
****Note : Haiii guysss, sekedar info aku bakalan up kalo part ini tembus 10 vote, dan 10 komentar. Jadi supaya cepet up jangan lupa vote dan spam komen sebanyak-banyaknya.
aku tungguin loh sampe ntar malem, kalo gak nyampe , aku tungguin besok lagi. pokoknya sampe nyampe 10 vote dan 10 komentar
see you💕**
Satu bulan sesudah kejadian itu vano kembali seperti biasa, walaupun masih biasa meringis nyeri pada bagian perutnya. Reva juga sudah dilarang bekerja oleh vano, dengan alasan istri itu harusnya di rumah aja.
"Van, nanti aku mau keluar, boleh gak?" Tanya reva dengan hati-hati, kini mereka berdua sedang sarapan bersama, vano juga sudah sangat rapi siap untuk bekerja.
"Sama siapa?hm?" Vano masih fokus menikmati makanannya.
"Sama rafi, boleh kan?". Vano mengusap bibirnya dengan tissu, dan mengangguk pelan.
"Benneran?" Reva begitu sumringah, karena baru kali ini vano memperbolehkannya.
"Iya, girang amat sih lo" Sinis vano sambil mengangkat tas berisi laptopnya, dan segera melenggang pergi.
Hari ini reva dan rafi akan pergi ke rumah sakit, entahlan sudah sekitar satu minggu reva selalu merasa mual dan pusing, reva hanya takut diserang oleh penyakit ganas.
Sampai di rumah sakit, rafi selalu menggenggam tangan reva seperti tak ingin kehilangan . Bahkan menasihati reva untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh dulu.
"Silahkan ke poli kandungan bu, ibu dirujuk kesana" Ujar si resepsionist sambil menunjuk lorong rumah sakit.
Reva mengangguk lalu berjalan bersisihan dengan rafi.
"Fi, kalo gue kena kanker gimana? Atau gu-"
"Sssttt.., mau gimanapun keadaan lo gue bakalan selalu dampingin lo" Rafi menempelkan jari telunjuknya di bibir reva.
Keduanya duduk di ruangan poli kandungan, tangan reva sudah berkeringat dingin.
"Bu reva?" Panggil seorang suster.
"Saya sus" Reva mengangkat tangannya.
"Giliran ibu..." . Rafi bangkit berdiri lalu menuntun reva masuk ke dalam.
Rafi duduk di kursi konsultasi, menunggu reva yang sedang di periksa di atas brankar, rafi tidak bisa melihat reva sedang diapakan karena terhalang oleh tirai.
Reva masuk dan berbaring di atas brankar rumah sakit perasaannya campur aduk. Dokter mulai mengoleskan gel bening ke atas permukaan kulit perut reva dan menempelkan alat USG.
__ADS_1
"Wah...bu,,kayaknya ada kabar baik nih" Ujar dokter.
"Ha?apa dok?" Reva hanya bisa menengok sedikit layar monitor itu ,dan hanya ada gambar hitam putih macam kacang.
"Selamat ibu sedang mengandung,dan sudah masuk umur 4 bulan,dan dari USG kayaknya anak ibu diperkirakan cowok"
"m-empat bulan dok?" Tanya reva tak percaya.
"Iya.pasti ibu bingung kan karena gak buncit? Sabar bu,ibu makanya harus makan yang sehat dan banyak ya bu" Tutur dokter.
Dokter keluar bersama reva, melihat reva yang sudah turun dari tempat tidur, rafi dengan sigap membantu reva untuk berjalan.
"Aku gak papa kok fi" Ucap reva
"Gak papa, gue bantu" rafi tersenyum tipis, lalu keduanya duduk berdampingan. Mendengarkan penjelasan dokter.
"Jadi, selamat pak, bu, jangan lupa dijaga pak istrinya supaya jangan kecapekan dulu ya, karena kandungan ibu masih terlalu lemah" Jelas sang dokter.
Rafi dengan gembira memeluk reva dari samping, tersadar bahwa reva sedang tidak sakit parah melainkan sedang mengandung.
"Makasih dok, makasih" Ucap rafi berterima kasih, sedangkan reva justru tersenyum kecut. Andai saja yang kini mengantarnya adalah vano dan tersenyum bahagia seperti rafi, tapi sayangnya itu semua hanya angan.
"Kenapa sih fi? Kok kamu seneng banget?" Tanya reva
"Lo gak senneng apa? Lo lagi hamil rev"
"Aku minta tolong fi, jangan bilang-bilang soal ini ke vano" mohon reva, raut wajah rafi langsung berubah seketika.
"Kenapa rev?" Lirih rafi.
Sepertinya reva memang harus jujur saja pada rafi, percuma menutupinya lambat laun pasti rafi juga akan tahu dengan sendirinya.
"Kita cari cave aja, nanti aku cerita" ajak reva, dan diangguki oleh rafi.
Kini rafi dan reva sudah berada di sebuah cave , rafi sangat tersentuh dan merasa kasihan dengan reva ketika mendengar cerita reva. Bahkan reva hamil pun bukan karena persetujuan mereka berdua, namun karena paksaan vano.
"Hiks aku takut fi, nanti kalo vano tau aku hamil dia makin tau caranya buat nyiksa aku. Dan aku tau vano tidak pernah akan menginginkan anak ini, dia pernah bilang gak sudi punya anak dari pernikahan kami" Tutur reva dengan penuh permohonan, agar rafi tidak membeberkan ini.
Rafi menggenggam tangan reva yang tergeletak di atas meja lalu menghapus bulir air mata reva yang turun.
"Sssstttt...., Tenang aja rev,gue gak akan bilang siapa-siapa kok" Kata rafi.
__ADS_1
Senyum reva mengembang seketika, dan itu membuat hati rafi sedikit tenang.
"Udah jangan nangis lagi, dedek bayinya harus makan supaya kuat" Kata rafi, reva mengangguk lalu mulai memakan makanannya.
Rafi memperhatikan reva yang sedang makan, apa sih kurangnya reva buat vano?, istri idaman banget bagi rafi. Andai reva diceraikan sama vano dan anak itu tak mau diakui vano, rafi siap menjadi ayah sekaligus suami yang baik untuk reva.
Setelah makan, sebelum mengantar reva pulang rafi mengajak reva untuk berbelanja di sebuah supermarket. Rafi sudah tau bahwa reva tidak diberi uang sepeser pun oleh vano sehingga rafi lah yang harus membelikan susu ibu hamil untuk reva.
"Jangan capek-capek ya rev" Ucap rafi
"Iya, Aku gak akan kerja berat dulu" Jawab reva sambil tersenyum.
Setelah rafi pergi, dengan segera reva masuk ke dalam rumah lalu membersihkan diri, setelah itu reva sedikit bersantai dengan menonton televisi.
Vano datang sambil merangkul pinggang bella, sesekali mencium pipi perempuan itu saking rindunya karena ditinggal sebulan ke amerika.
"Vano kamu mau minum apa?" Tawar reva.
"Nggak usah" Tolak vano
"Mau makan?" Tawar reva lagi
"Iiiiihhhh perempuan Bacot diem lo!" Bentak bella sambil memeluk vano
"Yaudah aku ke kamar dulu" Pamit reva,ketika hendak ke melangkah bella sengaja menghadang jalan reva dengan satu kakinya yang membuat reva terjatuh.
"akh..." Ringis reva
"hahaha sukurin. Sana lo pembantu!" Usir bella,
"PERGI!" Bentak vano,dengan cepat reva bangkit berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.Setetes air mata turun membasahi pipi reva kali ini hatinya begitu sakit.Badannya terjatuh lemas membelakangi pintu apalagi ketika mendengar pernyataan vano yang mengejutkannya.
"Sayang, kamu kan dituntut punya anak dari mami kamu,emang kamu mau sayang punya anak dari si udik"
"HAHA YA NGGAK LAH YANG...SIAPA JUGA YANG MAU PUNYA ANAK DARI DIA LAGIAN AKU GAK SUDI NYENTUH DIA!"
Deggg
Samar-samar terdengar dari luar pernyataan itu membuat reva menangis terisak. Dadanya sesak menahan tangisannya.
"Nak..maafin mama ya tadi mama jatuh, tapi kamu gak papa kan?" Reva mengusap perutnya yang masih rata itu lalu bengkit berdiri dan membaringkan diri di atas tempat tidur hingga tertidur pulas.
__ADS_1