
"*Buat apa dipertahankan fi?, kita cuman menyiksa diri kita masing-masing. Dan tanpa sadar saling melukai,"
-Claudia💓-
•Pasang Lagu andmesh kayaknya enak tuh*.........
Semakin kesini sikap rafi makin berubah, caranya memperlakukannya bahkan sikap manis yang biasa rafi tunjukkan justru makin membuat claudia makin merasa bersalah.
"Sshh.." Desah claudia ketika rafi menyentuh kakinya untuk dia pijit.
"Sabar ya. Aku kan udah bilang jangan capek-capek dulu" Rafi menyentuh pipi Claudia. Semakin rafi bertingkah menis seperti ini rasa bersalah yang selama ini claudia pendam makin terkuak berusaha untuk mengungkap. Rafi adalah pria baik dan harusnya dirinya mendapat apa yang selama ini dia tunggu.
"Ka-kamu masih sayang sama lisa?" Tanya Claudia tiba-tiba. Gerakan tangan rafi memijit kakinya berhenti,
"Jangan bahas itu lagi,"
"Tapi aku mau bahas. Dan aku butuh jawaban kamu" Claudia menatap lekat manik mata hitam legam itu, Lidahnya kelu untuk mengatakan kebenaran.
"Please sayang..., Jangan bah-"
"Jawab aja!" Bentak claudia sehingga memotong ucapan rafi.
"Iya!. Aku memang masih sayang dan bahkan cinta sama dia, tapi aku bisa apa?Hm?. Aku juga udah sadar kok kalau aku punya kamu dan clara" Kata rafi dengan tulus. Claudia terisak dalam tangisnya, selama ini mereka hanya saling berpura-pura. Rafi berpura-pura mencintainya dan claudia berpura-pura merasa dicintai.
"Hiks..., Kalau aku jujur Kamu akan marah?" Rafi mendekap istrinya itu. Kemudian menggeleng
"Maaf fi.., Maaf" Claudia mengeratkan pelukannya, setelah nanti kalimat kejujuran ini terungkap saat itulah dirinya juga harus menerima jika rafi akan menceraikannya.
"Kamu gak salah sayang.."
"Aku salah fi, dulu Aku terlalu cinta dan terobsesi sama kamu fi. Lisa gak pernah menjauh dari kamu, Aku dan mama yang udah buang lisa jauh-jauh ke argentina apalagi pas tau kalau lisa sementara mengandung anak kamu. Maaf fi..." Lirih Claudia. Memori dalam kepalanya kembali terulang dengan kejadian beberapa tahun yang lalu,
Flashback on......
"Hmmmmpppmmppp-" Lisa memberontak ketika beberapa laki-laki membekap mulutnya, Tak lama lisa menjadi tak sadarkan diri akibat dosis obat bius yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Ini bayaran buat kalian. Hempasin dia jauh-jauh" Reina dan claudia tertawa penuh kemenangan,
Flashback Off...
Rafi melepas pelukannya, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hiks...Maaf" Claudia memeluk pria itu dari samping dengan erat. Rafi tidak bisa membayangkan kehidupan lisa, dan anaknya, Sebegitu teganya kah ibunya dan Claudia.
Diluar bayangan claudia, Rafi justru membalas pelukannya dan bahkan mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Ka-kamu gak marah?" Tanya claudia. Rafi lagi-lagi menggeleng,
"Aku hargain kejujuran kamu" Rafi melepas pelukannya dan meninggalkan Claudia sendirian.
Â
oo0oo
Â
Rafi menatap langit dari balkon kamar mereka. Pikirannya melayang jauh, Bagaimana keadaan lisa? Bagaimana dengan anaknya? sudah sekitar tiga hari rafi sama sekali tidak bertemu dengan claudia. Seorang anak perempuan datang memeluk kakinya,
Rafi sudah mati-matian menahan air matanya untuk tidak turun, Namun apa daya cairan bening itu akhirnya turun.
"Papa sakit? Kenapa nangis?" Clara mengusap air mata rafi yang membasahi pipinya dengan tangan mungilnya. Rafi buru-buru menghapus air matanya kasar dengan punggung tangannya,
"Papa sayang sama clara..." Rafi memeluk tubuh mungil anaknya.
Claudia tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu, Satu tangannya menyodorkan sebuah map berwarna hijau. Rafi mendongak, Menatap apa yang disodorkan oleh claudia
"Ini apa?" Tanya rafi. Claudia tersenyum miris,
"Baca aja fi.". Rafi membacanya, Claudia menggugat cerai dirinya Ke pengadilan agama. Claudia membisikkan sesuatu pada clara untuk segera menjauh,
Rafi memandang claudia yang sudah berlinang air mata, dengan tatapan tidak percaya. Apakah benar claudia ingin mereka berpisah?
__ADS_1
"Kenapa?"
"Buat apa dipertahankan fi?, kita cuman menyiksa diri kita masing-masing. Dan tanpa sadar saling melukai," Ucap claudia
Â
oo0oo
Â
"Doain vano pulang dengan selamet ya pi, Aku titip mami ya pi" Pamit vano, sebelum melakukan penerbangannya untuk malam ini.
Mahatma memeluk putranya itu, Vani yang juga ikut mengantar abangnya itu juga ikut memeluk pria itu.
"Hiks..Abang harus jaga diri, inget kata dokter" Vani memperingati kakaknya itu, Vano mencium kening adiknya itu,
"Iya bawel, hehe Titip kakak ipar ya" Kata vano. Vani mengacungkan jempolnya, Entahlah baginya kakaknya itu terlalu percaya diri .
Setelah itu vano segera pamit. Tekad yang kuat mengantarkannya kesana dengan segenggam harapan yakni memiliki reva kembali dan putranya,
Reva termenung menatap wajah anaknya yang kini tertidur begitu pulas, Baru saja elkana terang-terangan menolak vano. Dan mungkin ini adalah halangan baru lagi untuk vano,
"Kamu kalau bisa percepat pernikahannya sama hans. Papa udah suka sama dia, dan lebih pantes jadi papanya vando" Kata-kata papanya itu terngiang-ngiang di atas kepalanya seperti kaset yang tak berhenti berputar.
"Kenapa harus pergi sih van?, iiihhh kalo kamu mau berjuang tuh harusnya kamu disini di sisi aku, Bantu aku jelasin ke papa bukannya malah pergi!" Rutuk reva.
Harapan reva sisa menghitung hari, Bahkan hans, Pria itu sudah sangat siap. Reva melepas cincin lamaran hans, Reva hanya merasa tidak nyaman untuk memakainya.
NOTE : PART INI PALING PENDEK, CUMAN 700-AN KATA, PADAHAL AKU BIASA NULISNYA SAMPE 1000-AN KATA LEBIH.
•Kurang lebih 2 part lagi cerita ini bakalan tamat, So, Kalian bisa tuh mulai baca-baca karya baru aku.
follow my acount instagram @Merliancy_
Mau lanjut? Yuk...Baca Cerita baru aku dulu lah, wkwkwkkwk
__ADS_1
Dah💕
Â