
Reva duduk menghadap cermin, Melepaskan aksesori yang masih ada pada tubuhnya. Ada rasa kesal yang terbesit dalam perasaannya, Tadi ketika ijab qobul bayanhkan saja vano tidak bisa mengucapkannya dengan baik saking geroginya hingga percobaan yang ketiga akhirnya vano bisa menyebutnya dengan begitu lantang.
"Akhirnya.." Vano menggosok-gosokkan kedua tangannya, kemudian menghampiri reva dan menyentuh kedua bahu reva dari belakang
"A-apaan sih van" Reva yang merasa risih menggoyangkan pundaknya, meminta dilepaskan.
"Yah, Gak ada romantisnya kamu mah rev-" Vano mencebikkan bibirnya, persis seperti anak kecil dengan pakaian yang masih sama yang ia gunakan tadi.
"Mandi sana van,"
"Maunya dimandiin" Rengek Vano, seketika reva membulatkan matanya dan melempar tatapan mata tajam pada vano.
"Mulut tuh di saring!, Kalo vando denger gimana?. Eh- Vando mana yah?" Reva celingak-celingukan,
"Dia bareng erlan," . Vano memang sudah menyogok erlan dengan uang yang banyak, agar mengamankan vando untuk malam ini saja. Kalau ada vando kan vano jadi tidak akan leluasa melancarkan aksinya.
"Ha?, Tumben-tumbenan" Reva menarik handuk, Dan berjalan memasuki kamar mandi. Vano dengan percaya dirinya ikut mengekor dibelakang reva,
"Eh ngapain kamu?!" Tanya reva, Vano tersenyum jahil.
"Mandi barenglah yah.." Pinta Vano
"Udah ah. Jangan mesum!" Reva buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan vano diluar.
Reva menggigit sudut bibirnya, Haruskah malam ini?. Reva hanya masih malu saja pada vano, buru-buru reva mengguyur badannya dengan air dari shower.
Vano bermain ponsel di atas ranjang, Reva keluar lengkap dengan baju tidurnya dan handuk yang menjunjung di atas kepalanya.
"Mandi van," Suruh reva,
"Nanti ajalah, udah gak mood akunya" vano mulai berlatih mengucapkan aku-kamu sesuai permintaan reva kemarin.
"Yaudah, kamu gak boleh tidur di ranjang kalo gitu!" . Vano menyipitkan matanya, menaruh ponselnya di atas nakas dan menyambar handuk.
"Jangan tidur dulu yah, tungguin aku" Bisik vano dengan nada sensual tepat di telinga reva, membuat reva bergidik ngeri.
Vano menyeringai penuh arti, kemudian berjalan cepat memasuki kamar mandi takut digampar reva dan tewas sebelum malam pertamanya.
__ADS_1
. ooOoo
Setelah mengeringkan rambutnya, reva membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Kok kecil sih kasurnya" Dumel reva, Vano memang menyewa satu hotel untuk keluarganya dan keluarga reva. Tapi yang membuat reva merasa jengkel adalah tempat tidur mereka yang kecil ini.
Deritan pintu kamar mandi terbuka mrmbuat reva buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.
"Dah tidur aja, Padahal dibilang tungguin"Kesal vano, sambil berjalan memakai pakaiannya.
Vano mengintip dari sudut matanya, senyum vano tercetak ketika melihat reva yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur. Buru-buru vano membaringkan tubuhnya di samping reva
"Sayang.." Panggil vano, reva masih setia menutup matanya.
"Aku tau kamu nggak tidur sayang..," Vano mengguncang-guncangkan tubuh reva.
"Ck, Tau dari mana sih?" Tanya reva sambil membalikkan tubuhnya memunggungi vano. Vano melingkarkan tangannya di bawah perut reva, membuat reva memukulnya.
"Ck, Gak papa kali rev, kan udah 'Sah', Lagian aku gak ada upah apa udah halalin kamu?"
"Apaan sih, orang ijab qobulnya aja kamu salah mulu. Bisa-bisanya kamu lupa nama lengkap aku?, Lupa mahar kamu?, Dahlah males aku" Rajuk reva, padahal reva sudah sangat ingin tertawa terbahak-bahak menertawai kebodohan vano.
"Ma-Maafin, tadi aku gerogi banget. Sampe aku mandi keringat loh, Maafin yah.. Please please." Mohon vano, reva tidak menggubrisnya.
"Hehe Yang penting kan udah sah" Tangan vano mulai bergerayangan mengusap-usap paha reva yang begitu halus.
'Ya ampun halus banget ya Allah, beeehhh nggak sia-sia' Batin vano menjerit, Reva bergeser menjauhi vano.
Vano ikut bergeser mendekati reva, Menurutnya perempuan paling tidak peka itu adalah reva. Padahal vano sudah mati-matian menahan si junior, agar tidak mendesak melulu.
"Reva.."
"hmm" gumam reva, jantungnya berdebar-debar, sepertinya malam ini benar-benar ia harus ****** oleh vano.
__ADS_1
"Reva"
"Hmm!" Reva mulai geram.
"Hehe maap-maap. O yah, kamu nggak mau kayak orang-orang yang lain apa?" Bujuk vano.
"Ha? Kayak gimana?" Tanya reva. Vano mendesah pelan,
"Malam pertamaan rev". Reva membulatkan matanya, vano benar-benar sangat blak blakan.
"Kan dulu udah van, sampe si vando ada" Ucap reva, pelan-pelan ia menggeser tubuhnya lagi.
"Ya itu kan dulu rev. Udah lupa aku mah rasanya, " Vano menggeser tubuhnya lagi mendekati reva.
"Ka-kamu nggak capek apa van?, Kemaren malem kamu gak tidur loh sampe jam 5 subuh cuman buat hafalan qu'ran kamu itu" Reva menggeser tubuhnya diikuti vano dari belakang tanpa sadar mereka sudah ada di ujung kasur.
Tubuh reva terjatuh ke lantai diikuti vano dari belakang, yang ikut-ikutan menindih tubuhnya dari atas.
"Akh" Aduh reva. Vano menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindih tubuh istrinya. Dari jarak ini vano bisa melihat dengan jelas wajah reva yang sudah memerah,
"Malah bengong. Minggir ah, Aku mau tidur" Hardik reva berusaha mendorong tubuh vano
"udah posisi wenak tau rev"
"Apaan sih van, Bangun.."
" Ciuman dosa gak sih?" . Reva membulatkan matanya, dan......
NOTE:
•INI BUAT YANG JANJI AKU KEMAREN, MASIH MAU UP? KOMENT YAH.
•Aku udah berusaha sabar buat dia yang plagiat, Malahan dia udah ngaku kok kalo dia plagiat. Dengan seribu alasannya, dia juga udah minta maaf dan klarifikasi di chapter barunya.
•TAPI READERSNYA MALAH NYERANG AKU, BILANGIN AKU JULID LAH, IRI LAH, PADAHAL AKU LOH YANG DI PLAGIATIN.
•🙂Aku harap kalian juga bantu ya buat ngelaporin ke pihak manga. kentara banget di part 57-59 jangan biarkan Plagiator berkeliaran.
__ADS_1
•SALAM CINTA AUTHOR.