
"*Jangan tinggalkan yang pasti, demi sebuah kemungkinan yang belum pasti"
-Lisa Maheswari*-
"Ayo, ikut gue" Kata vano lalu menarik pergelangan tangan reva dengan kasar, satu tangannya lagi menarik koper berisi pakaian reva.
"Kamu mau bawa aku kemana van?" Tanya reva, sembari mengikuti langkah kaki vano yang begitu jenjang, yang mengharuskannya berjalan cepat.
"Ck, jadi istri bisa nurut gak sih!" Sinis vano sambil menarik paksa reva.
Kali ini reva tidak ingin mengalah lagi, reva juga memikirkan kondisi kandungannya bila dia terus saja mengalah tanpa memberi perlawanan pada vano, sama saja dirinya mau di injak oleh vano terus.
"Stop!" Teriak reva, lalu menyentakkan tangannya dari vano hingga terlepas.
"Aku itu udah cukup bersabar ya van, kamu gak bisa apa ngomong baik-baik? Harus banget ya nyentak aku? Harus banget kamu nyeret-nyeret aku kayak gini?" Bentak reva, sambil menatap vano murka.
"Udah berani lo?," Vano menatap istrinya itu dengan angkuh, tidak biasanya reva mau melawan.
Reva meneguk salivanya kasar, lalu memberanikan diri untuk mengangkat dagunya dengan angkuh dan menatap vano.
"Iya, aku berani. Selama ini aku diem bukan berarti aku gak bisa lancang sama kamu!" Ucap reva,
Vano mengusap wajahnya kasar, oke untuk kali ini lebih baik dia membujuk reva dengan cara yang baik.
"Oke, Gue mau bawa lo ke kontrakan, soalnya seminggu ke depan temen-temen gue dan bella mau nginep disini. Dan lo? Bukan apa-apa" Sengit vano. Dalam hati terdalamnya kata-kata vano barusan begitu menyayat hati kecilnya, merasa terabaikan dan tidak di akui.
"Tega ya kamu van!" Mata reva berkaca-kaca, dengan wajah tanpa dosanya vano segera menyeret reva naik ke atas mobil bersama koper reva.
Reva hanya diam di atas mobil dan membuang muka ke luar jendela, begitupun vano sangat fokus menyetir memasuki sebuah gang-gang sempit.
"Turun" Titah vano, tangan reva membuka pintu mobil lalu keluar. Vano juga ikut keluar menurunkan koper reva itu.
"Seminggu aja, habis itu gue jemput" Kata vano dengan lembut, Untuk hari ini saja dia lembut pada wanita ini untuk melancarkan rencananya.
"Tapi, aku takut tinggal sendiri" Ucap reva dengan wajah memelasnya, Vano menggapai kedua tangan reva lalu memberi tatapan sayunya.
"Nggak papa, Oke?" Vano mengusap surai hitam istrinya itu untuk meyakinkannya, Reva mengangguk lalu memasuki rumah minimalis nan sederhana itu.
Sedangkan vano tersenyum miring penuh kemenangan, reva banginya sangat lemah baru saja di lembut-lembuti sedikit reva sudah luluh.
__ADS_1
Rafi berjalan di sebuah taman, sedangkan dari arah berlawanan sebuah sepeda dengan pengendaranya seorang cewek berambut sebahu tidak bisa mengendalikan laju sepedanya.
"Aaaaaaa Awassss mas...." Teriak cewek itu, rafi membulatkan bola matanya dan kecelakaan kecil tak terhindarkan lagi.
Tubuh rafi terpental ke samping, sedangkan sepeda dan cewek itu terjungkang ke semak-semak. Rafi meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, lalu memasukkannya ke dalam saku.
Rafi melangkah mendekati cewek itu, emosinya sudah tidak terhindarkan lagi. Dengan kasar rafi menarik sepeda berwarna pink itu dengan keranjang berisi bunga.
"Mbak bisa naik sepeda kan?!" Bentak rafi, cewek itu mencoba untuk bangun, lalu merapikan pakaiannya dan menunduk merasa bersalah.
"Ma-af mas,". Suara itu nampak tak asing di pendengaran rafi, kepala rafi meneleng ke samping melihat wajah cewek itu.
"Lisa?" Rafi tidak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis itu,
Lisa mendongak dan mendapati wajah kebingungan rafi, Sudah dua kali mereka dipertemukan dengan cara yang jauh dari kata baik.
"Eum, maaf fi aku gak sengaja" Kata lisa, emosi rafi yang tadi sudah melunjak tiba-tiba menjadi luluh.
"Eh, gak papa kok, sorry tadi udah bentak-bentak" Rafi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehe harusnya aku yang minta maaf fi, o yah ngapain disini?" Tanya lisa,
"Nyari udara segar doang" Jawab rafi, kepala lisa mengangguk - angguk mengerti lalu beralih untuk mengangkat sepedanya.
Lisa menaiki sepedanya, dan yang membuatnya heran adalah rafi yang dengan polosnya menaiki kursi penumpang. Lisa menoleh,
"Idih, ngapa disitu?" Omel lisa,
"Ha? emang ada yang salah?" Rafi cekikikan, dulu mereka berdua sering sekali menghabiskan waktu untuk hanya sekedar bermain sepeda atau berlomba untuk mendapatkan traktiran.
"Salah lah, kamu kan berat!" Lisa memutar bola matanya malas.
"Buruan lah lis, keburu item gue disini" Keluh rafi, mau tak mau lisa mulai menggowes sepedanya walaupun berat namun bibir lisa tidak pernah berhenti menyunggingkan senyuman.
sedangkan rafi kini mulai jelalatan kemana-mana, mencari pegangan. Tangan rafi mendarat di pinggang lisa, karena kaget lisa buru-buru mengerem sepedanya.
"Tangannya dijaga!" Lisa menghempas tangan rafi dari pinggangnya.
"Ya elah lis, dulu aja gue kan sering megang" Protes rafi kemudian mengeratkan pelukannya di pinggang lisa,
__ADS_1
"Iiihhhh malu lah fi," Keluh lisa, Hampir semua tatapan orang-orang melihat mereka berdua.Sungguh keterlaluan rafi membiarkan lisa menggowes sepeda,
"Yaudah, biar gue yang gowes" Rafi turun dan menggantikan lisa, Senyum lisa mengembang.
Rafi Menggowes sepedanya, Lisa sama sekali tidak berpegangan padanya. Sebuah ide jahil terlintas di kepalanya, Setelah melalui jalanan rata, rafi memilih jalanan menurun untuk membuat lisa mau berpegangan padanya.
"Pegangan lis..." Sepeda mulai melaju dengan kecepatan tinggi menuruni jalanan.
"Aaaaaaaaaaa-" Teriak lisa, Sebenarnya lisa sangat gengsi tapi daripada keselamatannya menjadi taruhan lebih baik lisa berpegangan pada rafi.
Lisa memeluk pinggang rafi dengan erat dan menyandarkan tubuhnya pada punggung rafi. Tubuh rafi menegang ketika merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di punggungnya.
"Kenyalll, Lembut, Dan kayaknya gede-" pikiran rafi mulai bergerayangan dimana-mana,
Karena berpikir yang aneh-aneh, Rafi tidak sadar kalau di depannya kini ada sebuah odong-odong, Mata rafi membulat lalu berusaha menghindarkan arah sepeda agar tidak menabrak odong-odong.
"Woooooooooooo" Teriak rafi ketika sepeda mulai oleng dan akhirnya nyungsep, untung saja rafi sempat menarik lisa agar tidak ikutan nyungsep ke got.
Sekarang posisinya agak intim, Lisa berada di atas dan rafi di bawah. Mata lisa masih setia menutup sedangkan rafi malah anteng-anteng menatap wajah mantan kekasihnya itu.
"Ki-kita udah mati?" Tanya lisa was-was, dan masih belum membuka matanya.
"Ekhm,," Rafi berdeham, Lisa membuka matanya dan melotot tajam ketika melihat jaraknya dan rafi begitu tipis dan hanya dipisahkan oleh pakaian mereka saja.
"Astagaaaaa Nagaaaa Dragooonn" Teriak lisa lalu bangkit dari posisinya yang tengkurap.
"Hehe napa bangun sih, udah Posisi Wenak juga" Goda rafi lalu memperbaiki posisinya menjadi duduk.
Lisa melotot tajam, lalu memukul tubuh rafi
"Mesum!" Cibir lisa
"Nggak lis, gue cuman nyelametin lo doang, suwer!" Rafi mengangkat kedua jarinya membentuk huruf 'V'.
Lisa tidak merespon, hari ini sudah dua kali sepedanya nyungsep hanya karena rafi.Lisa buru-buru menarik sepedanya dari got,
"Gue anter aja ya, ntar sepeda taruh di bagasi" Tawar rafi, lisa mengetuk-ngetuk jarinya di dagu seolah berpikir.
"Iya deh" Jawab lisa.
__ADS_1
Akhirnya sore itu rafi mengantarkan Lisa pulang, Kini perasaannya bimbang Disisi lain perasaannya begitu nyaman ketika bersama lisa dan ketika bersama reva perasaannya menjadi hangat karena kelemah lembutan reva.Hanya waktu yang bisa menjawab.
Note : Haiiiiiiiiii Aku Up nya lama ya? Maaf ya, BTW authornya masih SMA loh......💕👌