Sesalku

Sesalku
PART 40. BERSAMAMU LEBIH BAIK


__ADS_3

"Berjuang sama-sama ya,"


-Vano Mahatma-


Reva sudah kembali tinggal dengan kedua orangtuanya, Bahkan Elkana merasa menyesal telah mempersalahkan anaknya dan bahkan lebih memilih vano untuk dipercayai.


"Erlan kamu gak ke sekolah?" Tanya reva pada cowok berperawakan tinggi, dan berkumis tipis ala anak SMA. Namanya erlan, Adik angkat reva, yang diangkat oleh kedua orang tua reva ketika sudah kehilangan reva dan pupus harapan untuk menemukannya.


"Hehe hari ini aku bolos mbak," Jawabnya sambil masih fokus dengan game pada ponselnya bersama vando di sampingnya.


"Ckck Bandel banget sih" Reva menjadi gemas sendiri dan mencubit pipi erlan.


Erlan menyengir lebar, Kalian tau penyebabnya mengapa erlan tidak ke sekolah?, Ya karena masih patah hati setelah diputus oleh pacarnya yang bernama alea.


Reva memperhatikan vando dan erlan yang asik bermain, Erlan pun dengan sabarnya mengajari vando cara bermain yang benar.


"Rambut kamu udah panjang nih lan," Ujar reva sambil menjambak pelan rambut adiknya itu.


"Supaya tambah ganteng gitu mbak" Jawab erlan sambil menyisir rambutnya ke belakang dan menaikkan alisnya,


"Aku juga mau kayak bang erlan" Kata vando kemudian mengikuti gaya erlan.


"Ganteng ndasmu, Itu udah kayak singa. Pokoknya cukur, vando juga jangan ikut-ikutan ntar kepala kamu jadi sarang burung loh!" peringat reva, Vando justru tertawa kecil bersama dengan erlan.


"Udah cocok lu jadi ketua geng di skolahan gue ndo.."Ujar erlan. Vando memukul dadanya pelan seraya merasa bangga,


"Assalamualaikum.." Sapa seorang pria dari depan pintu. Dan dia adalah hans, Reva hanya tersenyum


"Walaikumsalam. Dari mana mas?" Tanya reva.


"Dari bandara. Gimana keadaan kamu dan vando? Baik kan?". Reva mengangguk, Erlan dan vando segera menjauh menuju kolam renang.


Hans duduk di sofa bersama dengan reva. Kedua orangtua reva pasti sedang beristirahat, Hans memberanikan diri menyentuh tangan reva yang sudah sangat indah karena di jari manisnya sudah melingkar cincin nan indah pemberiannya.


"Kamu cantik". Reva hanya tersenyum, namun seketika tersadar ketika belum menyugukan apa-apa.


"Aku bikin minuman dulu ya" Ujar reva dan segera bergegas ke arah dapur. Sepeninggal reva, hans masih tidak percaya akan memiliki reva kembali.


Tut....Tut.... bunyi dering ponsel hans membuatnya merogoh saku, dan segera menggeser panel hijau pada layarnya .


"Halo?"


"............"


"i-iya sayang, Kamu bisa kan chek up sendiri?, aku masih ada urusan disini soalnya" Hans memelankan suaranya.


"..............."


"Makasih sayang, Kamu baik-baik ya sama Dedek bayi Sama nana juga ya"

__ADS_1


"..........."


"Oke.Sayang"


Hans menghela nafasnya legah, pas sekali setelaha menutup telfonnya reva sudah datang membawa minuman untuknya.


"Telfon dari siapa mas?" Tanya reva.


"Dari bandara" Alibi hans.


Erlan tersenyum miring, Dirinya bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti maksud percakapan orang dewasa. Sepertinya kakaknya itu telah salah memilih pria, Erlan tidak sengaja mendengarkan percakapan hans melalui via telfon, Dan bisa dia simpulkan Ada yang lain di belakang hans.


"Bang erlan liat apa sih?" Tanya vando tiba-tiba membuat hans dan reva menoleh. Hans memasang tatapan sinis ketika melihat anak itu, Jangan sampai anak itu benar-benar menguping.


Erlan meneguk ludahnya dengan susah payah, Apalagi ketika mendapat tatapan sinis dari hans.


"Kalian udah selesai renangnya?" Tanya reva


"i-iya mbak. ini mau ganti baju, iya nggak van?" . Vando mengangguk tanda setuju, keduanya segera melangkah naik ke atas kamar.


Hans tidak boleh tinggal diam, Anak itu tidak boleh dibiarkan. Jangan sampai semua rencananya hancur lebur hanya karena anak itu.


oo0oo


Elkana sedang menemani cucunya bermain kelinci di halaman depan. Reva baru saja pulang bekerja, dirinya juga sekarang sudah mengurus perusahaan papanya kembali. Hingga sebuah mobil pajero maroon terparkir di depan halaman,


Vano turun dari mobilnya dan membuka lebar tangannya, meminta pelukan. Vando hendak bergerak untuk memeluk Papanya namun elkana justru segera menahannya dengan cara menggendong cucunya itu.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya elkana, mantan mertuanya yang memasang tampang tak bersahabat.


"Mau ketemu anak saya" Jawab vano menantang. Dirinya tak akan gentar memperjuangkan anaknya dan reva.


"Mimpi!, Jangan harap kamu bisa nemuin mereka lagi!" Elkana segera menggendong cucunya masuk.


"Kakek, aku mau ketemu papa..." Rengek vando yang tak digubris elkana.


"Dia hak saya" Ucap vano. Elkana menoleh dan tersenyum miring,


"Masih ada muka kamu dateng kesini? setelah apa yang kamu lakuin di masa lalu? sungguh Tidak tau malu" Cibir elkana.


Vano hanya ingin memeluk anaknya sebelum dirinya pergi,


"Saya akan pergi. Tapi setelah saya bicara


sama reva dan anak saya" Ucap vano,


"Kenapa saya harus ikutin perkata kamu? ada alasan?" Tanya elkana meremehkan.


"Setelah ini saya akan berhenti menemui cucu dan anak bapak. Saya janji," Tak ada pilihan lain, dirinya sangat kinal dengan elkana seorang pria yang butuh jaminan.

__ADS_1


"Baik" Elkana akhirnya mengiyakan.


Disinilah mereka bertiga sekarang, di sebuah taman. Vano menggendong vando, dan reva menyusul dari belakang.


"Kamu mau ngomong apa van?" Tanya reva.


"Jaga vando ya selama gue pergi, Gue mohon" Ujar vano. Reva mengernyit tidak mengerti


"Kamu mau kemana?," Reva sedikit kecewa. Benar-benar vano ingin melepasnya,


"Kamu nyerah?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir reva.


"gue mau pergi buat perjuangin lo dan vando. Gak ada kata nyerah dalam hidup gue rev" Vano menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik reva.


"Gak akan bisa van, ak-" Ucapan reva berhenti ketika jari telunjuk vano membungkam bibirnya.


"Gue tau ini gak mudah. Tapi please lo mau kan kasih satu kesempatan lagi buat gue? Lo mau kan dukung gue dari belakang?"


Reva mengangguk, Vano segera menarik perempuan itu masuk ke dalam pelukannya


"Makasih" Kata vano tiba-tiba


"Buat apa?


"Buat kesempatannya, makasih juga udah ngajarin gue artinya nyesel, dan gimana caranya berjuang buat orang yang kita sayang" Ucap vano dengan begitu tulus, Hari itu vano harus pamit pada kedua Penyemangatnya, bahwa dirinya tidak akan ada di sisi mereka beberapa hari dan bahkan minggu ini.


oo0oo


"Van..Kamu gak boleh kemana-mana, Inget kondisi kamu!" Bentak mahatma ketika melihat anaknya itu sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Aku udah baik-baik aja pi. dan aku mau berjuang buat Anak dan Istri aku pi" Jawab vano dengan lantang.


"Anak? Istri? Berjuang?, Kamu gila ya."


"Terserah apa kata papi, Kalo papi jadi aku, apa yang bakal papi lakuin kalo mami dipisahin sama papi? Papi bakal berjuang kan? Sama kayak aku pi" Ucap vano panjang dan lebar. Malam ini vano akan melakukan penerbangan ke luar negeri, Tak lain dan tak bukan adalah untuk memperjuangkan reva.


Mahatma bungkam, Ada rasa haru dalam dirinya namun rasa khawatir juga menghantuinya. Kondisi putranya itu masih terbilang lemah untuk melakukan perjalanan jauh apalagi luar negeri.


NOTE


• BEBERAPA PART MENUJU ENDING


•ADA YANG GREGET? GAK YA? WKWKKW


• AKU UDAH BIKIN ENDINGNYA, DAN AKU KASIH BOCORAN KALO ENDINGNYA GAK KAYAK YANG KALIAN PIKIRIN, INI JAUH BANGET DARI KEINGINAN KALIAN TAPI AKU UDAH MIKIRIN INI MATENG-MATENG.


•Follow instagram ku @Merliancy_


• Dahhhhhh💕🙃 Salam dari Emaknya vano dan reva mmmuahhhh

__ADS_1


__ADS_2