu mama antar dulu ke kampus. Setelah kuliah selesai kita perawatan yuk ke salon!” ajak Mama Arin bersemangat.


“Ok, ma! Aku memang lama nih gak perawatan.” Ucap Arin pada mamanya.


“Loh, memang uang dari papa kurang tah sayang?” tanya mama Arin.


“Bukannya gitu ma, aku kan kemaren-kemaren sibuk orientasi dan sebagainya.” Jawab Arin khawatir mama salah paham pada papanya.


“Oh, kirain papamu pelit sama kamu.”

__ADS_1


“Oh ya mama kesini katanya ada hal penting yang pengen diobrolin sama aku. Emang masalah apa ma?” tanya Arin sebelum mamanya pergi tidur.


“Oh, iya. Tempo hari kamu kan cerita kalau kamu ternyata satu kampus sama anak itu?”


“Anak itu, maksud mama?” Arin mulai berpikir sejenak. “ Mas Firman?”


“Iya. Siapa lagi?”


“Iya ma. Dia mahasiswa semester lima fakultas kedokteran. Cuman dia milihnya masuk dokter hewan.” ucap Arin memberitahu mamanya.


“Dokter hewan?” tanya mama Arin memastikan.


“Iya ma, memang kenapa?”


“Hm, pantes saja. Ternyata memang sengaja papamu membiayai kuliah dia supaya entar dia jadi orang yang berpengaruh di keluarga papa!” ujar tante Widia dengan ekpresi ketidak senangannya.


“Maksud mama?” Arin bertanya karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh perkataan mamanya barusan.


“Sayang, dia itu kuliah dibiayai papa! Papa kamu!” “Kan emang dari dulu sejak sekolah di Sekolah Dasar ma! Memang nenek yang menanggung semua biaya sekolahnya.” Ucap Arin pada mamanya.


“Sayang, kamu ingat kan pada janji kamu sama mama?” tanya mama Arin mulai cemas.


“Janji? Janji yang mana ma?”


“Aku masih ingat ma.” Jawab Arin sedikit sedih.


“Terus gimana sayang? Mama rasa inilah saat yang tepat untuk kamu membalas dendam pada keluarga itu.”


“Iya, tapi gimana caranya ma? Aku gak tau harus bagaimana?” tanya Arin tampak bingung.


“Sayang kamu harus cerdas! Gunakan kecerdasan kamu untuk hal ini juga! Jangan hanya cerdas dalam pelajaran saja! Ingat siapa orang yang telah membuat keluarga kita berpisah seperti sekarang? Ingat siapa orang yang telah membuat kamu menderita karena jauh dari papa?”


“Iya ma. Aku sangat ingat. Aku ingat bagaimana mama menangis karena ulah tante Yuni. Aku ingat ma. Aku ingat bagaimana Tante Yuni udah membuat mama dan papa bercerai. Membuatku terpisah dati nenek dan papa!” Arin sudah mulai sedikit emosi mengingat peristiwa kelam di masa lalunya.


“Kamu tau sayang? Mengapa mereka jauh-jauh menguliahkan Firman di universitas yang bagus itu?” tanya Mama Arin semakin ingin memancing kemarahan Arin.


“Emang apa hubungannya ma?” tanya Arin polos.


“Kamu kenapa lugu sekali sih sayang? Tentu aja supaya Firman jadi orang yang bisa meneruskan semua harta warisan keluarga nenek.”


“Masak sih ma?” Arin sedikit tidak percaya dengan kata-kata mamanya.

__ADS_1


“Dia itu masuk kedokteran hewan ya supaya bisa mengelola peternakan dengan baik sayang!”


Arin tampak diam dengan berbagai pikiran dalam benaknya. Iapun mulai ragu dengan kasih sayang papanya pada dirinya.


“Ma, apa Mas Firman yang bakal jadi penerus di keluarga nenek?” tanya Arin


“Bisa saja itu yang akan benar-benar terjadi jika kamu dari sekarang selalu diam dan cuek saja dengan apa yang terjadi. Beda halnya jika kamu mulai bertindak dari sekarang. Sebelum semua benar-benar terlambat.”


“Enggak ma! Seharusnya aku yang mendapatkan semua itu. Bukan dia!” ucap Arin mulai benar-benar terpancing dengan hasutan mamanya.


“Sayang, dengarkan kata-kata mama. Kamu harus bisa membuat Firman gagal di kuliahnya. Entah bagaimanapun caranya.”


“Maksud mama?”


“Lakukan suatu hal yang membuat dia bisa di DO dari sekolah sayang. Kamu ngerti kan yang dimaksud DO?”


“Iya aku ngerti ma. Tapi itu gak mudah. Gimana caranya coba?”


“Mama kan udah bilang sayang! Gunakan kecerdasan kamu disini! Jangan hanya cerdas dalam pelajaran saja.” Ucap Mama Arin sedikit geram dengan kepolosan anaknya.


“Aku juga disini masih baru ma. Gak ada kenalan. Gak ada yang bisa dimintai pendapat atau pertolongan.” Ucap Arin dengan segudang ketakutannya.


“Hm, baiklah. Mama kasik kamu waktu untuk berpikir dan merenungkan semua ini. Kecuali kalau kamu emang rela semua dimiliki olehnya.”


“Ya gak rela lah ma! Aku gak rela kalau mas Firman yang bakalan jadi penerus papa!” Arin sudah benar-benar hampir emosi. “Aku janji aku akan cari cara! Apapun itu aku harus lakukan. Gak peduli seberapa bahaya. Asalkan aku bisa menjatuhkannya.”


“Bagus. Ini baru namanya anak mama! Ya udah kita tidur dulu yuk sayang! Besok kamu masih ada jadwal kuliah pagi kan?” tanya mama Arin.


“Iya ma.”


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2