Sesalku

Sesalku
PART 31. HARI BAHAGIA VANO


__ADS_3

Vano membawa Vando ke rumah sakit untuk cepat ditangani, Vano tidak ingin lutut anaknya infeksi karena luka kecil.


"Lukanya sebentar lagi kering kok pak, bu, Yang penting sering di olesin salep nya" Tutur dokter itu setelah membersihkan luka vando, kemudian menutupnya dengan perban.


"Gak dirawat inap aja dok? saya gak mau anak saya kenapa-napa"Ucap vano, Padahal luka pada lutut vando hanyalah semacam luka gores.


Reva menyenggol lengan vano,


"Van...,itu cuman luka kecil gak perlu di rawat inap" Bisik reva pada vano,


"Benar kata ibu, Lukanya cuman luka gores doang kok. Dua tiga hari juga bakalan kering kok pak" Kata dokter itu meyakinkan vano yang masih begitu khawatir.


"Dokter menjamin itu? Kalo besok lutut anak saya infeksi? Terus busuk? Dan harus di amputasi.Dokter berani tanggung jawab?" Tekan vano, Pemikirannya sampai kemana-mana karena begitu khawatir.


Wajah dokter tadi menjadi tegang, Siapa yang tidak tahu seorang vano mahatma. Rumah sakit ini bisa saja dia beli, tampangnya sangar dan tidak menerima penolakan.


"Makasih dok, nanti kami tebus salep nya" Ujar reva karena Melihat wajah dokter tadi mulai berubah, Lalu menarik vano yang sedang menggendong vando untuk keluar dari ruang periksa.


"Rev.., Tampang lo itu kayak gak khawatir sama sekali tau gak!" Sentak vano, reva memutar bola matanya malas, vano terlalu parno baginya.


"Ck, Vando aja pernah jatoh dari sepeda terus kepalanya bocor gak papa tuh. Aku cuman bawa dia ke puskesmas, Udah deh gak usah parnoan" Cibir reva, Tangannya berusaha mengambil alih gendongan vando namun vano menepis tangan reva pelan.


"Apa Puskesmas?!, Lo waras gak sih, Kalo vando geger otak gimana?!, Gue gak mau tau sekarangan kita harus Rontgen kepala vando" Titah vano, rasa menyesal timbul dalam hati reva karena telah menceritakan itu dan sekarang dirinya harus di tarik dana sini oleh vano, hanya untuk memeriksakan vando.


"Dasar Parnoan!" Gumam reva,


Setelah selesai memeriksakan vando, vano akhirnya bisa bernafas lega.Ternyata putranya tidak apa-apa dan kini vando juga telah kembali tersenyum dan tertawa riang.


"Ma, Ayo makan es cream" Ajak vando pada sang mama.


"Nggak boleh, nanti batuk" Tolak reva kemudian memasuki apotik untuk membeli salep yang tadi dituliskan dokter pada secarik kertas resep dokter.


Vano dan Vando Menunggu reva di kursi tunggu, Tak lama reva kembali dengan wajah cemberut sambil menghentak-hentakkan kakinya jengkel.


"Kenapa? Gak ada?" Tanya vano sembari bangkit berdiri menggendong putranya.


"Ini tuh gara-gara kamu ya, Pakek acara bawa ke Rumah Sakit segala lagi. Salep nya mahal tau, Masa secuil gini doang lima puluh ribu, Gak ditaroin salep juga bakalan kering" Cerca reva , Sambil mempersalahkan vano yang membawanya ke Rumah Sakit.


Vano berdecak, Jadi reva marah-marah cuman karena harga salep yang mencapai lima puluh ribu, Vano kira harga salep nya lima puluh juta.

__ADS_1


"Kirain, lima puluh juta gitu, Dahlah...,nanti gue ganti duitnya. Tenang aja" Ucap vano menenangkan reva.


"Om,Ma, Aku laper. Jangan ngobrol mulu" Sungut anak itu, Vano tersenyum dan mengangguk.


"Yaudah ayo, Untung uang mama mau diganti sama om vano jadi selamet deh duit mama" Ujar reva lalu berjalan mendahului keduanya.


"Mama ngomong apa sih om?" Tanya vando


"Hehe Mama bilang, Kita cocok jadi keluarga. Dah, ayo kita makannnnnn" Vano mempercepat langkahnya untuk mengimbangi langkah reva.


Keduanya sampai di sebuah warung, Vano mengernyit jijik dan tidak suka.


"Yakin mau makan disini?" Tanya Vano pada reva yang begitu antusias membaca setiap menu yang terdaftar pada baliho di depan warung


"He'em. Kalo kamu nggak mau, yaudah gih sana. Kita bisa kok tanpa kamu" Usir reva, Tanpa menoleh sedikit pun pada vano. Dirinya tau kalau vano itu paling anti dengan yang namanya warung dan semacamnya.


"iya Gue mau kok". Keduanya masuk ke dalam, Dan duduk di kursi kayu panjang.


Vano buru-buru menarik habis tissue yang berada dalam kotak, Lalu mengelap kursi dan meja yang akan di gunakan oleh vando, reva, dan dirinya tentunya.


"Lebay deh van.." Sinis reva. Vano tidak mau mendengarkan reva, Setelah nampak bersih vano akhirnya mempersilahkan untuk duduk.


Vando mengangguk saja, Walaupun tidak mengerti. Vano tersenyum kemudian mengacak rambut vando.


"Mas,Mbak,Mau pesan apa?" Tanya seorang bapak-bapak. Di tangannya terdapat baskom berisi pentolan bulat-bulat, Yang nampak tidak higenis. Belum lagi keringat yang turun dari pelipisnya,


"Rev, Mending jangan deh. Kalo lo lagi dalam rangka penghematan isi dompet, gak usah nyiksa gue sama vando disini. Ayo ke restoran aja ntar gue yang bayar" Mohon vano sambil berbisik.


Reva tidak ambil pusing dengan vano,


"Nasi sama pecel lele satu porsi aja. Kamu van? Mau apa nggak?" Tanya reva,


Vano meneguk ludahnya kasar, Kemudian mengangguk.


"Samain aja"


"Semuanya jadi dua porsi ya pak" Ucap reva yang diangguki oleh bapak itu, kemudian melangkah pergi membuatkan pesanan.


Vando asik bermain game dari ponsel vano, sedangkan vano membayangkan kesanggupannya untuk menelan makanan dari tempat ini.

__ADS_1


"Takut?Jijik?,Gengsi? Atau gimana?. Aku sama vando Udah biasa kok di sini" Cibir reva ketika melihat raut khawatir vano .


Vano berdeham kemudian menegakkan badannya dan memukul pelan dadanya bangga.


"Apa?Takut?Jijik?, Gak ada itu di kamus gue mah..., Gue aja makan uler Berani apalagi ini cuman lele, kecil mah itu!" Ujar vano, Padahal melihat ular saja vano berasa mau pingsan apalagi memakannya.


"O yah?, Aku tau kok kamu itu jijik makan di tempat kayak gini". vano tidak menyahuti reva kembali, Pasalnya memang benar yang di katakan reva kalau dirinya memang jijik.


Makanan datang, dua porsi dalam ukuran sedang. Reva mengucapkan terima kasih dan tersenyum ramah.


"Kok cuman dua sih rev?, Kita kan tiga orang?" Tanya vano sambil menatap reva dengan heran.


"Palingan ni anak ntar sisa, Kalo dikasih seporsi. Udah ah jangan protes dan nanyak mulu, Buruan makan"Jawab reva, Tangannya sesekali menyuapi vando yang masih terfokus pada gadget.


Tanpa sadar vano tersenyum akan hal itu, Reva memang memilik jiwa keibuan, Penyayang, Dan lembut. Sangat sederhana dan tidak banyak menuntut seperti wanita pada umumnya, Biasanya perempuan akan menolak makan di tempat ini tapi reva berbeda.


"Malah bengong. A' Buka mulutnya" Titah reva, Vano membuka mulutnya, dengan gerakan menyuapi reva langsung menyuapi vano langsung dari tangannya.


"Vando lagi ma," Kata vando tidak mau kalah, Reva kemudian menyuapi vando lalu dirinya.


Vano mengunyah makanan yang di suapkan reva, Ada rasa tidak menyangka dalam dirinya .Andai saja tadi ada yang memotret kejadian langka itu pasti vano akan membayar hasil jepretannya seharga satu milyar kalau bisa.


"Enak" Kata vano pelan,


"Tuh kan, Makanya Gak usah Sok-sok masuk resto. Makanannya dikit doang, Gak kenyang tapi mahal"Cibir reva. Vano mangut-mangut kemudian mulai memakan makanannya.


"Hehe suapin lagi dong ma"Vano tertawa receh, yang kemudian di balas oleh pelototan tajam reva.


NOTE : PART INI KHUSUS REVA DAN VANO YA...,💕


•JADI AKU UDAH TETAPIN, BAKALAN UPDATE TIAP PAGI DOANG.


•KOMENTAR NYA DITINGGALIN YAWWW.


•FOLLOW AKUN NOVELTOON KU INI YA, HEHE MASA BANYAK YANG BACA TAPI DIKIT YANG FOLLOW. SALING TUKAR LAH YA


•FOLLOW JUGA AKUN INSTAGRAM AUTHOR, KALO ADA YANG MAU NANYAK SOAL GIMANA CARA DAPET IDE, ATAU KEPENULISAN GITU BISA dm AKU KOK DI INSTAGRAM.


@Merliancy_

__ADS_1


•Part nya ringan gak banyak konfliknya juga, aku suka. Mau part ginian lagi gak?


__ADS_2