
Degggggggg...
"Nggakkkkkkkkkk!" Reva terbangun dari mimpinya, Nafasnya memburu, bahkan baju tidur yang dia kenakan sampai lembab karena berkeringat dingin.
Mimpi itu sangat nyata, Reva menutup wajahnya frustasi. Bayangan reva memisahkan vano dengan vando menggelapkan matanya.
"Hiks...Apa aku salah? , Ta-tapi aku cuman pengen ngelindungin diri aku dan vando" Batin reva. Air matanya turun membasahi pipi wanita itu
Reva bangkit dari tidurnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi mengguyur dirinya dengan air. Lumayan untuk menghilangkan stres.
Hari minggu menjadi hari kesukaan vano, dimana dirinya bisa mengistirahatkan pikirannya dari segala pekerjaan.
"Ti-ga puluh" Vano sedang melakukan Gym di ruangan khususnya , di dekat kolam. Berhari-hari sudah vano mencoba mengorek keberadaan anaknya, namun reva masih kekeh tidak akan memberitahukan keberadaan anaknya.
Seorang pelayan rumah vano datang namanya bi ami, setengah berlari kecil. Vano me
ngambil handuk kecilnya dan mengusap keringat pada tubuh atletisnya.
"Tuan.., Ada tamu di depan" Ucapnya, Vano tertawa remeh bisa dia tebak itu pasti adalah grenda yang datang karena tidak mendapatinya di rumah papi.
"Usir aja bi"
"Ta-"
"Saya bilang usir aja bi!" Bentak vano, dia tidak suka keinginannya ditolak. Pembantu tadi langsung meninggalkan vano dan menghampiri tamu yang dia suruh menunggu di ruang tamu.
"Ma-maaf mbak, Tuan nyuruh ibu pulang aja" bi ami mengusir secara halus saja
Reva tersenyum canggung, mungkin vano sedang tidak ingin diganggu. Reva mengangguk kemudian segera keluar dari rumah itu.
Bi ami kemudian membawakan vano Orange Jus , Kesukaannya yang memang biasa vano konsumsi saat sedang melakukan olahraga setidaknya untuk memberi kesegaran.
"Eh..bi, Grenda udah bibi usir kan?" Tanya vano sambil meneguk jusnya.
"Loh, Itu bukan nyonya grenda tuan." Jawab bi ami.
Vano menaikkan satu alisnya meminta penjelasan,
"eum...Bibi inget-inget lagi ya tuan..." Bi ami menerawang langit-langit seolah berpikir keras, dan akhirnya menemukan satu nama.
"kalo bibi gak salah namanya, bu reva, tuan" Lanjut bi ami.
vano menyemburkan jus yang ada di dalam mulutnya, Bisa-bisanya dirinya mengusir reva, Dan untuk apa reva datang. Vano bangkit berdiri dan mengguncang bahu bi ami,
"Terus mana orangnya bi?" Tanya vano, matanya melotot membuat bi ami menyesal telah mengatakannya.
"U-udah saya suruh pulang tuan,". Tanpa banyak bicara vano segera berlari keluar bertelanjang dada. Semoga saja dirinya masih bisa mendapati reva di jalan,
Tangan reva mengusap peluhnya, Kompleks perumahan elit beginian tidak boleh dimasuki sembarang kendaraan. Bahkan untuk memesan taksi online pun tidak bisa, terpaksa reva harus berjalan kaki menuju gerbang keluar. Rumah-rumah yang ada di tempat ini, pasti merupakan rumah kalangan pejabat atau tidak pengusaha kaya.
"Reva!" Teriak seseorang dari belakang, Reva berhenti dan menoleh. Vano menumpukan kedua tangannya pada paha, sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Kamu kenapa sih?" Reva merasa aneh saja kenapa vano mengejarnya padahal tadi vano sendirilah yang mengusirnya tadi.
"Lo jalan kaki?" Tanya vano ketika memandangi reva dari bawah sampai ke atas.
__ADS_1
"Iya. Tadi naik taksi dulu sampe ke depan, terus gak di izinin masuk jadi aku jalan kaki" Jawab reva. Vano jadi merasa bersalah, apalagi ketika melihat peluh wanita itu turun dari pelipisnya.
"Ayo, Kamu mau ngomong kan? ke rumah aja dulu" Vano meraih tangan reva.
"Nggak deh. Capek tau jalan kesana lagi" Tolak reva, Vano melihat tangannya yang tidak ditolak reva, padahal biasanya reva pasti akan menyentak tangannya karena tidak ingin disentuh vano.
"Yaudah, Gue gendong ya?" Tanpa menunggu persetujuan reva, vano mengangkat tubuh reva dengan ala brydal style.
Reva memukul dada vano meminta untuk di turunkan. Pukulan reva sama sekali tidak berefek apa-apa bagi vano,
"Van, Aku malu..."Bisik reva pelan. Vano menunduk,
"Senengnya. Kayak bawa pulang hadiah undian sabun kucek" Kelakar vano. Reva sedikit terkekeh, Vano sukses membuaf reva kini percaya bahwa vano benar-benar telah berubah. Dulu vano tidak pernah tertawa atau bahkan tersenyum, Reva yakin vano sudah bisa menjaga anaknya.
Sesampainya di rumah, Vano menyuruh reva untuk menunggunya terlebih dahulu atau tidak berkeliling rumah saja untuk menghindari kebosanan karena vano akan membersihkan dirinya, maklum bau keringat sudah menjadi satu.
Rumah vano terdiri dari empat lantai, didominasi warna putih, abu-abu, dan gold. Propertinya sangat mewah bahkan ketika waktu baru pertama kalinya reva datang kesini sempat dia berpikir bahwa tempat ini adalah istana.
"Udah kelilingnya?" Tanya vano sambil memakai pakaiannya dari atas tangga.
"Iya, udah" Jawab reva sambil mengangguk kecil.
Vano duduk di sofa, kemudian tersenyum miring.
"Bagus deh, supaya nanti kalo kita udah nikah kamu udah tau" Kata vano, Reva melempari vano dengan bantal sofa.
"Mulutnya dijaga" Sinis reva. Vano tertawa kemudian menangkup kedua telapak tangannya di depan dada memohon ampun.
"Hehe ampun rev" . Reva hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Cie dah gak sabar mau gue seriusin" Celetuk vano.
"Aku gak bercanda van" Desis reva.
"Gue juga nggak." Sebelum kesabaran reva makin menipis lebih baik dia tidak menghiraukan ucapan ngawur vano.
"Ini tentang vando. Aku gak akan menghalang- halangi kamu untuk ketemu sama dia, Tapi please Jangan sampai grenda nyakitin vando" Reva akhirnya harus mengucapkan kebusukan calon istri vano, Mimpinya yang semalam itu membuatnya tersadar bahwa vano punya hak untuk bertemu anaknya.
"Grenda?" beo vano. Tangannya terkepal, menampilkan urat-urat berwarna hijau.
"Dia selama ini ngancem aku dan vando untuk menjauh, Dan dia sama sekali gak main-main" Reva melipat lengan bajunya, kemudian memperlihatkan sayatan pisau grenda yang hampir kering,
"Ini bekas sayatan pisau dia. Dan aku nyembunyiin vando, supaya dia gak disentuh sama grenda" Lanjut reva. Vano mendekat dan mendekap reva, Dia sama sekali tidak becus bahkan reva sampai harus terluka.
"Maaf," Kata vano. Reva menggeleng, ini bukan salah vano tapi karena grenda sendirilah yang telah dibutakan kabut nafsu untuk memiliki vano.
"Kamu gak salah" Reva menjauhkan badannya,
"Aku janji. Aku bakalan ngejagain kamu dan vando" Terlihat kesungguhan dari manik mata pria itu. Reva tersenyum dan menggeleng pelan
"Bukan aku, Tapi Vando, Dia tanggung jawab kamu"
Biarpun reva berkata begitu, vano akan tetap menjaga kedua malaikat berharganya.
"Jadi dimana anak kita?" Tanya vano,
__ADS_1
oo0oo
Reva sudah siap dengan dress hitam yang membuatnya begitu anggun. Malam ini reva diajak oleh Hans untuk makan malam bersama,
"Udah siap?"
"Udah" Reva tersenyum dan mengalungkan tangannya pada lengan hans. Keduanya segera meluncur ke tempat yang sudah hans siapkan,
Mata reva kagum dengan tempat yang hans sudah siapkan untuk mereka, Disini hanya ada mereka berdua bersama para pelayan dan pemain musik.
"Kamu mau gak dansa sama aku?" Tawar hans, Reva mengangguk kemudian menaruh tangannya pada pundak hans, begitupun hans tangannya telah melingkar pada pinggang wanita itu.
"Kamu cantik" Puji hans.
"Trimakasih"
Setelah sekian lama menikmati alunan musik, Akhirnya hans merogoh saku jas yang dia kenakan.
Reva menutup mulutnya ketika hans berjongkok di hadapannya, Sambil membuka sebuah kotak merah kain bludru.
"Kamu mau nggak, memulai semuanya dari awal lagi, Kamu mau nggak jadi istri aku?" Tanya hans, matanya begitu berbinar.
"Tapi kan kam-"
"Aku udah cerai dari lisa, dan dia udah bahagia. Kamu ingat kan siapa dulu yang bantu kamu pas lagi susah?, kamu ingat kan siapa yang bantu usaha kamu sampai sebesar sekarang ini?, dan kamu pasti ingat siapa yang bantu kamu pas berjuang di meja operasi melahirkan vando. Kamu mau kan balas semua kebaikan aku, Menikah ya dengan aku"
Inilah yang membuat reva bimbang, Hans merupakan pria baik namun semua kebaikannya pamrih dan ingin balasan. Disisi lain reva juga masih berharap dengan vano, Tapi tidak, Vano hanyalah masa lalu dan tidak boleh lagi ada kata kita diantaranya dan vano. Vano hanya datang saat reva sudah bahagia, Dan tidak pernah menemaninya. Hans adalah pria yang setia menemaninya, Reva berusaha menyingkirkan pikiran buruknya tentang hans
"Jadi gimana?" Tanya hans.
Reva membuang nafasnya gusar, kemudian mengangguk
"Iya aku mau" Ucap reva. Hans memasangkan cincin itu pada jari manis reva, pertanda keduanya telah terikat lagi,
Di tempat lain, vano menggigil kedinginan di depan rumah reva. Pakaiannya basah karena di tengah perjalanan tadi hujan turun dan mobilnya mogok, terpaksa vano harus menerobos hujan.
"Rev.." Lirih vano, Bunga yang dia ingin berikan pada reva sudah basah sama seperti vano. Berkali-kali vano mengetuk namun, Tidak ada jawaban sama sekali.
NOTE:
• Kena Prank sama author kemarin, wkwkkw
•Gimana? Kubu hans bahagia gak? Kubu vano?
•Yang udah follow instagram author pasti udah tau dong ya judul part hari ini apa. Buat kamu yang belum follow buruan gih,
@Merliancy_
•Apa harus aku main Prank dulu supaya komennya banyak? Heheh Komen ya untuk part ini.
•Kemaren ada yang udah marah banget ya hahahah
__ADS_1