
"*Ada kesadaran dalam diamku. Ada penghargaan dalam teriakku, tapi tetap saja ada yang pergi meninggalkanku"
-Reva Elkana*-
Selepas rafi pergi, reva segera menyiapkan makan siang untuk vano karena pasti sebentar lagi pria itu pasti akan datang. Reva akan memasak menu kesukaan vano yaitu capcai, reva mengeluarkan sayuran-sayuran segar dari dalam kulkas lalu mulai memotong-motongnya menjadi potongan kecil.
Reva menoleh ketika melihat seekor kucing liar yang masuk ke dalam dapurnya, dan tanpa sengaja ujung pisau mengiris jari reva.
"Awww... " Reva segera menghisap darah yang menetes dari jarinya. Tiba-tiba saja perasaan reva menjadi tidak enak, nama vano terlintas dalam hatinya.
Reva menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan.
"Huh...Ya Allah, lindungi suami hamba yang sedang mencari nafkah" Doa reva dalam hati, lalu kembali menyiapkan masakannya.
Di tempat lain, Vano sudah di dorong memasuki ruang UGD dan dalam keadaan kritis. Sekitar dua jam yang lalu, akhirya polisi berhasil mengevakuasi vano dari dalam jurang yang dalam.
Dengan bersimpah darah, dan keadaan sudah tidak sadarkan diri vano segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Anggota polisi yang menyusuri tempat kecelakaan vano mendapati ponsel vano yang retak, Dompet, Dan berbagai barang berharga yang lainnya. Setelah membaca KTP korban yang terselip di sana, dengan segera anggota kepolisian segera meluncur ke alamat keluarga korban.
Reva baru saja meletakkan semua lauk di atas meja, dan sudah tertata rapi.
Tingdong......Tingdong
"Tumben, vano pencet bel dulu, biasanya kan langsung masuk terus teriak" Dumel reva di sepanjang jalan untuk membuka pintu.
Ketika membuka pintu, reva terkejut dengan kedatangan beberapa anggota polisi.
"Kediaman Pak Vano Mahatma?" Tanya polisi itu, reva mengangguk mengiyakan. Pikiran reva mulai berkhayal kemana-mana mulai dari vano yang bertindak kriminal atau vano yang mungkin melakukan korupsi di perusahaannya sendiri tapi itu tidak mungkin.
"Pak vano, mengalami kecelakaan tunggal, dan kini sedang dirawat di Rumah Sakit Citra medika"
Seolah tersambar petir di siang bolong, Air mata reva turun dari pelupuk matanya. Seolah tidak percaya,
__ADS_1
"Hiks...pak, anter saya kesana sekarang pak!" Reva menarik-narik tangan polisi itu.
"ibu harus tenang" Kata polisi itu menenangkan reva,
"Hiks..saya harus tenang gimana pak? Suami saya lagi di Rumah Sakit.Mending bapak sekarang anter saya deh" Ucap reva yang sudah tak peduli dengan tampilannya sekarang ini yang hanya memakai daster batik-batik.
Dengan penuh rasa iba, akhirnya pak polisi tadi mengantarkan reva ke rumah sakit tempat vano di rawat.
Brankar vano di dorong keluar dari ruang operasi, baru saja vano di operasi bagian perutnya . Tepat dengan kedatangan reva yang sudah menangis sejadi-jadinya.
"Hiks...Kenapa gini van?" Reva meraih tangan vano lalu menggengamnya.
Keluarga vano mulai berdatangan, sedangkan reva masih saja menangis padahal sudah dua jam berlalu sejak vano keluar dari ruang operasi.
"Nak...., kamu istirahat ya" Ucap mami mertua reva, tidak tega melihat menantunya itu yang sudah begitu frustasi.
"Va-vano kapan sadarnya mi?" Reva begitu mengkhawatirkan keadaan vano, padahal belum tentu vano akan sepertinya ketika berada dalam keadaan seperti ini.
Reva menggeleng cepat, tidak mau meninggalkan vano sedetik pun dan tidak pernah melepaskan genggamannya dari vano.
"Yaudah, kamu jangan lupa istirahat yah, mami sama papi mau pulang dulu. Nanti , mami suruh pembantu dari rumah buat gantian ngejaga vano yah.." Grace mengecup pucuk kepala menantunya itu.
"i-iya mi.." Jawab reva pelan.
Tangan reva membelai rambut vano dengan tangannya, selama tinggal dengan vano tidak pernah reva melihat pria ini begitu lemah sampai sebegininya.
"A-Air" Suara vano terdengar pelan, reva mendongakkan kepalanya dan melihat kelopak mata vano sedikit demi sedikit terbuka.
"Kamu udah sadar?" Reva begitu senang,
"A-air gob-lok" Rancau vano, hanya vano sepertinya manusia yang baru saja sadar dari komanya, dan langsung saja memaki.
__ADS_1
"Iya, sabar ya" Reva meraih gelas yang berisi air putih di atas nakas. Lalu membantu vano untuk meminumnya, setelah selesai reva kembali membantu vano untuk berbaring di atas brankar.
"Aku senang, kamu udah siuman" Kata reva dan makin mengeratkan genggaman tangannya pada vano. Kali ini vano kembali sadar bahwa tangannya sedari tadi digenggam, Andai saja keadaannya tidak selemah ini pasti dia akan langsung menyentak tangan reva darinya.
Dengan gerakan pelan vano melonggarkan genggaman tangan reva, hingga terlepas. Reva hanya bisa membuang nafasnya pasrah.
"Lo gak ganti baju apa?" Sinis vano ketika melihat penampilan reva yang hanya menggunakan daster dan sendal jepit.
"Ma-Maaf tadi aku buru-buru kesininya" Jawab reva. Sedangkan vano langsung mengalihkan pandangannya malas, entah kenapa reva itu begitu menjengkelkan baginya tidak bisakah reva berdandan semestinya seorang nyonya vano mahatma.
"Sana, males gue liat lo" Usir vano sambil mengibaskan tangannya pelan di udara.
Ada rasa sakit hati yang vano torehkan di hati reva , tapi bagi reva kali ini yang penting vano senang dan reva tidak mau mengganggu ketenangan vano.
"Yaudah, aku keluar ya. Kalau ada apa-apa panggil aja ya" Kata reva.
"Hmm" Gumam vano tanpa mau melihat reva.
Hari sudah gelap, lorong rumah sakit juga sudah mulai sepi. Demi menjaga vano akhirnya reva tidur di kursi tunggu tepatnya di depan ruang rawat inap vano.
Reva tidak bisa tidur karena disana banyak sekali nyamuk yang datang dan menghisap darah reva. Langkah reva berhenti di depan pintu ruang rawat inap vano, untungnya di pintu tersebut ada celah sedikit untuk mengintip masuk
"Pules banget tidurnya" Senyum reva merekah ketika melihat vano yang sudah begitu lelap tertidur.
"Cepat sembuh ya van.." Lirih reva, walaupun vano tidak pernah menganggapnya ada tapi reva yakin suatu saat nanti vano akan menganggapnya. Kalau hari ini reva harus menangis sedih mungkin besok reva akan menangis bahagia, dan jika vano berusaha menghancurkan rumah tangga ini, reva lah yang akan selalu ada untuk menjaga rumah tangga ini. Karena baginya menikah itu hanya sekali dan reva akan mempertahankan itu.
"He! ngapain lo?!" Suara itu membuat reva menoleh.
Note : Jangan Lupa vote dan Coment, nah karena partnya gantung gitu, besok aku lanjutin lagi ya.
see you💕
__ADS_1