Sesalku

Sesalku
PART 30. TRAGEDI TAMAN


__ADS_3

Vano telah memesan salah satu restoran bintang lima untuk acara makan malam dan membeli sebuah pulau pribadi.


"Gak kebayang, Entar gue sama reva lari-lari di pinggir pantai terus ngejar vando. Bisa iri dunia sama keluarga bahagia kita" Vano menerawang langit-langit ruangannya. Vano memang sengaja membeli pulau itu untuk Reva,Vando, dan tentu saja dirinya.


Tok...Tok...


"Masuk!" Vano buru-buru memperbaiki dasinya yang tadi miring, Dan membuka laptopnya.


"Sayang, Temenin aku ngurus acara tunangan kita dong" Jerit grenda seraya berlari kecil ingin memeluk vano,


Melihat itu vano segera mengangkat satu tangannya menginterupsi grenda untuk berhenti. Grenda berhenti dan memasang tampang cemberut,


"Lo aja yang urus, gue ogah" Sarkas vano dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Ha?!Kok aku doang sih?, Kan ini tunangan kita" Grenda berteriak, Membuat vano memejamkan matanya tangannya telah terkepal dan menampilkan urat-urat.


"Keluar!" Bentak vano, Jari telunjuknya menunjuk pintu. Grenda menggeleng kekeh akan tetap mengajak vano,


"Lo budek?, Gue Bilang keluar!" Cerca vano, Tidak grenda masih tetap di tempat. Vano bangkit dari duduknya dan mendekati grenda,


"Apa mau lo? Hah?!" Tanya vano, tangannya melonggarkan dasi lalu melipat kemeja kerjanya sampai di sikut. Grenda mendekat dan menggelayutkan kedua tanggannya pada leher vano dengan begitu manja.


"Kamu temenin aku, ngurusin tunangan kita" Ucap grenda. Vano tersenyum miring, kemudian Mendekatkan wajahnya pada telinga grenda.


"Sekali nggak tetep nggak!, Ngerti?!"Bentak vano tepat di telinga grenda, Jika vano berharap grenda akan bergidik ngeri tidak untuk grenda.


Grenda menarik vano dan membenamkan kepalanya di dada bidang vano


"Apa sih kurangnya aku van?,Kamu mau apa?Harta?Perusahaan? Apa lagi van...?, Aku bakalan kasih semuanya itu buat kamu" Ucap grenda


Vano melepaskan pelukan grenda dengan sedikit kasar,


"Asal lo tau ya, gue gak butuh duit lo. Catet itu!" Bentak vano, kemudian menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari ruangannya.


Reva, Vando, Dan Hans berada di salah satu taman, Biasalah vando sedang melepas rindu pada hans karena sebulan lagi hans akan dipadati lagi oleh jadwal penerbangan.


"Hahaha Oper pa..." Teriak vando yang sedang asik-asiknya bermain bola bersama hans di taman,


Reva tersenyum melihat keceriaan putranya, Reva duduk di salah satu kursi taman bercat putih.

__ADS_1


Vano


Lagi dimana?Gue susulin nih


Senyum reva memudar ketika membaca pesan via whatsapp oleh vano, Bukannya apa-apa namun reva teringat dengan ancaman grenda yang tidak main-main.


"Huh..Air dong rev, Vando hyperaktif deh sekarang" Tutur hans sebelum meneguk habis minuman yang diberikan oleh reva.


"Hmm iya mas, liat aja tuh dia gak capek-capek " Reva tersenyum bahagia, Hans kembali terpanah melihat senyuman itu. Andai dulunya dia tidak bodoh,mungkin wajah reva lah yang setiap hari akan dia lihat sebelum bangun tidur.


Vando berlari mengejar bolanya, Dan tak sengaja kaki vando tersandung oleh batu.


"Akh.."Ringisnya, Darah segar mengucur dari lututnya. Hans dan Reva berjalan mendekati anak itu, Namun langkah keduanya terhenti ketika melihat seorang pria segera mengangkat tubuh vando.


"Vano?" Gumam reva pelan,yang masih dapat didengar oleh hans.


"Kamu ngasih tau kita disini?" Tanya hans tidak suka, Reva menggeleng.


Vano mengangkat tubuh anaknya itu, kemudian menenangkannya.


"Hiks...Hiks" Tangis vando di pundak vano.


"Mau apa lo?" Tanya vano dengan begitu sinis


"Siniin anak gue, Lo gak ber hak!" Ketus hans.


Vano seolah menulikan pendengarannya kemudian kembali mengusap-usap punggung vando. Namun,vando tetap menangis Vano melihat darah yang keluar dari lutut vando.


"Cup......cup, Anak laki gak boleh nangis"Bujuk vano dengan lembut. Hans Menarik vando dengan kasar, Membuat vano mendelik tidak suka.


Reva mengambil alih anaknya dari hans, kemudian meniup-niup luka anaknya. Sedangkan vano dan hans sama-sama sudah tersulut emosi, Vano mencengkram kerah baju hans.


"Maksud lo ngambil vando gitu aja apa?!" Bentak vano,


Hans berdecih kemudian menatap manik mata vano,


"Lo yang apa-apaan, Lo itu gak ada hak sama sekali. Dia anak gue!" Balas hans tidak mau kalah,


"Gak ada hak?,Dia itu darah daging gue. Bukan lo, dan inget dia itu anak gue bukan lo!" vano melepas cengkramannya sembari mendorong tubuh hans.

__ADS_1


"Masih ada muka lo buat ngakuin dia anak lo?,Cih....Laki-laki gak ada tanggung jawab lo, Ninggalin istri lo yang lagi hamil, Terus sekarang lo masih ngaku-ngakuin? pengecut!" Cibir Hans, Perkataan hans itu makin membuat darah dalam tubuh seorang vano mahatma mendidih. Vano membalikkan badan kemudian memukul perut hans,


Bughhhh...


"Mas Hans?!" Pekik Reva, Pikiran reva terbagi-bagi belum lagi anaknya yang menjerit kesakitan , kini Hans dan vano justru adu kekuatan.


Hans tidak tinggal diam, Dia juga ikut memukul vano. Terjadilah perkelahian di antara keduanya,


"Tunggu bentar ya sayang...". Reva mendekat kemudian menarik tangan vano, sedangkan hans ditarik oleh seorang pemuda yang ikut menonton aksi keduanya.


"Stop van..." Reva berusaha menarik vano,


"Banci lo!, Sini maju!" Vano membuang ludahnya yang bercampur dengan darah, dirinya tersenyum ketika melihat hans sudah tepar sambil memegangi wajahnya yang terluka.


"Arrrrgghhhh..."Hans mengerang kesakitan, Reva berjalan melewati vano ingin menolong hans, Dengan cepat vano menarik tangan reva kasar dari belakang.


"Kita masih ada urusan"Kata vano sambil ngos-ngosan, Nafasnya Tidak teratur, dadanya naik turun menahan emosi.


Vano mengangkat tubuh putranya dengan satu tangan, Satu lagi dia gunakan untuk menyeret reva.


"Akh...Van, Lepas, Aku mau liat keadaannya mas hans" Reva memukuli lengan kekar vano, namun tak berevek sama sekali.


"Ummah....Jangan nangis lagi ya anak papa," Bujuk vano sambil menciumi pipi gembul anaknya itu.


"Hiks...,i-iya" Vando memeluk leher vano , kemudian mencari posisi yang nyaman.


Vano menyuruh reva untuk masuk ke dalam mobilnya, Sedangkan vando masih ada di dalam pelukannya. Reva kesal dengan sikap vano yang sangat seenaknya saja, Kali ini reva tidak ingin berontak karena terlihat dari roman wajahnya dan suara vano, Sepertinya vano sedang menahan emosinya.


"Kita mau kemana van?" Tanya reva.


"Diem aja!"Cuek vano tanpa melihat sedikit pun pada reva, Inilah yang reva katakan vano berubah menjadi dingin dan cuek Hingga membuat reva sekarang takut.


NOTE : AKU NULIS CUMAN SAMPE 900 LEBIH KATA, GAK CUKUP SERIBU.


• KOMEN SEBANYAK-BANYAKNYA KALO MAU UP, DAN FOLLOW AKUN NOVEL TOON KU YAH...


• FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR SUPAYA TAU PERKEMBANGAN CERITA INI,


@Merliancy_

__ADS_1


• VOTE DAN KOMEN YUPPPPP.. .


__ADS_2