
"Kamu kenapa sih fi?, Apa sih kurangnya aku buat kamu!" Tuding claudia dengan jari telunjuknya ketika melihat rafi pulang dengan keadaan mabuk lagi.
Rafi ambruk di sofa, Kepalanya begitu pusing dan tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Lisa..." Tanpa sadar rafi mengigau nama wanita lain, di depan istrinya sendiri.
Claudia bungkam, air matanya kembali turun. Setelah sekian lama mereka menikah rafi masih menyimpan rasa pada perempuan itu.
"Fi.., hiks.. kapan kamu bisa nerima aku?" Parau Claudia, badannya merosot ke lantai.
Rafi bangkit dari posisi tengkurapnya lalu menangkup wajah claudia, dengan kedua tangannya.
"Lisa, aku kangen sama kamu"Rafi memeluk tubuh claudia, dan membayangkan bahwa claudia adalah lisa.
Claudia melepas pelukan rafi, kemudian menggoncangkan tubuh rafi.
"Sadar fi, ini aku claudia istri kamu!" Bentak claudia tidak terima.
"Lisa..."Lirih rafi,
Claudia tersenyum miring, punggung tangannya mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.
"Brengsek kamu fi, Tapi tenang aja lisa kamu itu aman kok di tangan aku"
Mereka tidak memikirkan, Sepasang mata yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka berdua.
"Mama sama papa berantem lagi, Clara takut..." Gumam anak itu, Jiwanya terganggu setiap kali melihat dan bahkan mendengar kedua orang tuanya adu mulut.
Dengan begitu terpaksa akhirnya vano mau ikut berjalan-jalan dengan Grenda. Sedari tadi vano hanya berjalan dengan satu tangan di dalam saku dan satunya lagi untuk memegang ponselnya.
"Sayang..., ke cave yuk!" Ajak Grenda, Tangannya menarik lengan vano dari taman itu.
"Stop!" Vano mengangkat tangannya menyuruh grenda diam.
Grenda menghentikan langkahnya dan menunggu vano,
"Pertama, lepasin tangan gue"Vano menghempas kasar tangan grenda dari lengannya "Kedua,Jangan manja gue gak suka!" Sengit vano "Ketiga,berhenti manggil gue sayang" Peringat vano.
Grenda bersedekap dada kemudian memutar bola matanya malas.
"Ih, gak so sweat ah" Kata grenda,
"Yaudah. Sono ngave sendiri, ogah gue!"Tolak vano.
Akhirnya grenda memilih mengiyakan, Mereka berjalan bersisihan memasuki sebuah Cave bernuansa alam, yang terletak di sisi jalan dekat dengan taman yang mereka tempati barusan berjalan-jalan.
Ting.....
Bunyi lonceng di depan pintu, menandakan ada pelanggan yang masuk. Reva yang duduk di kursi kasir menoleh ke arah pintu,
"Vano?,Ngapain dia kesini?" Batin reva, Tak ingin ambil pusing reva segera mengalihkan pandangannya menuju buku pemasukan.
Sebenarnya vano agak terkejut, Berbagai pertanyaan muncul di benaknya Apakah reva bekerja sampingan sebagai penjaga kasir?, atau ini adalah cave miliknya?.
"Duduk sini sayang.." Grenda mendudukkan vano, Lalu duduk di kursi tepatnya di depan vano. Posisi mereka berhadap-hadapan, Cave juga masih lumayan sepi mungkin karena masih terlalu pagi
__ADS_1
Karena semua karyawan reva nampak sibuk di dapur, Akhirnya reva sendiri lah yang melayani beberapa pelanggannya.
"Sayang, kamu aja ya yang pesen. Aku ke toilet bentar" Pamit Grenda, Vano hanya mengangguk dan kembali fokus dengan ponselnya.
Dengan rasa ogah-ogahan, akhirnya reva menghampiri meja vano dan pasangannya tadi. Di tangan reva sudah siap Pulpen dan kertas untuk mencatat pesanan,
"Mau pesan apa pak?" Tanya reva dengan begitu formal.
Vano mendongak dan mendapati reva yang sudah siap mencatat pesanannya.
"Kenapa tadi langsung tutup Pintu?"Bukannya menyebutkan pesanannya, vano justru bertanya yang lain.
Reva mendengus kesal.
"Pesanannya pak?" Tanya reva lagi.
"Rev?,Gimana keadaan lo? Dan an-" Ucapan vano terhenti, ketika suara grenda yang begitu melengking terdengar.
"Sayang..." Panggilnya dengan begitu manja.
Vano mengepalkan tangannya, Emosinya sudah berada di ubun-ubun menghadapi sikap manja grenda.
"Pak,Bu, Mau pesan apa?" Reva mengalihkannya ke pertanyaan yang lain, dan tidak mau melihat vano lagi.
"Aku pesan Pasta aja sama Orange Jus. Kamu sayang?" Tanya grenda,
" Macha latte aja" Ucap vano
Setelah mencatat pesanan vano dan wanita itu, reva pamit undur diri dan berjalan ke arah dapur untuk memberikannya pada koki.
Dari jarak ini vano bisa melihat reva yang begitu sibuk di meja kasir. Reva yang merasa di tatap langsung membalas tatapan vano dari sana dengan tatapan tak suka.
Reva kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Sayang, Aku bayar dulu ya" Grenda yang hendak berdiri, ditahan oleh vano.
"Ja-Jangan, eh maksud gue biar gue aja yang bayar" Ucap vano,
Grenda merasa sangat gemas dengan vano, Tangannya mencubit pipi vano.
"Aaaa So sweat" Rengek grenda.
Vano menghempas tangan grenda dari pipinya, Kakinya melangkah mendekati meja kasir.
"Pasta, orange jus, Macha latte, berapa mbak?" Tanya vano, yang di akhiri dengan cekikikan.
"Delapan puluh ribu pak," Jawab reva setenang mungkin. Vano menyodorkan uang pecahan seratus ribu pada reva.
"Lo ngehindar rev?, Atau lo takut?" Kata vano berusaha memancing-mancing reva.
"Apa katanya? Takut? Nggak lah" Batin reva menjerit.
"Ini kembaliannya pak" Reva menyodorkan kembaliannya pada vano.
Vano tersenyum miring.
__ADS_1
"Kenapa ngehindar?,Jawab gue!" Bentak vano
Reva menunjuk pintu keluar untuk vano, Sedangkan vano merasa di rendahkan baru kali ini dirinya di usir.
"Lo ngusir?, bahkan cave lo ini pun gue bakal beli. Lo takut sama gue?" Cukup kesabaran vano sudah tidak bisa lagi terkontrol.
"Saya Tidak pernah berencana menjual cave saya, Dan satu lagi pak, Saya tidak takut dengan anda" Sengit reva, Sebelum air matanya turun lebih baik reva segera menghindar dari vano.
Vano seolah tidak percaya, Apa itu benar-benar adalah reva?. Vano mengaku salah telah membentak dan bahkan merendahkan usaha cave reva.
Grenda menatap anak itu dengan tatapan marah dan benci, Bagaimana tidak, sekarang sepatu barunya menjadi lecet gegara terkena tendangan bola dari anak itu.
"Iiiihhhh Nakal banget sih!" Grenda menghampiri anak lelaki yang nampak songong itu.
"Yaudah sih, Sisa bersihin aja kali tan.."Sewot vando sambil berkacak pinggang, seolah baru saja tidak melakukan apa-apa.
"Kurang Ajar!" Tangan grenda terangkat, memberi isyarat akan segera memukul anak songong ini. Namun sebelum itu terjadi, Vano sudah menahan tangan grenda.
"Sadar gak sih lo, Dia masih kecil" Cekal vano,
"Dia udah bikin sepatu aku lecet!" Bela grenda pada dirinya sendiri.
Vano memijat pelipisnya, Hanya karena sepatu grenda sampai mau menganiaya anak kecil.
"Sifat lo itu kekanak kanakan banget, Gue gak suka!" Bentak vano, Kemudian beralih untuk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.
"Loh..., Om kan yang waktu itu," Tebak vando dengan begitu sumringah.
Vano tersenyum lalu mengacak rambut lebat vando.
"Lain kali hati-hati ya mainnya," Peringat vano.
Vando mengangguk setuju dengan saran vano.
"Udah yuk sayang, Aku capek nih berdiri terus" Grenda menarik-narik lengan vano untuk berdiri dan segera pergi.
Vano bangkit berdiri, Ada rasa berat untuk meninggalkan anak itu. Rasa penasarannya tak berkurang sama sekali, Dan entah kenapa lubuk hatinya menghangat ketika melihat senyuman vando.
"Sebenarnya kamu itu siapa sih van?" Batin vano,
Note : • PENDEK? AUTHOR NTAR MALEM UPDATE KOK. JADI SABAR, DAN JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENTAR PART KALI INI YA?.
•COBA TEBAK, CERITA INI AKAN TAMAT DI PART BERAPA?
•MAU HAPPY ENDING? ATAU SAD ENDING
(AUTHOR SIH LEBIH KE SAD ENDING😿😿)
•HAPPY ENDING? \= ALURNYA BAKAL LEBIH RINGAN, DAN CEPET SELESAI ALIAS TAMAT NYA DEKET LAGI.
•SAD ENDING? \= ALURNYA AKAN RUMIT BANGET, DAN TAMATNYA MASIH LAMA. KARENA AKU BAKALAN NAMATIN KISAHNYA RAFI & CLAUDIA, VANO& REVA, DAN SATU LAGI........HANS& REVA.
•DIPILIH YA,CARANYA KOMENTAR AJA.
__ADS_1
•JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR TER UWUWW💕 (ALAY DEH...)
@Merliancy