Sesalku

Sesalku
PART 39. RENCANA AKAD


__ADS_3

Vano tak lebih dari seorang pengecut, Ya sudah satu bulan pria itu pergi tanpa kabar dan tak memberi kabar sama sekali padahal vando sudah berharap lebih padanya. Hanya karena ditolak oleh vando, nyalinya menjadi ciut? , Sekarang mana buktinya bahwa dirinya akan memperjuangkan reva dan vando?.


"Mama, Aku mau ini" Vando mengangkat kemasan makanan kucing. Reva mengernyitkan kening tidak mengerti, Kini mereka sedang berada di supermarket untuk berbelanja bulanan.


"Ojip mau makan apa ma kalo kita gak beli ini? mama kan marah kalo aku kasih ojip wortel" . Reva mengerti, Vando mengira itu adalah makanan untuk kelinci, Ojip adalah nama panggilan vando untuk kelinci yang diberikan oleh vano. Reva sampai harus merelakan wortel untuk diberikan pada piaraan anaknya,


"Bukan itu. Nanti mama beliin lagi ya," Ucap reva sambil mengusap kepala anaknya. vando mengangguk, Reva kembali mencari kebutuhan rumah yang kebetulan habis atau dibutuhkan dalam waktu dekat ini.


Seorang perempuan parubaya lewat sambil mendorong troly dalam keadaan penuh, Dan tanpa sadar salah satu barang belanjaannya terjatuh. Vando menengok melihat mamanya yang masih asik berbelanja, Akhirnya vando memutuskan untuk mengambil barang itu dan mengejar perempuan tadi.


"Nek..,Nenek" Vando menarik - narik ujung pakaian perempuan itu.


Merasa terusik akhirnya perempuan itu menoleh dan mendapati seorang anak kecil yang menyodorkan kemasan tepung yang tadi dia beli.


"Punya nenek jatuh," Kata vando agar tak diprasangkai buruk. Redra, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.


"Makasih. Orang tua kamu dimana nak?" Tanya redra. Reva hendak mendekat namun ketika melihat anaknya bersama siapa, reva mengurungkan niatnya. Rasa rindu yang selama bertahun-tahun reva simpan dan pendam, Rasa ingin bertemu selalu ada namun reva sadar dia bukan siapa-siapa lagi. Perempuan itu adalah ibunya, Yang melahirkannya.


Vando mengedarkan pandangannya dan mendapati mamanya tak jauh dari mereka.


"Mama!" Panggil vando. Redra menoleh, Sedikitpun reva tidak melupakan sosok yang berdiri tak jauh darinya sekarang ini dia adalah anaknya, Putri semata wayangnya, Air mata redra menetes dan berjalan kecil ke arah reva.


"Anak mama?" Redra menyentuh wajah anaknya, Reva ikut berlinang air mata kemudian memeluk mamanya itu dengan erat.


"Hiks..., Maafin reva ma.." Reva sudah tidak perduli dengan orang-orang yang melihat adegan haru ini. Vando, berjalan ke arah reva dan nenek tadi seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.


"Mama kangen sama kamu." Ucap redra yang


juga menangis sesegukan.


"Mama? Nenek?, diliatin orang tuh..." Tegur vando. Reva dan redra melepas pelukan mereka berdua dan saling melempar senyum.


Lama memperhatikan wajah anak itu, mengapa redra merasa teringat dengan wajah mantan menantunya?,


"Mama, Ini anak reva.." Ucap reva memperkenalkan. Redra, tersenyum dan memeluk anak itu erat

__ADS_1


"Cucu nenek sudah besar ya," Mereka saling melepas rindu. Bahkan reva ditawari untuk kembali ke rumah orang tuanya, namun reva masih menunggu waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengan papanya secara langsung. Pasti akan banyak pertanyaan tentang siapa vando? dan reva harus menyiapkan kata-kata yang bagus untuk dijadikan alasan.


 


oo0oo


 


Di tempat lain vano sedang berlatih untuk berjalan tanpa dibantu siapapun, Memang sulit hidup dengan satu ginjal , sekarang vano menjadi lebih gampang lelah. Vano harus menunggu pendonor ginjal yang baik, Kemarin sudah ada yang bersedia mendonorkan ginjalnya namun dari riwayat hidupnya orang tersebut merupakan pemabuk. Hingga bisa saja tubuh vano menolak donor ginjal yang tidak tepat,


"Gue harus bisa, Demi vando dan reva. Udah sebulan lebih gue bikin celah buat Hans. Nak.. papa akan berusaha perjuangin kamu lagi dan mama" Vano mencium layar ponselnya yang menampilkan foto anaknya yang sengaja dia ambil diam-diam. Sekarang hanya foto itulah yang menjadi penyemangatnya,


Seorang pria dengan pakaian pelayan restaurant itu membawa beberapa berkas pada vano.


"Ini identitas yang tuan minta" Dia adalah dito, salah satu ajudan kepercayaan vano yang dia suruh untuk mengawasi reva dan vando di restaurant hingga harus menyamar sebagai seorang karyawan disana, Bukan hanya itu dito juga dia suruh untuk mencari identitas hans.


"Anak saya baik-baik saja kan?" Tanya vano


"Ya tuan. Nak vando malahan semakin senang karena kelinci pemberian tuan, dia menjadi lebih aktif. Dan asal tuan tau, kelinci itu diberi nama Ojip" Jelas dito panjang lebar. Vano sedikit terkekeh, Anaknya ternyata suka pada kelinci pemberiannya bahkan memberinya nama.


"Satu lagi tuan, Kami semua para karyawan diundang ke Akad nikah bu reva dua minggu ke depan" Lanjut dito lagi. Vano mengepalkan tangannya, Benar-benar vano tidak tau lagi harus berbuat apa, Andai saja keadaannya tidak seperti ini sudah pasti vano akan lebih keras lagi dan gencar mendekati reva.


Vano membenci dirinya sendiri, keadaannya bahkan sudah bisa dikatakan cacat. Tanpa basa - basi lagi vano segera mengambil sweater berwarna Abu-abu miliknya dan segera meluncur untuk menemui reva dan vando.


"Kebodohan gue yang gak bisa di toleransi adalah Pernah melepaskan sesuatu yang amat berharga" Batin vano. Tak butuh lama mobilnya sudah memasuki pekarangan rumah reva.


"Gue gak boleh keliatan sakit" Kata vano sebelum turun dari atas mobil. Vano memaksakan senyumannya, Bahkan berusaha berjalan normal padahal dengan itu vano sementara menyiksa dirinya.


"Papa!" Teriakan itu berasal dari belakang vano. Anaknya kemudian turun dari atas sepeda dan sesegera mungkin memeluk kaki papanya.


"Hay jagoan..." vano mengangkat tubuh vando. Padahal dokter menyarankannya untuk tidak melakukan aktifitas berat terlebih dahulu.


"Papa kemana aja?, Vando kangen" Lirih putranya sambil memeluk leher vano.


"Gak usah kangen lagi. Papa udah ada disini" Ucap vano menenangkan.

__ADS_1


Mata reva berkaca-kaca ketika melihat siapa yang datang, Kenapa vano harus datang lagi sih? Padahal reva kira dirinya sudah menyerah.


"Dihhh...Matanya mama udah kek kaca tuh" Goda vano. Vando tertawa kecil, Reva memukul lengan vano


"Hiks...Kamu kemana aja sih?" Tangis reva pecah. Vano menjadi merasa bersalah, namun ada perasaan bangga Ternyata begini rasanya dikangenin.


"Kenapa? Kangen ya ma?" Vano menoel pipi ibu dari anaknya itu. Membuat reva menggembungkan pipinya.


"Bukan. Aku kira kamu udah mati" Cibir reva sambil mengelap air matanya.Ada rasa senang dalam hatinya, pria itu kembali dalam keadaan baik-baik saja. Sejak kemarin reva sudah berpikir yang tidak-tidak,


"Aihhhh omongannya, Kalo Gue beneran mati bisa-bisa kebanjiran kuburan gue karena air mata lo. Udah jangan nangis" Kelakar vano, ibu jarinya menyusuri wajah reva sambil menghapus air mata perempuan itu.


"Apaan sih?!" Reva kemudian menjauhkan diri takut vano melihat semburat merah yang menghiasi pipinya.


"Papa, ayo main sama ojip!" Ajak vando yang langsung diangguki oleh vano. Bersama anaknya entah mengapa seluruh sakitnya seolah terangkat.


Reva diam-diam mempertahatikan dari jauh interaksi ayah dan anak.


"Perjuangkan aku lagi van..." Gumam reva. Dirinya yakin, Vano mau berusaha untuknya dan anaknya lagi.


Sedangkan vano tersenyum senang ketika vando menjelaskan kenapa kelinci itu diberi nama ojip? Kapan saja ojip makan? Bahkan hal-hal kecil tentang kapan ojip membuang kotoran pun anaknya ceritakan.


"Gue janji bakal perjuangin kalian lagi.." Gumam vano. Itu janjinya, Semoga semesta mendukungnya dalam waktu dua minggu ini.


NOTE :


•SALUT SAMA PERJUANGAN VANO😰😰😰


•😈Yuk follow akun instagramku, @Merliancy_ Awas loh gak di follow, ntar aku ngaco lagi nulisnya.


•Pen nangis, 😆😆😆


•Jangan lupa baca cerita baru aku, tipenya komedi loh.Cuman belom keliatan aja, Ayooooooooo Buruan baca😂😂


•Aku tungguin.

__ADS_1


•Mau aku next up lagi? Aku minta komentar 5 sama chapter ini dan like 10, sama vote 10. Sanggup? Kalo sanggup aku up lagi. Bubayyyy


See you 💕


__ADS_2