Sesalku

Sesalku
PART 43. AKU PERGI


__ADS_3

Hari berganti hari, Malam berganti menjadi siang. Vano sudah mencari kemana-mana, Bahkan karena terlalu kelelahan, kondisinya menjadi down lagi dan harus dirawat di rumah sakit dan menjalani proses cuci darah yang dilakukan selama berjam-jam.


"Gue benci diri gue sendiri, Gue pengen nyerah.." Batin vano. Ingatannya kembali ketika pertama kali bertemu dengan anaknya, Ketika dirinya menyerah maka vano juga harus merelakan reva bersama dengan orang lain dan vando memiliki papa lain.


"Gue gak boleh nyerah. Gue udah sampe sejauh ini, Kalaupun gue mati setelah ini rasa cinta dan sayang gue udah banyak buat gue buktiin ke reva dan vando" Tegas vano. Vano segera mengambil jaketnya dan melangkah pergi keluar dari hotel.


Harapan vano tersisa hari ini, Tak terasa sekali vano sudah berada di sini selama hampir satu minggu lebih tanpa hasil apa-apa. Vano hampir saja menyerah ketika mengecek kalender, Dan besok adalah hari akad reva dan hans. Vano berjanji bahwa malam ini akan membawa perempuan itu ke indonesia,


"Demi vando, demi reva, Gue gak boleh nyerah" Vano melewatkan makan siangnya. Mobil vano tidak bisa memasuki kompleks perumahan itu, mengharuskannya berjalan kaki.


"Akh.." Vano menekan bekas operasinya, ketika merasakan sakit yang luar biasa ketika melangkah. Vano tidak diperbolehkan berjalan normal terlebih dahulu, yang mengharuskannya berjalan tertatih.


Alamat itu menunjuk ke sebuah rumah bercat putih, Tepat di depan halaman rumah itu seorang anak perempuan tengah bermain sepeda mengingatkan vano akan anaknya.


"Who you?" Sebuah suara mengagetkannya dari belakang. Ketika berbalik badan vano menemukan rafi,


"Lo lagi"


"Lo lagi"


Keduanya kembali berucap secara bersamaan, Dan saling tuding dengan jari telunjuk. Vano tidak habis pikir akan dipertemukan lagi dengan rafi, Apakah dunia ini sangat sempit?.


"Lo ngapain disini? !" Sinis rafi sambil mendahului langkah vano dan menggendong anaknya yaitu Aina.


"Gue yang harusnya nanya, Lo ngapain disini?" Sahut vano tak kalah nyolotnya.


"Nggak ada urusannya sama lo" balas rafi. Seorang perempuan keluar dan menghampiri rafi,


Mata vano berbinar, benar itu adalah perempuan yang dia cari. Istri hans, Inilah yang membuat dirinya rela terbang ke australia, Dari catatan identitas pribadinya Hans masib berstatus menikah.


"Lo lisa kan? Istrinya hans? Gue butuh bant-"


"Pergi!" Usir rafi dengan tatapan tidak sukanya, dia menduga vano pasti memiliki rencana jahat.


Dengan cepat rafi menuntun lisa dan aina untuk masuk, dan melempar tatapan sinis pada vano.


"Woi!, Gue butuh bant-"


Brrrakkkkkkk....


Sebelum bisa masuk ke dalam rumah itu, vano sudah dibantingi pintu. Halangan apa lagi ini? Dari sekian juta pencariannya kenapa harus pada tahap ini ada saja halangan yang menghampirinya? Hari terakhir, Jika vano tidak bisa membawa lisa ke indonesia untuk menggagalkan akad itu maka sia-sialah perjuangannya.


Tok....Tok...Tok...


Vano sudah berkali-kali menggedor-gedor pintu bercat putih itu, dan tak ada satupun yang membukakannya. Bahkan langit begitu mendung, hawa dingin menusuk masuk ke dalam pori-porinya memberi sensasi dingin.


Lisa mengusap perutnya yang agak membuncit itu, kini dia sedang mengandung anak pertamanya bersama dengan hans. Aina Bramanta atau lebih kerap disapa Aina itu adalah buah cintanya dulu bersama dengan rafi,


"Bukain aja ya fi, dia kayaknya butuh bant-"


"Dia Orang jahat, Aku kenal banget sama dia." Bantah rafi, lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Gak ada yang sakit kan? kalo kamu butuh apa-apa kamu minta aja ke aku" Ucap rafi sambil mengecup perut perempuan itu dengan sayang.


"Kamu pulang aja fi, Aku gak papa kok. Lagian suami aku juga palingan bentar lagi pulang kok" Suruh lisa karena pria itu setiap harinya selalu datang, Selain untuk melakukan pendekatan pada aina, ialah untuk menjaganya juga.


"Gue gak tega, Gue udah minta izin sama claudia kok. Dan dia ngizinin" . Rafi juga sebenarnya sudah rindu untuk bertemu dengan Clara, dan Claudia, Tapi rafi juga masih harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah pada Aina. Selain itu rafi juga tidak ingin anaknya tidak tau siapa ayahnya, Jadi rafi masih tinggal untuk melakukan pendekatan pada Aina. Rafi juga tidak tega meninggalkan lisa dalam keadaan hamil seperti ini.


Tubuh vano melorot, hujan turun membasahi halaman. Vano tersenyum miris, Sepertinya semesta memang tidak mengizinkannya bersama dengan reva lagi. Kata 'Menyesal' adalah kata yang cocok untuk mewakili hatinya sekarang ini.


"Woi! Buka!, Please..Gue mohon!"

__ADS_1


Tok...tok...tok ..


Aina tidak bisa tidur dengan kebisingan yang dibuat vano, membuat rafi menggeram terbilang sudah empat jam pria itu berada di depan rumah dan tak kunjung pulang.


"Dasar Vano, Lu masih batu aja!" Cibir rafi.


Lisa berdiri di depan ambang pintu kamar aina,


"Fi..., Aku bukain aja ya, kasian" Tawar lisa.


"Nggak. Biar aku aja, Kamu temenin aina" Tolak rafi, Dan berjalan ke arah pintu untuk memberi pelajaran pada vano karena mengganggu ketenangannya.


Ceklek....


Mendengar suara pintu terbuka membuat vano bangkit berdiri, Dia berhadapan dengan rafi.


"Gue gak ada urusan sama lo, Gue butuh lisa sekarang!" ucap vano langsung, Rafi tersenyum miring.


"Lo ada rencana apalagi sih?, setelah apa yang dulu lo lakuin ke sahabat gue? Lo belum puas? Hah?" Tentang rafi. Vano mendengus kesal,


"Gue lagi berjuang buat reva, Dan lo berhenti halang-halangin gue" Vano menuding rafi dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah rafi.


"Reva?, kemana aja lo selama ini?, Dan lisa gak ada hubungannya sama reva!"


"Gue harus bawa lisa malam ini ke indonesia,"


"Lo buta? atau gimana sih? Dia lagi hamil. Lo punya hati gak sih? Oh gue lupa lo kan gak punya hati ya" Kata rafi meremehkan vano.


Vano tidak ingin berlama-lama lagi, dengan cepat vano menerobos rafi untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum itu terjadi rafi telah lebih dahulu menyikut bagian perut vano membuat pria itu meringis sakit.


"Akh.." Vano memegangi bagian yang disikut oleh rafi, Yang membuatnya panik adalah bagian yang disikut oleh rafi adalah bagian bekas operasinya.


"Gue mohon. Cuman dia yang bisa nolong gue" Vano memohon di bawah kaki rafi, Awalnya rafi terkejut apakah ini betul-betul vano pria arogan? Egois? Keras kepala itu?


"Mendingan lo per-" Mata rafi membelalak ketika melihat tanhan vano yan sudah bersimpah darah, Dengan cepat rafi ikut berjongkok.


"Gue mohon," Lirih vano. Rafi geleng-geleng kepala,


"Lo berdarah, Lo harus dibawa ke rum-"


"Nggak. Please, Ketemuin gue sama lisa sebelum terlambat" Mohon Vano dengan tatapan sendunya, Rafi segera membopong vano untuk masuk dan mendudukkannya di sofa.


"Gue ambil kotak P3K dulu" Rafi hendak pergi namun vano segera mencekal tangannya.


"N-nggak, gu-gue butuh lisa sekarang!" Bantah vano. Rafi menepis tangan vano,


"Dasar lo batu, Lo bisa kehabisan darah kalo gini terus". Vano menggeleng, Biarpun dia mati tapi setidaknya malam ini lisa benar-benar berangkat ke indonesia agar perjuangannya tidak sia-sia.


Rafi berlari ke arah kamar aina, dan membangunkan lisa. Vano melepas jaket dan baju kaosnya, dan menempelkannya pada bagian bekas operasinya itu setidaknya untuk mengurangi pendarahan untuk sementara waktu. Wajah vano sudah pucat pasih,


Lisa menutup mulutnya takut terisak melihat darah yang keluar dari tubuh vano,


"Ja-jangan takut, Gue mau ngomong" Berbicara pun rasanya begitu kelu. Vano ingin berteriak ketika merasakan nyeri yang begitu luar biasa di bawah sana.


Lisa mendekat, dan menunggu vano untuk berbicara.


"Malam ini lo ke indonesia yah, Gue mohon. Suami lo mau nikahin jodoh gue" Mohon vano seraya menggapai tangan wanita itu. Vano masih sempat-sempatnya terkekeh karena mengakui reva sebagai 'Jodohnya'


Lisa menggeleng tidak percaya dan menarik tangannya, Rafi mulai berpikir bahwa mungkin vano sedang berhalusinasi,


"G-gue bisa bersumpah. Cuman lo, yang bisa hentiin akad nikah itu" Vano menarik ponselnya dan memperlihatkan foto hans bersama dengan reva.

__ADS_1


Lisa menangis, Hans mengaku pergi ke indonesia karena memiliki urusan, bukan untuk menikah. Rafi menenangkan perempuan itu, sambil mengusap-usap punggungnya


"Lo nggak mau diduain kan?" Lisa mengangguk.


"Dengerin gue..." Vano mulai menjelaskan rencananya, Sebelum kata 'SAH' diucapkan secara berjamaah maka disitu Lisa sudah harus menggagalkan Akad nikah itu, dan membongkar siapa hans dan apa hubungannya dengan pria itu agar semua tau. Apalagi, lisa dalam keadaan hamil tidak mungkin ada kata 'Cerai' diantara mereka, jika ia pun berarti lisa dicerai dalam masa 'Ihda'.


"Fi..., Temenin lisa yah. Kalian wakilin gue ke acara itu, karena rasanya waktu gue gak lama lagi " Vano terkekeh dengan ucapannya itu. Sedangkan lisa bahkan rafi suda menitikkan air matanya, sebegitunyakah vano memperjuangkan cintanya bahkan dalam keadaan paling rentannya pun vano masih berjuang.


"Lo gak boleh bilang gitu van, Buat apa lo berjuang kalo lo gak dapet hasilnya..., lo harus bertahan" Bentak rafi seraya membuat pria itu tetap membuka matanya dengan cara mengguncang tubuhnya.


"Ambil 'Black Card' itu, tenang aja gue ikhlas kok" Vano menyerahkan 'Black Card' miliknya pada lisa dan rafi, Kartu itu bisa digunakan layaknya ATM namun tanpa batas.


"Nggak" Lisa menggeleng merasa tidak pantas untuk memegang kartu itu. Vano menggeleng dan menaruhnya pada tangan lisa,


"Terima yah. Gue mohon.." Lirih vano. Akhirnya lisa menerimanya,


 


oo0oo


 


Sebelum melakukan penerbangan malam ke indonesia, Rafi dan Lisa segera membawa vano ke Rumah Sakit dalam keadaan sangat lemah lunglai.


Lisa memangku putrinya dan Rafi memegangi kain yang sudah bersimpah darah pada perut vano.


"Kalaupun gue mati, Gue sekarang udah bahagia. Seenggaknya gue pernah berguna semasa hidup buat reva dan lisa supaya gak ketipu sama buaya kayak si hans itu" Ucap vano di sela-sela perjalanan menuju rumah sakit.


"Jangan bilang gitu ba*gsat!, Lo harus bertahan!" Bentak rafi untuk tetap membuat vano terjaga. Mata vano perlahan, mulai menutup kelopak matanya serasa menahan beban berpuluh-puluh ton.


"Ra-fi, bi-bilang ke reva, ka-kalo gue ud-udah mati. Gu-gue, Gak pengen di-dia nunggu gu-gue se-secara gak Pas-pasti" Setelah mengatakan itu mata vano sepenuhnya telah tertutup. Air mata rafi meluncur, tangannya menampar pipi vano berkali-kali memintanya untuk bangun.


"BANGUN BODOH!, BANGUN!, HAH?! BANGUN BA*GSAT!" Rafi memaki vano. Sampai di rumah sakit vano seketika langsung dibawa ke ruang entah kemana.


"Fi, jangan.." Lisa menahan tangan vano yang hendak pergi menyusul vano.


"Inget pesan vano, Kita harus bisa gagalin pernikahan itu. Biarin vano, dan kita pergi sekarang." Saran lisa, Rafi menggeleng


"Tap-"


"Nggak ada waktu fi. Waktu kita sisa 15 menit untuk ke bandara". Dengan berat hati akhirnya rafi meninggalkan vano, Ada satu tekad yang vano tanamkan.


Flashback on


"*Sebelum kata 'SAH', kalian harus bisa gagalin Akad itu" ucap vano sambil tersenyum,


"Kalian? Terus lo?" Tanya rafi.


"Kita tetep sama-sama lakuin ini. Tapi, Gue liat kalian dari tempat lain, Gue gak akan pernah ninggalin kalian. Karena gue ada disini" Vano menunjuk dadanya,


Flashback off*...


Rafi Mengepalkan tangannya, Seraya menggendong aina dan menggandeng tangan lisa.


NOTE :


• BELOM END YA,


• ENDING NYA NTAR MALEM AKU POSTING, SEKITAR JAM 7 WITA.


• 🙉🙉🙉🙉Aaaaa gak sanggup sama endingnya,

__ADS_1


__ADS_2