Sesalku

Sesalku
PART 42. TERUNTUK KAMU, MAMA DARI ANAK-ANAKKU


__ADS_3

Dengerin pake lagu andmesh "Cinta Luar Biasa" bakal lebih kerasa deh sama part ini.


"Penantian dan perjuangan yang kamu lakukan, tidak akan pernah mengecewakanmu"


-Vano Mahatma-


"Rafi?"


"Vano?"


Kedua lelaki itu saling tunjuk, Mereka tidak sengaja bertemu setelah turun dari pesawat.


Sirat ketidaksukaan terpancar dari wajah rafi, sedangkan vano tak ambil pusing dan segera melangkah pergi.


"Pecundang!" Cibir rafi, Vano menoleh dan tersemyum miring.


"Dan gue gak peduli!". Rafi tidak melihat perubahan dalam diri pria ini, selamanya tetap akan menjadi pria arogan dan egois. Padahal rafi kira, Vano akan mempertanyakan reva dan anaknya namun nyatanya tidak sama sekali


Berbekalkan Alamat dan identitas keberadaan rumah hans di kota ini, Jika kalian bertanya sekarang vano ada dimana, sekarang vano ada di australia tepatnya kota melbourne.


Sedangkan rafi segera meluncur ke alamat yang akan dia tuju, Rafi sudah beberapa kali datang ke australia. karena selama tujuh tahun belakangan ini rafi dan istri selalu berpindah-pindah, Dan ujung-ujungnya kembali lagi ke amerika.


Flashback On...


Rafi memandang claudia yang sudah berlinang air mata, dengan tatapan tidak percaya. Apakah benar claudia ingin mereka berpisah?


"Kenapa?"


"Buat apa dipertahankan fi?, kita cuman menyiksa diri kita masing-masing. Dan tanpa sadar saling melukai," Ucap claudia


 Rafi tersenyum miring dan meraih map hijau itu, kemudian merobeknya tepat di hadapan claudia membuat claudia tercengang.


Ssrrreekkkkkkk....


"Aku gak mau" Kalimat pendek yang memberi kejelasan pada hubungan mereka. Rafi memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Ma-maksud kamu?" Claudia terbata-bata, diluar dugaan claudia, Dirinya mengira rafi akan begitu senang karena bisa terlepas dari ikatan pernikahan ini, dan mendapatkan lisa kembali.


"Belum jelas?, Aku gak mau P I S A H" Rafi menekankan bahkan mengeja setiap kata terakhirnya.


"Hiks....Ka-kamu kenapa sih, hiks.." Rafi menarik perempuan itu kedalam pelukannya. Claudia menangis sesegukan, Diluar nalarnya sekali.


"Aku bohong kalo sampe sekarang aku gak ada perasaan sama kamu, Aku gak mau pisah" Lirih rafi tepat di telinga claudia,


Claudia masih menangis, padahal beberapa jam yang lalu dirinya sudah siap untuk menjadi janda.


"Makasih udah mau jujur sayang..," Rafi mengecup pucuk kepala claudia berkali-kali. Sesuai komitmennya, Menikah hanya sekali untuk seumur hidup, Ingatlah bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral, Sulit memulainya dan jangan pernah menghancurkan apa yang begitu sulit kamu bangun.


"Udah dong, Berhenti nangisnya.." Rafi menangkup kedua pipi claudia, Menghapus air mata perempuan itu.


"Makasih" Ucap claudia dengan tulus. Rafi mengecup kedua mata perempuan itu, Turun ke pipi. Hingga tatapannya berhenti, Pada bibir berwarna pink dan ranum itu.


"Boleh?" Tanya rafi setengah berbisik, Claudia membuka matanya dan mengangguk kecil, Senyuman rafi terukir sempurna sebelum bibirnya mengecup bibir istrinya.


"Jangan disini..., Malu" Kata claudia ketika menyadari ciuman itu sudah menuntut lebih.


Rafi menjauhkan wajahnya, Dan menggaruk tengkuknya merasa canggung. Benar juga mereka masih berada di balkon rumah,

__ADS_1


"Yaudah di dalem aja ya" Rafi menarik lembut tangan istrinya itu untuk masuk, Dan melakukan hal yang sempat tertunda itu.


Tangan rafi menarik pinggang claudia, Hingga berada di posisi se intim sekarang ini. Ketika hendak mencium lagi, jari telunjuk claudia sudah menempel di bibirnya terlebih dahulu.


"Yakin Kamu gak mau tau tentang Lisa dan Anak kamu?" Claudia benar-benar masih punya hati saat itu dalam artian tidak membiarkan lisa menggembel begitu saja, dan mencari informasi tentang keberadaan lisa hingga menemukannya, bahkan perempuan itu telah bersuami dan memulai rumah tangga.


"Kamu tau?". Claudia mengangguk dan tersenyum tipis.


"Kamu ngebolehin kalo aku nemuin mereka?" . Lagi-lagi claudia mengangguk dan tidak mempermasalahkan, lagipula rafi memang masih punya hak atas anak itu.


"Makasih"


"Sama-sama"


Masih dalam posisi ini, rafi mendekatkan kepalanya ke telingan cewek itu dan berbisik.


"Lanjutin yah.." Bisik rafi, Tangannya mulai bergerayangan kemana-mana. Lisa hanya bisa pasrah,


Flashback Off....


Rafi mengecek kembali alamat dan nomor rumah yang kini tepat berada di depannya Apakah sudah sesuai, Dan setelah dipastikan akhirnya dengan keteguhan hatinya tangan rafi mulai mengetuk.


Tok....Tok....Tok....


"Wait!" Terdengar suara teriakan dari dalam sana. Suara itu pernah menemani hari-harinya sebelum semua itu pergi.


Ceklek.....


Seorang perempuan dengan pakaian rumahan, Perutnya sudah membuncit layaknya ketika claudia sedang hamil clara anak mereka.


Lisa mundur beberapa langkah ketika telah menyadari siapa pria yang berdiri di depannya ini.


"K-kamu ngapain kesini?" Tanya lisa matanya tidak berkedip ketika berpapasan dengan netra hitam legam pria itu.


"Aku mau jelasin sem-"


"Nggak ada yang perlu dijelaskan, Kamu mendingan pergi. Jangan ganggu kehidupan aku, Kamu belum puas setelah ngebuang aku dulu? Kamu belum puas? Hah!?" Tanya Lisa menggebu-gebu. Justru inilah yang ingin rafi jelaskan, Rafi tidak ingin permasalahan ini makin mendarah daging dan membuatnya bersalah sepanjang hidupnya.


Lisa hendak menutup pintu, Namun rafi buru-buru mencegatnya dan membiarkan kakinya terjepit pintu.


"Akh.." Rintih rafi.


"Pergi fi!" bentak lisa dan masih berusaha menutup pintunya tidak mengizinkan pria itu untuk masuk.


"Dengerin a-aku lis, Aku mau jelasin semuanya" Balas rafi. Lisa menghela nafasnya, Matanya terpejam hingga setetes air mata turun dari pelupuk matanya.


"Nggak ada yang perlu kamu jelasin fi, Semua udah jelas"


"Bagi kamu!, Nggak buat aku!" Bentak rafi. Sebenarnya rafi bisa mendorong pintu ini dengan kasar namun mengingat kondisi lisa yang sedang hamil dan berada di belakang pintu membuatnya tak ingin berbuat kasar.


Lisa akhirnya menyerah dan membiarkan rafi untuk masuk, Rafi berjalan tertatih rasanya masih sedikit sakit.


"Mom? Who is?" Seorang anak perempuan berkuncir dua datang, Lisa memalingkan wajahnya. Sedangkan mata rafi sudah berkaca-kaca,


"i-ini Anak kita?" Tanya rafi pada lisa, Lisa mengangguk Sambil menghapus air matanya dengan kasar.


Rafi berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan anak ini, dan langsung memeluk tubuh kecilnya tanpa banyak omong.

__ADS_1


Tangan anak itu menepuk-nepuk punggung rafi, Ada rasa yang tak pernah dia dapatkan dari papanya.


"Kamu mau ngejelasin atau nggak sih?" Sinis lisa. Rafi kembali duduk di sofa, menatap anak itu dan lisa bergantian, Kemudian menceritakan hal yang sebenarnya.


Berbeda dengan vano yang kini telah berada di sebuah kamar hotel berbintang, Vano masih mengingat keadaannya yang sedang berada dalam kondisi yang jauh dari kata sehat.


"Aaaarrrgggggghhhhh...," Vano mengacak rambutnya frustasi. Waktunya semakin sedikit, Dan vano sangat benci dengan keadaannya ini,Mengapa disaat seperti ini dirinya harus semenderita ini.


"Gue capek, Lelah, letih.., Ngeluhh mulu gue. Kalo gini terus kapan gue bisa nikah sama reva coba?" Vano tidak suka dengan tubuhnya yang cepat kelelahan, dan rasa nyeri yang kadang kala meruntuknya.


Dito


Pelaku penusukan itu sudah mengaku bos, Dalangnya adalah bu grenda, dan bu grenda sedang dicari bos..


Senyuman vano merekah, setidaknya kasus penusukan itu sedikit demi sedikit bisa terbongkar.


Tuttttt.....tutttt...tutt..


Calon istri💕


Vano makin salah tingkah ketika melihat nama kontak di layar ponselnya itu, Tak lain dan tak bukan itu adalah nama kontaknya untuk reva. vano menggeser panel hijau itu,


"Papa!?" Untung saja vano belum menempelkannya ke telinga, mungkin saja gendang telinganya bisa langsung pecah setelah mendengar sambutan anaknya lewat telfon itu.


"Halo jagoan, Ngapain?, Mama dijagain kan?"


" iya dong pa. Aku lagi main sama ojip pa"


"Kasih mama dong telfonnya sayang" Pintah vano, Vando menoleh pada mamanya yang berada tepat di sampingnya, Reva sedikit gugup tapi pada akhirnya menerima sodoran telfon itu.


"A-apa?"


"Huh..., Jadi semangat lagi deh setelah denger suara mama" Goda vano, Tapi benar rasa letihnya seketika hilang.


"A-apaan sih, Dahlah.. Bukan aku yang mau ngomong, tapi anak kamu tuh"


"Dia mau ngomong apa emang?"


"Kangen sama papanya" Ucap reva.


"Kamu?" Vano perlahan mengubah cara bicaranya yang biasanya 'Gue-lo' menjadi 'Aku-kamu',


"Nggak lah, Udah ah aku mau kerja"


"Eh eh bentar" vano membulatkan bola matanya, Reva tidak bersuara lagi dan menunggu ucapan vano selanjutnya.


"Aku harap kamu dengar ini, Teruntuk kamu mama dari anak-anakku. Terimakasih, sudah mau menunggu dan memberi kesempatan lagi pada Baj*ngan kayak aku ini. Terimakasih sudah mau mengandung dan melahirkan anak kita, Terimakasih sudah mau merelakan tangan mulusmu untuk mengurus anak kita. Aku menyesal, Dan aku minta maaf karena hanya bisa dikenang sebagai seorang pengecut. Semua harta aku pun gak bisa ngebayar semua itu, Semua kata maaf ku pun gak akan bisa balikin semua itu. Tunggu aku ya," Setelah mengatakan itu vano segera menutup telfonnya dan memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.


Sedangkan reva menggigit bibirnya saking gregetnya untuk menahan teriakan, Tidak menyangka kata-kata itu akan terlontar dari mulut seorang vano mahatma lelaki arogan nan egois itu.


NOTE :


• AKU BAPER, PADAHAL AKU YANG NULIS😫😫😫. AKU BAPER BANG VANO HUAAAAAAAAAAAA😫😫😫😫👌


• Yuk kepoin authornya lewat instagram pribadinya @Merliancy_


• 🙉🙉duh jadi gak enak nih mau ngomongnya, Kalo cerita ini aku bukukan kalian mau b-beli nggak? hehe baru rencana sih, Eum...nanti kalo jadi di versi cetaknya bakal lebih banyak part-part yang nggak ada disini. tapi baru rencana sih, Soalnya aku nulis cuman karena iseng dan gabut karena gak masuk sekolah kan ya,

__ADS_1


•Aku belom kenalan ya?, Hai semua nama aku merliancy sering disapa Eci (Gak nyambung dah thor😈), umur aku udah masuk 16 tahun, dan sekarang udah mau naik kelas 3 SMA aja. Asal aku dari Sulawesi Selatan tepatnya daerah toraja. Salam kenal ya💕💕💕💕


__ADS_2