
Hans Memukul dinding dengan tangannya, kemudian menampar kedua pipinya secara bergantian.
"Hiks...,Kamu jahat"Nafas reva tersenggal-senggal menahan emosinya.
"Please rev, Aku cuman khilaf!" Hans menggapai kedua tangan reva dan bersimpuh di depan reva.
Reva memejamkan matanya lalu menarik tangannya dari hans, Reva tau kok hans tidak mungkin melakukan hal itu atas kendalinya.
"Rev, Aku khilaf.Sumpah itu bukan keinginan aku rev" Sebulir air mata turun dari ekor matanya.
Reva mengangguk percaya, Tapi reva juga pernah ada di posisi wanita itu yakni hamil tanpa sosok suami. Berada di fase itu sangat berat, Tangan reva beralih mengusap kepala pria itu dengan pelan.
"Ki-kita Cerai aja ya?" Ucap reva. Itu adalah keputusan terbaik yang reva ambil untuk hans, dirinya, dan perempuan itu.
Sedangkan hans, lelaki itu terdiam kaku. Pernikahan mereka baru berjalan enam bulan dan kini dia harus menerima tamparan keras akibat perbuatannya.
"Enggak sayang, Aku nggak mau cerai, kamu sayang kan sama aku?, Gimana sama vando? Please rev Aku sama sekali nggak mau pisah" Hans mengecup berkali-kali punggung tangan perempuan yang berstatus istrinya itu.
Reva menggeleng "Ini yang terbaik..."Lirih reva
"Nggak!. Kamu gak mikirin perasaan aku, Intinya bukan aku yang salah, Perempuan itu udah ngejebak aku sayang.." Ucap hans membela dirinya.
"Kamu tau hans?hiks...ini berat buat aku, Tapi aku mikirin dia,kamu,dan aku. Aku juga pernah ada di posisi dia hamil tanpa sosok suami, Iya aku sayang banget sama kamu dan cinta. Tapi kamu harus mikirin darah daging kamu sendiri" Emosi reva meluap-luap,Siapapun yang salah disini intinya perempuan itu butuh hans.
Pandangan hans kosong ke depan, Ternyata bermain api di belakang akan sulit untuk memadamkannya, Inilah kenyataan yang harus hans terima bercerai dengan istri yang sangat dia cintai.
"Kamu khawatir sama anak itu?, Aku bakalan nyuruh dia buat gugurin anak itu kok sayang buat pernikahan kita!" Hans meyakinkan reva.
Reva kembali dengan sosok dirinya yang dulu, Ibu mana yang sanggup membunuh anaknya Bahkan dulu reva mau melepas semua kenyamanannya. Suami, keluarga, semua reva tinggalkan untuk anaknya,
Pllakkkkk...
Tangan reva mendarat di pipi hans,membuat hans mendongak menatap reva seolah bertanya apa salahnya?,kenapa reva menamparnya?,
"Kamu lupa hans?, dia itu darah daging kamu!"Bentak reva.
Reva terbangun dari tidurnya, mengapa kejadian beberapa tahun yang lalu itu kembali datang menghantui mimpinya.
"Astagfirullah" Reva mengusap pelan dadanya, Reva baru sadar Ruangan ini bukanlah kamarnya.
"Vando!?" Reva baru sadar akan sosok anaknya, Mata reva memanas ketika mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan tidak menemukan putranya.
__ADS_1
Tangan reva menyibakkan selimut, daj terkejut ketika mendapati Pakaiannya sudah berganti dengan baju tidur.
"Hahahaha!". Suara itu adalah suara vando,
Tanpa basa-basi lagi, reva segera berlari keluar dari kamar.
"Mama Udah bangun?" . Reva menoleh dan sudah mendapati vando yang tengah menyengir lebar. Reva berjongkok dan memeluk Anak itu.
"haha Mama lepas, Vando mau sembunyi" Ucap vando dengan tergesa-gesa, Jangan lupakan tawa kecilnya itu.
"HAP" Seseorang muncul dan mengangkat tubuh anaknya,
"Hahaha u-udah ah.." Vando tertawa terbahak-bahak ketika digelitik.
Reva bangkit berdiri dan mendapati vano, Dengan cepat reva berjinjit dan mengambil alih anaknya dari pria itu.
"Loh, kita kan masih mau main ma" Rajuk vando.
Reva justru makin mengeratkan pelukan vando, seolah tidak ingin terpisahkan lagi. Vando menggerak-gerakkan kakinya meminta untuk diturunkan.
"Rev, Gue mau ngomong serius"Kata vano
Reva mengedarkan pandangannya, Lebih cocok disebut istana dibandingkan rumah.
"Tenang aja, Pleaseeee cuman ngobrol doang kok. Jangan takut rev" Mohon vano.
Reva tetap bungkam seribu bahasa, kemudian mengangguk. Masih dengan vando yang ada di gendongannya,
Vano tersenyum dan berjalan ke arah ruang tamu diikuti dengan reva di belakangnya. Rumah ini adalah salah satu rumah vano, biasanya datang sesekali saja ke rumah ini selebihnya vano masih tinggal bersama dengan keluarganya.
"Apa mau kamu van?,Aku bakalan pergi jauh kok tapi please jangan apa-apain anak aku van" Mohon reva, Sedangkan vando hanya menatap vano dan mamanya bergantian tidak mengerti.
"Kenapa kita mau pergi jauh ma?"Tanya vando dengan begitu polosnya, Harusnya pembicaraan ini tidak boleh di dengar oleh anak sekecil vando.
"Sstttt, Vando bobok aja ya" Ucap reva lalu menenangkan anaknya Di pelukannya,
Vano mendekat ke arah reva, kemudian bersimpuh di depan reva.
"Van..." Reva terkejut melihat vano, Apa lagi ini?, Reva sungguh tidak mengerti dengan vano.
"Gu-Gue....."Vano bingung harus memulainya darimana, "Gue mau minta maaf"Ucap vano.
__ADS_1
Reva yakin ini bukanlah vano, Mana mungkin seorang pria modelan vano sudi meminta maaf, Bahkan menyadari kesalahannya pun reva yakin vano tidak tau.
"Jangan minta maaf, kalau kamu gak tau kesalahan kamu van" Jawab reva,
"Loh, Mama kan selalu bilang sama vando kalau Allah aja maha pemaaf, masa mama gak mau sih maafin om vano" Tiba-tiba saja vando berkata seperti itu. Reva tertohok dengan ucapan anaknya itu, Reva memang mengajarkannya tapi kenapa begitu sulit.
Vano mengusap kepala vando, kenapa vano dulu begitu tega ingin membunuh anak seimut dan selucu vando.
"Lo berhasil rev, Lo udah didik anak kita dengan baik" Kata vano.
Reva masih diam, Bibirnya begitu kelu untuk memgeluarkan kata-kata.
"Maafin gue rev"lirih vano kata-katanya begitu tulus keluar dari mulut vano.
"A-aku udah maafin kamu dari dulu van, Aku juga gak pernah dendam sama kamu. Tapi kamu tau kan kalo ngelupain semua hal yang dulu pernah kamu lakuin ke aku itu sulit van" Reva begitu benci dengan air matanya yang selalu turun dengan cepat ini.
"Makasib rev" Vano bangkit dan memeluk reva yang masih dengan keadaan memeluk vando.
"Ekhm..."Reva berdeham singkat, membuat vano sadar dan melepas pelukannya, reva memberi sorot mata yang begitu tajam.
"Eum..ngomong-ngomong, siapa yang gantiin baju aku?"Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut reva,
Vano menggaruk tengkuknya tidak gatal, kemudian menyengir kuda pada reva.
Pllakkk
Reva memukul lengan vano, Dia sangat malu jangan sampai vano yang mengganti pakaiannya.
"Jawab!" Bentak reva.
"dihhh....,Pasti mikirnya kotor-kotor nih" Goda vano "Pembantu aku kok, tenang aja" Jawab vano.
Setidaknya jawaban itu membuat reva lega, Vano mengambil alih anaknya dan menidurkannya di pelukannya. Andai dulu vano tidak bodoh mungkin kini mereka sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia. Rumah ini juga tidak akan terlalu sepi, Harusnya anak-anak mereka sudah berlarian kesana kemari, dan tertawa riang. Tapi semua harus dikubur dalam-dalam, Lagipula reva sudah menikah dan dirinya juga Akan segera menikah lagi dalam waktu yang dekat.
"MESRA BANGET YAH...!" Suara itu mengagetkan keduanya, Reva dan vano langsung menoleh ke asal suara.
NOTE : 😌😌LEGAHHHH.......
•Aku agak kecewa sama part 26, cuman gegara masuk episode yang bikin emosi readers dimainin, Rate / Penilaian cerita ini turun. 😌😌😨😨Aku tuh tadi langsung down, jadi Please..., Bersabar soalnya aku udah bikin alur sedemikian rupa.
•HEHE TAPI AKU GAK MARAH KOK, BTW GAK KERASA YA KALO AKU UDAH MASUK PART 27 GAK NYANGKA BANGET, PADAHAL AKU NULIS BARU MAU MASUK 3 MINGGU.
__ADS_1
•HAPPY EID MUBARAK 🙏 BUAT PARA READERS KU YANG MERAYAKAN. AUTHOR TETEP NGUCAPIN SELAMAT, WALAUPUN AUTHOR GAK NGERAYAIN. 😁😁😁😁